BAB 1 - Gadis Kecil Yang Naif
Pernahkah kamu menjalani hidup dan berpikir, "Astaga, bagaimana aku bisa hanya jadi pemeran pendukung dalam cerita hidupku sendiri?" Menjadi salah satu dari mereka yang tugasnya membantu dua tokoh utama bersatu, memuji betapa cantik dan populernya mereka, serta betapa sempurna mereka satu sama lain.
Yah, itulah aku—Emery Lewis. Teman-teman memanggilku Em.
Perasaan itu sudah aku rasakan sejak usia sembilan tahun. Cukup sulit untuk diterima, terutama untuk anak kecil yang begitu yakin bahwa dia akan menemukan akhir bahagia seperti di dongeng.
Bahkan di usia itu, aku percaya pada takdir dan belahan jiwa. Seperti pada cinta pertamaku, Jacob Davison. Aku yakin dia adalah satu-satunya. Hati kecilku yang polos berdebar setiap kali melihatnya.
Tanganku berkeringat, senyumku melebar sampai terasa kaku. Dia benar-benar sempurna. Rambut pirang, mata biru, lucu, pintar, dan—yang paling penting—dia adalah anak paling unggul di kelas tiga. Apa artinya? Dia juga anak paling populer di kelas tiga. Sedangkan aku? Aku adalah sahabat setianya, yang selalu ada untuk membuatnya tertawa dan menyemangatinya saat dia sedih.
Aku bukan anak yang paling unggul, bukan yang tercantik, dan jelas bukan yang terpintar (matematika itu mimpi buruk). Aku lebih suka seni dan dikenal ramah. Aku selalu berusaha menjadi orang yang berani dan ada untuk siapa saja.
Lalu, siapa yang dia suka? Tentu saja, anak perempuan yang paling unggul di kelas tiga.
Kenzie Precots, sahabatku sejak kecil. Kenzie bukan hanya imut, pintar, dan populer. Dia juga jadi incaran semua anak laki-laki di sekolah. Dan setiap anak laki-laki yang pernah aku suka sepertinya berpikir begitu juga.
Sedangkan aku? Aku hanyalah si gadis gendut yang selalu ada untuk membantu, tahu segalanya tentang Kenzie, dan setia menjadi pemeran pendukung. Kelas tiga adalah pertama kalinya aku menyadari bahwa hidupku tidak akan berjalan seperti dongeng yang aku impikan.
Peranku adalah menjadi sahabat setia yang rela berkorban demi kebahagiaan si "Pemeran Utama". Dan itu benar-benar menyebalkan. Aku masih ingat saat Jacob mendekatiku dan mengatakan dia naksir seseorang yang aku kenal.
Tentu saja, sebagai anak kecil yang naif, aku berpikir dia sedang membicarakan aku. Tapi aku tidak pernah berani menyebut namaku sebagai kemungkinan.
Jacob tidak pernah menyebutkan siapa yang dia maksud hari itu, tapi aku menghabiskan berminggu-minggu memikirkan setiap tawa, sentuhan, dan ekspresi wajahnya. Sayangnya, aku memperhatikan petunjuk yang salah. Anak laki-laki kecil tidak menunjukkan rasa suka dengan senyuman besar atau sikap manis. Biasanya, mereka menggoda atau membuatmu malu.
Aku seharusnya tahu sejak melihat Jacob bersama Kenzie. Saat itulah aku pertama kali merasakan apa itu patah hati. Suara kecil di kepalaku terus mengingatkan bahwa aku tidak cukup baik dan aku tidak akan pernah menjadi gadis kurus yang sempurna seperti Kenzie.
Aku selalu bertubuh lebih besar dari anak-anak lain, dengan rambut cokelat gelap dan mata hazel. Kulitku pucat, dan aku lebih suka bergaya tomboy—kebiasaan yang kuwarisi dari ayahku.
Ibuku yang cantik, Carie Lewis, meninggal ketika aku baru berusia dua tahun dalam kecelakaan mobil yang mengubah hidup kami selamanya.
Aku tidak banyak mengingatnya, hanya cerita dan foto yang ditunjukkan ayah dan kakek-nenekku. Aku mewarisi rambut dan matanya, hanya itu.
Aku tinggal di kota kecil di Washington bernama Roy, yang dikelilingi hutan pinus tinggi dan sungai besar yang mengalir melaluinya.
Ayahku, Allen Lewis, tinggal bersamaku di rumah kecil kami bersama Paman Jack. Mereka memiliki bengkel mobil sendiri dan sering bekerja di garasi. Ayahku juga merenovasi mobil klasik untuk beberapa klien kaya, yang membantu menjaga dapur tetap terisi. Sebagai ayah tunggal, dia menyambut setiap peluang yang membuatnya tidak perlu bekerja dari pukul sembilan pagi hingga lima sore.
Saat ayahku harus bepergian untuk bekerja, Paman Jack mengambil alih. Banyak waktu kami dihabiskan memancing dan berkemah—dua hal yang sangat dia sukai.
Sejujurnya, Paman Jack lebih terasa seperti kakak laki-laki daripada seorang paman, mengingat dia dan ayahku hanya terpaut delapan tahun. Jujur saja, Jack bukanlah contoh orang dewasa yang paling bertanggung jawab.
Ayahku pernah sangat marah ketika pulang dan menemukan aku, Paman Jack, dan beberapa temannya sedang bermain poker di garasi. Dia benar-benar kehilangan kesabaran.
Tapi akhirnya dia memaafkan Jack ketika tahu aku menang. Waktu itu aku baru berumur delapan tahun, dan ayah memberiku sepuluh dolar dari hasil kemenangan itu—sisanya dia simpan untuk uang tutup mulut.
Namun jangan salah sangka, aku bukan anak yang diasingkan. Aku punya beberapa teman setia, bahkan mereka cukup populer. Tapi, entah kenapa, aku tidak pernah masuk ke kategori itu. Aku tahu alasan sebenarnya kenapa aku sering diundang ke pesta ulang tahun atau acara lainnya. Semua itu karena ada satu orang yang selalu ikut bersamaku—Kenzie.
Kenzie adalah tipe gadis yang sudah dilirik agen model sejak dia masih bayi. Kulitnya bersinar, rambut hitamnya halus berkilau, dan matanya—oh, mata itu—biru jernih seperti langit musim panas. Semua anggota keluarganya punya mata seperti itu, termasuk kakaknya, Carson.
Mereka juga berasal dari keluarga yang sempurna. Ibunya, Heidi, adalah mantan model, sementara ayahnya, Vins, adalah pemain sepak bola yang pensiun dan sekarang bekerja sebagai pengacara. Hidup mereka seperti jackpot.
Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa mereka tinggal di kota kecil seperti Roy? Nah, ternyata Vins tumbuh besar di sini. Dia bahkan teman masa kecil ayahku dan almarhum ibuku.
Keluarga Precots tinggal di tanah seluas sepuluh hektar, dengan rumah sebesar 15.000 kaki persegi. Jadi, mereka jelas tidak menjalani kehidupan sederhana seperti kebanyakan orang di sini. Mereka punya kolam renang dalam ruangan, mobil mewah, bahkan pembantu rumah tangga.
Setiap kali ayah dan pamanku pergi ke luar kota untuk bekerja, aku selalu menantikan waktuku menginap di rumah Kenzie. Itu seperti rumah kedua bagiku. Aku bahkan dekat dengan kakaknya, Carson.
Carson tiga tahun lebih tua dari kami, dan meskipun sering bertengkar dengan Kenzie, dia dan aku punya hubungan yang cukup menyenangkan. Salah satu keuntungan mengenal keluarga Precots sejak kecil adalah aku tidak hanya dekat dengan Kenzie, tapi juga dengan seluruh keluarganya.
Ketika Kenzie pergi untuk pemotretan atau syuting iklan, aku biasanya tinggal dan bermain game dengan Carson. Kami sering bermain Mario Kart atau main basket di lapangan pribadi mereka. Oh, aku sudah menyebutkan mereka punya kolam renang dalam ruangan, kan? Mereka juga punya kolam renang di luar ruangan.
Kadang-kadang, ayah dan pamanku juga datang untuk berenang di musim panas. Ayahku bekerja untuk Vins sebagai mekanik pribadi. Dia bahkan mengajari Carson cara melakukan perawatan dasar mobil seperti memeriksa oli atau mengisi angin ban.
Pada kesempatan langka saat Kenzie menginap di rumahku, Carson kadang ikut juga. Dia suka nongkrong dengan ayah dan Paman Jack. Mereka bahkan sering pergi berkemah bersama.
Vins, ayah Kenzie, bukanlah sosok ayah yang sering menghabiskan waktu dengan keluarganya. Jam kerjanya yang gila membuatnya sering melewatkan momen penting bersama Carson.
Mungkin karena itu, Carson sering mencari nasihat dari ayahku. Ketika dia masih di SMA, dia dan beberapa temannya mulai sering mampir ke rumah kami. Salah satu temannya, yang aku sangat benci, adalah Asher Neal.
Asher sepertinya yang paling sering ada di sekitar Carson. Dia dan Carson sama-sama di tim basket, dengan Asher sebagai center. Asher adalah anak tertinggi di sekolah, mencapai 190 cm saat masih kelas sembilan, dan masih terus tumbuh tinggi. Tidak heran dia jadi selebritas lokal.
Nanti aku akan bahas Asher lebih jauh. Seperti yang mungkin sudah kamu duga, aku bukan penggemarnya. Dulu mungkin iya, tapi sekarang aku ingin sejauh mungkin dari dia—atau setidaknya, itulah yang aku yakinkan pada diriku sendiri. Harus ada satu gadis di kota ini yang tidak tergila-gila pada Asher Neal, dan aku memutuskan itu adalah aku. Meskipun, sejujurnya, mungkin tidak sepenuhnya begitu.
Kembali ke Carson, dia adalah penyerang depan di tim, meskipun “hanya” 185 cm. Untukku yang hanya setinggi160 cm, mereka semua terlihat sama saja—tinggi. Kurasa gen tinggi memang ada di keluarga Precots. Kenzie saja sudah 177 cm, dengan kaki panjang yang tampak tak berujung. Tidak mengherankan mengingat dia adalah model profesional.
Mimpinya adalah pindah ke Los Angeles dan menjadi seorang aktris.
Di bagian Barat Laut Pasifik, kami tidak punya banyak peluang seperti itu kecuali jika kamu tinggal di Seattle. Kenzie sering bepergian ke LA setiap beberapa bulan untuk proyek-proyek yang diatur oleh ibunya, tapi sekarang setelah kami lulus SMA, dia sepertinya semakin sering berada di sana.
Dia baru saja diterima di University of California untuk program drama mereka, yang akan dimulai setelah musim panas ini.
Sedangkan aku? Aku tidak punya alasan untuk meninggalkan Washington. Aku akan tetap di sini dan masuk ke program keperawatan di St. Martin’s University.
Kenzie akan pergi ke kampus dalam beberapa minggu, dan sekarang kami berdua resmi berusia sembilan belas tahun. Kami memutuskan untuk membuat musim panas ini berarti. Namun, Kenzie memilih mengambil cuti setahun dari sekolah dan bepergian ke Eropa bersama ibunya dan sepupunya.
Sementara itu, aku tinggal di rumah membantu ayahku di garasi dan memulai persiapan online untuk akhirnya masuk ke program keperawatan. Karena aku bukan tipe yang suka pesta, aku merasa hubungan kami mulai agak renggang. Beberapa hal mulai berubah sejak tahun terakhir kami di SMA. Aku lebih suka tinggal di rumah saat akhir pekan, sedangkan Kenzie tampaknya menemukan dunia pesta yang sesuai dengan dirinya.
Perubahan itu sebenarnya sudah dimulai sejak kami masuk tahun pertama SMA. Saat Kenzie bergabung dengan tim pemandu sorak, aku malah masuk ke klub seni dan musik.
Tahun ini juga, aku mulai benar-benar menurunkan berat badan. Aku mulai jogging di pagi hari dan menerapkan beberapa kebiasaan makan yang lebih sehat. Jujur saja, ini adalah tubuh terkecil yang pernah kumiliki sepanjang hidupku. Rasanya aneh, kalau boleh jujur.
Selama hidupku, aku selalu kelebihan berat badan, jadi memiliki lebih banyak energi dan mengenakan pakaian ukuran medium adalah pencapaian yang tak pernah aku bayangkan. Sekarang sudah akhir Juli, dan aku berhasil menurunkan total enam puluh kilo sejak awal tahun.
Aku tidak tahu pasti apa yang memulai semua ini, tapi aku tidak mengeluh. Rasanya memang sulit menyesuaikan diri dengan tubuhku yang baru. Aku masih punya lekuk, tapi sekarang mereka berada di tempat-tempat yang diinginkan banyak orang.
Kenzie sudah pergi hampir sebulan, jadi dia belum melihat transformasiku sepenuhnya. Malam ini, aku akan bertemu dengannya di rumahnya setelah sekian lama. Ada acara pesta ulang tahun kakaknya. Carson baru saja berusia dua puluh dua, dan aku tahu pesta ini akan melibatkan alkohol.
Ini akan menjadi pesta "dewasa" pertamaku, dan Kenzie punya misi untuk membuatku mabuk. Rupanya, dia ingin aku benar-benar mulai membuka diri. Maksudku, bukan berarti aku belum pernah mencoba sebelumnya—tidak sepenuhnya, tapi tetap saja.
Jujur saja, aku tidak peduli bahwa aku masih perawan. Aku ingin menunggu. Aku ingin memberikan diriku pada seseorang yang benar-benar aku yakin adalah orang yang tepat. Memang klise, aku tahu, tapi mungkin aku terlalu banyak menonton film Disney saat kecil dan selalu berharap ada Pangeran Tampan yang menungguku di suatu tempat.
Seorang gadis juga boleh bermimpi, kan?