Chapter VII

691 Words
Sudah beberapa bulan berlalu sejak Edward dan Daisy berpisah, namun kenangan tentang perempuan itu masih terus muncul tanpa permisi. Hari ini, Edward sedang berada di lokasi syuting drama terbarunya, sebuah produksi yang menuntutnya memerankan karakter dingin namun penuh luka. Ironisnya, setiap kali ia mencoba masuk ke dalam emosi karakter, pikirannya justru melayang kembali pada satu sosok yang membuatnya tersenyum tanpa sadar — Daisy. Syuting sedang berlangsung di sebuah gedung tua yang diubah menjadi kantor detektif untuk keperluan drama. Lampu-lampu sorot memantul di dinding kusam, membuat ruangan terasa lebih panas dari seharusnya. Edward duduk menunggu panggilannya, naskah terbuka setengah di pangkuan, sementara pikirannya sama sekali tidak berada pada tulisan itu. Seharusnya waktu itu aku minta nomor teleponnya, gumamnya dalam hati. Setidaknya aku tahu sekarang dia sedang di mana. Menulis? Jalan-jalan? Atau menyembunyikan diri seperti biasanya? Seorang staf memanggil namanya, tapi Edward tak langsung bangkit. Ia masih terjebak pada memori gadis dengan hoodie hitam dan tatapan yang selalu seperti sedang membaca isi pikirannya itu. Mereka hanya menghabiskan beberapa jam bersama dalam pesawat, kemudian beberapa menit di parkiran bandara, namun entah mengapa bayangan itu bertahan lebih lama daripada yang seharusnya. “Hyung? Kau dipanggil.” Asisten mudanya menepuk bahunya pelan. Edward mengangguk, berdiri, dan memaksa fokus kembali pada pekerjaannya. ⸻ Syuting selesai lebih larut dari perkiraan. Kru mulai membereskan peralatan, para aktor lain berpamitan, dan Edward duduk di tepi set sambil menunggu mobil manajernya datang menjemput. Ia membuka ponsel, menatap layar kosong seperti berharap ada pesan dari seseorang yang bahkan tidak tahu nomor teleponnya. “Aku ini kenapa,” gumamnya sambil mengusap wajah. “Baru kenal sebentar saja.” Namun ia tahu itu bohong. Daisy tidak seperti kebanyakan orang yang ditemuinya. Dia tidak berusaha menyenangkannya, tidak terpesona oleh statusnya sebagai aktor, tidak mendekatinya dengan motif tersembunyi. Daisy hanya menjadi dirinya sendiri — sering diam, kadang tajam, kadang lucu tanpa sadar, dan selalu tampak seolah sedang berpikir dua langkah lebih jauh. Mungkin itu sebabnya sulit melupakannya. Ketika manajernya menghubungi dan mengatakan mobil tidak bisa masuk karena ada penutupan jalan, Edward tidak punya pilihan selain berjalan kaki beberapa blok menuju titik jemput. Ia memakai hoodie dan masker, lalu menyelinap keluar melewati g**g-g**g kecil yang diterangi lampu toko. Udara malam dingin, dan ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang masih melayang. Sampai akhirnya ia berhenti di depan sebuah supermarket kecil yang entah kenapa terasa terlalu terang dibanding lingkungan sekitarnya. Pintu otomatis terbuka, dan seseorang keluar sambil membawa dua kantong plastik berisi barang belanjaan. Edward memperhatikan sekilas, niatnya hanya ingin lewat. Namun ketika orang itu menundukkan kepala untuk melihat layar ponsel, helai rambut jatuh menutupi sebagian wajah — dan dunia Edward seperti dipelankan. Daisy. Rambut panjangnya digulung asal, hoodie kebesaran menggantung di tubuhnya, dan wajahnya sedikit pucat seperti seseorang yang tidur terlalu larut beberapa minggu terakhir. Tapi itu jelas Daisy. Edward berhenti tanpa sadar. Daisy yang merasa seseorang memperhatikannya mengangkat kepala — dan matanya melebar seketika. Mereka saling menatap selama beberapa detik yang terasa lebih panjang dari seharusnya. “Edward?” tanyanya pelan, seolah tidak yakin apakah itu benar orang yang ia pikirkan. “Daisy,” jawab Edward, suaranya keluar lebih cepat daripada napasnya. Daisy menurunkan kantong belanjaannya sedikit. “Kau… apa yang kau lakukan di sini?” “Aku syuting di gedung sebelah.” Edward menunjuk ke arah g**g di belakang. “Kau?” “Aku tinggal dekat sini. Untuk sementara,” jawab Daisy sambil mengangkat kantong plastiknya. “Aku sedang nulis sesuatu.” Tiba-tiba, rasanya seperti bulan-bulan menyesali keputusannya dulu terbalas sekaligus. Pertemuan yang tidak direncanakan, tidak terduga, namun terasa tepat. “Sudah beberapa kali aku memikirkanmu,” kata Edward tanpa ragu, sesuatu yang bahkan mengejutkannya sendiri. Daisy terdiam. Mata itu — mata yang selalu terlihat seperti sedang berhitung — kini sedikit membesar. “Aku menyesal tidak meminta nomor teleponmu waktu itu,” lanjut Edward. “Sangat menyesal.” Daisy menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil, senyum yang nyaris tidak terlihat namun cukup untuk membuat jantung Edward berdebar. “Kalau begitu,” katanya pelan, “kau bisa minta sekarang.” Dan di bawah cahaya minimarket yang tidak romantis sama sekali, mereka bertemu kembali — kali ini dengan kesempatan yang tidak ingin dilewatkan Edward lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD