Daisy akhirnya memutuskan untuk mengantar Edward sampai ke rumahnya setelah jelas bahwa mobil manajernya tidak akan membaik malam itu juga. Awalnya ia hanya berniat menurunkannya di halte terdekat, tetapi manajer Edward, melalui telepon, meminta tolong dengan suara yang begitu lelah hingga Daisy tidak tega menolak. “Tolong antarkan dia sampai depan gedung saja. Aku masih menunggu derek,” ujar manajernya.
Daisy mengiyakan, meski ia sendiri tidak begitu paham kenapa ia bersedia sejauh ini untuk seseorang yang baru ia kenal beberapa hari saja. Di dalam mobil, Edward duduk dengan sikap sopan seperti sebelumnya—masih menjaga jarak, masih menahan diri. Sesekali ia melirik ke arah jendela, memandangi lampu-lampu kota Incheon yang berlari menjauh. Ada keheningan nyaman yang aneh, seakan mereka sudah lama saling mengenal. Padahal kenyataannya, mereka baru saja menghabiskan satu penerbangan yang kebanyakan diisi tidur, turbulensi kecil, dan percakapan seadanya.
Ketika Daisy mengambil belokan ke daerah yang lebih tenang, ia melirik GPS lalu bangunan-bangunan di sekitarnya. “Ini daerah officetel, ya?” tanyanya tanpa maksud apa-apa. Ia hanya mengenali model bangunannya—tipikal campuran kantor dan hotel yang banyak dipakai pekerja urban.
Edward mengangguk. “Ya. Aku tinggal di sini.”
Daisy otomatis melambatkan mobil, menatap gedung berkaca sederhana itu dengan rasa heran. Ia tidak tahu apa yang ia bayangkan tentang tempat tinggal seorang aktor, tetapi yang jelas… bukan ini. Ia membayangkan sesuatu yang sedikit lebih besar, lebih premium, atau setidaknya apartemen dengan fasilitas gym dan kolam renang. Bukan officetel standar yang biasanya dipenuhi pekerja magang atau karyawan perusahaan kecil.
“Ini rumahmu?” tanya Daisy memastikan, mencoba tidak terdengar menghakimi.
Edward mengusap tengkuknya, seolah sudah terbiasa dengan reaksi orang. “Iya. Sudah lima tahun.”
Daisy mematikan mesin mobil, tapi pikirannya bekerja lebih cepat dari tangannya. Lima tahun? Dengan semua proyek drama yang ia pernah lihat di internet, semua variety show, semua iklan kecil—apa bayaran aktor sebetulnya tidak setinggi yang orang-orang kira? Atau mungkin Edward menabung? Berinvestasi? Atau, justru, selama ini ia menerima bayaran kecil karena bukan aktor kelas A?
Ia hampir bertanya, tapi menahan lidahnya. Tidak pantas untuk orang yang baru dikenal.
“Terima kasih sudah antar,” ujar Edward sambil melepas sabuknya. Ia memberi senyum kecil yang tampak tulus walau wajahnya letih. “Kalau kamu tidak mengantar, mungkin aku masih menunggu di bandara sampai tengah malam.”
“Tidak apa-apa,” balas Daisy, mencoba santai. “Kamu sudah bantu aku juga di pesawat. Anggap saja impas.”
Edward terkekeh, suara ringannya membuat suasana sedikit lebih hangat. “Itu hal kecil.”
Daisy memperhatikannya. Cara ia merespons, cara ia tersenyum… tidak seperti orang yang menyembunyikan kekayaan. Tidak ada aura selebritas yang sombong atau merasa di atas. Justru sebaliknya, Edward tampak seperti pekerja keras yang menghitung setiap pengeluaran.
Seolah menebak isi kepala Daisy, Edward memberi tatapan malu-malu. “Tempat ini tidak besar, tapi nyaman kok.”
“Aku tidak bilang tidak nyaman,” ujar Daisy cepat. “Hanya… kupikir aktor tinggalnya lebih… ya, kamu tahu.”
Edward menghembuskan napas pelan, senyumnya miring. “Aktor level atas mungkin. Aku belum sampai situ.” Ia menunduk sedikit, suaranya melembut. “Dan… aku juga harus bantu keluarga. Orang tuaku sudah tua. Adik-adikku masih sekolah. Jadi aku tidak bisa buang-buang uang untuk tempat mewah.”
Daisy terdiam. Sesederhana itu, namun langsung menusuk. Ia merasa bodoh menilai dari luar. Tidak semua aktor hidup glamor. Tidak semua punya kontrak besar. Tidak semua dipayungi perusahaan kaya.
“Aku juga punya mimpi pindah ke apartemen lebih besar,” lanjut Edward, masih menatap jendela. “Tapi… belum sekarang.”
Daisy merasa ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Rasa penasaran itu bukan lagi tentang gaya hidup Edward, tapi tentang dirinya sebagai pribadi—seseorang yang bekerja keras, bertanggung jawab, dan tetap rendah hati meski hidupnya penuh tekanan.
Edward membuka pintu dan berdiri, tapi sebelum menutupnya ia menoleh lagi. “Hati-hati pulang, Daisy. Terima kasih, sungguh.”
Daisy mengangguk, tapi tatapannya mengikuti Edward sampai laki-laki itu berjalan masuk ke lobby gedung. Saat pintu kaca tertutup di belakangnya, Daisy baru menyadari sesuatu. Bahwa pertemuan mereka, perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Lebih dalam. Dan kemungkinan besar… belum selesai.