BAB 10 - Meet old friend

2075 Words
"Waahhh... Devian. Kau di sini!,"Seru Jamesnampak terkejut ketika melihat seorang pria saat ini sedang berdiri di hadapannya. Pra yang sangat akrab ia kenal. "Kenapa malam-malam kemari-huh?." "Mau mengunjungi teman lama. Sekalian numpang bermalam."jawab Devian dengan cengiran di wajahnya. Pria itu bernama Devian. Teman akrab James sewaktu SMA dan teman kuliah sewaktu di California. Ia dan Lianapun juga cukup akrab. Bahkan sangat akrab. James tak menyangka akan melihat bocah laki-laki yang sudah ia anggap saudara laki-laki nya itu di sini. "Bukanya kau bilang kau akan pergi ke Manhattan. Kenapa kau di sini??." Devian berjalan semakin dekat ke arah James dan berdiri di samping pria itu. Kedua tangannya semakin dalam ia masukan ke dalam jaketnya. "Udara Seattle lebih bagus untukku."ucapnya membuat James tersenyum miring, menanggapi perkataan Devian. "Dimana Liana. Apa dia masih tinggal di sebelah mu??."Tanya devian kembali "Ya. Dia ada. Mungkin belum tidur. Mau bertemu dengannya?."Devian mengendikan bahunya. Seolah mengatakan terserah padamu. "Aku rasa, aku mau mengejutkannya."ucap Devian akhirnya. "Dia pasti akan terkejut. Ayo kita kasih kejutan padanya."seru James melenggang masuk gedung ke Apartemen diikuti Devian di belakangnya. "Banyak hal terjadi. Tapi yang ku rindukan adalah beradu argumen dengannya."gumam Devian membuat James terkekeh. James memencet tombol lift menuju lantai kamarnya dengan Liana. Ia melirik Devian. Pria itu tak jauh berbeda dengan terakhir kali ia melihatnya. Devian adalah sahabat dekatnya. Ia senang pria itu mengunjunginya. Terakhir kali memberi kabar. Ia masih berada di California. Tak lama mereka sampai di lantai kamarnya. James berjalan pergi menuju kamar Liana dengan Devian yang berdiri di sampingnya. Kini mereka di depan pintu kamar Liana. James memencet tombol bel pada daun pintu. Beberapa kali hingga akhirnya pintunya terbuka. "Ada apa James?!. Kenapa malam-malam begini kau.. "Perkataan Liana seketika terhenti saat melihat Devian di samping James. "TARAAAAA.... lihat siapa yang datang mengunjungi kita."seru James. "Devian. Kau... "Bibir Liana nampak keluh. Ia mendapati Devian kini berdiri di hadapannya. Sudah lama mereka tidak bertemu. Dan Liana akui ia sangat merindukannya. Sahabatnya yang sangat berarti untuknya. "Devian bilang dia mau mengejutkanmu. hey lihat Liana benar-benar terkejut. Haha."tawa James menghiasi wajahnya. Ia melihat Devian dan Liana bergantian tanpa melepas senyum di bibirnya. Ya. Liana memang sangat terkejut, apalagi menemukan fakta bahwa sahabatnya itu sudah berubah menjadi vampire. Kedua mata Devian mengilat, seperti vampire-vampire yang ia lihat di luar sana. Tapi Liana tak takut pada Devian. Ia sudah seperti kakak kedua baginya. Dan Liana percaya Devian bukanlah vampire jahat, seperti vampire-vampire di luar sana yang menginginkan darahnya. Devian melirik ke arah kalung yang Liana kenakan. Dia mengerti sekarang. Kenapa Liana terlihat sama dengan dirinya. Aneh. Bagaimana bisa Liana memakai kalung itu. Pikiran itu bersarang di kepalanya. Memperlihatkan tanda tanya besar di benaknya. Devian sangat penasaran. Benar-benar merasa begitu penasaran. Devian juga terkejut, Liana mengenalinya. Terlihat bagaimana ekspresi yang ia tunjukan padanya saat ini. Sekarang Liana tahu siapa dia sebenarnya. "Oh. Hei.. Hei.."Liana dan Devian beralih menatap James. Pria itu melihat ke arah belakang Liana lalu menatap Liana protes dengan kedua mata membesar seolah-olah sedang melihat penampakan setan. Devian juga sama. Kedua matanya membesar terkejut membuat Liana menoleh ke bagian belakang tubuhnya. Dan mendapati Jensen tengah berdiri di belakang tubuhnya. "LIANA APA YANG KALIAN BERDUA LAKUKAN HAA!."teriak James membuat Liana menutup kedua telinganya rapat. James menarik Liana ke dalam kamar Apartemennya. Membawa wanita itu menuju kamarnya meningalkan Jensen dan Devian di ambang pintu Apartemen Liana. "Lepaskan tanganku. Sakit tau.apa kau tudakntau ini sakit, dan tolong jangan menarikku seenaknya."gerutu Liana menarik tangannya dari cekalan tangan James. James mendesah frustasi. Ia menoleh ke arah pintu dan Liana secara bergantian, nampak begitu kesal. Wajahnya memerah, beberapa kali ia mengusap rambutnya kasar. "Sedang apa dia di sini huh, apa yang sedang kalian berdua lakukan huh. Apa kau sudah gila. Kenapa membiarkan seorang pria menginap di rumahmu."Liana menggigit dalam bibirnya, ia tertunduk lalu melirik James dari bulu matanya. "Memangnya kenapa lagi pula kami tidak melakukan hal yang aneh-aneh."gumam Liana lirih. "Tidak ada yang aneh-aneh. Tapi tetap saja. Apa kau mau ku laporkan pada Ayahmu."Liana mendongak. Menatap James protes. Kalimat James yang mengatakan akan mengadukan hal ini pada Ayahnya membuatnya mendidih dan kesal sekali di buatnya. "Jangan lakukan hal ini padaku. Apa kau mau aku juga adukan pada Ayahku kalau kau dan Devian pernah pergi ke Club dan membolos kuliah."Liana menatap James tak kalah sinis. Wajah James tertarik ke belakang seolah Liana baru saja meninjunya. James bertolak pinggang menatap Liana protes. Wanita ini sangat keras kepala. Ia tak mau kalah. Padahal jelas-jelas ia ketahuan berbuat kejahatan. Benar-benar kejahatan besar. "Kapan aku pergi ke Club. Jelas kau yang melakuan kejahatan saat ini dengan membawa pria masuk ke dalam Apartemenmu. Menginap. Garis bawahi itu. Menginap apa kau tau itu tidak di perbolehkan."ucap James dengan penekanan pada kata menginap. Dan James tahu siapa yang membocorkannya. Pastinya Helen Austin. Wanita si mulut besar yang tak sengaja memergokinya ketika keluar dari dalam Club, dan berpapasan dengannya ketika menjemput tantenya yang suka masuk keluar Club bersama teman-teman lainnya. "Aku sudah dewasa. Aku bisa bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan." Ucapku pada James "Kau hamil???."ucap James tiba-tiba membuat Liana menepuk keningnya frustasi. Bagaimana bisa hal ini di sangkut pautkan dengan kehamilan. James bodoh. Liana tak habis pikir dengan jalan pikiran temannya itu. "Bertanggung jawab bukan berarti bertanggung jawab karena aku hamil astaga James Craig. Apa kau sudah gila." "Kau yang sudah gila nona . Lihat itu. Pria. Masuk. Ke dalam. Apartemen. Satu ranjang denganmu. Kau pikir apa yang kau lakukan ?."ucap James sok mendramatisir membuat Liana geregetan. "Kami tidak melakuan hal-hal yang kelewat batas. Ampun. Bagaimana caranya membuktikan kalau kami tidak kelewat batas. Kalaupun kelewat batas kami akan memakai pengaman." "APA KATAMU." teriak James membuat Liana menutup telinganya rapat. Lagi! James jadi seperti bibi bibi yang suka berteriak -teriak tak jelas memarahi bocah di bawah umur yang habis memecahkan barang. "Jangan berteriak padaku. Kau mau membuatku telingaku tuli-Huh."timpal Liana kesal. Liana tak bercanda. James benar-benar akan membuatnya tuli malam ini juga jika dia tidak mengecilkan volume suaranya sedikit saja. Tiba-tiba pintu terbuka, mereka menoleh secara bersamaan dan mendapati Devian yang datang dengan kedua tangan di dalam saku jaket nya. Pria itu menendang pintu sampai terbuka lalu menatap keduanya secara bergantian. "Apa kau tidak punya tangan sampai harus membuka pintu kamarku menggunakan kaki."protes Liana menatap Devian dengan sebal "Ini sudah malam. Apa kau harus berteriak secempreng itu huh!."omel Devian pada James. Liana melipat kedua tangannya di depan d**a. Menyetujui perkataan Devian dengan menganggukan kepalanya dan menatap James sengit. "Dengarkan itu"ucap Liana membuat James mendesah frustasi dan membuang arah pandangnya. Ia mengusap wajahnya kasar. James terlihat begitu marah. "Lagi pula aku hanya bercanda. Aku tidak akan melewati batas. Aku tahu diri."guman Liana membuat James kembali menatapnya. "Aku akan berusaha percaya. Jangan kecewakan Ayahmu" "Dan aku akan mengawasimu lebih ketat."ucap James seraya menatapnya dengan menyipitkan matanya. Liana memutar kedua bola matanya malas. Sementara Devian hanya terkekeh melihat kedua orang sahabatnya itu. James memang sudah seperti kakak bagi Liana. Bahkan lebih seperti ke ayahnya karena pria itu begitu protektif padanya. James berjalan keluar kamar melewati Devian begitu saja. Liana melirik Devian dan ternyata pria itu sedang menatapnya. "Aku mau bicara padamu."ucap Devian membuat Liana mengangguk. "Aku juga. Kau membuatku terkejut." Devian terkekeh. Ia melirik ke arah bawah sebelum kembali menatap Liana. "Aku tidak berniat menyakitimu bahkan James. Persahabatan kita selama ini adalah buktinya. Kalian sangat berarti untukku. Percayalah." Liana mengangguk. Bibirnya tersenyum. Ia yakin pada perkataan Devian, bahkan Devian sendiri. Ia bahkan tidak curiga, sedikitpun saja tidak. Sahabatnya itu sangat berarti untuknya. "Aku percaya padamu Devian." "Kepercayaan itu sangat berarti bagiku."jawab Devian. "Ayo. Keluar. Jangan biarkan babi itu mengancam seekor singa." Liana mengulum senyumnya, bibirnya berkedut geli menahan senyum. "Okey." *** James keluar dari kamar Liana. Devian mengikutinya dari belakang bersama Liana. James menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan Jensen yang berdiri seraya bersandar pada meja dapur. "Terbiasalah mulai sekarang Tuan Harden. Aku akan mengawasimu. Kegilaan adikku pada pesonamu tidak akan membuatku lengah membiarkanmu berdekatan dengannya" "Ayo Devian." "Kau seharunya percaya pada perkataan adikmu."ucap Jensen membuat James yang tengah berjalan menuju pintu Apartemen menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Jensen. James menoleh pada Liana, ia menggerakan kedua jarinya ke arah Liana lalu ke arah matanya seolah mengatakan. Aku akan mengawasimu. Liana memutar kedua bola matanya malas. Liana berjalan mendekati Jensen untuk berdiri di sebelahnya. Jensen menoleh pada Liana, sebelah tangannya menarik wanita itu menjadi lebih dekat ke arahnya. "Maafkan perlakuan Ayah tiriku. Dia agak cerewet."ucap Liana asal membuat Jensen tersenyum. "Ah.. Aku dengar itu."sahut James dari luar Apartemen. Devian tersenyum miring seraya menutup pintu Apartemen Liana setelah melambaikan tangan padanya. Liana terkekeh mendengarnya. James memang keterlaluan jika sudah menyangkut tentang dirinya. "Ayo berbaring."ajak Jensen yang di balas anggukan kepala dari Liana. Tiba-tiba ia sudah berada di atas tempat tidur dengan Jensen yang berbaring di sisi kirinya. Liana mengerjapkan kedua matanya terkejut. Sampai kapan dia akan terbiasa dengan ini. Pria itu benar-benar cepat. Liana rasa dia akan selalu terkejut dengan segala apa yang Jensen lakukan padanya. "Pria yang bersama James itu siapa?."Liana bergerak semakin mendekatkan dirinya pada Jensen. Bersandar pada d**a bidang pria itu. "Namanya Devian. Dia sahabatku dan James sejak SMA."gumam Liana. Liana merasakan Jensen mencium pucuk kepalanya. Membuatnya merasa nyaman. Bahkan elusan di rambutnya seolah menenangkannya. "Dia vampire!."ucap Jensen. Liana memejamkan matanya seraya mendesah. Ia sendiri terkejut dengan kenyataan itu. Sahabatnya adalah seorang vampire sejak kapan. Liana penasaran dan ingin sekali menanyakan hal ini pada Devian secepatnya. Liana tidak apa jika dia berbeda. Hanya saja.... Liana sangat terkejut. Ia tidak percaya bisa berteman sebegitu lamanya dengan Devian dan baru tahu tentang hal ini sekarang. Atau dia vampire baru. "Apa menurutmu dia baru saja jadi vampire?."tanya Liana, wajahnya mendongak menatap Jensen. Jensen mengecup bibir Liana membuat kedua mata Liana mengerjap terkejut. "Dia vampire lama. Tapi dia tidak akan menyakiti kalian berdua." "Aku tahu. Aku percaya padanya. Dia membuktikannya selama bertahun-tahun ini dengan bersahabat dengan kami." "Lalu kenapa kau terlihat murung. Apa yang sedang kau pikirkan." "Aku... Hanya. Terkejut."Jensen mengeratkan pelukannya pada Liana. Memeluk wanita itu. "Ahh...ayo Kemari. Biarkan aku memelukmu."Liana tersenyum. Merasakan aroma fermonom Jensen menusuk Indra penciumannya. Rasanya sangat menyenangkan dan menenangkan. Aroma fermonom Jensen bagaikan obat penenang untuknya. Liana suka berada dalam dekapan Jensen. Pria itu membuatnya merasa sangat terlindungi. Liana rasa dia tidak bisa menjauh dari Jensen. Tidak akan pernah bisa. *** James meneguk birnya seraya menatap malas layar tvnya. Devian terkekeh melihat wajah James yang nampak khawatir. James memang selalu berlebihan jika menyangkut tentang Liana. Devian bahkan sangat ingat ketika James memukul seorang pria yang melecehkan Liana hanya dengan kata-kata kalau dia ingin mencium bibir Liana hingga bengkak. Dan James memukulnya hingga biru-biru. "Percayalah padanya."gumam Devian membuat James mendesah frustasi. "Aku tahu. Aku sedang berusaha."ucap James kembali meneguk birnya. "Pria itu tidak akan macam-macam. Liana bilang jika dia tidak akan kelewat batas. Jadi kau harus percaya padanya. Lagi pula dia bukan anak kecil lagi." "Aku tahu. Aku hanya.... ckkkk.Rasanya aneh sekali. Aku sudah bersamanya begitu lama. Sejak kami masih kecil dan hingga sampai saat ini. Aku seperti sudah membesarkan seorang anak. Dan sekarang anakku sedang mencoba melepaskan dirinya dariku. Dia sudah menemukan seseorang. Aku senang. Hanya saja. Terlalu cepat dengan hidup bersama. Aku ingin percaya. Tapi ini baru beberapa hari. Bagaimana kalau pria itu baj*ng**" "Kau tahu kan betapa lugunya Liana. Dia bodoh tentang urusan Cinta. Dia tidak pernah berpacaran dengan benar. Ku harap dia pria yang tepat. Bukan hanya pria kaya hidung belang yang suka mempermainkan wanita lugu. Dan bodoh tentang Cinta seperti Liana." Devian tertawa terbahak. Perkataan James benar-benar membuatnya kehilangan kata-kata. Dia benar-benar terlihat seperti seorang ayah. "Lihat apa yang sedang kita lakukan. Seperti bapak-bapak yang sedang membicarakan masalah tentang Putri mereka. Aku jadi merasa begitu tua." James terkekeh. Ia sendiri tidak tahu kenapa. Tapi James selalu merasa ia bertanggung jawab atas Liana. Ayah Liana menitipkan putrinya padanya, percaya bahwa James akan menjaga putrinya dengan baik. Dan James ingin menjaga kepercayaan itu, hingga Liana bisa mendapatkan pria yang benar-benar bisa di percayai untuk menanggung kepercayaan itu. James percaya pada Liana tapi Jensen. Pria itu baru di kenalinya beberapa hari ini. Tidak mungkin James percaya begitu saja padanya. Tidak ada yang tahu bagaimana sifat asli seseorang hanya dengan berbicara padanya selama beberapa hari. Bahkan James baru satu kali mengobrol dengan Jensen di Restoran. Itu juga hanya beberapa detik. "Ayo main video game."ajak Devian membuat James menoleh padanya. Ia mengangguk setuju. James mengambil stik dari tangan Devian yang di sodorkan ke arahnya. "Ayo kita taruhan. Yang kalah. Traktir makan siang besok bagaimana."seru James. "Baiklah. Jangan merengek minta gantian untuk bayar makan siang besok jika aku menang yang."timpal Devian membuat James menatapnya protes.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD