Strategi Tempur

705 Words
POV Nina Ciuman kami siang ini begitu panas dan menggelora, padahal aku sudah mengingatkan bahwa aku belum memasang alat kontrasepsi. Sebenarnya aku hanya berbohong semata untuk menghentikan perbuatannya ini. Bukannya berhenti malah semakin menjadi-jadi. Tangannya sudah mulai menyusup masuk ke belakang kaos ku, kemudian dengan mudahnya dia melepas kait bra. Aku berusaha untuk menyudahi kegiatannya, walaupun jujur saja, rindu dengan perasaan seperti ini, aku masih harus menahannya. Setelah melepaskan ciumannya, Pram menatap ku dan terlihat sekali bahwa gairahnya tercetak jelas di matanya, "I can't hold it anymore. Please sayang, don't stop me." Maksud hati ingin menggeleng apa daya kepalaku dengan ringannya malah mengangguk. Ya sudahlah, kadung. "Kamu lagi subur ngga?" Baiklah. Agak merusak suasana sepertinya, tapi mungkin ini saatnya aku jujur. Mumpung kami masih bisa mengontrol diri. Tapi sungguh, aku tidak pernah berniat tidur dengan sembarang orang siapapun itu, "Aku belum jujur sama kamu. Aku masih pakai IUD dari 2 tahun yang lalu. Harusnya masih efektif, aku juga sudah ke dokter kandungan sehari setelah kita screening kesehatan itu. Dokternya bilang, IUD yang aku pakai bisa efektif sampai 10 tahun kalau posisinya tidak geser. Dan, supposed to be safe kalau untuk mencegah kehamilan. Maaf aku nutupin hal ini." Bukannya berkomentar Pram malah melanjutkan acara ciuman yang tadi tertunda, tentunya tangan tidak hanya diam, mulai lebih intens menyusupi kembali kaos dan meremas da** ku, memainkan puncaknya dengan lembut namun berhasrat. Dan tangan satunya menahan kepalaku dan membuat ciuman kami semakin dalam. Nah kan, sepertinya aku salah bicara. *** Aku terbangun tepat pukul 2 siang setelah acara panas pertama kami yang begitu menguras tenaga. Perut ku rasanya lapar sekali, karena kami berdua melewatkan makan siang. Pram terlihat masih tertidur, entah kenapa kali ini dia terlihat ganteng sekali, mungkin karena perlakuannya yang begitu lembut tadi saat kami bercin**. Aku akhirnya kembali masuk ke dalam selimut memeluk tubuhnya dengan tujuan ingin membangunkannya. Tapi dia malah memeluk ku erat, entah dia sadar atau tidak. "Sayang, bangun. Udah jam 2 aku lapar nih." Diam, hening. Aku kemudian menepuk lengannya lagi lebih keras supaya dia lekas tersadar, "Pram, sayang.. ayo bangun, nanti telat loh berangkatnya." Dia malah memiringkan badannya dan malah memeluk ku erat, terasa juga bibirnya mencium puncak kepalaku. "Kita ngga usah pergi deh, disini aja." "Dih ngaco, itu acara Mama kamu tau. Gimana sih..." Pram tertawa mendengar aku mengomelinya. "Mata aku masih berat banget sayang, 20 menit lagi ya." "Ya udah, kalau gitu aku mandi duluan ya." Tanpa aku sadari omongan menjadi senjata makan tuan, karena Pram langsung bangun dan menggendong ku menuju kamar mandi yang ada di kamar ku. Dan tentu saja aku memberontak karena tahu tujuannya, "Bareng dong mandinya sayang." "Aahhh... Lama jadinya ntar... Kebaca banget ih strategi nya." "Pintar banget emang, tau aja kamu kalo aku ngajak bertempur lagi di kamar mandi." Dan, sudah pasti tidak bisa dihindari lagi adegan selanjutnya. *** Kami tiba di hotel tempat acara berlangsung jam 17.10, jalan cukup padat kendaraan pribadi lumayan memenuhi jalanan sore ini. Begitu sampai, kue langsung dibawakan oleh petugas restaurant yang menghampiri begitu kami tiba di depan restaurant. Mewah, dan dekorasinya memang bagus. Pram bilang mereka menyewa EO untuk keberlangsungan acara kali ini. "Kamu sudah sampai ya Pram." "Hai Ma." Suara wanita yang lembut terdengar di telinga ku, wajahnya masih menyisakan kecantikan yang alami walaupun terbantu oleh makeup yang membuatnya semakin bersinar. Aku ikut berdiri menyambutnya, posisi ku berdiri sedikit di belakang Pram. Tangan Pram tidak lepas menggenggam tangan ku. "Ma, kenalin ini Nina." Aku maju ke depan maksud ku ingin mengenalkan diri kepada Mama Pram. "Selamat sore Tante, selamat ulang tahun ya." Mama Pram menerima salam ku dan tersenyum ke arah ku. "Ma, itu Nina bawain kue ulang tahun juga buat Mama. Ternyata bakery yang di Jatinegara itu punya Nina Ma. Yang biasa Cici suka beli lapis legit." "Oh ya? Loh... Kok kebetulan sekali ya." "Iya Tante, ini juga baru tahu tadi kok." "Ya sudah Tante tinggal dulu ya, mau menyapa tamu-tamu lain." Mama Pram kembali berkeliling menyapa tamu-tamu lain. Pram beberapa kali meninggalkan ku sendiri di meja, karena dia harus menyapa beberapa saudaranya yang datang, dan ada juga teman Mamanya yang sebenarnya berniat mengenalkan Pram kepada putri mereka, namun Pram segera menghindar sambil menunjuk ke arah ku. Entah apa yang mereka bicarakan, jujur aku tidak terlalu perduli.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD