#24 - MENGEJAR CINTA NICKY

2239 Words
CHAPTER #24   MENGEJAR CINTA NICKY                 Pagi itu Santi sudah memacu kembali mobilnya menuju kampus karena ada quiz mata kuliah ekonomi. Sesampainya di kampus Santi langsung masuk ruang kuliah dan membaca diktat dan buku pegangannya agar dapat menyelesaikan quiz dengan mudah.             Tapi Santi tidak dapat berkonsentrasi penuh karena tetap saja bayangan Nicky menghantui pikirannya.             “Ahh, kenapa sih wajahmu selalu ada di mataku Nick? Apa kamu juga sedang memikirkan seperti aku?” Bisik hati kecilnya.             Waktu mata kuliah ekonomi sudah selesai beberapa menit lalu tapi Santi masih didalam ruang kuliah. Pikirannya masih mencari jalan untuk bisa menemui Nicky dimanapun dia sekarang.             Akhirnya Santi mendapatkan akal untuk menemui Nicky.             Setengah berlari Santi menuju parkiran dan langsung menyalakan mobilnya begitu sampai didalam mobilnya.             Setelah ada di jalan raya Santi melaju dengan cepat yang tujuannya adalah kampus Nicky.             Nicky dan Fitria sedang istirahat dan hanya duduk-duduk di taman kampus sambil bercanda dan ngobrol sana-sini. Mereka tidak membicarakan masalah yang sebenarnya sedang mereka hadapi sekarang.             “Fit, kamu bawa permen atau sukro kali. Aku ingin makan sesuatu. Mulutku rasanya nggak enak banget.” Tanya Nicky.             “Kalau permen ada Nick. Bentar yah.” Fitria merogoh tas kuliahnya dan mencoba mencari permen. “Nih, ada satu.” Fitria memberikan permennya kepada Nicky.             “Makasih Fit.” Nicky membuka permennya dan langsung diisao-isap dimulutnya.             “Nick, Andre kemana ya? Kok aku nggak lihat ikut kita sekarang?” Tanya Fitria. “Herannya Jeane juga nggak ikut. Lagi pada ngapain mereka ya?” Fitria celingukan mencari mereka.             “Sudahlah biarin aja. Paling lagi pada makan atau lagi pendekatan kali Andre?” Jawab Nicky acuh tak acuh.             “Iya deh. Biarin saja.Mudah-mudahan mereka menjadi pada dekat.”             Belum lama mereka ngobrol dan mencoba menghilangkan kepenatan, dari arah parkiran terlihat ada seseorang yang sedang menuju taman kampus.             Nicky dan Fitria yang kebetulan melihat kedatangannya memperhatikannya dari kejauhan.             “Siapa itu ya Nick?” Tanya Fitria penasaran. “Kayaknya Santi lago deh. Ada apa lagi ya?” Selidik Fitria penuh keingintauan.             “Kayaknya sih. Tapi mau ngapain lagi anak ini.” Nicky menjawab dan menggeser duduknya mendekati Fitria.             “Hey Nick! Hey Fit! Apa kabar.” Sapa Santi yang langsung duduk disebelah Nicky.             Fitria tercekat hatinya melihat kelakuan Santi. Ada perasaan tidak senang dalam hati Fitria dengan kedatangan Santi ini.             “Hey San. Aku baik. Ngapain lagi dikampus aku.” Kata Nicky yang sedang memegang tangannya Fitria.             Fitria hanya melambaikan tangannya saja kepada Santi, dan kembali melihat kearah lain.             “Iya Nick. Aku ada perlu banget sama kamu. Tadi aku ikut quiz ekonomi di kampus, tapi kayaknya jeblok deh hasilnya. Jadi aku mau minta tolong kamu buat nganter aku beli buku ekonomi.” Tutur Santi. Santi agak menggeser duduknya hampir menempel dengan badan Nicky.             Nicky agak rikuh dan berusaha menghindarinya dengan jalan berdiri.             “Aneh kamu ini San. Aku ini anak seni bukan anak sosial. Jadi pastinya nggak bakalan tau dong tentang ekonomi.” Balas Nicky tertawa dan melihat Fitria. “Mendingan kamu langsung aja ke toko buku dan memilih buku ekonomi. Disana pastinya banyak buku ekonomi dengan penyusun yang sudah terkenal bagus.”             “Iya sih, tapi aku nggak ada yang ngantar Nick. Kamu mau ngantar aku?” Tanya Santi agak memaksa.             “Saya sama Fitria kebetulan sudah ada rencana lain sebentar lagi. Jadi maaf aku nggak bisa ngantar kamu San.” Balas Nicky berusaha menolak sesopan mungkin.             “Yahh kamu Nick. Jauh-jauh aku kesini biar bisa diantar kamu.” Santi menundukan kepalanya.             “Ya maafin aku San. Lagian mana mungkin aku jalan sendiri ninggalin Fitria sendiri. Dia kan pacar aku. Nggak enak lah. Sorry ya San.” Kata Nicky. “Jadi gimana sekarang. Apa perlu aku cariin teman aku buat nemenin kamu ke toko buku?”             “Nggak usah Nick. Biar aku saja yang cari. Tapi nanti kalau ada apa-apa, aku ke rumahmu ya Nick.”             “Boleh saja. Tapi kalau aku nggak sibuk ya San. Atau sedang ada dirumah.”             “Memangnya kamu selalu keluar rumah setiap saat Nick?” Tanya Santi penasaran.             “Iyalah. Tapi nggak kemana-mana San. Aku paling ada dirumah Fitria.” Nicky menjawab mulai bosan. “Oh iya. Boy gimana San? Masih suka ke blok M?”             “Nggak lagi Nick. Aku sudah nggak mau lagi diajak sama Boy dan ingin putus deh. Soalnya banyak ngajarin yang nggak ada manfaatnya.” Kata Santi. “Aku sedang mencoba melupakannya.”             “Baguslah San.” Balas Nicky. “Terus sekarang kamu mau kemana? Soalnya aku dan Fitria sepertinya harus berangkat sekarang.” Nicky menarik tangannya Fitria yang ada jam tangannya. Nicky memperhatikan jam tangannya Fitria seperti melihat waktu.             “Aku pulang saja deh Nick. Ke toko buku biar nanti malam saja sekalian beli yang lainnya. Kalau begitu aku permisi ya Nick, Fit, thanks ya. Sorry ganggu istirahat kalian.”             “Oke San. Maaf ya.” Balas Nicky.             “Iya San. Hati-hati di jalan.” Sahut Fitria melambaikan tangannya.             Santi berdiri dan berjalan menuju arah yang sama menuju parkiran mobil.             Nicky dan Fitria saling berpandangan dan tersenyum keduanya.             “Nah lo, ada fans baru nih. Cantik dan kaya lagi.” Canda Fitria. “Tergeser deh aku.”             Nicky tidak mengomentari ucapan Fitria tapi malah duduk lagi.             “Fit, sepertinya mending kita pulang saja yuk! Lagian sudah nggak ada kuliah lagi kan?” Ajak Nicky. “Aku antar kamu ya?”             “Iya Nick. Aku juga sudah mulai jenuh mending istirahat dirumah saja.” Fitria membereskan tas kuliahnya.             Sebelum beranjak dari taman kampus mendadak Andre dan Jeane datang menghampiri.             “Yeh, mau pada kemana ini? Mau kemana Nick?” Tanya Andre tetap berdiri.             “Iya mau kemana Fit?” Sela Jeane memegang tangannya Fitria.             “Kami mau pulang Dre. Lagi agak jenuh nih.” Fitria menyahut. Tangannya memegang tangan Jeane. “Dari tadi kalian darimana kok nggak gabung sih? Curiga aku.”             “Apaan sih Fit. Aku dan Andre ke lapangan basket kampus. Disana ada tukang rujak cuka yang enak. Sudah seminggu aku ingin banget rujak cuka itu. Kebetulan Andre mau ngantar aku kesana.” Balas Jeane menepis kecurigaan Fitria.             “Jadian juga nggak apa kok Jean.” Nicky menimpali omongan Fitria sambil tertawa dan menepuk pundak Andre. “Orang ini cukup gagah dan bertanggungjawab. Yang kurang hanya mulutnya saja yang masih ember.” Lanjut Nicky.             “Mulai deh. Ngaco lu Nick. Mana mau Jean ama aku.” Kata Andre.             “Emhh, merendah. Bonus dari modus itu Jean.” Timpal Fitria. “Hati-hati ah. Yang sudah-sudah juga hancur hatinya.” Fitria tertawa keras dan mencubit tangannya Andre. “Maaf ya Dre aku bercanda biar Jeane mau sama kamu.”             “Amiinnn!.” Nicky meng-aminkan.             Semuanya pada tertawa bahagia.             Mobil Nicky sudah melaju dijalanan namun agak tersendat karena jalanan macet banget. Maklum jam makan siang baru dimulai.             