Bukan Nina namanya kalau dia tidak pandai negosiasi. Namanya ibu-ibu, ras terkuat di bumi, tapi Nina bukan tipe ibu-ibu sen kanan belok kiri ya. Dia hanya minta perpanjangan waktu sambil berpikir apakah dia benar sudah siap untuk menjalani babak baru kehidupannya.
Seminggu ini Pram agak uring-uringan karena Nina membatasi intensitas pertemuannya, dalam seminggu ini mereka baru bertemu dua kali, Pram yang layaknya remaja sedang jatuh cinta tentu saja menolak, tadinya ingin menghampiri langsung ke kantor, tapi ucapan Nina mengurungkan niatnya,
"Kalau kamu maksa ke kantor, aku ngga mau ketemu lagi ya."
Akhirnya dia hanya bisa pasrah menunggu dan untungnya sore ini Nina bilang dia mau diajak makan malam lagi di tempat kemarin, dan Pram sudah menunggunya di parkiran apartemen karena Nina bilang tadi dia mau pulang dulu.
Sembari menunggu Pram membuka ponselnya dan melihat sebuah pengingat bahwa 2 minggu lagi Mamanya akan berulang tahun, dia terpikir untuk mengajak Nina tapi dia menimbang kembali kalau misalnya Nina menolaknya, ceritanya akan berbeda.
Suara jendela diketuk memecah lamunan Pram, setelah melihat Nina sudah sampai di luar mobil dia segera membuka kunci pintu mobilnya.
"Hai, maaf ya nunggu lama."
"It's okay. Aku juga belum sama sampai. Kita jalan?"
"Iya boleh. Aku mulai lapar hehe."
Pram hanya tersenyum mendengar pengakuan Nina, dia juga sebenarnya sudah lapar, tapi tadi dia membeli roti dulu sebelum menjemput Nina.
"Ada roti tuh di bangku belakang, tadi aku juga lapar, jadi buat ganjel lumayan."
"Oh boleh deh, aku minta ya."
Nina memutar badannya ke arah belakang untuk mengambil bag yang berisi roti, dia tidak sadar bahwa jarak dia dengan Pram menjadi dekat karena posisinya. Pram menghirup wangi parfum yang Nina gunakan, sungguh menenangkannya.
"Parfum kamu wanginya enak."
Nina yang baru akan mengeluarkan rotinya, tersenyum mendengar pujian dari Pram,
"Hehe... Makasih, kesukaan aku ini. Ga bisa ganti-ganti. Ini aku makan ya rotinya."
Pram mengangguk pelan.
***
Malam ini ada sapo tahu, bihun goreng seafood dan ikan asam manis. Dan tentu saja Nina tidak makan nasi lagi, apalagi tadi sudah makan roti.
"Enak?" tanya Pram yang melihat Nina puas dengan pesanan mereka.
"Enak banget, bumbunya cocok dengan selera aku." Nina masih mengangguk meresapi rasa masakannya, jahenya pas, bawang putihnya bikin gurih, ah enak deh pokoknya.
"Kita bisa setiap hari makan disini kalau kamu mau."
"Jangan sering-sering, nanti bosan. Next kita ke tempat lain."
"Berarti mau jadi pacar aku?" Pram menaruh sumpitnya diatas mangkok, menunggu jawaban Nina.
"Makan dulu." Yang ditanya hanya tersenyum simpul, kenyang dulu baru menjawab supaya otak dan hati bisa sinkron. Dia bukannya tidak tahu kalau Pram sudah gemas, tapi dia sengaja.
***
Selesai makan, mereka memutuskan untuk langsung pulang ke apartemen, dan Nina menawarinya untuk mampir. Baru kali ini Nina mengijinkan laki-laki dewasa masuk ke apartemennya selain keluarga.
"Duduk dulu, aku bikinin teh mau?"
"Iya boleh."
Nina mengisi ketel dengan air minum dan memanaskannya. Kemudian menyiapkan mug dan teh celup yang mau dia sajikan.
"Silakan..."
"Kamu belum jawab pertanyaan aku daritadi."
"Kenapa mau pacaran sama aku? Aku ini janda anak dua loh. Apa kamu bisa terima?"
"Ya kenapa enggak? Aku tidak pernah mempermasalahkan sttus kamu. Kalau akunya ngga cocok, ya ngapain aku minta ketemuan lagi."
Nina menyesap tehnya yang masih agak panas, namun nyaman saat melewati tenggorokannya.
"Na, kamu tau lagunya Billy Joel kan?"
"Yang mana?"
"I love you just the way you are" 🎵 🎶
"Ngga nyangka ya.... Gombal banget kamu."
Nina tertawa mendengar Pram merayunya, tapi sebenarnya dia juga sedang meredakan debaran jantungnya yang kuat, dia sedang bersiap juga memberikan jawaban untuk Pram.
"Aku ngga cuma gombal, tapi aku juga baik, plus, aku juga bakal sayang sama kamu dan anak-anak kamu. So, answer me please..."
"I love you too Pram.."
Senyum mengembang di wajah Pram, Nina mau tak mau ikut tertawa juga melihat wajah kekasihnya. Tangan Pram menggenggam tangan Nina, kemudian Pram meminta dia mendekat. Pram menepuk pahanya, Nina menghampiri dan duduk dipangku oleh Pram. Keduanya saling berhadapan, Nina melihat ke arah mata Pram yang maniknya berwarna coklat terang, tangan halusnya mengusap wajah Pram yang bercambang.
Tanpa bisa ditahan lagi, Pram sudah mengecup bibir Nina. Sekali lagi, tanpa gairah, hanya ungkapan rasa saling sayang.
Mana bisa Pram menahan rasanya terhadap Nina, bertemu seminggu dua kali saja rasanya sudah meriang.