Bayi Besar Ngambek

613 Words
Ben dan Christ sudah memberitahu Nina bahwa Jumat besok mereka akan menginap di apartemen dengan Opa Omanya. Pram yang sudah dia beritahu, malah memaksa ingin bertemu juga. Nina tentu saja belum siap memberitahukan hubungan mereka. "Jangan dulu deh, tunggulah beberapa bulan lagi. Kalau yang ini jujur aku belum siap." Pram kecewa, dia hanya diam saja sejak sampai di apartemen sore tadi. Dia hanya menjawab singkat saja pertanyaan Nina, sampai rasanya kesal sendiri. Akhirnya saat Nina membawakan dua cangkir teh, dia merasa harus membujuk bayi besar disebelahnya ini, "Kamu, kalo ngambek, beneran kaya anak aku tau.." "Kenapa sih aku ngga boleh kesini besok... Kan aku pengen kenalan juga sama anak-anak kamu, makin cepat kenalan makin baik kan? Kamu tuh jangan suka menunda hal baik..." "Nanti, aku pasti kenalin lah. Tapi ngga sekarang. Sabar dulu. Kan minggu depan aku bakal datang ke acara Mama kamu. Aku dulu aja yang kenalan sama keluarga kamu, karena perjuangan kamu lebih mudah daripada aku nantinya." "Maksudnya?" Pram memutar duduknya jadi menyamping menghadap ke arah Nina yang ada disebelahnya. "Aku kan sudah pernah menikah Pram, dan udah punya anak. Pernah nggak setidaknya sekali kamu memikirkan reaksi Mama kamu kalau dia tahu anaknya ini pacaran sama janda anak dua? Apalagi menurut Mama kamu kan pasti anaknya sangat sempurna, masa ngga bisa mendapatkan wanita yang sepadan?" "Kok kamu jadi ngga pede gitu sih sayang? Mama aku tuh baik kok, anaknya aja suka banget sama kamu, Mama pasti juga bakalan suka sama kamu." "Pram... Ngga sesederhana itu... Kalau kamu lupa, aku ini seorang ibu juga dan anak ku laki-laki dua-duanya. Walaupun aku akan membebaskan mereka soal pasangan hidupnya, tapi aku tahu tidak semua orang tua punya pemikiran seperti aku. Makanya aku tidak mau buru-buru cari suami tuh ya begitu... Terlalu banyak konfliknya." Nina memandang teduh ke arah Pram, diberinya pengertian dari sudut pandangnya sebagai orang tua, walaupun Nina tidak akan seperti itu tapi dia paham stereotip yang berkembang di masyarakat. Mengusap tangan Pram adalah salah satu cara yang bisa Nina lakukan agar pria itu mau mengerti kondisinya. "Terus maksudnya perjuangan aku bakal lebih mudah dari kamu?" Nina tertawa mendengar pertanyaan Pram. Sungguh soal seperti ini Pram memang belum punya pengalaman. "Kamu itu kan laki-laki, dewasa, sudah mapan, pekerjaan jelas, belum pernah menikah juga. Dan kamu good looking. Kalau ada orang tua yang punya anak perempuan yang belum menikah, pasti mereka akan dengan senang hati minta kamu untuk menikahi anaknya. Karena kamu memang kriteria menantu idaman. Ibarat kata, lolos QC gitu. Sebagai orang tua pasti mereka akan merasa tenang kalau masa depan anak perempuannya terjamin. Nah, Papi Mami aku pasti juga punya penilaian yang sama kaya aku, kurang lebihnya. Jadi akan lebih mudah buat kamu nantinya untuk mendapatkan restu. Paham kan?" Pram menunduk, memejamkan matanya sejenak. Nampaknya sudah kehabisan kata-kata untuk menanggapi Nina. Kalah sebelum bertanding, masuk akal buatnya. Dia pikir sejauh ini kalau dia suka pasti Mamanya akan suka juga, benar yang Nina ucapkan, walaupun buat dia bukan masalah berbeda pendapat dengan Mamanya. Nina hanya tidak ingin ada ribut antara orang tua dan anak hanya karena dirinya. Pram menarik Nina kedalam pelukannya, ternyata masalah mereka tidak segampang membalikkan telapak tangan. Nina yang selalu punya perhitungan dan memikirkan posisi orang lain, membuat dia membuka matanya akan hal yang belum pernah dia jalani. Dia selalu senang kalau Nina mengusap punggungnya, selalu menenangkan gelisahnya. "Aku pulang dulu ya. Nanti kalau Papi Mami sudah balik, kasih tau aku ya. Maafin aku ya sayang." "Nanti aku kabarin ya. Hati-hati ya pulangnya. Kasih tau aku kalau kamu udah sampai." Pram mengecup bibir kekasihnya, dia tak pernah bosan, dia sadar ini baru awal dari hubungan barunya. Dia hanya berharap nanti setelah semuanya jelas, dia akan lebih mudah dalam menjalani hubungannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD