"Terima kasih ya testimoninya."
"Hah? Maksudnya testimoni apa?"
"Itu bakery aku soalnya."
"Ha?! Serius?"
"Iyalah. Ngapain aku bohong."
"Beneran bakery kamu? Kirain aku kamu full time business woman."
"Bakery juga business kan? Dulu waktu kuliah tuh aku pernah punya lapak yang jualan makanan lagi kaya kue-kue sama nasi kuning gitu loh. Rame lagi. Ngga percaya tanya aja Bu Riyanti, manager bakery, dia kerja sama aku dari jaman masih lapak kecil itu, terus akhirnya aku buka bakery, aku tarik lagi dia."
"Wow... keren sih kamu emang, oh tapi emang lapis legit kamu enak banget sih. Mama aku suka banget. Paket lengkap ini sih, masak jago, bikin kue jangan ditanya, wanita karir juga, urus anak jangan ditanya. Satu doang yang kurang ya?"
"Cukup kayanya deh."
"Kamu butuh suami sih kalau menurut aku, sayang kalau tidak dimaksimalkan potensi kamu yang itu."
"Tau ah..."
"Hahaa... Jangan suka ngambek gitu dong, jadi gemesss ini pengen aku cium aja rasanya."
Pram sudah tidak sabar lagi menunggu nanti sore.
***
Selesai sarapan mereka duduk-duduk malas di sofa, Nina sedang melihat email dari rumah sakit tempat mereka melakukan screening kesehatan beberapa waktu lalu. Hasilnya dia dan Pram bersih dari penyakitnya menular seksual. Nina kemarin juga sudah menjalani dosis pertama dari tiga dosis dalam setahun dari vaksin HPV. Untuk KB IUD, dokter mengatakan agar sebaiknya dipasang sat sedang haid, supaya dapat dipastikan bahwa sedang tidak hamil dan kondisi leher rahim yang terbuka saat haid dapat mempermudah pemasangan dan rasa sakitnya jika ada akan tersamarkan oleh nyeri haid.
"Pram, hasil screening kesehatan sudah keluar. Kita bersih."
"Oh gitu. Aman dong ya kalau gitu."
"Apanya yang aman? Kan aku belum pasang IUD. Nanti, tunggu aku haid. Paling akhir bulan."
Pram yang tadinya berbaring diatas paha ku langsung bangun mendekati ku yang berada di ujung sofa.
"Apa sih dempet-dempet? Kaya lagi naik angkot aja."
Pram tertawa kencang mendengar protes ku, dia menahan wajah ku supaya melihat ke arahnya. Dia mengecup bibir ku berulang kali, sambil menekan kedua pipiku sampai bibir ku membentuk angka 8 lalu menggoyangkannya seperti sedang menggoda anak kecil.
"Ini bibir, kalau ngga bikin gemes, bikin aku ketawa atau bikin aku pengen cium aja deh."
"Hepas hha.. Hakiit hau..."
(Lepas ga, sakit tau)
Dan... Nina sudah seperti komedian dibuatnya, Pram sampai benar-benar tidak mampu lagi menahan tawanya.
"Emang aku badut Ancol apa dikit-dikit ketawa mulu. Sakit tau pipi aku digituin.."
Nina mengusap-usap pipinya yang terlihat sedikit kemerahan, entah karena efek ditekan oleh Pram, atau memang kata-kata Pram yang membuat hatinya menghangat.
"Sini mana aku obatin deh."
Pram meniup-niup kedua pipi Nina, yang ditiup malah makin ketar ketir hatinya.
"Kenal kamu tuh bikin dunia aku berubah banget. Ngga pernah ada wanita yang bisa bikin aku ngakak, atau bikin aku ngerasa bersalah, banyak kasih pelajaran buat aku, terutama soal restu keluarga. Aku happy banget beneran sayang."
"Kamu mainnya kurang jauh."
"Oiya? Hahaha.. aku malah ngerasa kenalan ku dimana-mana, setiap club yang aku datangi pasti tau siapa aku."
"Nah, itu, cuma club to club doang kan? Kalau kamu cuma mau have fun, lihat wanita-wanita seksi yang senang joget-joget ya bener sih kamu dunianya hanya segitu. Ulang tahun CG itu salah satu cara memperluas koneksi kamu, selain ajang promosi buat artis-artis kamu. Akan banyak orang penting yang ke depannya nanti bisa bekerjasama dengan kamu dalam bidang apapun."
"Iya bener, salah satunya ketemu kamu."
"Kalau kita ngga pacaran, aku kan juga ngga tahu kalau ternyata kamu itu customer nya bakery aku. Bisa aja kita kerjasama bisnis doang, misalnya aku supply snack box buat meeting di agency kamu, atau hampers hari raya gitu..."
Lagi dan lagi... Pram tidak akan pernah puas mengecup bibir dari wanita yang bagi Pram benar-benar hanya ada satu diantara seribu. Ciuman Pram kali ini tidak seperti biasa, dia sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi. Segala sesuatu yang ada padanya selalu membuat Pram tergila-gila.