Bab 1: Minyak dan Air
Bagi Aisha Putri, hidup adalah sebuah persamaan matematika. Jika kamu memasukkan variabel yang tepat, bekerja keras, dan mengikuti rumus yang ada, hasilnya akan selalu bisa diprediksi: Sukses.
Tidak ada ruang untuk kesalahan. Tidak ada ruang untuk kejutan. Dan pastinya, tidak ada ruang untuk orang seperti Arkan Wijaya.
Aisha menghela napas panjang saat melihat sosok itu bersandar malas di ambang pintu kelas XII IPA 2. Kemeja seragamnya dikeluarkan sebagian, dasinya longgar, dan rambut hitamnya berantakan seolah baru saja bangun dari tidur siang—padahal jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Wijaya," panggil Aisha tajam, tanpa mengangkat kepala dari buku catatannya. "Kamu telat lima menit. Lagi."
Arkan terkekeh pelan, suara yang terdengar merdu namun menyebalkan bagi telinga Aisha. Ia melangkah masuk dengan santai, mengabaikan tatapan sinis beberapa teman sekelasnya.
"Pagi juga, Putri," jawab Arkan sambil melemparkan tasnya ke atas meja kosong di sebelah Aisha. Bau parfum woody yang mahal tiba-tiba menyeruak, mengganggu konsentrasi Aisha. "Dan buat catatan, aku nggak telat. Aku cuma datang tepat waktu sesuai zona waktuku sendiri."
Aisha mendongak, menatap Arkan dengan tatapan dingin yang sudah ia latih selama bertahun-tahun. "Zona waktumu tidak terdaftar di peraturan sekolah, Wijaya. Kalau Pak Budi datang, kau akan dapat poin pelanggaran lagi. Dan jangan harap aku akan membantumu menghapusnya kali ini."
Arkan tersenyum miring, senyum khas yang biasanya membuat separuh siswi di sekolah ini meleleh. Tapi bukan Aisha. Bagi Aisha, senyum itu sama menariknya dengan kertas ujian yang kosong.
"Kau terlalu tegang, Sha," goda Arkan, memanggil nama panggilan yang hanya berani diucapkan oleh orang-orang nekat. "Nanti cepat keriput, lho. Mending kau nikmati hidup. Lihat langit, rasakan angin... atau setidaknya, coba senyum sekali sehari?"
"Aku lebih baik menghabiskan energiku untuk memastikan nilaiku tetap 100 daripada membuang waktu untuk hal-hal tidak produktif seperti obrolan kosongmu," balas Aisha ketus, kembali membalik halaman bukunya. "Sekarang diam. Aku sedang belajar."
Arkan mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah, meski matanya masih menyiratkan ejekan. "Baiklah, Nyonya Sempurna. Jangan sampai otakmu meledak karena terlalu banyak rumus."
Sebelum Aisha sempat membalas, bel masuk berbunyi nyaring. Pak Budi, guru wali kelas mereka, masuk dengan wajah serius. Suasana kelas hening seketika.
"Selamat pagi, anak-anak," sapa Pak Budi. Matanya menyapu ruangan sebelum berhenti sebentar pada Arkan yang kini sudah duduk rapi—walaupun tetap terlihat bosan. "Hari ini saya punya pengumuman penting terkait Proyek Akhir Semester."
Aisha langsung menegakkan punggungnya. Proyek Akhir Semester. Ini adalah kesempatan emas baginya untuk mendapatkan rekomendasi beasiswa luar negeri. Ia sudah mempersiapkan proposal sejak bulan lalu.
"Proyek tahun ini berbeda," lanjut Pak Budi. "Kalian tidak akan memilih pasangan sendiri. Saya sudah membuat daftar pasangan secara acak berdasarkan komplementeritas kemampuan. Tujuannya agar kalian belajar bekerja sama dengan orang yang mungkin sangat berbeda dari kalian."
Jantung Aisha berdegup kencang. Acak? Semoga saja dia mendapat partner yang serius. Mungkin Rina, atau Dimas. Siapa pun asalkan bukan...
"Pasangan pertama," sebut Pak Budi sambil membaca daftar di tangannya. "Aisha Putri dan..."
Pak Budi berhenti sebentar, menyesuaikan kacamata. Aisha menahan napas.
"...Arkan Wijaya."
Dunia Aisha seolah berhenti berputar.
Di sebelahnya, Arkan tertawa pelan, suara yang kali ini terdengar jelas di keheningan kelas yang syok. Ia menoleh ke arah Aisha, alisnya terangkat tinggi dengan ekspresi sulit ditebak.
"Sepertinya takdir punya selera humor yang buruk, ya, Sha?" bisik Arkan, cukup hanya untuk didengar oleh Aisha.
Aisha menatap lurus ke depan, tangannya menggenggam pulpen begitu erat hingga ruas-ruas jarinya memutih. Dalam hatinya, satu kalimat berulang-ulang dengan keras:
Aku akan membunuhnya. Perlahan-lahan.