Begitu pesawat mendarat di Incheon, Daisy mengembuskan napas panjang seolah selama berjam-jam ia menahannya. Ia melepas sabuk pengamannya perlahan, membiarkan para penumpang lain berdesakan ke lorong. Semakin lambat ia bergerak, semakin besar jarak yang bisa ia ciptakan antara dirinya dan Edward. Ia yakin Edward tidak membawa bagasi—katanya begitu. Artinya, ia pasti sudah hilang duluan sebelum Daisy mencapai area pengambilan bagasi. Sempurna. Bersih. Sederhana.
Ia berjalan mengikuti arus manusia keluar dari pesawat, menyesuaikan tali tas ranselnya sambil menunduk sedikit. Kalau beruntung, rangkaian kebetulan aneh ini akan berakhir di sini.
Tapi keberuntungan jarang berpihak padanya.
Saat tiba di area bagasi, langkahnya terhenti. Edward ada di sana—lagi. Ia berdiri di samping troli yang penuh sesak dengan kantong-kantong belanja: makanan ringan, suvenir, kotak-kotak hadiah yang rapi, dan beberapa benda besar yang sulit dikenali. Sama sekali bukan gaya orang yang “berpergian ringan”.
Tatapan mereka bertemu. Wajah Edward langsung cerah, hangat, seolah melihat Daisy lagi adalah hal terbaik yang bisa terjadi di bandara itu.
“Ada yang menjemputmu?” tanyanya sambil berjalan mendekat.
“Aku parkir di sini,” jawab Daisy singkat, matanya tetap pada belt bagasi. “Kutinggal mobilku sebulan.”
Edward mengangguk. “Praktis juga.”
Keheningan turun di antara mereka. Beberapa koper lewat, tapi bukan milik Daisy. Ia bisa merasakan kehadiran Edward di sampingnya—tenang, tidak terburu-buru, seakan tidak ada niat untuk pergi sebelum ia pergi. Saat kopernya akhirnya muncul, ia cepat-cepat mengambilnya dan melangkah menuju pintu keluar. Inilah kesempatan untuk kabur. Perpisahan bersih, udara segar, dan selesai.
Tapi ketika ia menoleh, Edward masih mengikutinya.
“Kamu nggak pergi?” tanyanya heran.
Edward mengangkat ponselnya, menghela napas. “Aku menunggu telepon dari manajerku. Mobilnya mogok.”
“Mogok? Di parkiran bandara?”
“Iya.” Ia tertawa kecil, lelah. “Mobilnya sudah lebih dari sepuluh tahun. Perusahaan belum mau ganti.”
Daisy menghela napas. Ini saat yang tepat untuk berjalan pergi. Tak perlu basa-basi, tak perlu alasan. Tinggal pergi saja. Tapi kenangan di pesawat muncul begitu saja: bagaimana Edward merapikan selimut saat ia tertidur, membangunkannya dengan lembut saat makan datang, menjaga tasnya saat ia ke toilet. Tidak berlebihan. Tidak mengganggu. Hanya… baik.
“Terus sekarang kamu mau apa?” tanya Daisy, entah kenapa.
“Menunggu,” jawabnya pasrah. “Katanya dia manggil orang buat cek.”
Jawaban yang begitu menyedihkan itu membuat Daisy mengembuskan napas panjang.
“Ayo,” katanya akhirnya. “Kamu bisa menunggu di tempat yang hangat.”
Edward sempat terdiam, jelas terkejut. Lalu ia tersenyum. Senyum pelan yang tulus, yang muncul sampai ke matanya.
“Terima kasih,” ucapnya lembut.
Ia berjalan di samping Daisy melewati pintu geser. Udara dingin Incheon menerpa mereka, jauh berbeda dengan hangat lembap Bali. Daisy menggenggam erat gagang kopernya. Edward mengikuti langkah Daisy dengan mudah, seolah ritme berjalan mereka memang serasi dari awal. Ia tidak banyak bicara. Tidak menatap terlalu sering. Hanya berjalan bersama, diam yang anehnya tak membuat canggung. Dan itu justru membuat Daisy kesal—betapa mudahnya ia merasa nyaman, betapa tidak berusahanya Edward menciptakan suasana, betapa alami kehadirannya.
Mereka sampai di sudut terlindung dekat lift menuju parkiran. Anginnya lebih lembut di sana. Daisy berhenti, menoleh sedikit.
“Kamu telepon manajermu lagi aja.”
“Iya,” jawabnya pelan. “Dan… terima kasih sudah biarin aku nunggu di sini.”
Daisy mengangguk. “Nggak apa.”
Edward tetap tidak menjauh. Ia berdiri di sana, menatap kerumunan orang lewat, tanpa memberi kesan ingin menempel—tapi juga tidak menunjukkan niat pergi.
Daisy tadinya ingin jarak. Ia sudah mencoba menciptakannya.
Tapi, entah bagaimana… jarak itu selalu runtuh dengan sendirinya.