Melihat situasi yang agak macet itu Nicky mengambil inisiatif untuk makan siang dengan Fitria disekitar blok S seperti yang pernah Nicky dengar dari Santi.             “Fit, kita makan siang dulu di blok S yuk. Katanya ada baso dan sate ayam bang Dul yang enak disitu. Kamu mau nyoba?” Ajak Nicky.             “Mau sih Nick. Perutku sudah keruyukan dari tadi. Cuma malu saja ngomong sama kamu.”             “Ya sudah, kita kesana ya.”             Nicky memutarkan mobilnya diperempatan jalan. Kemudian langsung menuju ke blok S.             Fitria langsung memesan sate dan baso bang Dul sesampainya disana. Sementar Nick masih berputar mencari tempat untuk parkir mobilnya.             “Gimana Fit? Sudah pesan.” Tanya Nicky duduk disebelah Fitria setelah capek mencari tempat parkir. “Haus nih. Sudah pesan minum juga Fit?”             Fitria tidak menjawab tapi langsung memberikan botol minuman dingin yang sudah dia pegang.             Nicky tersenyum. “Makasih ya.”             Nicky dan Fitria melahap sate ayam dan baso yang dipesannya dengan lahap. Cukup lama menunggu pesanannya selesai dibuat. Banyak orang yang pesan disana.             “Ahh, enak banget nih baso.” Kata Fitria setelah semua sate ayamnya habis disantap. “Kok basonya disisain Nick?”             “Belum Fit. Nih masih ada sate ayamnya belum habis. Tapi tadi sudah mencoba basonya. Enak ya?”             “Aku minta basonya ya Nick.” Fitria mengambil beberapa basonya Nicky dan dipindahkan ke mangkok basonya.             “He’eh, ambil saja.”             “Sibuk banget makannya Nick. Lapar ya?”             “Nggak hanya itu. Tapi aku memang jarang makan sate ayam seenak ini.” Sahut Nicky dengan mulut yang penuh.             “Ihh, mulutnya belepotan Nick.” Fitria mengambil tissuenya dan mengusap mulutnya Nicky.             “Enak ya Fit.” Kata Nicky.             Nicky dan Fitria menghabiskan semua makanan pesanannya hampir setengah jam.             Setelah selesai membayar makanannya mereka lalu berjalan ke mobilnya dan jalan lagi menuju rumahnya Fitria.             Selama diperjalanan mereka tidak ada berhentinya ngobrol dan bercanda saling meledek sesamanya. Tidak terasa mobil Nicky sudah sampai didepan rumahnya Fitria.             Seperti biasanya setelah Fitria turun Nicky lalu memutarkan mobilnya dan melaju menuju rumahnya di Simpruk.             Entah gimana ceritanya saat Nicky membelokan mobilnya di belokan jalan menuju rumahnya, mobil Santi sudah ada disitu dan Santi sedang duduk diatasnya.             “Nicky! Nick, stop!” Teriak Santi yang berjalan ketengah jalan.             Nicky kaget dan buru-buru mengerem mobilnya dan meminggirkannya.             “Apa-apaan sih San?” Nicky keluar dari mobilnya. “Gimana kalau ketubruk mobil aku San?”             “Ya nggak apa-apa sih Nick, apalagi ketubruk cinta kamu.” Jawab Santi santai.             “What! Are you crazy?” Suara Nicky agak keras.             “Yes Nick, I am crazy loving you.” Sahut Santi mendekati Nicky.             “Kenapa sih San.” Nicky keluar dari mobilnya dan menghampiri Santi yang sudah berdiri disebelah mobilnya.             “Tidak ada apa-apa Nick. Aku hanya ingin ngomong saja kalau aku benar-benar penasaran sama kamu. Aku jatuh cinta sama kamu Nick. Mungkin karena perasaan bersalahku dulu sama kamu.” Santi melepaskan jerat cintanya.             “Salah apa San? Soal yang dulu aku sudah melupakannya. Jadi sudah tidak perlu merasa bersalah lagi.” Balas Nicky. Matanya tidak lepas dari memandang Santi. “Kamu mabok lagi San?” Kata Nicky karena mencium bau minuman keras dari mulut Santi.             “Aku tadi minum sedikit Nick. Aku nggak mabok.”             “Ya sama saja San. Sedikit ataupun banyak kamu sudah minum.” Kata Nicky membimbing tangan Santi dan membawanya kepinggir jalan. “Minumnya sama Boy lagi?”             “Iya.”             “Kok jadi rutin sih minumnya?”             “Habis tadi dikampus kamu bikin aku cemburu Nick. Kamu memperlakukan Fitria begitu mesra dan hormat.”             “Loh Fitria kan pacarku San. Jadi tidak ada kaitannya dengan kamu. Kamu kan teman aku San.”             “Iya aku tau. Tapi hati kan nggak bisa bohong kalau aku juga suka kamu Nick.”             “Ya itu masalah kamu sih San. Aku sendiri tidak pernah berfikir sejauh itu. Tampaknya tidak ada yang perlu kita bahas, jadi aku akan pulang ya San. Dan kamu pulanglah istirahat di rumah itu lebih baik.” Jawab Nicky berjalan ke arah mobilnya dan meneruskan perjalanannya.             Santi yang masih duduk dipinggiran jalan hatinya kecewa karena Nicky rupanya tidak pernah merasa tertarik kepadanya.             Santipun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju mobilnya.             Hatinya terluka karena cintanya merasa ditolak oleh Nicky.             “Harus gimana lagi ya gua ini?” Bisik hati kecilnya Santi.             Sesampainya dirumah Santi tidak banyak bicara lagi. Santi langsung masuk kamarnya dan menjatuhkan badannya di tempat tidur.             “Hati-hatilah Nick. Aku tidak mudah menyerah untuk mendapatkan cinta kamu.” Hatinya kembali berbisik. “Aku tidak akan berhenti berusaha walaupun harus bersusah payah.”             Lama kelamaan matanya Santi menutup karena lelah dan penatnya siang itu.             “Hey Nick.” Sapa Amelia. “Kenapa kamu cemberut? Berantem ya sama Fitria?”             “Nggak Mel. Tapi gua kesal sama Santi. Aneh tuh cewek satu. Sudah jelas-jelas aku bareng sama Fitria malah maksain diri ngeganggu gua.” Jawab Nicky duduk disofa teras rumahnya. “Coba lu pikir Mel. Masa barusan dia menghalangi jalan mobil gua di belokan. Untung saja nggak ketubruk.”             “Hah! Masa sih Nick segitu nekadnya tu cewek? Masa sih dia juga suka sama kamu?”             “Beneran Mel. Malah sudah dua kali dia datang ke kampus gua. Apa coba namanya kalau bukan hanya mau mengganggu gua sama Fitria.”             “Waduh, hati-hati Nick.”             “Ehh, tumben Mel kamu dirumah. Nggak ngampus nih?”             “Nggak Nick, lagi males aku. Lagian ada dosen yang bosenin juga.” Balas Amelia             “Terus mana pacar kamu Mel, perasaan nggak pernah dibawa kerumah deh.” Tanya Nicky. “Atau sekarang kamu ganti pasangan lagi?” Nicky tertawa.             “Nggak Nick. Gua jomblo. Sudah males deh dengan cowok b******k yang Cuma manfaatin gua doang.”             “Waduhh, makanya hati-hati kalau milih cowok.” Kata Nicky.             “Ihhh, ikut-ikutan nasihatin. Itu kan kalimat gua Nick.” Amelia membalasnya dengan cubitan.             “Sakit Mel.” Nicky segera menghindar dan masuk kedalam rumah. “Aku masuk ya Mel.”             “Makan dulu Nick. Bi Sufi masak ayam gulai yang enak loh.”             “Iya Mel tapi nanti. Tadi aku makan sate ayam dan baso bang Dul di blok S.”             “Sama Fitria Nick?”             “Iya. Ntar sekali-kali aku ajak kamu kesana.”             Nicky masuk kedalam rumah menuju kamarnya.             Hatinya masih heran dengan sikap Santi yang terus mengejarnya bahkan menjatuhkan harga dirinya.             “Ahh sudahlah biarin saja. Urusan aku sama Fitria saja belum tuntas.” Hati Nicky meracau sebelum akhirnya tertidur karena kekenyangan.             Lain halnya Fitria yang masih berusaha untuk istirahat tidur. Matanya tidak mau begitu saja terpejam. Bayangan wajah Santi yang datang ke kampusnya selalu menghantui pikirannya. Dia merasa kalau Santi itu pasti ada maunya dan ingin menghancurkan hubuungannya dengan Nicky.                                    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD