Chapter III

566 Words
Kabin kelas bisnis dipenuhi cahaya hangat ketika Daisy melangkah masuk. Ia menunduk memeriksa nomor kursinya—3B—dan baru mengangkat kepala saat mendapati seseorang sudah berdiri di lorong tepat di sampingnya. Edward. Ia menoleh dan tersenyum seolah semesta memberinya bahan bercanda. “Kupikir kemungkinan ini kecil sekali.” Daisy mengernyit. “Kemungkinan apa?” “Kita duduk bersebelahan.” Ia menunjuk kursinya sendiri, 3A. Daisy menatap boarding pass-nya—3B—lalu menghela napas. Tentu saja. Kapan pun ia ingin sendiri, dunia selalu punya humor aneh. Ia masuk ke kursinya. Edward membantu menaikkan koper kabinnya tanpa terlalu banyak bicara. Daisy hanya memberi anggukan kecil. Pramugari menawarkan welcome drink. Daisy mengambil jus jeruk, sedangkan Edward memilih sparkling water. Suasana kabin menenangkan, dengan musik instrumental pelan mengalun. Daisy menyalakan tablet, meski pikiran melayang-layang. Ia ingin membaca, tapi tidak ada satu huruf pun yang masuk. “Jadi kamu memang seorang penulis?” suara di sampingnya terdengar hati-hati. “Ya.” Ia tidak menoleh. “Penulis biasa.” “Kemarin kamu bilang cukup dikenal.” Daisy menelan napas. Jangan terlalu banyak bicara, Daisy. “Aku tidak suka membicarakan pekerjaanku.” “Baik.” Edward mengangkat kedua tangan seolah menyerah. “Aku cuma penasaran. Kamu punya aura orang yang menyimpan banyak cerita.” Daisy menoleh sekilas. “Aura?” “Hm.” Ia tertawa pelan. “Tatapan. Kamu seperti memilih cerita mana yang boleh keluar.” Daisy berpura-pura kembali membaca, meski halaman tidak berubah. Saat pesawat bergerak ke runway, tubuhnya menegang. Tangannya menggenggam sandaran tanpa sadar. Edward memperhatikan tapi tidak langsung menanggapi. “Kamu tidak suka bagian ini, ya?” “Tidak.” Ia menelan ludah. “Hanya… tidak nyaman.” “Tenang. Begitu lepas, bagian paling ribut selesai.” Suara itu—tenang dan rendah—cukup untuk membuatnya bernapas sedikit lebih longgar. Setelah pesawat stabil di udara, Edward memasang headphone. Sebelum memakainya sepenuhnya, ia menoleh sebentar. “Aku tahu kamu bukan tipe yang banyak bicara. Jadi kalau mau aku diam, tinggal bilang.” Daisy hampir tertawa. “Aku tidak menyuruhmu diam.” “Syukurlah. Aku sering lupa mengatur volume bicara.” Ia tersenyum, lalu benar-benar memakai headphone. Daisy menatap jendela—awan putih bergulung di bawah mereka. Entah dorongan apa yang memaksanya membuka mulut lagi. “Tadi… soal nama belakang,” katanya tanpa menoleh. Edward menurunkan headphone sedikit. “Hm?” “Cho,” ucap Daisy pelan. “Aku… sedikit terkejut kamu memperhatikan.” “Sulit tidak memperhatikan,” jawabnya santai. “Namamu menarik.” Daisy memiringkan kepala. “Lim juga cukup umum.” “Umum,” ia mengakui, “tapi tetap berarti. Nama keluarga selalu begitu.” Ia mengatakan itu tanpa beban, tanpa maksud apa pun, namun Daisy merasa ada sesuatu di balik kata-katanya. Tidak berat—hanya… tulus. Daisy membalik halaman e-book, masih tanpa membaca apa pun. “Aku orang yang agak tertutup.” “Tidak masalah,” katanya cepat. “Aku tidak keberatan menunggu kalau kamu butuh waktu.” Kata-katanya sederhana. Tapi entah bagaimana, membuat dadanya terasa aneh—ringan namun dalam. Daisy menunduk. “Terima kasih.” Edward tersenyum kecil, tapi tulus. “Sama-sama.” Kabin kembali sunyi, namun bukan sunyi yang membuatnya gelisah. Untuk pertama kalinya, Daisy menyadari bahwa kehadiran seseorang di sampingnya—yang bukan bagian dari hidupnya sebelumnya—tidak selalu berarti ancaman. Kadang, itu hanya seseorang yang kebetulan duduk di kursi 3A. Dan kadang… kebetulan itu terasa sedikit terlalu sempurna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD