BAB 7 - Shocking

2045 Words
Liana merasakan tubuhnya terbakar. Rasa sakit yang luar biasa seolah kulitnya sedang ditarik untuk terlepas dari tubuhnya. Sebelah tangan kanannya mencengkram kuat bahu Jensen sementara sebelah tangan lainnya mencengkram seprei kasur hingga mengerut. Jeritan dari rasa sakit yang tak tertahankan. Tidak ada air mata, rasa sakit itu sama sekali tidak membuat Liana mengeluarkan air mata. Rasa sakit itu lebih membuat Liana ingin mati saja dari pada menahan rasa sakitnya hingga seperti ini. "Semua akan baik-baik saja. Ini tidak akan lama."ucap Jensen berbisik tepat di telinga Liana. Jensen membisikan sesuatu namun Liana terlalu larut dalam kesakitannya yang luar biasa. Jensen memeluk Liana erat-erat, menahan tubuh Liana yang meronta-ronta karena merasa kesakitan. Hingga tak lama tubuh Liana mulai melemah. Jeritan kesakitannya teredam dalam dekapan Jensen. Cengkraman tangannya juga mulai melemah. Nafasnya berangsur-angsur berubah menjadi lebih tenang. Liana memejamkan matanya, mulai terlelap karena kini rasa sakit itu berganti menjadi rasa kantuk yang luar biasa. Jensen melonggarkan pelukannya namun tetap memeluk Liana, ia mengusap lembut pucuk kepala Liana dan meninggalkan ciuman lembut di kepalanya.  *** Liana terbangun ketika alarm berbunyi di atas meja nakas samping tempat tidurnya. Jam 6, Liana menggulung rambutnya lalu menjepitnya. Mengambil handuk lalu bergegas menuju toilet untuk membersihkan diri. Ketika ia sudah rapih dengan sweater merah rajut tanpa lengan dilapisi blazer hitam dengan celana bahan berwarna senada, rambut sebahunya ia kuncir kuda. Liana juga baru saja menaruh lasagna ke dalam microwave James menaruh ponselnya ketika Liana duduk di hadapannya. Tatapannya terarah pada sesuatu yang mengkilap ketika terkena pantulan sinar. "Kalung yang bagus?."puji James yang membuat Liana mengernyit lalu melirik ke arah dadanya. Sebuah kalung yang Jensen berikan kemarin, melingkar di lehernya. Liotinnya sangat cantik, Liana tak bisa berhenti mengaguminya.  "Jensen memberikannya padaku kemarin."Sebelah alis James terangkat, ekpresinya datar namun matanya berkata lain. "Sejak kapan kalian berkenalan? Kenapa kau tidak memberitahuku, tumben sekali."Liana selalu menceritakan apapun, apapun itu pada James bahkan jika itu sebulah hal konyol. Tidak pernah ada rahasia di antara mereka tapi sepertinya tidak lagi karena kini James merasa Liana sedang menyimpan sesuatu yang tak diberitahukannya. Liana memutar kedua bola matanya malas, seraya menyeruput kopinya. "Aku tidak berencana untuk membuat hubungan semacam itu dengannya." "Kenapa? Dia lumayan."James menyeruput kopinya matanya memeprhatikan Liana dari balik bulu matanya. "Oh ayolah James dia bos ku. Aku bahkan baru beberapa hari di sana. Aku tidak mau di gosipkan telah menggoda bos di perusahaan baru."Kening James berkerut tak yakin. "Benarkah hanya itu? Apa karena kau belum bisa melupakannya!."James tersenyum nampak menyebalkan. Mengungkit sesuatu yang sangat Liana ingin lupakan dan membuang jauh segalanya yang menyangkut tentang hal itu. "Hei. Aku sudah move on. Jangan bahas dia lagi."omel Liana dengan kedua mata melotot ke arah James memprotes laki-laki itu karena membahas sesuatu hal yang haram hukumnya untuk di katakan di depan wajah Liana. James mengangkat kedua tangannya ke atas. Menyerah. "Ok.. Ok.. Ok.. Aku tidak akan membahasnya lagi." *** Liana turun dari motor James seraya melepaskan helm yang berada di kepalanya lalu melemparkan helm itu ke arah belakang tanpa melihat hingga membuat James kelabakan ketika menangkapnya. "HEI."Teriak James yang tidak Liana pedulikan, wajahnya nampak masam bahkan ketika beberapa orang menyapanya Liana hanya diam saja.  "Apa dia marah padaku! Kenapa marah hanya karena laki-laki bodoh itu dasar wanita itu. Katanya sudah move on tapi terlihat sangat marah ketika namanya disebut. Dia bahkan melempar helm ku apa dia pikir helm ini harganya murah. Dia pasti akan menangis ketika tahu berapa harganya,"gerutu James masih memperhatikan Liana yang semakin menjauh masuk ke dalam lobby. "Dia benar-benar marah."gumam James lirih merasa tidak enak. Liana berdiri di belakang kerumunan para karyawan lainnya yang juga akan menggunakan lift. Ketika ia melangkah masuk. Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bagian belakang tubuhnya pelan membuat Liana menoleh ke arahnya. Kedua matanya membesar ketika mendapati Jensen di sisinya. Jensen menarik Liana ke barisan paling belakang. "Bagaimana tidurmu?."tanyanya. Liana melihat ke para karyawan lainnya. Mereka nampak tak peduli namun Liana yakin ada beberapa di antara mereka yang memasang baik-baik telinga mereka untuk mendengar setiap percakapan dan memperhatikan gerak-gerik nya bersama Jensen. Spy mendadak, bergosip ada hobby setiap orang. "ya... nyenyak tuan Harden."jawab Liana singkat tanpa melihat ke arah Jensen. Ia ingin menegaskan jika ia hanya pekerja dan Jensen tetap atasannya kepada para karyawan yang penasaran pada mereka. Liana dapat merasakan Jensen terus menatapnya. Membuatnya merasa gelisah. Ketika semua para karyawannya sudah keluar di lantai mereka masing-masing. Liana memutar tubuhnya menghadap Jensen dan melipat kedua tangannya di depan d**a. "Jangan lakukan hal ini. Kau akan membuat ku menjadi bahan gosipan mereka. Anak baru yang berani-beraninya menggoda seorang CEO di perusahaan tempatnya bekerja. Luar biasa.. Kau akan membuatku kehilangan pekerjaan ku dengan cepat."Jensen Menempelkan ibu jarinya di sebuah kotak persegi di samping pintu. Membuat lift yang bergerak seketika terhenti. "Apa Yang kau lakukan!."Liana terkejut saat Jensen menghentikan lift dan seketika keterkejutannya bertambah saat pria itu mengurungnya. "Hei."protes Liana memberanikan diri. Walau sebenarnya nyalinya sudah menciut. Tidak peduli dengan peringatan di dalam kepalanya karena sudah berani berurusan dengan Jensen. "Aku ingin mengingatkan suatu hal padamu. Dimana sejak aku bertemu denganmu. Kutetapkan kau adalah milikku."Liana membelalakan matanya terkejut. Kepemilikan! "Yang pertama. Tidak akan ada yang berani menendangmu keluar dari perusahaanku sendiri. Tanpa izinku itu tidak akan pernah terjadi." "Yang kedua. Biarkan mereka tahu. Bahkan dunia ini tahu kalau kau adalah milikku." "Yang ketiga..."Jensen mendekatkan wajahnya membuat Liana memalingkan wajahnya seketika. Gila. Ini gila. Jensen begitu dekat padanya. Membuat detak jantungnya menggila. Liana memejamkan matanya ketika merasakan kegugupan yang luar biasa menerjangnya bagai badai. Bahkan Liana dapat merasakan hembusan nafas hangat Jensen yang mengenai wajahnya. "Kau akan terjebak denganku untuk seumur hidupmu. Jadi biasakan hal itu mulai dari sekarang."Jensen mendekatkan wajahnya pada Liana, menempelkan hidungnya di curuk leher wanita itu hingga membuat Liana menahan napasnya. Wajah Liana memerah, jantungnya berdegup kencang. Kedua tangan yang berada di sisi tubuhnya hanya bisa mengepal. Liana tidak mau mendorong Jensen menjauh dengan menyentuhnya. Liana takut. Begitu takut hatinya akan goyah. "Kau hangat bahkan sangat hangat sekarang."Jensen memejamkan matanya. Hidungnya bergesekan dengan kulit di leher Liana. Liana merasakan perutnya melilit. Tubuhnya begitu kaku. Jensen benar-benar membuatnya tidak waras. Jensen mengecup kening Liana sebelum akhirnya menjauh darinya. Lalu suara dentingan pintu lift membuatnya menarik diri. "Kau tidak bisa memaksaku. Aku tidak mencintaimu."ucap Liana sebelum pergi keluar lift. "Maka aku akan membuatmu mencintaiku."ucap Jensen yang membuat Liana menghentikan langkahnya. Liana menolehkan wajahnya menatap Jensen yang tengah tersenyum dengan smirk di sudut bibirnya. "Berbahagialah sedikit nona Megan. Kau sudah membuatku tertarik padamu. Kau milikku."kilatan mata pria itu terlihat jelas sebelum pintu lift benar-benar tertutup dan membawa Jensen menghilang dari pandangannya. Liana menghembuskan nafasnya. Menarik dalam seketika. Baru sadar jika sejak tadi ia menahan nafasnya. Liana mengibaskan wajahnya dengan sebelah tangannya. Wajahnya terasa panas. Dan ini semua karena pria itu. Jensen benar-benar membuatnya berantakan dengan segala perasaan yang baru ia rasakan kembali. Tapi ini begitu kuat. Liana tidak pernah sedekat ini dengan seorang pria. Jensen benar-benar tidak memiliki batas untuk nya. Jensen terlalu dekat. Membuatnya sesak nafas. Liana berjalan cepat ke arah ruang kerjanya. Jam 9.05 menit. Ia bahkan terlambat hingga 5 menit karena nya. *** Liana mendorong troli belanjaannya lalu setelah mendapatkan apa yang ia inginkan Liana pergi menuju kasir untuk membayarnya. Liana mengedarkan pandangannya ketika kasir sedang memasukan berbagai belanjaannya ke dalam kantung plastik. Hingga kedua matanya menangkap sebuah sinar, kilatan dari bahunya. Lalu membantik sebuah pola yang sangat Liana kenal. Liana mengerjapkan matanya. Merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Tapi ada beberapa orang yang terlihat sepertinya. Liana memberikan kartu belanjanya untuk membayar, setelah selesai ia bergegas pergi dari sana. Liana merasa aneh. Mereka vampire. Liana bisa tahu mereka berbeda walau hanya dengan berdiri di sampingnya. Liana berjalan menyusuri jalan Seattle yang mulai sepi dan melihat kedua orang yang tengah tertawa. Kedua mata Liana membulat sempurna. Pria itu manusia. Sementara. Wanita itu.. Vampire. Mereka berjalan santai melalui jalan trotoar. Liana penasaran. Entah kenapa. Dia sangat ingin tahu, bukannya menjauh dan pergi. Liana malah mengikuti mereka. Mereka berbelok di gedung yang ada di depan nya. Suara jeritan membuat Liana berlari ingin tahu. Orang yang ia lihat tadi berada di sudut tengah ruang antara satu gedung dengan gedung lainnya. Tempat ini sangat sepi dan minimnya pencahayaannya. Pria itu terkapar dengan bibir wanita itu yang berada di lehernya. Liana menahan nafasnya. Membekap mulutnya dengan mata terbelalak. Lagi-lagi dia melihatnya. Wanita itu menarik diri dan kedua matanya menangkap Liana yang tengah menatapnya. Kedua mata Liana mengerjap. "Ah.. Ma.. " "Kau mau?." Kepala Liana miring ke satu sisi. Merasa aneh. "A... Apa!." "Aku bisa berbagi jika kau mau."Liana menggeleng kan kepalanya dan tersenyum pahit, menolaknya.Tentu saja menolaknya manusia normal mana yang meminum darah. Ayolah. Air putih bahkan 1 juta kali lebih menarik di bandingkan cairan merah itu. Liana tidak tertarik sama sekali. Tidak walau hanya 0,0000000000000000001%. Benar-benar sangat tidak tertarik. "Oh.. Kau vegetarian?."pertanyaan itu membuat Liana melongo, vampire juga vegetarian. Apa mereka makan sayur atau apa.. "Apa?."Liana tidak mengerti apa yang wanita itu bicarakan. "Aku tidak mengerti kenapa banyak vampire vegetarian saat ini."gerutuannya membuat Liana semakin tidak mengerti.Hal ini membuat Liana frustasi keterkejutannya membuatnya sedikit lupa akan mayat seseorang yang sedang diambil darahnya tepat di depan mata kepalanya. "Kau benar-benar tidak mau. Darahnya lumayan enak."Liana menatapnya dengan ekspresi horor. "A..... Hmm. Tidak. Terima kasih."Liana menggeleng kan kepalanya cepat. Ia bahkan mau muntah saat ini. Bau darahnya sangat amis dan menyengat. "Aku akan pulang. Maaf sudah mengganggumu." "Jangan sunkan."jawabnya. "Ku pikir dia kekasihmu."ucap Liana merasa gatal ingin mengatakan nya sejak tadi. "Dia tidak berharga."ucapnya. Membuat Liana mengangguk. Liana pergi dengan terburu-buru. Bahkan berlari saking takutnya. Liana memencet tombol liftnya dengan tidak sabaran. Memeluk erat pastik belanjaannya. Sejak tadi Liana selalu celingak-celinguk takut-takut ada seorang vampire yang mengikutinya. Liana langsung masuk ke Apartemennya. Dan menemukan jendela Apartemennya terbuka. "Kau dari mana saja?"tubuh Liana tersentak kaget, ia menghela nafasnya lega, mendapati Jensen tengah duduk di sofanya. Liana menyalakan lampu Apartemen lalu menaruh kantung plastik belanjaannya di atas meja. "Kau membuatku takut. Kenapa tidak datang dengan mengetuk pintu!."gerutu Liana memprotes. "Kau tidak ada dan aku tidak suka berdri di luar sana." "Aku mandi sebentar."ucap Liana yang membuat Jensen mengangguk. Mendudukan dirinya senyaman mungkin di sofa. Sementara Liana bergegas untuk membersihkan dirinya. Merasakan tubuhnya lengket akibat berkeringat karena berlari tadi. Setelah mandi. Liana mengenakan piyama berwarna ungu dan putih dengan motif boneka beruang kecil. Celana piyamanya berwarna ungu polos. Membiarkan rambut sepanjang bahunya tergerai. Ia berjalan menuju meja dapur dan mengeluarkan belanjaannya satu per satu dari dalam plastik. "Kau tahu. Ini aneh luar biasa aneh."ucap Liana dengan nada suara yang dilebih-lebihkan. Jensen mengerutkan keningnya. Ia berjalan menghampiri Liana yang berdiri di balik meja dapur. Jensen menghentikan langkahnya ketika sudah berada di samping Liana. Liana dapat melihat Jensen menautkan alisnya. Pria itu sangat ingin tahu. Dan Liana sangat ingin memberitahu kannya. Semua ini begitu aneh. Liana sangat penasaran. Wanita itu berkata seolah-olah mereka berasal dari jenis yang sama dan jangan lupakan bagaimana ia bisa tahu antara vampire dan manusia. Apa itu hanya pikiran Liana saja atau ya memang benar. Ia bisa sekarang. "Aku bisa membedakan kaum kalian. Bahkan aku bisa jelas tahu kau berbeda denganku. Kenapa?." "Mungkin kau sudah banyak belajar dan mengetahui bagaimana mereka."ucap Jensen denan ekspresi datar. Walau matanya nampak tajam mengamati Liana dengan intens.  "Tidak. Tidak mungkin,"gumam Liana. "Aku bertemu dengan salah satunya." Kerutan di dahi Jensen semakin dalam. "Kapan?." "Baru saja dan dia menawarkan aku darah? Dia berkata seolah-olah aku sejenis dengannya. Apa maksudnya itu?." "Apa kau mengatakan kau manusia?."Ia terlihat marah membuat Liana bingung sekaligus terkejut dan bertanya-tanya.Jensen merahasiakan sesuatu darinya. "Tidak. Tapi kenapa kau terlihat marah."Jensen hanya terdiam. Wajahnya terlihat mengeras. Kedua sorot matanya tajam.  Ia menarik Liana ke dalam kamarnya. Jensen membuat Liana membelakangi cermin. Liana nampak bingung. Lalu Jensen membuka satu kancing teratas piyamanya lalu menarik kain di bahu kirinya. Hingga mempertontonkan bahunya. "Lihat itu."Liana menoleh ke belakang ke arah cermin kamarnya. Kedua matanya membulat sempurna. Mendapati sebuah lambang vampire berada di bahunya. Seketika Liana merasa ia diterjang ketakutan dengan sangat hebat. Mendadak gelisah dan rasa sakit di kepalanya muncul. Liana kembali mengingat bagaimana ia kesakitan saat malam tadi. Ingatan itu tiba-tiba melintas di kepalanya. Padahal sebelumnya ia melupakannya. "Ba...... Bagaimana.... Bagaimana bisa. Bagaimana mungkin! Jensen. Kau.... Kau membuatku jadi vampire!."Liana menatap Jensen yang juga tengah menatapnya dari pantulan cermin dengan kedua mata terbelalak. Rasanya seperti ada sebuah tato yang baru saja dibuat, mata Jensen mengilat dari pantulan cermin mengamatinya. Liana mendongak untuk menatap Jensen langsung.  "Menurutmu?."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD