#01-Rumahku
CHAPTER #1
RUMAHKU
Hari ini Jakarta terlihat cerah.
Simpruk merupakan kawasan rumah-rumah mewah. Agak menjorok ke dalam, masih di kawasan Simpruk, nampak sebuah rumah yang bercorak Eropa dan terlihat mewah serta elegan. Selain luas dan besar, rumah itu juga tampak tertata rapi dan terjaga.
Nicky bangkit dari tempat tidurnya. Dia merasa lelah setelah semalaman membuat konsep acara untuk lelang lukisan. Nicky jadi ketua seksi acaranya. Lukisan para mahasiswa seni rupa di kampusnya akan dilelang yang hasilnya akan disumbangkan kepada panti asuhan.
“Nyala!”
Lampu kamar tidurnya segera menyala.
“Medium.”
Intensitas cahayanya pun berkurang.
Nicky bangkit menuju kamar mandi.
“Radio.”
Sayup terdengar lagi suara lagu mengalun dengan beat semangat dari Ari Lasso.
“Yeah!” Nicky setengah berteriak sambil menggerakan kakinya.
Selesai mandi, Nicky keluar dari kamarnya menuju meja makan untuk sarapan pagi. Beberapa pelayan sedang sibuk melayani keluarga Nicky.
“Selamat pagi!”
“Selamat pagi. Enak tidurnya, Nick?” tanya sang mama dengan nada lembut.
“Lumayan Ma, tapi masih agak lemes,” kata Nicky sambil menarik kursi makan di sebelah mamanya.
“Papa mana, Ma?”
“Biasa, Nick. Masih di Jepang katanya.”
“Yah. Ngapain, sih? Sudah dua minggu, loh.”
“Nyari buat makan lah, Nick. Tumben kamu nanya. Memangnya ada apa sih, Nick?” tanya mamanya sambil memberikan sepotong roti yang dibuatnya kepada Nicky.
“Nggak apa-apa, Ma. Papa pernah janji mau beli satu lukisan temen Nick buat amal.” Nicky mengunyah roti yang diberikan mamanya.
“Oh, kirain apaan. Masih lama, kan?”
“Minggu depan, Ma.”
“Iya, ntar Mama urusin. Sekarang sarapan dulu, ya,” sambung mamanya.
“Selamat pagi semua!” seru Amelia, kakak Nicky yang datang sambil menarik kursi meja makan.
“Pagi Amelia. Waduh, tumben udah mandi. Mau ke mana, sih?”
“Biasa, Ma. Ada bazar di kampus aku,” balas Amelia.
“Bazar apa, Mel?”
“Dalam rangka ulang tahun universitas, Ma,” balas Amelia sambil menyuap potongan roti yang tadi diberikan mamanya.
“Oh, hati-hati ya! Jangan sampai panas-panasan.”
“Ma, aku mau pakai Lambo ya ke kampus. Nggak Mama pakai, kan?”
“Buat apa sih pakai Lambo segala? Yang sport Mercy aja, deh. Jangan terlalu menyolok. Nggak enak dilihat orang lain.”
“Yah. Mama.” Amelia kecewa. “Ya udah, deh.”
Mamanya tersenyum melihat ulah anak-anaknya. Yang satu baiknya tidak terkira. Yang satu selalu suka berlebihan.
Setelah lima belas menit di meja makan, Amelia bangkit dari kursinya.
“Aku jalan dulu ya, Ma!”
“Hati-hati! Jangan ngebut-ngebut, ya.”
“Iya, Ma.”
Amelia jalan menuju ke garasi mobil.
“Buka!”
Pintu otomatis ruang garasi pun terbuka.
Tampak hamparan luas ruang garasi yang diisi dengan mobil-mobil mewah terkenal di dunia berjejer di dalamnya. Amelia mendekati Mercy sport keluaran terakhir itu dan membuka pintu mobilnya, kemudian menekan-nekan tombol yang ada di dalamnya.
Detik berikutnya, suara mobil pun berbunyi. Pintu gerbang pun terbuka otomatis tanpa dibuka oleh penjaga yang ada di gerbang rumah. Setelah mobil keluar dari gerbang, pintu gerbang pun menutup kembali.
Nicky yang baru selesai sarapan bangkit dari kursinya kemudian membereskan bekas sarapannya. Mamanya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah pola anaknya yang satu ini.
“Sudah Nick, biarin aja. Kan ada yang beresin.”
“Nggak apa-apa, Ma. Hitung-hitung olahraga,” jawab Nicky sambil tersenyum. “Oh iya, Ma. Aku pulangnya ntar agak telat, soalnya ada rapat panitia jam lima sore.”
“Iya Nick. Hati-hati saja, banyak kejahatan loh di jalanan sekarang ini.”
“Iya, Ma,” balas Nicky beranjak dari meja makan.
“Pakai apa kamu ke kampus, Nick?”
“Biasa, Ma. Si Jagur,” balas Nicky sambil tertawa.
Nicky keluar rumah menuju pojokan ruang garasi. Sebuah motor tua dan jadul yang terlihat bersih sudah menunggunya.
“Halo, Jagur. Selamat pagi, kawan.” Nicky menyapa motornya sambil menepuk-nepuk sadel tempat duduknya.
Nicky menstarter tuas motornya.
Setelah dipanaskan, beberapa saat kemudian Nicky menaiki motor kesayangannya dan berjalan menuju pintu gerbangnya.
Kali ini penjaga yang membuka pintu gerbang rumahnya. Itu pun dari samping.
“Selamat pagi Mas Nicky!”
“Selamat pagi Pak Rus! Sudah sarapan, Pak?”
“Sudah, Mas.”
“Oke, deh. Saya jalan dulu ya, Pak.”
“Iya, Mas. Hati-hati di jalan.”
Nicky tersenyum. Dia memacu motornya dengan hati-hati menuju kampusnya yang cukup jauh dari rumahnya.
Di perjalanan ke kampus, Nicky menangkap sekilas mobil sport yang dikendarai kakaknya berhenti di pinggiran jalan masuk tol.
Dari kejauhan, ada seorang laki-laki yang menghampiri mobil kakaknya itu. Setelah laki-laki itu berdiri di samping pintu mobil kakaknya, Nicky melihat Amelia keluar dari pintu pengemudi dan memutar, kemudian masuk ke pintu penumpang. Sedangkan laki-laki tersebut masuk ke pintu pengemudi.
“Lah, siapa lagi tuh laki-laki? Ampun deh kakak gue ini,” gerutu Nicky sambil meneruskan perjalanannya ke kampus.
Begitu jauh dari tempat tadi memergoki kakaknya, tiba-tiba di sebelahnya ada mobil yang memepet motornya Nicky. Jendela mobil itu kemudian terbuka. Terdengar sorak-sorai dari dalam mobil yang menyanyikan lagu zaman dulu.
“Si jago mogok namanya kuberikan. Sebentar lagi pastilah mogok lagi. Mogok lagi, mogok lagi. Kasian deh lo. Hahahaha!”
Nicky menengok ke arah mobil tadi. Terlihat olehnya Desmond dan gengnya sedang mengolok-olok dirinya.
Nicky hanya tersenyum saja. Dia tahu kalau Desmond bukan tandingan kekayaannya.
Lain halnya dengan Desmond. Dia merasa lebih baik dan lebih kaya dari Nicky karena memang belum tahu siapa Nicky. Mobil BMW yang dia pakai sekarang ini hanyalah mobil pelayan Nicky untuk belanja ke mall. Bahkan bisa jadi lebih mahal lagi mobil pelayan Nicky. Mobil BMW Desmond kemudian melesat cepat meninggalkan Nicky yang sudah dia pepet saat meledek Nicky tadi.
Di sebuah perempatan jalan, Nicky berhenti. Nicky menunggu teman kampusnya yang bernama Andre, yang selalu berangkat bersama ke kampus dengannya.
Tidak lama kemudian, tampak Andre datang berlari-lari kecil menghampiri Nicky yang sedang menunggunya.
“Hai, Nicky. Maaf gue rada telat bangun,” kekeh Andre sambil mengusap tengkuknya. “Eh, gimana konsep acara, Nick?”
“Beres. Makanya gue telat bangun. Terus, perlengkapannya sudah lengkap, Dre?”
“Aman itu. Gue udah lengkapin sekalian mendatangi toko grosirnya.”
“Baguslah, Dre. Kita jalan sekarang?”
“Oke.”
Nicky menstarter kembali motornya dan mulai berjalan menuju Depok. Dipertengahan jalan, Andre berteriak meminta Nicky untuk berhenti.
“Stop! Stop sebentar, Nick!” perintah Andre sambil menepuk-nepuk pundak Nicky.
“Kenapa, Dre?”
“Tadi ge liat ada Fitria. Lagi beli kertas kayaknya di toko buku itu,” kata Andre menunjuk ke sebuah toko buku di pinggir jalan.
“Ya, terus mau diapain? Kan nggak bisa naik motor bertiga, bro.”
“Siapa juga yang mau ngajak naik motor bertiga, Nick? Gue cuma mau lo liat Fitria aja, kok.”
“Ah, elo bikin kita terlambat aja.”
“Lah, bukannya lo suka sama Fitria, bro?”
“Siapa bilang? Jangan mengada-ada, Dre. Fitnah itu, meskipun bener. Hahaha!”
“Sialan lo, Nick. Udah ah, jalan lagi.”
Kedua sahabat itu pun segera berjalan lagi menuju kampusnya.