Sibuk Di Dapur

914 Words
Nina sudah sibuk berada di dapur sejak sampai di rumah siang tadi. Dia membuat macaroni bolognese yang sekarang sedang dipanggang di oven, 10 menit kemudian mulai tercium aroma harum dari saus merah bolognese dan keju yang diparut diatasnya juga sudah mengeluarkan aroma yang luar biasa. Pagi tadi Pram yang akhirnya menginap di apartemennya, mengantarkannya ke supermarket seperti yang dikatakan kemarin untuk membuat macaroni panggang. Nina kemudian mulai menyiapkan bahan yang akan digunakan untuk membuat roti dan marmer cake yang rencananya besok akan dijual di sekolah. Pram sibuk menemani si kembar bermain monopoli di ruang keluarga. Tak lama Marco dan Myrcia sampai juga di rumah, Myrcia segera menghampiri ku di dapur setelah menyapa Mami terlebih dahulu. "Cici bikin apa? Wangi banget keju ini." "Bikin macaroni panggang Myr, sama ini lagi nimbang bahan roti sama marmer cake buat market day anak-anak besok." Calon adik ipar Nina ini senang sekali melihat kegiatannya di dapur, sejak awal berkenalan mereka sudah dekat. Selain pembawaannya yang memang ceria, mudah bergaul dengan siapapun. Myrcia juga hampir tidak pernah protes ketika Marco sering menemani si kembar baik itu bermain ataupun berenang di apartemen. Myrcia banyak bertanya soal resep masakan karena Marco juga terlihat lahap kalau makan masakan Nina atau Mami Kembar juga terlihat sayang dengan aunty Myrcianya yang baik hati. "Wuiiihhh mantap banget. Oh iya Ci, minggu depan datang ke rumah ya, Mami ku mau undang kalian ke acara ulang tahun Papi aku. Sama aku mau pesen macaroninya dong Ci... Kangen banget ih... Udah lama perasaan ngga makan ini ya." Myrcia mengintip di jendela oven yang menyatu dengan standing kompor yang ada di tengah kitchen set. Dan Nina sedang menimbang terigu di table island. "Oh minggu depan ya... iya ntar Ci datang sama kembar. Kamu belanja bahannya aja buat macaroni, nanti Cici buatin." "Aku transfer aja uang belanjanya ya Ci? Berapa kira-kira?" "Kamu mau bikin berapa? Tempatnya pakai pinggan begini atau pakai aluminium foil?" "Bikin 2 deh Ci, yg gedean. Pakai foil aja Ci, biar praktis." "Okay, 2 foil yang gedean itu kira-kira tiga ratus ribuan deh." "Aku transfer lima ratus ya?" Jari Myrcia sudah bersiap mentransfer uang di M-bankingnya. "Eh jangan, tiga ratus aja. Cukup kok." "Ngga apa-apa Ci, biar kejunya melimpah hehehe..." Nina tersenyum mendengar permintaan Myrcia, kemudian mengangguk setuju dengannya. Tak lama setelah itu, suara ting di oven terdengar, pertanda oven sudah menyelesaikan pekerjaannya. Nina segera mengambil sarung tangan tebal yang biasa digunakan untuk mengambil pinggannya di oven. Sebelumnya dia sudah meletakkan tatakan gabus di meja supaya panas dari pinggan tidak langsung mengenai meja yang beralas plastik transparan. Begitu pintu oven terbuka, harum semerbak langsung menguar hingga membuat si kembar dan Pram yang mulai kelaparan segera menuju ke dapur. "Mami, aku lapaaarrrr..." Ben seperti biasa penciumannya tajam sekali terutama kalau sudah lapar begini. Dia pasti akan merengek meminta macaroni dalam jumlah besar untuknya. "Loh itu kan Oma masak, ada makanan di meja, ada bakso loh." Aku menggodanya supaya dia teralihkan. "Baksonya nanti aja, aku mau macaroni dulu. Mami tanya aja sama Om, perut aku udah krucuk krucuk daritadi. Iya kan Om?" Matanya seakan berkode dengan Pram supaya macaroninya boleh segera disajikan. Nina tertawa dalam hati mendengar permintaan Ben. Tak lama Christ muncul dengan mbak Atun yang membawakan piring kecil dan beberapa garpu. Akhirnya tawa Nina tak tertahankan lagi, Ben yang sadar kalau ternyata Christ lebih tanggap, memanyunkan bibirnya. "Ben, kamu lama, Mami tuh ngode minta diambilkan piring biar cepet. Malah diem aja, itu kan macaroninya panas, masa makan gitu aja." Christ meledek Ben yang malah mencibirnya. "Udah... Lagi pada laper kan, yuk makan aja, nanti kalo Mami marah, nanti Om yang minta maaf. Tuh bilang sama aunty Myrcianya, aunty minta dong macaroninya." Kembar dengan otomatis menghampiri auntynya, dan Myrcia sambil tertawa melihat tingkah kembar dan Pram, memang sedang memotong macaroni yang tampak menggugah selera tersebut mengambilkan dahulu untuk ketiga orang yang sudah kelaparan disana. Kemudian dia mengambil juga sebuah potongan ukuran sedang untuk Marco yang tak lama kemudian juga menyusulnya di table island. "Mantap, kamu minggu depan jadi pesen ke Cici kan Myr?" Tanya Marco mengingatkan Myrcia, tadi di mobil Myrcia sudah bilang ingin memesan macaroni panggang buatan Nina. "Jadi dong, aku udah pesan 2 kok." "Oh okay, nanti kue ulang tahun biar aku yang pesan ke bakery." "Red Velvet ya Ay. Papi suka banget itu." "Siaapp tenang aja, ntar aku telpon Bu Riyanti." "Ntar Ci buatkan marmer cake juga ya. Pesen red Velvet doang kan?" Kata Nina sebelum menyuapkan sedikit macaroninya ke dalam mulut, dan seketika lumer rasanya. Mmm... Memang enak. Tak heran kembar sangat menyukai masakannya ini, termasuk Erick dulu. Bisa hampir sebulan sekali Erick minta dibuatkan, apalagi kalau berulang tahun, pasti selalu minta dibuatkan macaroni dan marmer cake favoritenya. Erick selalu bangga mempromosikan masakan Nina kepada keluarganya. Hatinya menghangat kalau ingat semua kenangan tentang Erick. "Iya Ci, kan aku ada pesan macaroni juga. Cukup lah.. Tapi kalau ditambah marmer cake lagi aku ngga nolak sih hehe..." Myrcia nyengir saja menerima tawaran calon iparnya. Apalagi buatan Nina selalu menjadi favorit keluarganya juga. Papi Maminya juga mengundang keluarga Marco dan saudara-saudara dekatnya. Semuanya sekarang duduk menyantap makan siang berupa bakso urat komplit yang sudah disediakan oleh Mami, juga ada sate ayam, dan gudeg krecek rambak favorit Nina. "Walah... Kok macaroninya sudah habis?" "Mami, bikin lagi dong... Kurang nih. Oma sama Opa ngga kebagian. Itu aja sisa 1 untuk Mami, kata Uncle Marco ngga boleh dihabiskan, sisakan buat Mami." Semua yang mendengar Ben dengan penjelasannya. Ada rasa senang dan bangga kalau masakan kita begitu disukai oleh orang yg tersayang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD