bc

Pertemuan Tak Tertulis

book_age12+
0
FOLLOW
1K
READ
heir/heiress
drama
sweet
office/work place
childhood crush
like
intro-logo
Blurb

Saat berlibur di Bali, Daisy—seorang penulis terkenal yang bersembunyi di balik nama pena Dion dan bekerja sebagai hacker freelance—hanya ingin mencari inspirasi di tepi pantai. Namun, ketenangannya terusik ketika Edward, seorang aktor yang mengenal dunia gemerlap tapi bukan bintang kelas A, menghampirinya karena mengira ia orang lokal. Pertemuan sederhana di bawah langit senja itu menjadi awal dari rangkaian pertemuan tak terduga yang akan menghubungkan hidup mereka lebih jauh dari yang keduanya bayangkan.

chap-preview
Free preview
Chapter I
Ombak sore memecah pelan di garis pantai, meninggalkan buih tipis yang segera hilang diseret pasir basah. Aroma laut bercampur dengan wangi kelapa dari warung dekat situ. Di salah satu sudut pantai yang agak sepi, Daisy duduk bersila di atas kain pantai biru. Laptopnya terbuka, kursor berkedip-kedip menunggu inspirasi yang tak kunjung datang. Ia mengenakan tank top hitam dan kemeja tipis putih yang dibiarkan terbuka, rambutnya diikat seadanya. Kulitnya kecoklatan—eksotis karena terbakar matahari, hasil dari beberapa hari berkelana di Bali sambil “kabur” dari pekerjaan yang terus mengejarnya. Di layar, draft cerita dengan nama penulis Dion masih setengah bab, dan otaknya sama macetnya dengan koneksi wifi gratis hotel. “Ayo, Dion… sedikit lagi,” ia menggumam, menekan tombol delete untuk kesekian kali. Tiba-tiba bayangan seseorang jatuh di atas laptopnya. Daisy mendongak. Seorang pria berdiri dengan wajah yang familiar—Edward, aktor yang pernah ia lihat bermain di beberapa film drama aksi. Tinggi, rambut acak tertiup angin, memakai kaus putih dan celana linen, tampak santai seperti turis pada umumnya. Ia tersenyum ramah. “Hey. Maaf ganggu, tapi kamu kelihatan… kesepian banget.” Ia menunjuk laptop Daisy. “Atau mungkin lagi stress berat? Biasanya orang yang duduk sendiri sambil menatap layar kosong itu butuh pertolongan darurat.” Daisy mengejap, sedikit gugup tapi menutupinya dengan datar. “Aku cuma berpikir. Menulis.” Edward menatapnya lebih lama, lalu mengangguk. “Oh, kamu juga turis ya? Aku pikir kamu orang lokal… atau setidaknya udah lama tinggal di sini.” Ia memberi isyarat pada kulit Daisy yang kecoklatan. “Warna kulitmu kayak orang yang sudah berdamai dengan matahari Bali bertahun-tahun.” Daisy tertawa kecil. “Bukan lokal. Dan aku baru sebulan di sini.” “Serius? Kupikir kamu dari sekitar sini. Bahasa Inggris-mu bagus, tapi ada sedikit… entah ya, vibe orang sini.” Ia kemudian duduk tanpa meminta izin, menatap sunset yang mulai turun. “Aku Edward, by the way.” Daisy tahu nama itu, tentu saja. Tapi ia menjaga ekspresinya tetap netral. “Daisy.” “Hanya Daisy? Tidak ada—” Ia membuat gesture tangan dramatis, seperti pembawa acara talkshow. “—nama panjang yang sulit dieja?” Daisy mengangkat bahu. “Cukup Daisy.” Mereka terdiam sesaat, hanya suara debur ombak yang mengisi sela. Edward melirik ke layar laptop. “Menulis apa? Blog? Diary? Atau novel rahasia yang nanti bikin kamu terkenal?” Daisy tersenyum samar. “Bukan tipe yang pamer tulisan. Lagipula… aku sudah cukup dikenal di dunia tulis-menulis.” Ia tidak menyebutkan Dion, identitas online yang membuatnya memiliki jutaan pembaca. Edward mengangguk, tidak menanyakan lebih jauh. Ia justru menatap Daisy dengan rasa penasaran ringan—bukan kepo, hanya tertarik. “Kalau kamu butuh inspirasi, lihat sekelilingmu. Bali itu semacam cheat code untuk penulis. Semuanya puitis.” “Termasuk aktor yang tiba-tiba duduk tanpa diundang?” Edward mengangkat alis. “Tunggu… kamu tahu aku aktor?” “Aku pernah lihat salah satu filmmu. Yang kamu jadi dokter tapi malah kejar-kejaran dengan mafia Rusia.” “Ah, film itu.” Ia menutup wajahnya, pura-pura malu. “Jangan menilai kualitas aktingku dari situ.” Daisy tertawa—tawa yang ringan, yang sudah lama tidak muncul selama masa padat kerja. Senja makin merambat turun, mewarnai langit dengan oranye lembut. Edward berdiri, menepuk pasir di celananya. “Aku mau ke warung buat beli es kelapa. Kamu mau ikut? Atau setidaknya mau nitip pesananku biar kamu nggak kelihatan terlalu… sendirian?” Daisy memutar mata, tapi senyum kecil muncul. “Baiklah. Es kelapa terdengar bagus.” Mereka berjalan bersama menyusuri pasir, dan angin sore mengangkat sedikit ujung rambut Daisy. Edward meliriknya beberapa kali, entah karena penasaran atau karena merasa nyaman dengan kehadiran orang asing yang terlihat familiar. Daisy tidak tahu—dan Edward juga tidak tahu—bahwa pertemuan ini hanya awal dari rangkaian pertemuan tak terduga yang akan mengikuti mereka hingga ke langit, di dalam pesawat bisnis kelas yang sama, beberapa hari kemudian. Dan setelah itu… takdir bekerja lebih keras dari keduanya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Trapped in My Future Boss

read
3.3K
bc

Menyala Istri Sah!

read
4.2K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
53.7K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
15.4K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.6K
bc

Desahan Sang Biduan

read
56.3K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
16.0K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook