BAB 8 - Camouflage

2127 Words
Tidak mungkin. Tidak mungkin. Tubuhku terasa begitu lemah. Nafasku tercekat dan kedua tanganku bergetar menggenggam baju bagian depanku. Kedua mataku terpaku pada lambang vampire yang berada di bahu sebelah kiri dari  pantulan cermin yang berada tepat di belakang tubuhku. Kesakitan malam itu. Apa itu tandanya jika aku telah berubah. Rasa sakit itu, benarkah itu. Benarkah aku sudah menjadi vampire. Kedua mataku memanas, hatiku terasa sesak. Rasa ketakutan mulai menjalar di sepanjang urat nadiku. Aku tidak mau. Tidak... Tidak mungkin. Bagaimana bisa dan bagaimana dia bisa... "Penyamaran." Aku beralih menatap kedua matanya yang sedang menatapku dari pantulan cermin. Aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Apa maksudnya dengan penyamaran. Jangan bilang seperti di film mata-mata. Ini seperti lelucon namun sepertinya tidak pantas untuk ditertawakan. Aku menatapnya serius, karena ia juga menatapku begitu serius. "Apa maksudmu?." Jensen memejamkan mata, menghela nafas frustasi dengan kerutan di antara alisnya. Seolah-olah ia sedang merutuki sesuatu. Menyalahkan sesuatu dan merasa marah dengan itu. Aku menarik bajuku ke posisi semula dan kembali mengkancingkan piyamaku sebelum beralih menatapnya. Jensen membuka matanya dan menatapku. Sorot matanya teduh walau masihlah tajam. Aku rasa matanya memang selalu tajam dan intens dan ku akui itu sangat berpengaruh besar padaku. Dia hanya diam beberapa saat, membuatku penasaran setengah mati. Aku sangat ingin tahu. Tapi aku menunggunya untuk mengatakannya, menjelaskannya padaku tentang tato itu yang muncul padaku. "Aku vampire?."tanyaku. Merasa tidak sabaran dengan kebisuannya.Debaran jantungku meningkat semakin cepat hingga membuatku tak kehilangan kata-kata. "Bukan. Aku tidak mungkin mengubahmu. Itu tidak akan pernah terjadi."ucapannya terbilang cepat. Menggebu-gebu dan akuuuu.... Bingung. Hal ini terdengar membingungkan.  "Lalu apa maksudnya ini? Rasa sakit itu dan penyamarannya. Jelakan padaku semuanya."aku tidak peduli. Terlalu menuntut tentang hal-hal dalam pertanyaan. Aku mau dia menjawabnya. Semuanya dan buat aku mengerti. "Katakan padaku. Jangan buat aku seperti orang bodoh. Ini tubuhku. Lihat apa yang kau lakukan pada tubuhku hanya dalam beberapa hari ini. Bagaimana jika lebih lama lagi, aku pasti sudah jadi abu." "Aku tidak akan pernah membiarkanmu menjadi abu."Jensen menggeleng pelan bibirnya berkedut menahan tawa, leluconku tentang berubah menjadi abu membuat moodnya lebih baik namun kemudian ekpresinya berubah ia menggelengkan kepalanya lagi, menolak apa yang ku katakan dengan mimik wajah yang begitu serius. Aku bahkan hanya mencoba untuk mencairkan ketegangan dalam matanya.  Dia meraihku. Membawaku ke dalam dekapannya dan seketika aku merasa begitu nyaman. "Kau tetap manusia. Ini hanya penyamaran."aku mendorong tubuhnya agar aku bisa menatapnya. Tapi dia menahanku, membuatku terus berada dalam dekapannya. "Ini salahku. Aku membawamu ke Club malam itu. Dimana mereka semua bisa melihatmu dan mencium darahmu. Bodohnya aku malah memamerkanmu di hadapan mereka."Mataku mengedar ke segala arah, apa ini saat nya aku panik. namun aku tetap tidak mengerti. Kenapa Jensen selalu menjelaskan seperti aku haru memecahkan sebuah teka-teki bukannya mejawab secara jelas. Rasanya seperti berada di acara kuis komunikata. Ini menjengkelkan. "Mereka mengincarku!."ok. Aku mulai panik lagi. Bahkan lebih panik di bandingkan aku menemukan tato di bahuku dan mendapati aku adalah seorang vampire. Aku tidak pernah mau terlibat dalam perkelahian kecuali duel satu lawan satu bersama dengan Edward yang akan selalu menjadikan aku sebagai pemenang. Ini juga salahku. Aku seperti kancil yang sok berani memamerkan tubuhku di depan wajah singa dan sekarang dia mengejarku. Bagaimana caranya aku berlari dan bersembunyi darinya. "Aku harus panik!."dasar bodoh. Aku masih harus bertanya. Sungguh ini aneh. Aku berpikir tentang hal itu. Mengetahui Jensen berusaha melindungiku dengan melakukan penyamaran vampire dan dia sedang mendekapku saat ini dan mengatakan aku sedang diincar oleh makhluk buas. Bahkan lebih buas di bandingkan hewan di Sungai sss. Anehnya aku merasa tenang. Apa ini. Liana apa yang terjadi padamu. Aku mencoba berpikir realistis. Kenapa kau takut pada vampire di luar sana. Sementara saat ini kau sedang berada dalam dekapan salah seorang dari kaum mereka. Dan aku merasa tenang. Aku pasti wanita sinting. Bahkan orang ini, yang memelukmu juga pernah mengatakan betapa dia ingin meminum darahmu. Wanita gila cepat menjauh dari dekapannya. "Le... Lepaskan aku."Aku mendorong tubuhnya dan mundur dua langkah darinya. Mencoba menjaga hati, pikiran dan kewarasanku.  "Jangan takut padaku."ucapnya dengan kedua mata menyipit. Ia menangkap rasa takutku. Saat dia ingin meraihku. Aku kembali melangkah mundur. "Aku tidak akan menyakitimu."gumamnya lirih. Aku tetap harus waspada, tidak ada yang tahu isi pikiran orang lain. Bahkan terkadang aku tidak mengerti dengan jalan pikiranku sendiri. "Kenapa!."aku melangkah mundur lagi ketika dia mengambil satu langkah maju ke arahku. "Aku tidak akan pernah menyakitimu. Jika karena kesan pertama kali saat kita bertemu. Itu hanya ucapan asal untuk melindungi privasi dari kaum kami." "Aha... Dan kenapa kau melindungiku?! Kau bisa saja meminum darahku suatu hari nanti. Ketika kau merasa haus dan hanya aku minuman yang bisa meredakan itu." Dia memejamkan matanya. Aku rasa dia tersinggung karena saat dia menatapku lagi. Tatapannya menggelap. Aku terus melangkah mundur hingga bahuku terbentur pada pintu kamar di belakangku. Saat aku berbalik untuk pergi dari kamar dan mencoba membuka pintu. Tiba-tiba dia berdiri di belakangku. Membanting pintu agar kembali tertutup dan membalikan tubuhku menjadi menghadapnya. Jantungku berdebar. Wajahnya begitu dekat denganku dan kedua tangannya berada di sekeliling tubuhku. Aku menggeliat, merasakan rasa resah, gelisah dan tak tenang. "Aku mencintaimu." . "Ah... Apa!." "A... Apa. kau bilang apa?!."Aku tidak salah dengar kan. Aku pasti akan ditertawakan jika temanku tahu kisah cintaku seperti Edward Cullen dan Bella Swan. Jika menonton film itu nantinya aku akan merasa melihat alur biography tentang kehidupanku. "Ini terlalu terburu-buru. Aku tahu. Tapi aku tidak bisa menjauh lagi. Aku tidak akan membiarkanmu mati Liana. Bahkan untuk meminum darahmu itu tidak pernah ada dalam benakku. Aku ingin melindungimu. Karena kau. Karena aku mencintaimu." Jantungku berdebar kencang. Aku merasa bom atom dalam hatiku berdentum. Bersiap untuk meluapkan ledakan dahsyat. Mataku mengerjap mencoba berpikir jernih, dia pasti mabuk darah.  "Kau pasti bercanda."aku menatapnya. Tak percaya. "Aku buruk dalam melakukan sebuah lelucon." *** Aku tidak bisa berkata ya. Tapi aku bilang aku akan mencoba. Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak merasa takut padanya. Bahkan saat ia sedang mencium bibirku. Aku menyukainya. Aku tidak munafik. Tapi ya. Dia sangat tidak bisa untuk di tolak. Jensen berbeda. tapi aku tidak merasa jika dia berbeda denganku. Seolah kami sama. Dia manusia. Kini dia berbaring di sampingku. Entah ada apa denganku. Kenapa aku mau menjadi kekasihnya. Dia tidak terlihat seperti vampire, pesonanya begitu kuat dan aku terjebak di dalamnya. "Jadi... Kita pacaran."ucapku. Sedikit canggung. Dia berbaring di sampingku. Menatapku. Sebelah tangannya membentuk segitiga untuk menahan kepalanya, sementara sebelah tangan yang lain berada di pinggangku. Kedua tanganku berada di antara tubuh kami. Bibirnya tersenyum menatap mataku, dan mata itu selalu bisa membuat jantungku berada di atas kata normal. "Kalau kau mau jadi istriku. Kita bisa mengesahkannya besok." "Aish.. Hei,"aku tahu dia bercanda. Tapi itu sungguh tidak lucu. "Jadiii... Kenapa aku! Maksudku. Apa yang membuatmu tertarik padaku?." Aku menatap kancing kemejanya.Merasa gugup dengan pertanyaanku sendiri. "Tadinya. Darahmu. Tapi senang melihat ada seseorang yang berani melotot padaku padahal mengetahui siapa aku." Aku beralih menatapnya dan senyum miringnya nampak menyebalkan terukir di sana menatapku. "Kenapa terdengar menyebalkan ya." Jensen mengendikkan bahunya lalu mendekatkan bibirnya di keningku dan memejamkan mata. "Eumm.. Rasa sakit di malam itu. Apa berkaitan dengan kalung ini?."Aku ingin bertanya tentang ini tapi dikejutkan dengan pernyataan cinta, bersyukur aku dapat kembali mengingatnya. "Ya.. dan yang paling harus kau ingat. Kau tidak boleh melepaskannya."aku menggenggamnya. Liotin ini sangat kecil. Kira-kira hanya berdiameter 3 cm. "Kenapa sakit sekali. Seperti ingin berubah jadi vampire saja."gerutuku mengingat film-film yang biasa ku saksikan. "Kau terlalu banyak menonton film."ucapnya mengejekku, dia tahu pikiranku. "Lalu bagaimana cara kerjanya. Aku memakai kalung itu dan berubah. Jadi ini semacam kalung ajaib." "Aku menaruh semacam cairan penambah darah di kopimu saat aku pulang." "APPP..... hmfftt---"aku baru saja mau berteriak keras. Memprotes si pria kurang ajar ini yang memaksaku minum kopi aneh. Tapi dia malah mencium bibirku. Membungkam bibirku. Otakku kembali berputar. Rasa kopi itu di saat Jensen datang memang berubah. Aneh. Dan ku pikir... Betapa konyolnya aku dan kapan dia menuangkannya. "Tato itu mengambil darahmu. Vampire meminum darah. Bisa di bilang semacam itu. Untuk memunculkannya dia mengambil darahmu. Jadi cairan itu agar kau tidak kehilangan darah dan kalung itu. Sebagai pelindung." Topik ini membuat kepalaku ku pusing. Aku tidak percaya aku mengalami hal aneh, mistis dan tidak masuk di akal yang terjadi dalam hidupku. Aku baru saja ingin membangun karirku. Tapi aku malah di hadiahi hal-hal yang membuatku tak ingin hidup saja. Semua ini membuatku frustasi. "Dan itu bekerja. Aku benar-benar masih manusia kan?!."tanyaku. Berusaha mempertegas makhluk apa aku ini sekarang. Masih manusia atau vampire. Atau aku berubah menjadi werewolf. "Ya. Vampire mana yang memiliki detak jantung seperti akan meledak saat dicium dan memiliki rona merah di pipinya saat malu."Aku mengulum senyum ku. Sialan. Jensen mendengarnya. Ini memalukaaaaaaaaaaannnn. "Kau tidak berniat mengubahku."aku mengalihkan topik seraya menatap keluar jendela yang di tutupi tirai berwarna putih. Menyukai kenyataan saat ini jika dia sedang memeluk tubuhku. Membuatku nyaman. "Jangan terlalu banyak membaca buku Liana. Pada kenyataannya... mengubah manusia menjadi vampire itu tidak sembarangan. Kita hidup berdampingan. Aturan semacam undang-undang itu berlaku sama sepertimu. Kami juga memiliki aturan yang harus di patuhi." "Lalu...!"ucapku tergantung saat dia menyelaku. "Kau tahu. Hanya kau. Manusia yang tahu siapa aku. Berani melotot padaku. Berani memarahiku dan memberikan pertanyaan yang begitu banyak padaku... dan membuatku berbicara panjang." Aku menatapnya. Terkekeh menyadari aku membuatnya repot. "Kau tidak akan meminum darahku!." "Aku berjanji. Tidurlah. Kau harus bekerja besok." Aku memejamkan mata dan merasakan dia menarikku ke dalam dekapannya. Ya ampun. Aku berpacaran dengan seorang vampire ku pikir. Aku lah yang keracunan twilight. Bukan Helen. Kalau dia tahu. Dia pasti akan heboh. Tapi sayangnya aku tidak bisa berkata pada siapapun. Aku tidak tahu apakah hubungan ini akan berhasil. James juga tak tahu. Jika dia tahu. Dia akan memarahiku. Menceramahiku dan dia pasti akan membawaku ke tabib untuk di doa-doa. Ini pilihanku dan aku harus menjalaninya. Aku percaya pada Jensen. Mencoba lebih tepatnya. Kami baru bertemu beberapa hari. Dan dia bilang dia mencintaiku. Aku masih tidak bisa mempercayainya dan aku ragu. Dengan hatiku. Aku merasa aku tidak bisa menjadi kekasihnya dan percaya padanya. Tapi debaran jantung dan mulutku berkata sebaliknya. Menjadi penjahat kejam yang menghianatiku. Ini resiko yang ku ambil dan aku akan mencoba melewatinya. *** Aku sudah bersiap dengan kemeja putih dengan rompi coklat dan celana bahan hitam. Rambutku. Ku ikat menjadi kuncir kuda. Jensen sudah pergi ketika aku selesai sarapan. Aku memintanya untuk merahasiakan hubungan kami. Aku karyawan baru. Dan aku tidak mau di cap yang aneh-aneh. Seperti aku menggoda bos baruku. Dia tidak bilang setuju. Hanya diam. Tapi ku pikir gertakanku sudah membuatnya mengerti. Aku naik bus. James tidak bisa bangun karena dia baru tidur jam 4 pagi. Bekerja lembur untuk menyelesaikan project barunya. Kalau dia baru tidur maka dia tidak bisa diganggu. Bukan karena dia tidak mau bangun. Tapi dia memang tidak bisa bangun. Jika sudah tidur James itu seperti mati. Aku bahkan tidak bisa membuatnya terbangun walaupun sudah menginjak perutnya. Dia hanya balik badan dan membuatku terjatuh, atau dia akan melemparku dengan bantal atau menendangku keluar Apartemennya. Jadi aku menyerah. Dan berangkat kerja sendirian. Ketika aku sampai di Kantor. Aku bergegas masuk ke lantai 20 menuju ke ruanganku. Aku baru saja duduk dan atasanku Gilbert masuk dengan wajah sumringah. "Pagi Liana."sapanya. "Pagi juga. Kelihatannya kau senang sekali."senyuman nya tertular padaku. Dia tersenyum dengan cengiran di wajahnya. "Ya. Aku mendapatkan ramalan. Kalau nomor lotere yang ku beli akan menang malam ini."Gilbert suka suka sekali membeli lotere dan berharap menang. Aku hanya bisa berharap dia menang, aku tak tertarik dengan itu karena tidak memiliki hoki untuk hal-hal semacam itu. "Benarkah! aku terkejut sekaligus takjub. Tapi aku tidak percaya ramalan. Aku hanya mencoba menghargainya dengan tidak berdebat tentang masalah keyakinan untuk mempercayai hal-hal gaib. "Aku tak sabar mendengar pengungumannya malam ini."dia masuk ke dalam kantornya. Baru saja aku duduk, ponselku bergetar. 'Tahu kau berangkat sendirian. Seharusnya berangkat bersamaku'-Jensen 'Aku tidak mau membangun karirku dalam dunia pergosipan' 'Mereka terlalu sibuk untuk bergosip ria tentangmu'-Jensen 'Aku tidak mau mengambil resiko. Aku mau bekerja. Jangan ganggu aku' Aku tersenyum saat membalas chat Jensen. Ku pikir ini berarti dia tidak setuju untuk merahasiakan hubungan kami. "Permisi." Wajahku mendongak ketika Merry datang menyapaku. Masuk ke dalam ruanganku dan berhenti tepat di hadapanku. "Hai Liana. Tuan Gilbert. Ada?." Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. "Dia ada di ruangannya. Ada apa?." "Ada tamu untuknya." "Tunggu sebentar." Aku menelepon ruangan Gilbert memberitahunya jika ada tamu untuknya. Gilbert mengatakan jika dia mempersilahkan orang itu untuk masuk dan menemuinya. "Bawa dia masuk."Aku berdiri ketika Merry keluar dan memanggil pria itu. Gilbert keluar dari ruangannya dan berdiri di samping mejaku. "Dia akan memakai jasa kita." Aku menganggukkan kepala lalu seorang pria masuk ke dalam ruangan kami. Aku tersentak. Merasakan tak asing padanya. Kedua mata itu. Seolah-olah aku mengenalnya. Tapi.... "Halo tuan Gilbert. Mark."sapanya lalu dia menjabat tangan Gilbert. "Mark."dia beralih menjulurkan tangannya padaku. Aku sedikit terkejut namun kemudian membalas jabatan tangannya. "Liana."sahutku memperkenalkan diri. "Senang bertemu denganmu Liana."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD