Buru-buru banget

1173 Words
Pernah sulit tidur malam karena terlalu senang? Sering ya, apalagi kalau kejadiannya diluar kendali kita, terbayang saja bisa bikin susah tidur itu. Belum lagi bibir yang tiba-tiba suka senyum sendiri. Untungnya Nina tinggal sendiri di apartemen ini, kalau dilihat orang mungkin dia sudah dikira tidak sehat. Perkara berciuman sebenarnya bukan hal baru, dulu saat pacaran dan menikah dengan Erick tentunya ada fase dimana mereka saling berciuman dalam moment tertentu. Kali ini tentu saja berbeda, Pram adalah orang baru, bahkan baru 24 jam mereka kenal, tapi tanpa banyak pertimbangan Pram menciumnya tadi, anehnya Nina yang seharian banyak mengobrol dengan Pram juga terima-terima saja bukannya marah atau menolak. Nina berharap Pram mulai merasakan hal yang sama dengannya. Kalau bahasa jaman dulu tuh naksir. Akibat tidur larut malam, pagi ini Nina terlambat berangkat ke kantor. Karena hari ini dia kesiangan maka dia memutuskan untuk sarapan di kantor saja. Andi masuk mengantarkan pesanannya, "Ini ya Bu." "Thanks Ndi, duh kesiangan saya." "Ikutan after party Bu?" "Ga sanggup Ndi. Ngantuk banget malah, selesai acara pulang. Cuma kemaren saya ke Bogor Ndi, sampai malam." "Ya udah, saya ambil bahan meeting dulu ya Bu, sama ini jangan lupa Bu, kontrak kerja karyawan baru, ada 3 orang." "Okay." ** Rencana Nina sore ini adalah segera pulang ke apartemen, dan tidur lebih awal. Tapi, karena jam 4 sore tadi Pram sudah menelepon dan mengatakan, "Jadi ya aku jemput jam 5." Akhirnya rencana untuk segera pulang ke apartemen jadi balik kanan bubar jalan, dan sekarang Nina sudah berada di mobil Pram, posisi persis seperti kemarin saat diajak ke Bogor dan pas sore saat berciuman di basement. Eh? "Kita makan di dekat Salemba situ ya. Tempatnya nyaman kok." "Makan di kaki lima juga engga apa-apa." "Hah? Ngga anti kamu?" "Engga dong, dulu..." Nina sempat terdiam sejenak, dia juga ingat kalau Erick dulu sering mengajak dia makan di tenda kaki lima pinggir jalan. Tapi kalau dia ucapkan di depan Pram, rasanya kaya selalu mengingat yang sudah lewat, dia khawatir Pram jadi risih. "Dulu kenapa?" "Ya pokoknya aku ngga pilih-pilih, yang penting kenyang." Pram tersenyum, dia senang Nina selalu terima apa yang dia sarankan. Tentu saja berbeda jauh dengan pacar-pacarnya yang punya standar minimal makan harus sushi di mall yang kelas atas, belum lagi dalam sebulan bisa beberapa kali fine dinning. Belum lagi kalau minta jajan, bukan juga jajan rujak pinggir jalan, tapi paling murah sendal sih memang, yang sepasang harganya 40juta, belum lagi minta beli 3, beda warna. Hadehh... "Pram.." "Ya.. kenapa?" Duh... Lembut banget ya jawabnya, meleleh rasanya kalau dengar suara begini. "Maaf ya kalau nanti, aku mungkin sering mengungkit hal-hal yang dulu. Karena aku kenal Erick sudah 11 tahun, tidak mudah rasanya untuk melupakan semua yang udah aku lewatin selama ini. Jadi aku minta maaf kalau kamu ngerasa ngga nyaman sama aku nanti." Nina menatap ke arah Pram yang masih saja lurus memperhatikan kondisi jalan raya yang lumayan padat sore ini, jelas lah, jam pulang kantor kok. Apalagi ini hari Senin. Pram menyempatkan memandang ke arah Nina yang menunggu respon atas pengakuannya barusan, "Tapi kamu ingat kan kalau kemarin yang nyium kamu tuh aku?" Nina memalingkan wajahnya ke arah jalan raya kembali, berharap Pram tidak menyadari bahwa pipinya merona. Ada perasaan yang menggelitik perutnya, sedikit tidak nyaman, tapi dulu dia pernah merasakan hal yang sama saat bersama Erick. "Kok malah diam? Lagi teringat sama Erick atau teringat adegan kemaren malam?" Pram menggoda Nina sambil mengangkat alisnya berkali-kali, yang digoda masih malu-malu malah memalingkan wajah. Takut terbaca kalau dia juga mulai ada kejut-kejut cinta. Tawa Pram terdengar di dalam mobil, duh seru juga ya ngegodain anak gadis. Eh? "Kalau kamu kadang teringat sama Erick, itu wajar banget Na. Karena kalian berpisah bukan karena ada hal buruk. Udah gitu, kalian kan dulu suami istri, apalagi kalau suami kamu memperlakukan kamu dengan baik, bikin kamu happy terus ya wajar aja kalau ada beberapa hal yang bikin kamu teringat sama dia. Ngga ada yang salah dengan hal itu." Pram memandang Nina sekilas kemudian melanjutkan bicaranya, "sekarang... Kalau misalnya yang aku lakukan bikin kamu bisa teringat sama Erick, berarti aku punya kesempatan dong untuk jadi suami kamu?" Diam, hening, sunyi... Ini maksudnya gimana? Mobil diarahkan oleh tukang parkir untuk berhenti tepat di depan restoran yang mereka datangi. Setelah terparkir sempurna, Pram menarik ruas rem tangan. Nina yang daritadi hanya diam tidak memberikan tanggapan apapun atas pertanyaan Pram. "Yuk turun, aku lapar nih, nanti habis makan baru kita ngobrol lagi." Tangan Pram iseng mengusap rambut Nina, yang otomatis membuat Nina makin salah tingkah. Tadinya sudah legowo karena dibilang habis makan baru bicara, eh ini tau-tau sudah dibikin salting alias salah tingkah lagi. ** Ramai, bukan tempatnya tapi makanannya. Ada kangkung seafood hotplate, lalu ada fuyung hai kepiting, belum lagi mie goreng. Kalau ngga ngiler kebangetan sih, Nina yang melihat makanan segitu banyaknya langsung menolak nasi yang ditawarkan, "Tolong nasi putihnya 2 ya mas, kamu pake nasi kan?" Pram memanggil waiters yang melayani mereka. "Eh engga usah, aku ga makan nasi. Kamu aja." "Oh 1 aja berarti mas. Makasih ya." "Kamu sering kesini?" "Lumayan sering, kalo lagi ngga enak makan, biasanya kesini. Comfort food. Kamu pernah kesini?" "Belum, ini pertama kali. Enak semua ini rasanya." "Makan deh yang banyak ya." Keduanya melanjutkan makan malam mereka sampai tak terasa hidangan di piring pun habis. Memilih tak memesan dessert di resto, mereka menuju toko kopi yang ada di sebelah resto. "Kamu duduk aja, aku yang orderin, kamu mau pesen apa Pram?" "Ice Americano aja." "Cake?" "No, thank you. Kopi aja cukup, makasih Na." Nina hanya tersenyum mengangguk, makan malam tadi, Pram yang membayar, sekarang gantian dia yang membayar kopi untuknya dan Pram. Keduanya memilih untuk duduk di meja yang agak pojok, karena hendak melanjutkan pembicaraan yang tertunda tadi, "Mau jadi pacar aku ngga?" Nina menyedot Americano nya, tatapan keduanya bertemu. Intens, tapi dia masih belum yakin untuk menjawab, walaupun sebenarnya sah-sah saja kalau dia jatuh cinta lagi dengan orang lain. "Baru juga kenal dua hari, udah ngajak pacaran aja. Kamu belum kenal aku banget loh.." "Yaa sambil pacaran sambil kenalan kan bisa. Kalo kamu berharap aku akan mendekati kamu intens dalam sebulan atau dua bulan terus baru ngajak pacaran? aku ngga bisa kaya gitu, kelamaan. Feeling aku, kamu juga sebenarnya mulai ada rasa sama aku kan?" Duh... Tau aja lagi dia. Kok jadi gerah lagi ya. "It's okay Na, aku ngga suka perasaan dipendam, ditahan-tahan, cinta sendiri ujungnya nyesel karena keduluan orang. Terbuka dari awal, kalo perasaan kita sama, yuk, kita pacaran. Tapi kalo ternyata aku salah, ini terakhir kali kita ketemu. Ngga usah khawatir tapi, urusan kantor ngga akan aku sangkut pautkan." Isi gelas susah tinggal setengah, perut sudah kenyang, sebenarnya pendingin di kedai kopi ini cukup dingin, hanya memang disekitar Nina suhunya sedikit lebih tinggi. Pram, menurut Nina agak menggebu-gebu. Dia mencoba menyamankan posisi duduknya, terkadang menatap Pram yang menunggu responnya. Nina sebenarnya sudah tahu pasti hatinya, hanya dia masih bimbang apakah mau lanjut atau tidak. Kalau memang dia berniat iseng saja, sudah pasti mereka tidak akan ketemu lagi besok. Kok jadi galau sendiri. "Kasih waktu ya. Dua hari lagi."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD