#13-AKU CINTA KAMU NICK!

2194 Words
              Jeane berjalan menyeret kakinya tanpa tujuan jelas. Yang penting baginya sekarang adalah keluar dari kampus secepat mungkin.             Hatinya teriris mengingat seluruh kejadian yang menimpa dirinya juga Nicky akibat ulah Desmond. Lebih sakit lagi karena melihat Nicky yang disukainya semakin dekat dengan Fitria. Terlintas kembali saat dilapang basket tadi. Tangan Nicky yang memegang erat tangan Fitria seolah tidak mau lepas.             “Ahh. Kenapa aku harus menyukaimu Nick? Kenapa hanya Fitria yang kau pilih?” Berkecamuk pertanyaan dalam dirinya.             “Hai! Mau mati lu?” Teriak seorang sopir angkutan umum menyadarkan Jeane dari lamunannya. “Kalau jalan yang bener!”             Rupanya tanpa disadari Jeane dia berjalan agak ketengah jalan bukan di pinggir jalan lagi.             “Maaf bang. Saya melamun.” Jeane mengangkat kedua tangannya didada.             “Haduhh neng. Hati-hati ya. Jangan melamun lagi.” Kata sopir angkutan tadi.             Jeane melanjutkan jalannyadan berusaha untuk menghilangkan kejengkelannya yang tidak jelas. ]           Dari arah belakang tiba-tiba ada motor yang membunyikan klakson.             “Jean! Ngapain kok lewat sini?” Rupanya motor Nicky dan boncengan dengan Andre.             “Eh Nick. Iya aku ada perlu dulu sebelah sana.” Ujar Jeane menyembunyikan rasa kaget dan malunya. “Nah kamu Nick mau kemana? Bukannya arah biasanya kamu kearah sana.” Jeane menunjuk arah persimpangan.             “Memang kesana Jeane. Biasa nganter yang dipertuan raden mas Andre.” Balas Nicky sambil tertawa dan memukul kaki Andre yang menjuntai kedepan.             “Oh gitu.” Jeane merasa dan berharap Nicky mengajaknya naik motor. “Ya sudah. Jalan aja duluan Nick.” Lanjut Jeane.             “Oke. Aku tunggu disana ya Jean.” Kata Nicky.             Jeane tak percaya dengan pendengarannya bahkan sampai minta Nicky mengulang ucapannya.             “Ken..Kenapa Nick?” Jeane pura-pura tidak mendengarnya.             “Aku tunggu disana. Setelah drop Andre aku antar kamu pulang ya Jean.”             Jeane mengiyakan dengan menganggukan kepalanya. Masih tidak percaya apa yang terjadi pada dirinya hari ini.             Jeane berjalan kembali kearah persimpangan. Kali ini Jeane berjalan tidak dengan lamunannya.             “Ayo naik Jean.” Ajak Nicky setelah Jeane sampai dipersimpangan dan berdiri disamping motornya. “Kearah mana rumah kamu?” Tanya Nicky             “Belok kiri Nick. Tidak jauh paling 20 menit dengan motor.” Kata Jeane.             “Ya sudah. Yuk naik.”             “Dari tadi sudah kok Nick. Masa nggak kerasa sih.” Jeane menepuk pundak Nicky.             Nicky tertawa dan menjalankan motornya menuju rumah Jeane.             Memang hanya 20 menit seperti yang dibilang oleh Jeane. Mereka sampai di rumahnya Jeane.             “Makasih ya Nick.” Jeane turun dari motornya Nicky. “Mampir dulu Nick?”             “Sama-sama Jean. Lain kali ya Jean.” Ucap Nicky memutarkan motornya kearah asal datangnya. “Ibuku suka khawatir kalau terlambat pulang.”.             “Iya Nick. Kalau boleh dan sempat besok aku ingin bicara dengan kamu. Boleh?”             “Kita lihat saja besok ya Jean. Mudah-mudahan bisa. Soalnya aku harus menyelesaikan sesuatu sebelum hari Jumat.”              “Ya sudah kalau begitu. Oke Makasih ya Nick. Hati-hati dijalan.” Kata Jane menepuk tangan Nicky.             “Oke Jean. Bye.”             “Bye Nick.”             Jeane lalu membuka pintu pagar rumahnya. Ada secercah cahaya kebahagiaan tampak dimukanya.             Nicky kembali mengendarai motornya menyusuri jalan tikus dari lingkungan blok A yang dikenalnya. Begitu keluar dari jalan itu motor kembali ke jalan raya dan pas dipersimpangan yang kala itu kepala Nicky merasa pusing.             Nicky meminggirkan motornya dan berhenti tepat di kios yang dulu perasaannya seorang bapak membelikan minuman untuknya. Nicky menghampiri kios itu.             “Bang. Ada minuman dingin?” Tanya Nicky.             “Ada mas.” Jawab pemilik kios itu. “Eh mas ini yang dulu pusing yah!” Rupanya pemilik kios itu mengenali Nicky.             “Kok abang masih inget saja.” Nicky tertawa. “Eh bang boleh nanya sesuatu nggak?”             “Nanya apaan tuh mas?” Sahutnya.             “Oh iya saya Nicky bang. Abang siapa namanya?”             “Saya Miskun mas.”             “Begini bang Miskun. Masih inget nggak bapak-bapak yang waktu itu menolong saya membelikan minum?”             “Yang mana ya?” Miskun berkerut keningnya mencoba mengingat-ingat. “Perasaan saya tidak ada yang membelikan minuman untuk mas Nicky deh.”             “Maksudnya gimana?” Tanya Nicky. Duduknya jadi mendekat ke Miskun.             “Begini mas. Waktu itu mas Nicky mengambil minuman dingin agak sempoyonga. Setelah minuman diambil ya mas Nicky bayar sendiri nggak ada yang nolongin mas kok.” Ujar Miskun. Matanya menatap Nicky keheranan. “Mas Nicky nggak apa-apa kan mas?”             “Oh saya tidak apa-apa mas.” Balas Nicky.             Nicky tambah penasaran karena dia yakin ada orang tua yang menolongnya membelikan minnuman untuknya. Tapi jawaban dari Miskun membuatnya tambah tidak mengerti.             “Siapa bapak itu?” Nicky bertanya pada dirinya sendiri. Nicky baru inget dengan kemampuannya. Nicky kemudian mencari tempat yang waktu itu bapak tua itu menurut Nicky duduk.             Setelah bergeser sedikit lalu Nicky menempelkan tangannya di ubin trotoar sebelah depan kiosnya Miskun.             Tiba muncul sebuah bayangan kabur dan halus. Tampak seorang tua yang memakai baju dan celana panjang seragam coklat persis seperti yang dilihatnya waktu itu. Kemudian Nicky melihat ada luka diatas alis kanannya. Sekejap kemudian bayangan itu hilang dari pandangan Nicky.             Nicky bangkit dari duduknya dan menghampiri Miskun yang melihat tingkah laku Nicky membuatnya agak menjauh dari Nicky.             “Mas Miskun.” Tanya Nicky. “Saya ingat orangnya itu...” Nicky menceritakan apa yang barusan dia lihat.             “Masya Allah. Itu mah pak Abdul Kadir mas Nicky.” Ujar Miskun. “Pak Abdul itu sudah meninggal 5 tahun yang lalu tepat dibelokan jalan itu.” Miskun menunjuk putaran persimpanan yang menuju arah kiosnya. “Almarhum pak Abdul Kadir memang orangnya baik dan suka menolong orang.” Lanjut Miskun.             Nicky bengong mendengar cerita Miskun. Jadi dia waktu itu ditolong oleh seseorang yang sudah meninggal 5 tahun lalu.             Nicky terhenyak dan duduk di depan kios Miskun. Hatinya gundah sekaligus bangga dia ditolong oleh seorang yang baik meskipun sudah meninggal. Terbesit dihati Nicky ingin menemui keluarga dan sekaligus kuburan almarhum pak Abdul.             “Berapa mas?” Nicky bertanya harga minuman dingin yang diminumnya.             “5 ribu mas Nicky.” Jawab Miskun. Nicky mengeluarkan uang lima puluh ribuan selembar dari dompetnya.             “Nih mas.” Nicky menyerahkan uangnya. “Kembaliannya ambil saja.” Ujar Nicky.             “Hah.” Miskun kaget sebab baru ada orang yang tidak mau mengambil kembalian uangnya.             “Mas Miskun. Mau nggak suatu hari mas Miskun mengantar saya ke keluarga almarhum dan kuburannya?” Tanya Nicky.             “Iya mas Nicky. Saya mau. Akan saya antar kesana.” Balas Miskun sambil menganggukan kepalanya.             “Iya mas. Terimakasih sebelumnya. Saya jalan dulu mas.” Kata Nicky menyalakan motornya.             “Iya mas.” Balas Miskun. “Hati-hati.” Katanya.             Nicky mengangguk kepada Miskun dan mengangkat tangannya.             Hanya saebentar Nicky sudah sampai di rumahnya. Setelah dia menyimpan motornya di samping garasi Nicky langsung masuk kamarnya. Dari kamarnya Nicky minta bi Irah untuk membawa makan malamny ke kamar.             Setelah mandi Nicky melihat makan malamnya sudah ada di troli depan pintu kamarnya. Nicky membawa makanan itu dan melahapnya sampai habis.             Sesudah makan malam Nicky duduk dikursi malas diteras kamarnya depan pohon beringin yang rindang.             Tidak terasa Nicky ketiduran di kursi malasnya sampai pagi hari menjelang.             Tinggal sehari lagi acara pameran lukisan digelar.             Pagi ini Nicky sudah bersiap berangkat meskipun terasa pegal badannya karena ketiduran di kursi malasnya.             Jam setengah delapan Nicky dan Andre sudah sampai di kampus. Padahal acara gladi bersih sebenarnya jam 9 dimulainya.             Nicky dan Andre menuju cafetaria kampus buat sarapan dulu.             Begitu sampai di cafetaria ternyata sudah ada Jeane yang sedang sarapan juga ditemani oleh Tiwi teman mereka berdua juga.             “Hai Nick, Dre.” Sapa Jeane. “Sarapan yuk.” Ajak Jeane.             Nicky dan Andre mengangguk. “Ini juga mau pesen lontong sayur.” Sahut Nicky berjalan menuju gerobak lontong sayur.             “Bu lonsaynya 2 ya. Satu pedas satu sedang.” Nicky pesan lontong sayurnya. Kemudian Nicky duduk dikursi cafetaria depan gerobaknya.             Jeane yang menunggu Nicky duduk bersama jadi sedikit heran. Nicky malah duduk terpisah.             “Nick!” Teriak Jeane. “Disini aja.” Katanya melambaikan tangannya.             Nicky melambaikan tangannya dan menunjuk tangannya kemeja yang sudah ada lontong sayurnya.             Jeane kecewa tapi apaboleh buat. Jeane meneruskan makan sarapannya.             Fitria muncul di cafetaria sambil membawa ketan bakar dan lupis langsung duduk ditempat Nicky dan Andre makan. Fitria duduk sebelah Nicky dan membuka lupis yang dibawanya. Sedangkan ketan bakarnya diberikan kepada Andre.             Fitria memotong lupis yang pakai gula merahnya dengan sendok yang ada disitu. Lalu sendok itu disuapkan ke mulut Nicky.             “Gimana? Enak Nick?” Tanya Fitria.             “Hmm enak Fit. Lembut dan gurih. Selembut dan segurih kamu.” Kata Nicky sambil tertawa.             “Emangnya gua lupis. Dih!” Fitria mencubit tangan Nicky. Mesra.             Semua kejadiaan saat itu terlihat jelas oleh Jeane. Ada rasa sakit menusuk hatinya Jeane. Tidak tahan dengan adegan itu Jeanepun bangkit dari duduknya tanpa menghabiskan sarapannya dan keluar dari cafetaria.             Tiwi mengikutinya dari belakang. Sementara Nicky biasa saja dan meneruskan sarapannya dengan teman setianya.             Setelah selesai sarapan Nicky, Andre dan Fitria beranjak dari tempat itu. Sesampainya diluar ruangan ternyata Jeane sudah menunggu mereka.             “Dre, Fit. Boleh pinjam Nickynya sebentar? Saya ada perlu sedikit.” Pinta Jeane.             “Oh silakan Jean. Kembalinya utuh ya.” Canda Andre. Jeane hanya tersenyum pahit.             Jeane dan Nicky lalu berjalan ke tempat duduk para mahasiswa dibawah pohon yang ada disitu.             Setelah duduk Jeane langsung bertanya kepada Nicky.             “Nick.Sorry kalau aku ganggu kamu. Aku sudah tidak tahan lagi untuk menanyakan sesuatu soalnya.” Kata Jeane.             “Apa itu Jean?”             “Kamu sudah jadian ya sama Fitria?” Jeane to the point ke intinya.             “Ahh. Kata siapa saya sudah jadian sama Fitria?” Kening Nicky berkerut tanda tidak setuju dengan ucapan Jeane. “Sudahlah Jeane jangan bawa-bawa orang segala. Saya jadi nggak enak ngobrolnya.”             “Oke! Oke sorry Nick. Itu adalah salah satunya yang ingin aku tanyakan sama kamu Nick.”             “Kenapa memangnya.” Tanya Nicky tambah tidak mengerti.             “Yah karena aku suka sama kamu Nick. Aku jatuh cinta dengan kamu.” Jeane menyampaikan isi hatinya tanpa tedeng aling-aling lagi. “Aku sudah jatuh cinta sejak tahun pertama kita masuk kampus ini Nicky. Hanya kamu saja yang tidak tanggap kali.” Jeane mengusap kedua matanya yang sudah berair.             Nicky kaget mendengar pengakuan Jeane yang tulus mencintainya. Nicky sekarang yang merasa berat untuk mengutarakannya kalau dia memang tidak ada perasaan kepada Jeane. Selain seorang teman tak lebih.             Hati Nicky sudah terpaut kepada Fitria sejak mereka berteman yang belum bisa diucapkan. Nicky merasa takut menjadi renggang kedekatannya dengan Fitria saat dia ditolak misalnya.             “Jeane.” Kata Nicky sambil memegang jari tangan Jeane. “Kamu memang cantik, supel dan terpelajar sehingga banyak laki-laki yang suka dengan kamu termasuk kakak-kakak kelas kita. Terus terang Jean aku juga suka sama kamu. Kamu tau kan buktinya. Setiap kali kamu didekati Desmond dan disepelekannya saya selalu membela kamu. Apapun kejadiannya.” Nicky berhenti bicara menghela nafas dengan berat. “Sayangnya suka aku sama kamu berbeda dengan suka kamu sama aku. Aku menganggap kamu Jean tak ubah seperti seorang sahabat yang saling melindungi. Itupun kalau kamu tidak mau bilang seperti adik sendiri.” Nicky terdiam. Pembicaraannya tidak dilanjutkan karena tiba-tiba Jeane menarik tangannya yang sedang dipegang Nicky.             “Maafin aku Jean. Aku tidak bisa memaksakan sebuah anugerah dari Sang Maha Pengatur manusia. Saya yakin kalau cinta itu adalah anugerah.” Ujar Nicky menengok kepada Jeane yang sudah mulai menangis. “Maafin aku Jean. Lebih baik kita berteman saja atau kalau kamu mau juga saya mau jadi sahabat kamu Jean.” Lanjut Nicky yang kembali memegang tangan Jeane. Kali ini tidak dilepaskan Jeane malah semakin dipegang erat seolah takut terlepas lagi.             “Aku jadi malu Nick. Sekarang bertambah malu lagi setelah sekian banyak aku membuat banyak malu kepada kamu. Tapi aku puas sekarang. Ternyata memang kamu tidak pernah suka sama aku.”             “Wo! Wo! Kata siapa aku tidak suka sama kamu? Hayo kata siapa Jean?” Nicky memegang pundak Jeane. “Aku kan bilang aku suka kamu Jean meskipun maknanya lain bagi kamu.” Come on Jean jangan sempit pikiran kamu. Kita tidak pernah akan tau apa yang akan terjadi selanjutnya.” Ujar Nicky. Tangannya mengambil tissue dari ranselnya dipakai mengusap airmata Jeane yang semakin deras.             Jeane bukannya menjawab malah menjatuhkan kepalanya kepundak Nicky. Nickypun merangkul pundak sebelahnya. Banyak orang yang memperhatikan mereka tapi semuanya maklum. Dalam pikiran mereka mungkin Jeane nangis karena ulah Desmond kepada Jeane dan Nicky.             “Tetep aja Nick aku malu sama kamu. Apalagi gara-gara Desmond kepada saya nama baik kamu jadi tercemar.” Isak Jeane.             “Sudahlah Jeane lupakan itu. Sekarang kan sudah selesai semuanya. Desmondpun sudah mendapatkan apa yang sudah dia perbuat. Sekarang mending kita mulai saja hubungan baru kita. Terserah kamu Jean kamu menganggap saya apa. Sahabat? Teman? Terserah. Yang penting buat aku tetap kamu adalah Jeane yang aku suka dari dulu. Thats it.” Nicky mencium kepala Jeane. “Sekarang kita masuk aja yuk. Sebentar lagi dosen masuk.” Jak Nicky sambil menarik tangan Jeane yang menyambut tangannya.             Nicky dan Jeane berdua berjalan menuju ruang kuliah.             Hati Jeane kembali riang karena sudah melepaskan beban hatinya selama ini. Meskipun hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tapi Jeane percaya kalau Nicky adalah laki-laki yang bisa dipegang kata-katanya.             Masih terngiang apa saja yang diucapkan Nicky kepadanya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD