"Cepat beritahu aku dimana kau sembunyikan kaus kaki sebelahku."Devian melirik James yang berbaring di atas tempat tidurnya. Pria itu kerap kali mengigau tidak jelas yang membuat Devian tak mengerti apa yang di bicarakan James dalam tidurnya apa ia memgigau fikir devian. Devina menaruh bir yang di teguknya lalu bangkit berdiri. Ia melihat James, pria itu terlihat larut dalam mimpinya. Devian menghampiri James. Membetulkan selimut pria itu sebelum melangkah keluar Apartemennya. Ketika ia berada di luar Apartemen James, Devian melirik pintu Apartemen Liana yang berada di sebelah James.
Ia pergi menuju pintu Liana. Dan nengetuk pintu tersebut satu kali. Satu ketukan itu membuat pintu nya tak lama terbuka dan mendapati Jensen yang keluar dari dalam ruang Apartemen Liana.
"Bisa kita bicara?."tanya Devian seraya menatap Jensen tajam. Tatapan nya kurang bersahabat. Ada sedikit nada ancaman dalam suara dan tatapannya. Seolah menggertak Jensen.
"Tentu saja. Tapi aku tidak bisa membiarkan Liana sendirian. Bisakah kita bisa bicara di dalam." Devian mendengus remeh. Perkataan Jensen seolah ia adalah tuan rumah dari Apartemen Liana dan dia adalah tamunya. Tapi jika itu karena Liana maka Devian setuju. Setidaknya dia bisa mengawasi sahabatnya juga di dalam sana.
"Baiklah." Jawab Devian. Jensen berjalan masuk lebih dulu dan diikuti oleh Devian di belakang nya. Devian yakin Liana juga sudah tidur bahkan mungkin bermimpi seperti James, karena sekarang sudah jam 3 pagi.
Baguslah.
Karena ini pembicaraan rahasia. Devian tidak mau ada yang mendengarnya.Termasuk James atau Liana. Tidak kedua sahabatnya. Jensen menghentikan langkah nya ketika mereka berada di ruang tamu. Devian berdiri sekitar 3 meter dari Jensen. Kedua tangannya di masukan ke dalam saku celananya. Mereka saling berhadapan dan melempar tatapan tajam. Jelas Devian tak terlihat bersahabat. Melihat sahabatnya berdekatan dengan kaumnya si penghisap darah. Membuat Devian sangat cemas. Tentu saja. Siapa yang tidak cemas melihat sahabatmu bersama dengan orang-orang yang mengancam nyawanya fikir devian.
"Apa maumu!."pertanyaan Devian membuat Jensen mengernyit bingung. Jensen mengerti ini semua menyangkut tentang ia yang dekat dengan Liana. Kedua orang itu terlihat begitu peduli padanya dan menimbulkan sedikit rasa kecemburuan. Tapi Jensen menampiknya hal ini bagus, Liana berdekatan dengan orang-orang yang baik dan peduli padanya.
"Kau peduli pada mereka??."tanya Jensen.Kilatan emosi mengilat di kedua mata Devian, rahangnya mengeras dan bibirnya mengetat amarah.
"Aku peduli pada mereka karena mereka adalah sahabatku. Seperti keluarga bagiku."Ucap Devian sungguh-sungguh.
"Bagaimana caranya aku percaya padamu?!."Pertanyaan Jensen membuat Devian mendengus kesal dengan bibir tertarik di sudut bibirnya.Bisa-bisanya pertanyaan itu ditorehkan padanya, bukankah seharusnya ia yang bertanya seperti itu padanya.
"Seharusnya aku yang mengatakan hal itu padamu."
"Bertahun-tahun hidup bersama tanpa ada luka atau bekas gigitan pada mereka berdua, membuktikan bahwa aku peduli pada keselamatan mereka. Sementara kau. Apa yang kau inginkan dari Liana?."
"Hanya karena berbeda kasta bukan berarti aku akan takut padamu. Jika terjadi sesuatu pada kedua sahabatku. Aku akan membunuhmu."kilatan amarah, dan jelas tanda peringatan berkelebat di pancaran kedua bola mata Devian.
Pria itu serius dengan ucapannya. Devian tak main-main kedua orang itu berarti baginya. Devian tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kedua sahabatnya itu. Bahkan jika membunuh adalah satu-satunya cara agar bisa melindungi mereka.
"Aku senang mendengarnya nya. Tapi kau jangan khawatir. Aku tidak akan melukai James bahkan Liana. Terutama Liana. Aku juga akan melindunginya. Kau jangan khawatir."
"Memamerkannya di sebuah Club dengan puluhan vampire kau pikir itu yang namanya melindunginya."desis Devian dengan penekanan pada setiap kata-kata nya. Devian ada di sana ketika saat itu terjadi.
Ia tak sengaja melihat Liana bersama dengan Jensen ketika mereka berdua berjalan bersama di Mall. Devian mengikutinya karena penasaran, dan dia sudah mengambil ancang-ancang untuk menerkam Jensen jika pria itu berbuat macam-macam pada sahabatnya Liana. Tapi sampai kejadian akhir pria itu melindunginya. Ya. Tapi Devian tidak tahu maksud apa yang mungkin tersembunyi di dalam benak pria itu. Jensen mendesah frustasi. Ia memejamkan matanya sebelum kembali menatap Devian.
"Itu kecelakaan. Aku akan melindunginya, aku tidak akan membiarkan sesuatu yang terjadi pada Liana. Jangan kgawatirkan itu."
"Jangan khawatir katamu. Kau tahu siapa yang mendekatinya waktu itu huh!. Apa kau sudah gila."wajah Devian memerah karena luapan emosi yang mulai merayap masuk menyelimuti nya. Bohong jika ia tak khawatir. Mengatakan percaya pada Jensen ke James berbanding terbalik dengan perasaan yang dia rasakan saat ini.
"Kau tidak perlu takut aku tidak mampu menjaganya. Kau salah meremehkan orang tuan."ucap Jensen. Wajahnya menggelap, tapi ekpresinya datar, membuatnya terlihat dingin dan menakutkan.
"Dia akan mengejar Liana sampai dia mendapatkannya. Dia pemburu Jensen. Berburu adalah hal yang menjadi favoritnya dan Liana adalah targetnya."Jensen memiringkan wajahnya, arah pandangannya melirik ke arah pintu kamar Liana.
"Dia bangun. Jangan bicarakan tentang pria itu."lirih Jensen saat melihat Liana keluar dari dalam kamar, ekspresinya nampak terkejut ketika menatap Devian.
"Devian kau di sini?."Liana keluar dari kamarnya. Wajahnya terlihat mengantuk. Devian melihat Liana dari atas hingga bawah, lalu hal fikirnya yang harus di lihatnya terpenting. Lehernya tidak ada bekas gigitan. Devian mendesah lega begitu mengetahuinya kalau di leher Liana tidak ada bekas gigitan atau semacamnya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?."Liana mengamati Jensen dan Devian secara bergantian ketika kedua orang itu menatapnya.
"Hanya pembicaraan antara pria dewasa."balas Devian cepat lalu melirik ke arah Jensen yang sedang menatap Liana. Liana mendengus sebal rasanya seperti di remehkan sebagai anak kecil ketika mendengar apa yang baru saja Devian katakan.
"Bisa kita bicara Devian."tanya Liana yang di balas anggukan setuju dari Devian.
***
Liana membuat kopi untuknya dan Devian. Sementara Jensen, pria itu duduk di tuang tamu seraya memainkan ponselnya. Membiarkan Liana berbicara dengan Devian. Liana duduk di hadapan Devian di meja makan. Menyodorkan kopi yang ia buat ke hadapan Devian.
"Sejak kapan?."pertanyaan Liana membuat Devian mendongak menatapnya.
"Sejak kapan kau menjadi seorang vampire? Apa ketika bertemu dengan ku dan James kau sudah menjadi vampire?."Liana sebenarnya tidak enak membicarakan hal ini pada Devian. Tapi dia harus menanyakan hal ini. Otaknya tidak berjalan dengan baik memikirkan tentang hal ini. "Aku sudah menjadi wujud ini sejak lama Liana. Ketika aku bertemu denganmu dan James. Aku sudah dengan sosok ini. Aku sudah menjadi vampire."Devian menatap Liana. Wanita itu mengerjapkan kedua matanya. "Tapi kau baik." Kedua mata Devian membulat sempurna. Ia hampir saja tersedak kopinya sendiri karena perkataan Liana.
"Tentu saja aku baik."Ucap Devian
"Maksudku. Kau tidak minum darahku atau James. Dan... Dan kau makan nasi. Kau bilang kau sangat suka daging sapi."Liana tak percaya dengan Devian. Rasanya aneh. Pria itu tak terlihat seperti vampire Devian benar-benar seperti manusia biasa. Bahkan Liana bisa mendengar detak jantungnya ketika Devian memeluknya sewaktu dia menangis. Tidak dengan Jensen. Ia tak mendengar debaran jantungnya sama sekali.
"Kau punya detak jantung."ucapan Liana membuat Devian mendengus. Sudut bibirnya tertarik sedikit, menyunggingkan senyuman miring.
"Aku darah campuran. Darah manusia mengalir di dalam tubuhku."seketika tubuh Liana membatu. Ia terdiam mencerna apa yang Devian katakan padanya. Ini tidak masuk di akal. Kenapa hidupnya seolah-olah berada dalam cerita fiksi. Apa otaknya sudah bermasalah. Apa dunia sedang membuat lelucon untuknya. Mereka pasti sedang tertawa terbahak sekarang. Karena lelucon itu berhasil.
"Liana."panggil Devian ketika melihat Liana hanya diam saja tanpa mengatakan apapun padanya.
"Hahahahahahah... "Liana tertawa. Kedua tangannya bertepuk gangan beberapa kali membuat Devian mengeryit bingung. Jensen bahkan sampai menoleh padanya.
Tiba-tiba raut wajah Liana menjadi takut, dan ia menghentikan tawanya. Ia menatap Devian khawatir.
"Aku pasti sudah gila. Ada apa dengan dunia ini. Kenapa tidak ada habis-habisnya membuatku bingung. Ini membuatku frustasi."gerutu Liana frustasi. Liana menghela nafas kasar. Raut wajahnya terlihat begitu frustasi. Ia tak percaya. Ini semua sulit untuknya. Vampire-vampire-dan vampire.
"Apa dark angel juga ada? Aku penggemar series dark angel anime Jepang. Jika Dark Angel juga ada. Aku mau tanda tangannya."racau Liana. Berkata asal. Tapi sebelah alis Devian terangkat. Ia tersenyum geli. Bibirnya mengulum senyum menatap Liana.
"Aku bisa mintakan tanda tangannya jika kau mau."
"Apa! Apa ada lagi. Makhluk apa lagi yang berada di buku komik tapi ternyata ada di dunia nyata. Katakan padaku. Jangan sampai aku melihatnya sendiri dan aku akan berubah menjadi manusia yang sangat tolol."
"Santai lah sedikit. Kau tahu kan betapa menyeramkannya wajahmu jika kau sedang marah."seru Devian menunjuk muka Liana yang berubah merah.
"Mungkin aku juga akan berubah menjadi hulk sebentar lagi."gerutu Liana. Menyandarkan dirinya di kursi seraya melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Apa kau keberatan kekasihmu berubah menjadi hulk, Jensen?."tanya Devian dan terkekeh, membuat Liana berdecak karenanya.
"Tidak. Tidak keberatan sama sekali."jawab Jensen seraya menatap Liana yang emnatapnya jengah.
***
Liana membuka pintu Apartemennya. Ia sudah siap dengan baju kerjanya. Sama halnya dengan James yang kini berdiri di hadapannya bersama dengan Devian. Pria itu sudah siap dengan stelan kerjanya. Nampak kasual. Dengan kemeja biru yang di lapisi rompi biru navy dan celana jins abu-abu.
"Ku pikir kau sedang marah padaku!."gumam Liana. Kalimat itu tertuju untuk James. Pria itu memasukan kedua tangannya di dalam saku celana.
"Aku tetap harus sarapan walau aku sedang marah."James melengos begitu saja diikuti oleh Devian di belakangnya. Masuk ke dalam Apartemen Liana. Liana mengembungkan pipinya. Ia mengikuti James dan Devian ke arah dapurnya. Langkah James terhenti ketika melihat Jensen tengah duduk manis dengan secangkir kopi di tangannya. James menoleh ke belakang mencari Liana. Menatapnya protes, tapi yang ditatap malah mengalihkan pandangannya ke arah lain. James menghela nafas kasar. Ia mengambil tempat di hadapan Jensen. Menatap pria itu tak suka. Liana mengambil tempat di sisi kanan Jensen, sementara Devian duduk di hadapan Liana. Liana menuangkan kopi ke dalam cangkir Devian dan James.
"Apa kau tidak punya rumah! Pagi-pagi sudah bertamu ke rumah orang itu tidak sopan."ucap James membuat Jensen tersenyum sinis, dengan smirk di sudut bibirnya.
Ia mengangkat cangkir kopinya. Masih dengan menatap James. "Lalu kau sendiri!."
"Aku... Aku. Terserah ku."ucap James.
"Kalau begitu terserah padaku."balas Jensen membuat kilatan marah di mata James menyala.
"Liana. Kau akan berangkat kerja denganku kan!."ucap James membuat kedua mata Liana mengerjap menatapnya bingung.
"Aku kan mau numpang. Kau lupa."gumam Devian. Menatap James. James melirik Devian sebentar nampak menimbang-nimbang sesuatu sebelum kembali pada Liana.
"Aku... "Ucapan Liana tergantung saat Jensen menggenggam tangannya.
"Liana akan berangkat kerja bersamaku."Ucap jensen dengan tiba tiba.
"Mau naik apa. Apa kau punya motor? Aku bisa mengantarnya dengan cepat memakai motor."ucap James tak mau kalah.
"Untuk apa memakai motor jika aku punya mobil."jawab Jensen membuat Liana menatap kedua orang itu dengan wajah meringis.
"Sombong."dengus James lalu menyendok nasi ke dalam mulutnya.
"Menarik sekali."gumam Devian seraya menyeruput kopinya menatap ketiga orang itu.
"Kalian tahu.. "James, Liana dan Jensen menoleh pada Devian. Pria itu bertepuk tangan dua kali.
"Kalian jadi seperti sepasang kekasih yang sedang meminta restu pada seorang ayah."
"Ayah yang galak. haha"Devian mencibir. Membuat James melotot. Sementara Liana memutar kedua bola matanya malas.
***
Liana masuk ke dalam mobil diikuti Jensen di belakangnya. Jensen mengambil tangan Liana dan menggenggamnya erat. Liana menatap Jensen lalu tersenyum dan mengeratkan genggaman tangannya. Membuat Jensen mengecup bibirnya.
"Maaf atas sikap James."
"Bukan masalah. Dia peduli padamu. Itu bagus."Jensen mengecup ujung hidung Liana membuat kedua mata Liana membesar terkejut, lalu matanya mengerjap. Wajahnya memerah. Liana bisa merasakannya karena kini wajahnya terasa panas.
"Aku suka melihat wajahmu memerah."Liana memutar kedua bola matanya malas, bibirnya tersenyum geli mendengar kata itu. Sangat memuakan dan terkesan norak tapi kenapa ia tetap saja menyukai hal itu.
"Terus saja buat aku malu. Ini merepotkan tahu."Jensen menatap Liana lamat. Liana melirik ke segala arah sebelum kembali pada Jensen gugup.
"Berhenti menatapku seperti itu."
"Aku suka menatapmu. Kau cantik."
"Ya ampun. Menggelikan."Liana terkekeh, walau sebenarnya ia sungguh malu. Jensen benar-benar membuatnya gugup. Merona. Dan sangat malu.
"Saat makan siang. Aku akan menjemputmu. Makan siang lah di ruanganku."
"Apa kau sudah gila."ucap Liana terkejut, menatap Jensen dengan kedua mata membesar.
"Kita sudah sepakat untuk merahasiakan hubungan ini. Kau lupa."Ucap Liana lagi.
Jensen menyandarkan kepalanya pada kursi mobil. wajahnya nampak kesal. Liana tahu pria itu sedang marah. Tapi. Liana tidak mau para karyawan bergosip tentangnya. Mobil Jensen masuk ke dalam basement gedung dimana tempat parkir berada. Ketika supir Jensen membukakan pintu untuk Liana. Liana menahannya dan mengatakan untuk memberikannya waktu beberapa menit.Liana menarik wajah Jensen dan menciumnya. Seketika Jensen mengambil alih. Ia menarik tengkuk Liana. Menekan dalam ciumannya. Jensen meraup bibir Liana. Melumat penuh bibir bawah itu dengan rakus. Mengulum dan menghisap bergantian. Liana mencengkram jas bagian depan Jensen. Matanya terpejam. Menikmati bagaimana Jensen melumat habis bibirnya dengan gairah yang luar biasa besar. Sebelah tangan Liana terangkat. Merambat naik menuju rambut Jensen. Mengelus dan menariknya sedikit. Jensen mengeram di sela-sela ciumannya. Rasa lapar akan menikmati bibir itu tak pernah sirnah, malah ia semakin gencar untuk menikmati nya dan memperdalam lumatannya. Jensen mengangkat Liana menjadi duduk di atas pangkuannya. Ciumannya turun pada leher Liana. Mengendus dan mencium lehernya, menenggelamkan wajahnya dalam-dalam ke leher Liana.
"Membujukku dengan ciuman nona . Itu sangat efektif."Jensen menatap Liana dengan senyum gummy smilenya. Seketika Liana terhenyak.
Liana baru tahu Jensen memiliki senyum yang sangat manis. Liana mengecup bibir Jensen sekali lagi dengan cepat. "Aku suka senyumanmu. Jangan merajuk dan merusak hari ini karena moodmu berubah jelek."
Jensen melingkarkan kedua tangannya di pinggang Liana. "Bayangkan. Kekasih mana yang tak kesal dilarang bertemu wanitanya sendiri"
"Kita sudah sepakat."ucap Liana mengingatkan.
"Aku tidak mengiyakannya dan aku tidak setuju. Biarkan mereka tahu siapa kau untukku."timpal Jensen.
"Baiklah. Tapi jangan sekarang. Kita bisa menunjukannya untuk sedikit lebih lama ke depan. Jangan terburu-buru."
"Aku tidak janji."Ucap Jensen membuat Liana mengerutkan hidungnya.
"Pacaran secara rahasia itu menyenangkan."Rasanya lucu sekali, Liana cukup menyukainya walaupun akan lebih menyenangkan bila ia bisa memperkenalkan pada dunia jika Jensen adalah kekasihnya.
"Tidak untukku. Jika mereka mendekatimu karena mengira kau wanita lajang. Aku akan sangat marah. Jangan buat aku cemburu gila. Menyeramkan menyuruh seorang vampire merasakan rasa cemburu."Liana memainkan rambut Jensen. Menarik-narik lembut seraya menatap kedua mata pria itu yang kini menatapnya intens.
"Okey. Akan ku ingat itu. Aku akan menjaga jarak. Seolah aku sudah memiliki seorang kekasih."
"Kau memang sudah memiliki seorang kekasih dan aku adalah pacarmumu dan juga kau adalah milikku.”Jensen mencium bibir Liana lagi hanya sebentar karena Liana menjauhkan wajahnya.
"Aku akan terlambat jika kau terus menciumku seperti ini.”protes Liana membuat Jensen terkekeh. Jensen keluar dari mobil dengan menggendong Liana. Lalu tiba-tiba Liana loncat dari pelukan Jensen.
"Kau sengaja melakukannya agar ada yang melihat. Kau bermain curang."tuduh Liana yang membuat Jensen tersenyum geli. Smirk muncul di sudut bibir Jensen. Kedua tangannya bertolak pinggang. Pria itu memang sengaja. "Aku ketahuan."
"Jangan bermain kotor. Itu tidak adil."ucap Liana memperingatkan.
"Aku tidak berjanji akan bermain adil."Liana menatap Jensen sengit dengan kedua mata menyipit. Ia berbalik mengambil tas nya di dalam mobil lalu kembali menatap Jensen.
"Selamat pagi tuan Harden. Saya tak menyangka bisa bertemu dengan anda di sini. Sudah mau jam 9. Saya duluan permisi."Liana membungkuk lalu berlalu dari hadapan Jensen membuat Jensen mendengus remeh. Menatap kepergian Liana lucu.
"Akting yang luar biasa. Dasar wanita."gerutu Jensen.
Liana berdiri di dalam lift. Menatap Jensen dengan senyum lucu. "Aku duluan. Bersama denganmu bisa membuat kita ketahuan."
Jensen hanya bisa menggelengkan kepalanya heran. Saat pintu lift tertutup. Seketika itu juga senyuman Jensen pudar. Jensen mengalihkan arah pandangnya. Ke segala arah. Sang supir berdiri di belakang Jensen. Kilatan matanya menandakan bahwa ia juga was-was dan merasakan apa yang Jensen rasakan di sekitarnya. Arah pandang Jensen jatuh pada bayangan gelap di ujung lorong. Kilatan pada matanya yang hampir tak terlihat pada tudung jaket hitamnya membuat Jensen tahu siapa dia. Vampire Club yang mengincar Liana.