Antrian imigrasi mengular panjang, orang-orang menarik koper, memeriksa paspor, dan mengeluh pelan tentang lamanya waktu tunggu. Daisy berdiri di tengah antrean itu, earbuds terpasang tapi tanpa musik—hanya alasan untuk tidak diajak bicara. Ia menatap layar ponselnya, pura-pura sibuk.
Sampai matanya—tanpa sengaja—menangkap sosok yang sangat familiar.
Edward.
Ia berdiri beberapa baris di depan, memegang paspor dan boarding pass. Rambutnya sedikit berantakan, topi baseball menutupi sebagian wajahnya. Tapi aura aktornya tetap saja sulit disembunyikan.
Daisy membeku sepersekian detik.
“Kenapa ketemu dia lagi…?”
Gumaman kecil itu lolos tanpa ia sadari.
Itulah masalah dengan orang yang terlalu akrab: mereka muncul di tempat yang tidak diharapkan. Dan Daisy paling benci bertemu dua kali dengan orang yang sudah tahu nama aslinya. Kemarin di pantai, ia terlalu santai sampai menyebutkan:
“Namaku Daisy.”
Dan ia bahkan mengatakan ia seorang penulis. Sebagai seseorang yang hidup dari dua identitas—Daisy dalam dunia nyata, Dion di dunia daring—ia harus selalu berhati-hati agar tidak keceplosan.
Ia menggigit bibir bawahnya.
Jangan sampai dia tahu aku Dion. Jangan sampai.
Ketika petugas imigrasi memanggilnya, Daisy kembali fokus. Ia menyodorkan paspor, menjawab seperlunya. Stempel mendarat di halamannya, tanda ia siap masuk gate keberangkatan.
Begitu ia keluar dari jalur imigrasi, ia terhenti.
Edward berdiri di sana. Menunggunya.
Ia bersandar pada dinding kaca, tangan di saku, seperti seorang kakak yang menunggu adiknya selesai pemeriksaan sekolah. Ketika Daisy menghampirinya, Edward tersenyum—senyum hangat yang membuatnya terlihat lebih muda.
“Aku tahu kamu cepat atau lambat bakal pulang ke Seoul…”
Ia mengangkat sebelah alis, nada suaranya bercampur terkejut dan geli.
“…tapi tanggal yang sama, dan pesawat yang sama denganku? Itu kebetulan yang luar biasa.”
Daisy menatapnya datar, berusaha menyembunyikan betapa tidak nyamannya ia merasa. Apalagi saat Edward melirik—sekilas tapi cukup jelas—ke arah boarding pass yang ia pegang.
Daisy tersenyum kecil. Senyum yang terlihat seperti setengah dipaksakan.
“Ya… kebetulan yang cukup aneh.”
Mereka berjalan berdampingan menuju gate. Daisy menjaga jarak satu langkah. Diam adalah perisai terbaiknya.
Edward tidak memaksakan obrolan, tapi matanya sesekali mengamati Daisy dengan cara yang tidak mengintimidasi—lebih seperti seseorang yang mencoba memahami potongan puzzle yang belum lengkap.
“Cho, ya?”
Ia menepuk pelan paspor di tangannya. “Itu nama belakangmu.”
Daisy menegang.
Ia lupa bahwa petugas imigrasi tadi menyebutkan nama lengkapnya cukup keras.
“…Ya. Cho.”
Edward tersenyum lembut.
“Nama belakang ibuku juga begitu.”
Ia menunjuk dirinya sendiri sambil tertawa kecil.
“Ayahku Lim. Jadi aku Lim-Edward—meski di industri lebih simpel pakai nama panggung.”
Daisy hanya mengangguk. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Keduanya kembali berjalan, sunyi tapi tidak canggung—lebih seperti dua orang yang masih mencoba memahami peran apa yang akan mereka mainkan dalam hidup masing-masing.
Dan Daisy menyadari sesuatu:
Ia tidak suka bertemu orang dua kali.
Tapi anehnya… ia tidak membenci pertemuan kedua ini.