#02-Kampus

1426 Words
CHAPTER #2 KAMPUS               Jam 8 mereka sampai di kampus Depok.             Nicky memarkirkan motornya di parkiran kampus dan langsung menuju ruang belajarnya.             Agak jauh memang dari parkiran motor ke ruang kuliah mereka. Mereka harus melewati beberapa ruang lainnya.             “Eh Nick. Ada Fitria tuh!”             “Mana?”             “Itu tuh. Kasian dia bawa kertasnya banyak. Bantuin gih!             “Samperin berdua aja yuk”             “Ya udah ayo”             Nicky dan Andre berdua buru-buru mendatangi Fitria.             “Hey Fit! Sini saya bantu bawa.” Sapa Nicky sambil mengambil gulungan kertas yang dibawa Fitria.             “Hey Nick. Waduh tumben nih.” Balas Fitria.             “Biasa Fit ada maunya tuh!” Andre mulai acara manasin suasana.             “Mulai dah. Dasar mulut ember.” Nicky memukul lengan Andre.             “Hahaha. Kelihatan malunya kan Fit?” tambah Andre lagi.             Fitria hanya tersenyum tapi ada rona merah dipipinya. Hati Fitria sedikit berbunga-bunga sebenarnya. Habis sudah lama Nicky meninggalkan kebiasaan membantunya akhir-akhir ini.             “Ya sudah. Gak apa kan Nick kalau kamu bantu aku ada maunya?”             Giliran Nicky yang jengah sekarang.             “Eh siapa bilang ada maunya? Dasar Andre aja kali Fit. Meskipun iya sih hehehe.” Nicky mencoba menggoda dan menghilangkan rasa malunya karena ketauan.             “Ihhh kamu Nick. Sama saja laki-laki dimana-mana kalau ada maunya pasti begini. Setelah maunya dapet ya sudah biasa lagi. Hallaahhh kuno itu.” Fitria mencubit tangannya Nicky.             Mereka bertiga berjalan sambil bercanda.             Pas lewat ruang melukis Nicky berhenti sebentar karena melihat ada Ardila mahasiswa Seni Rupa idolanya.             Ardila memang mahir dalam melukis apalagi lukisan realisme.             “Ada apa Nick.” Andre ikut berhenti.             “Itu Ardila. Sudah mulai beres-beres lukisan buat acara nanti.”             “Kirain apaan. Baru aja godain Fitria sekarang ngintip Ardila. Apa sih maumu Nick?”             “Apaan sih Dre.” Nicky menyikut Andre karena ada Fitria disebelahnya.             “Emhh pura-pura ah. Bilang aja naksir Ardila juga.”             “Ngomong apaan sih kalian ini?” Fitria memecahkan suasana.             “Tau nih mahluk ember.” Kata Nicky sambil beranjak menuju ruang kuliah.             Nicky berjalan tidak menoleh lagi.             Sebelum masuk ruang kuliah ada suara yang menegurnya.             “Hai Nicky. Apa kabar?”.             “Hai Jeane. Aku baik. Kamu?”             “Aku baik juga Nick. Kemana saja sudah dua hari gak kelihatan di cafetaria?”             “Ada aja di rumah.” Nicky menjawab sambil masuk ruang kuliah dan duduk di kursi kosong.             Tanpa disuruh Jeane duduk disebelahnya.             Andre dan Fitria yang baru masuk melihat Nicky dan Jeane duduk sebelahan. Mereka saling pandang dan mengkerutkan keningnya masing. Merekapun segera mencari tempat duduk.             Desmond yang baru sampai di ruangan bersama temannya menjadi geram. Dia melihat Jeane incarannya sudah duduk berdua dengan Nicky.             Desmond menghampiri mereka.             “Hey jago mogok. Ngapain lu duduk disitu. Itukan kursi gua.” Katanya kepada Nicky.             “Loh. Aku yang pertama duduk disini Des.”             “Iya tau gua. Tapi itu tempat gua biasa duduk. Nah sekarang lu pindah deh.”             “Oh iya oke aku pindah.” Nicky mengalah.             Nicky bangkit dari kursi kuliah dan berjalan menuju kursi dekat dengan Andre dan Fitria. Jeane ternyata ikut berdiri juga dan ikut pindah seperti Nicky. Tapi tangannya keburu ditangkap Desmond.             “Mau kemana Jeane? Sudah duduk dengan aku saja.”             “Sorry Des. Aku maunya duduk bareng Nicky ada yang sekalian aku tanyain.” Sergah Jeane sambil mencoba melepaskan tangan dari pegangan Desmond.             “Kok kamu mau sih duduk bareng si jago mogok?” Desmond kecewa sambil melepaskan pegangan tangannya.             “Ya mau aja Des. Saya mau duduk dengan siapa saja itu urusan saya kan?”             Merah muka Desmond tapi tetap membiarkan Jeane berjalan kearah tempat duduk Nicky. Namun sayangnya Nicky sudah duduk dengan Andre yang pindah saat Jeane dan Desmond bicara. Terpaksa Jeane duduk dengan Fitria yang kursi sebelahnya masih kosong ditinggal Andre.             “Hai Fit. Aku duduk disini yah?”             “Iya Jean. Hayo duduk.”             Akhirnya Jeane duduk bersama Fitria dibelakang kursinya Nicky dan Andre.             Tidak lama kemudian dosen masuk ruangan untuk memulai mata kuliahnya.             Bel akhir mata kuliah berbunyi.             “Untuk Nicky, Andre dan Fitria sesudah jam ini kalian ditunggu di ruang pamer yah. Kita meeting sebentar untuk melihat progres rencana pameran.” Kata dosen yang ditujukan buat Nicky, Andre dan Fitria.             “Boleh nggak pak saya ikut dengerin progres acara?” Jeane mengajukan keinginnannya.             “Sebenarnya gak perlu Jean. Tapi kalau kamu mau silakan saja. Tapi hanya dengerin saja dan duduknya dibelakang. Gimana mau?”             “Nggak masalah pak.” Jawab Jeane. “Saya hanya ingin belajar saja.”             “Oke kalau begitu. Sialakan bersama dengan yang tadi bapak sebut menuju ruang pamer yah.” Kata Dosen sambil membereskan buku dan diktat kuliah.             Jeane nampak senang tapi tidak dengan Desmond.             Dia merasa sangat disepelekan oleh Jeane dan Nicky.             Desmond menendang kursi kuliahnya karena kesel sama Nicky dan Jeane yang sudah keluar ruangan tanpa menghiraukan dia.             “Sabar Des. Ada waktunya lu buat ngelampiasin kesel lu.” Kata Arman salah saorang teman Desmond.             “Sabar! Sabar apaan Ar. Lu liat tadi di cengin si Jeane ama si Nicky. Malu gua.”             “Ya gua tau. Tapi bukan sekarang saatnya buat hantam balik mereka. Kita susun dulu dong caranya. Gimana?”             “Terserah lu deh Ar. Pokoknya  gua harus balas tuh orang.” Sungut Desmond. “Yuk cabut dah. Pusing gua.” Lanjut Desmond.             Desmond dan teman-temannya pun beranjak dari ruang kelas berjalan menuju parkiran mobil Desmond.             Jam 19.00 malam meeting panitia acara pameran lukisan selesai. Nicky, Andre Fitria dan Jeane tampak masih berdiskusi sambil berjalan. Jeane diam tidak bicara sepatah katapun karena dia tau bukan bagian dari kepanitiaan.             “Loh kok diam saja Jean?” Suara Andre memecahkan kekakuan.             “Ya iyalah. Saya kan gak ngerti apa yang kalian omongin hehehe.”             “Eh bener juga. Lupa saya.” Sambung Andre sambil mundur selangkah biar Nicky agak sejajar dengan Jeane.             Fitria melihat jelas sikap Andre. Hatinya tercekat agak sakit. Karena melihat Nicky menjadi jalan berbarengan dengan Jeane.             Nicky yang menyadari situasinya berubah segera pura-pura nengok sambil berhenti berjalan.             “Eh Fit. Kalau kertas yang tadi dibeli dimana ya?” Pura-pura bertanya soal kertas padahal Nicky sadar betul kalau kertasnya sedang dia bawa.             “Kok nanya gitu sih Nick? Itu yang dipegang apaan?” ujar Fitria sambil menunjuk ketangan Nick yang sedang membawa kertas.             “Ya ampun. Sorry, sorry Fit sampai lupa saya.”             “Makanya jangan jalan sambil ngelamun Nick.” Kata Andre nimbrung.             “Hadeuuuhh. Ni ember satu. Namanya juga lupa oom.”             Jeane jadi malu sendiri. Akhirnya dia pindah posisi. Jeane dan Fitria berjalan berdampingan. Nicky merasa tenang sekarang setelah melihat Jeane mengerti situasinya.             Disisi lain Jeane agak kecewa karena tidak jadi berjalan bareng Nicky. Jeane yang masih penasaran kenapa Nicky selalu menghindar dari dirinya.             Saat sampai di parkiran motor.             “Dre. Nanti pas pulang beli bensin dulu ya?” Kata Nicky. “Oh iya. Fitria ama Jeane pulang sama siapa?”             “Saya naik angkot Nick.” Ujar Fitria. “Gak tau Jeane naik apaan. Naik apa Jean?” lanjut Fitria.             “Saya naik taksi saja. Deket kok kearah blok A.” Jawab Jeane.             “Oh ya sudah. Hati-hati saja dijalan yah.” Ujar Nicky. “Saya sama Andre naik motor. Boleh kan kami jalan duluan?”             “Iya Nick. Hati-hati juga. Jangan ngebut-ngebut yah.” Kata Jeane sambil melihat Nicky dengan mata yang terlihat sayu.             “Oke Jean. Thanks ya.”             Nicky kemudian menstarter motor jadulnya. Andre segera naik dibelakang.             “Dah Fitria. Dah Jeane. Sampai besok.” Kata Nicky.             “Daahh Nicky.” Fitria melambaikan tangannya diikuti oleh Jeane. “Dahh Nick.” Katanya.             Nicky melaju keluar dari kampusnya pulang bersama dengan Andre.             Setelah nge-drop Andre di persimpangan, Nicky kembali memacu motornya kerumah.             Sesampainya dirumah Nicky langsung ke kamar mandi dan makan malam sendirian. Nicky hanya ditemani oleh pelayannya yang bernama bi Irah.             “Mama kemana mbak?” Tanya Nicky ke bi Irah.             “Saya gak tau den Nicky.” Jawab bi Irah. “Mau dibawain lagi kari ayamnya den?” Tanyanya menghindari dari pertanyaan Nicky lainnya.             “Gak usah mbak. Cukup kok. Lagian sudah agak kenyang. Makasih ya mbak.”             “Iya den.”             Selesai makan Nicky berjalan ke kamarnya. Kemudian menekan beberapa tombol yang ada disamping pintu kamar. Pintu kamarpun terbuka.             Nicky masuk kamar sambil bertepuk tangan. Lampu redup kamarpun menyala.             “Radio!”             Suara radiopun terdengar sayup dan lembut terdengar di telinga Nicky.             Nicky kemudian menghempaskan badannya dikasur yang empuk.             Bayangannya segera menyergap pikirannya. Masih terbayang saat ditatap oleh Fitria. Juga saat Jeane menolak ajakan Desmond untuk duduk bareng.             Pikirannya terus melayang seiring lagu diradio yang mengantarnya istirahat tidur malam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD