"Senang bertemu denganmu Liana."Aku terpaku menatapnya. Kalian tau siapa dia??ya mark dia adalah mantan kekasihku dulu yang telah mencampakanku.Aku bahkan terkejut ia bisa kembali hadir dan tanpa sengaja kami di pertemukan kembali, entah ini sebuah kebetulan atau sebaliknya.
"Kita keruanganku saja."Ucap Gilbert sambil membawa Mark masuk keruangannya,aku hanya memperhatikan mereka sampai pintu benar benar tertutup.
Saat Gilbert dan Mark tengah berbincang di ruangannya aku memutuskan untuk pergi menuju Toilet. Aku bahkan merasakan rasa gelisah yang tiba-tiba menerjangku. Gila.. Ini gila. Lihat siapa yang kembali datang ke dalam kehidupanku. Kim Mark mantan kekasihku. Aku bahkan sengaja menuju Toilet di lantai 18 karena ingin menghindarinya, sekaligus Ingin mencari udara segar. Aku benar-benar tidak habis pikir. Kenapa bisa bertemu kembali dengannya. aku sampai di lantai 18 lalu berjalan menuju toilet, saat aku sampai di toilet lalu dengan cepat menuju ke wastafel untuk membasuh wajahku akupun mencipratkan air ke wajahku.
Tapi aku tetap tidak ingin riasan tipisku menghilang begitu saja. Aku mengambil tisu untuk mengelap tanganku yang basah lalu membuang tisu itu ke dalam tempat sampah sebelum keluar dari sana. saat aku keluar dari toilet tak sengaja mataku memandang sebuah lorong yang terdapat ruangan,di pojok ruangan tepat di samping lift. Ruangannya gelap. Sepertinya kaca satu arah. Aku menekan tombol lift berniat untuk kembali. Lalu bercermin untuk melihat tampilan ku kembali. Mencoba memastikan penampilanku tidak buruk.
Tiba-tiba lampunya ruangannya menyala dan Jensen keluar dari ruangan tersebut lalu tiba tiba sudah berada di hadapanku.
"Aigoo."(ya tuhan) aku hampir saja terjungkal ke belakang kalau saja Jensen tidak menarik tanganku dengan cepat.
"Kau membuatku terkejut."protesku. Jensen membawaku ke dalam ruang meeting oh ternyata ini ruang meeting fikirku dan untunglah hanya ada Jensen di dalam sini kalau tidak entah mau ku kemanakan wajahku ini. Lampunya kembali ia matikan,lalu ia menutup kembali pintunya. lalu menaruhku di atas meja dan berdiri tepat di antara kedua kakiku.
"Senang melihatmu di sini."Ucapnya lalu ia melingkarkan kedua tangannya di pinggangku dan kedua tanganku ia lingkarkan di bahunya.
"Kau sendirian?."tanyaku. mencoba mengalihkan topik karena aku sedang gugup saat ini. Mencoba menghilangkan kegugupanku saat hidung Jensen sedang mendengus leherku. Membuat sensasi panas mengalir di sepanjang urat nadiku.
"Berdua."ucapnya. Seketika membuatku mengalihkan arah pandangku. Mencari-cari takut seseorang berada di dalam sini dan melihat apa yang kami lakukan. Aku pasti akan sangat malu. Ini memalukan. Tapi. Tidak ada siapapun.
"Dengan siapa?."
"Kau."ucapannya membuat sudut bibirku tertarik sedikit.
"Ha! Lucu sekali."sungutku, dia terkekeh membuatku tersenyum, senang melihatnya tertawa bahkan tersenyum. Rasanya menyenangkan mengetahui ia terlihat santai saat bersamaku.
"Aku suka aromamu dan kulitmu sangat hangat."Jensen memejamkan mata. Masih menelusuri rahangku dengan hidungnya. Sesekali bibirnya mengecup leherku membuat desiran hangat. Dan sensasi menggelitik di perutku. Aku memejamkan mata, ketika Jensen mencium dan menghisap lembut kulit bahuku. Membuatku mencengkram kuat bahunya.
Jensen menarik tengkukku, meraup bibirku. Membuat detak jantungku berdegup kencang. Kedua tanganku merambat naik, mengusap kasar rambut berwarna hitam gelamnya. Menarik sedikit. Merasakan sensasi yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Rasa nya dingin, lembut dan sangat manis. Bibir Jensen sangat memabukan. Menciumku dengan lembut dan sedikit ganas. Getaran ponsel Jensen membuatku terkejut. Ya ampun. Aku lupa. Jam kerja.
Aku menarik wajahku. Nafasku memburu. Menghirup oksigen dengan rakus. Aku baru tersadar aku sudah kekurangan oksigen begitu banyak hingga kini aku begitu membutuhkannya.
"Aku sampai lupa. Kekasihku adalah manusia yang bernafas. Aku hampir membuatnya mati."
"Ya. Kau hampir membuatku mati dengan ciuman mematikanmu dan tidak membiarkanku bernafas."
"Ciuman mematikan -huh."bibirnya berkedut merasa lucu dengan perkataanku. Aku memutar kedua bola mataku malas.
"Aku harus kembali bekerja."aku mendorongnya menjauh dariku dan loncat dari atas meja untuk turun. Aku hampir saja terjatuh jika saja Jensen tidak dengan sigap menahan pinggangku.
"Terima kasih." Ucapku padanya
"Kembali."ucapnya. Lalu aku dengan tergesa kembali menuju ruanganku, untunglah kulihat mereka berdua masih asik berbincang dan aku kembali dengan pekerjaanku.
***
Jam makan siang pun tiba mereka sepertinya sudah selesai, lalu tak lama Gilbert keluar dari ruangannya dan di susul oleh Mark, aku menatapnya lalu berdiri dari dudukku.
"Liana."Panggil Gilbert padaku.
"Ya."Ucapku menatapnya.
"Kita akan makan siang bersama denhan Tuan Mark dan kau tidak boleh menolak."Ucapnya.
Apa?!,yang benar saja aku saja tadj berusaha menghindarinya tapi kemapa sekarang malah harus makan siang dengannya walaupun bukan kami berdua saja ada Gilbert yang juga ikut tapi tetap saja itu membuatku sangat risih
"Baiklah."Jawabku denga pasrah dan kulihat Mark menatapku dengan senyumnya.
Kami sampai di restorant lalu memesan makanan dan tak lama Gilbert meminta izin untuk pergi ke kamar kecil dan itu membuatku sangat jengkel bagaimana tidak karena itu berarti ia akan membiarkan ku duduk berdua dengan Mark.
Ini benar-benar hari sialku. Kecuali ketika aku tak sengaja bertemu dengan Jensen. Selain itu. Aku benar-benar sial. Mark. Mantan kekasihku. Sedang duduk di hadapanku. Sementara Gilbert sedang berada di kamar kecil.
Dia menahan kami untuk makan siang bersama. Aku meu tidak mau harus ikut alasanku karena Gilbert yang menyuruhku wajib ikut makan siang dengan mereka berdua. Aku sudah menolaknya tapi dia bersikeras agar aku ikut dengan mereka.Aku meliriknya. Dia sedang menatapku dengan senyum di bibirnya. Senyuman yang dulu ku kagumi. Tapi tidak dengan sekarang. Aku tidak menyukainya. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Mencoba sibuk melihat sekeliling. Apapun ku bahkan ku perhatikan. Sampai tutupan tempat sampah yang bergoyang akan aku lihat, apapun. Asal tidak melihat mantanku yang kini berada di hadapanku.
"Senang bertemu denganmu lagi. Sudah lama tidak menatapmu sedekat ini."Ucapnya tetap dengan menatapku. Aku tidak mau menjawab. Aku hanya diam. Tidak mau mengubrisnya.
"Aku merindukanmu."Ucapnya lagu
Kegelisaan datang menerjangku tiba-tiba. Jujur saja. Ini sangat mengganggu. Kapan Gilbert datang. Dan membuatnya mengalihkan topik ini.
"Aku tahu kau marah. Aku tidak punya pilihan. Saat itu..."
Arghh sungguh. Aku beralih menatapnya dan seketika senyuman nya berubah sumringah. Membuatku merasa bersalah sudah mengabaikannya. Tidak. Jangan merasa bersalah Liana.
"Anggap saja kau tidak mengenalku Mark-ah. Jangan ungkit lagi apa yang terjadi di masa lalu."ucapku
"Masa lalu bukanlah sesuatu yang harus di ingat-ingat."Ucapku
Aku menatapnya. Menunjukan betapa aku tidak suka. Tapi rasa bersalah melakukan hal ini merambat naik menusukku.
"Aku tidak mau menjadi orang jahat di sini. Tapi.. Ku pikir tidak baik mengingatnya."
"Aku yang jahat. Maafkan aku."
Aku menatapnya. Sama halnya dengan dia yang kini menatapku. Hatiku sudah tidak bergetar lagi saat menatapnya. Jantungku juga tidak berdegup seperti dulu. Semuanya memang sudah berubah. Tapi, Aku merasa gelisah. Dan takut jika aku akan kembali menyukainya.
"Maafkan aku. Kelamaan ya."Gilbert datang membuatku mengalihkan pandanganku ke arah lain.
"Tidak."jawab Mark.
"Makanannya belum juga datang?."tanya Gilbert lagi.
Aku melirik Mark lalu melihat ke arah Gilbert.
"Belum."jawab Mark ketika aku ingin menjawabnya.
Aku mengalihkan pandanganku dan tatapanku bertemu pada seseorang. Pria dengan jaket bertudung hitam yang menutupi hampir semua wajahnya. Kecuali bibir nya yang kini tersenyum menyeringai.
Perasaanku mendadak gelisah. Entah kenapa. Tapi aku merasa orang itu bukanlah manusia. Ku pikir. Sepertinya dia vampire. Dan rasa ketakutan itu datang menerjangku bagai badai besar.
Aku terus menatapnya. Dan orang itu tetap menunjukan seringaiannya. Seperti seekor binatang buas yang bertemu seekor mangsa untuk di santap. Alarm bahaya berdentang keras di kepalaku. Sebuah bis melaju dan pria itu menghilang begitu saja. Membuatku terkejut.
"Liana."Gilbert memanggilku dengan keras membuatku terlonjak kaget dan menatapnya cepat.
"Apa kau baik-baik saja. Kau nampak pucat. Minumlah."Gilbert menyodorkan segelas air putih ke arahku. Aku bahkan tidak sadar, waiters datang dan menyajikan beberapa makanan yang kami pesan di atas meja. Aku mengambil gelas berisi air tersebut dan menenggaknya sedikit.
"Kau seperti melihat hantu saja. Apa yang kau lihat?."mataku tak sengaja bertemu dengan Mark. Dia sedang menatapku. Nampak penasaran. Dan cemas. Aku beralih menatap Gilbert dan tersenyum.
"Bukan apa-apa. Hanya terkejut melihat burung lewat."
"Burung??."gumam Gilbert dan mengalihkan pandangannya ke arah yang tadi ku pandang.
***
NIT
NIT
NIT
Aku mendorong pintu Apartemenku. Aku baru saja sampai di rumah. Melepaskan sepatuku begitu saja lalu menyalakan lampu.
Aku pergi menuju dapur, mengambil segelas air untuk ku minun. Hari ini adaah hari yang panjang. Rasanya begitu lelah dan berbaring adalah jawabannya. Aku membuka pintu kamarku. Gelap. Dan bayangan seseorang tengah duduk di sana membuatku terkejut dengan reflek menyalakan lampu.
"Aigo. Kau mengejutkanku."
Jensen di sana. Duduk di atas tempat tidurku seraya memainkan ponsel. Kedua kakinya di goyang-goyang. Seolah merasa nyaman seperti rumahnya sendiri. Aku berjalan masuk setelah menutup pintu. Menaruh tasku di atas meja di kamarku.
"Aku tidak suka dengannya."Aku beralih menatapnya. Dia sedang menatapku. Raut wajahnya telihat tidak suka. Aku tidak tahu maksudnya. Dengannya. Siapa.
"Pria yang makan bersama mu dan Gilbert siang tadi."ohhh... Mark. Tunggu. Dia tahu. Bagaimana bisa. Aku tidak melihatnya tadi fikirku.Tatapanku membuatnya menjawab. "Orangku melihatnya."
Oh. Aku lupa. Dia adalah penguntit. Aku memutar kedua bola mataku malas. Mencepol rambutku. Lalu berbalik memunggungi nya untuk membersihkan make up di wajahku. Apa orangnya yang menyeringai padaku dengan tudung hitam. Aku tidak terbiasa di perhatikan dan Jensen sangat menyebalkan dengan sifat penguntitnya.
"Dia bukan siapa-siapa. Dia akan memakai jasa kami. Dan tadi itu, hanya ajakan makan siang biasa."jelasku.
"Aku tidak suka dengannya. Caranya menatapmu. Itu membuatku marah."Aku berdiri. Menyilangkan kedua tanganku menatapnya. Berseru tentang batasan.
"Apa.. Kau selalu secemburu seperti ini kepada pacar-pacarmu yang lain."
Dia mendengus, tersenyum menatapku. "Kemarilah." Kepalaku menggeleng. Menolaknya. Tetap berdiri di tempatku. "Manusia butuh mandi"
"Kau tetap harum walau tidak mandi."ucapan Jensen membuat Liana memutar kedua bola matanya malas. Bualan ini terlalu berlebihan.
"Itu darahku. Tidak dengan keringatku. 20 menit."ucapku.
"Jadi.. Aku harus menunggumu lagi nona. Tadi menunggumu pulang dan sekarang aku harus menunggumu mandi."Liana tersenyum geli ketika melihat Jensen merenggut seperti bocah, ekspresinya menggemaskan.
"Kau harus menunggu untuk memperoleh apa yang kau inginkan. Itulah cara kerjanya dunia ini. Asal kau tahu."Aku melihatnya terkekeh geli dengan menggeleng-geleng heran. Sebelum keluar kamar dan masuk ke dalam Toilet.
Benar-benar 20 menit. Aku memakai piyama berwarna merah bergaris hitam. Ketika aku kembali Jensen masih di sana. Ketika aku masuk dia menatapku. Aku menyisir rambutku dan memakai pelembab sebelum naik ke atas tempat tidur dan bergabung dengannya.
"Mau merindukanku atau bau darahku."tanyaku saat sudah berbaring di sebelahnya. Jensen mengecup keningku. Membuat darahku berdesir.
"Dua-duanya. Aku suka kau hangat. Harum dan aku sangat menyukaimu. 1 paket penuh luar biasa."
"Jadi... Kau belum bosan padaku."kalimat itu lolos begitu saja dari bibirku. Dan seketika aku merutuki ucapan bodohku. Karena detik itu juga ketika kalimatku lolos wajah Jensen berubah tak suka.
Sepertinya dia merasa tersinggung. Atau itu memang benar. Sampai sekarang aku belum bisa percaya. Pria hampir mendekati sempurna ini menyukai ku. Manusia. Bisa kalian bayangkan.
"Apa kau mengharapkan aku pergi. Menjauh darimu. Itu yang kau mau?!."Aku terdiam untuk beberapa saat, memikirkan perpisahan membuat ku bergidik ngeri. Itu bukan ide yang bagus.
"Tidak."jawaban itu begitu cepat keluar dari bibirku. Tapi. Itulah kenyataannya. Baiklah. Aku akui. Aku mulai terjerat olehnya. Jensen telalu eksklusif untuk diabaikan dan ku pikir rasa ini muncul. Entah sejak kapan aku tidak menyadarinya, tapi aku tidak bisa menjauh darinya.
"Tidak. Aku rasa.. Aku tidak mau."
"Aku juga."Jawab Jensen lalu tersenyum.
"Aku suka senyumanmu."aku mengatakan hal itu. Dia nampak terkejut namun kemudian mencium bibirku yang kini berbalik mengejutkanku.
"Aku pria yang posesif Liana. Asal kau tahu. Aku tidak suka jika orang lain mengganggu apa yang menjadi milikku."Jensen membenarkan posisi berbaringnya menjadi lebih miring menghadapku. Lalu menarikku lebih dekat ke arahnya.
"Aku tidak suka kau berdekatan dengan seorang pria. Apalagi jika mereka tertarik denganmu. Itu menggangguku. Kau milikku. Dan aku akan menjaga apa yang menjadi milikku agar tetap menjadi miliku."
Aku menaruh telapak tanganku di pipinya. Mengusap pipinya yang dingin dengan ibu jariku, membuatnya memejamkan mata. Merasakan sentuhan tanganku di wajahnya. Aku senang mendengarnya. Kalimatnya membuat jantungku berdebar. Merasa begitu di cintai membuat hatiku menghangat. Tapi aku tetap takut mempercayainya. Kejadian di masa lalu tentang kisah cinta menghantuiku bagai mimpi buruk. Bolehkah aku percaya dan meyakini hal itu benar-benar ada. Nyata. Cinta yang tulus itu benar-benar ada.
***
James pulang membawa tas plastik berisi makan malamnya di atas bahunya. Ia melihat seorang pria memakai jaket panjang di depan Apartemen mereka. Wajahnya mendongak menatap gedung Apartemen. Sebenarnya James tidak mau peduli kalau saja kamarnya bukan berada di arah pandang pria misterius tersebut.
James ingin menanyakan nya. Berbasa basi mencoba mencari tahu apa yang ia cari di jam 11 malam seperti ini di depan gedung Apartemen.
"Maaf. Apa kau sedang mencari sesuatu?."
Pria itu berbalik menatap James. Tersenyum memperlihatkan giginya. Dan seketika tubuh James membeku