BAB 6 - Berpura-pura

2475 Words
Aku melirik ke arah Ethan dan Asher, merasa ada semacam ketegangan aneh di antara mereka. "Apa maumu, Ethan?" tanya Asher tegas, nada kesal terlihat jelas di wajahnya. Dia tetap menatapku, sama sekali tidak mengalihkan pandangannya ke Ethan. "Yah, Em bilang dia mau mengajariku beberapa trik di lapangan," jawab Ethan, matanya menatapku intens, menciptakan semacam konfrontasi aneh di antara mereka berdua. Mungkin memang ide bagus untuk keluar sejenak. Di sini terlalu berisik. "Aku tidak yakin. Aku tidak mau membuat harga dirimu terluka," candaku, membuat Asher mempererat genggamannya di pinggangku. Aku balas menatapnya, bingung. "‘Kenapa?’" tanyaku dengan mulut tanpa suara, alisku berkerut menatapnya. Apa sih masalahnya? "Kamu terlalu mabuk untuk main basket," kata Asher dingin. "Apa? Kamu tidak percaya aku bisa menang?" sahutku cepat, merasa seperti ini lebih jadi tantangan daripada sekadar pendapat. Dengar, mereka memang unggul di tinggi badan, tapi aku ini ratu tembakan. Aku bahkan bisa memasukkan bola ke ring sambil menghadap belakang dan melempar bola dari atas kepala. Dulu aku sering bermain bersama Carson sepanjang hidupku dan menemukan bakat terpendam ini. Pokoknya aku juaranya kalau soal bermain horse. "Aku bahkan tidak yakin kamu bisa jalan lurus sekarang," balas Asher dengan nada mencela, menatapku dengan tatapan penuh kritik. "Minggir," perintahku, berusaha melompat turun dari meja dapur. Matanya membelalak, dan dia dengan cepat melingkarkan tangannya di pinggangku, menangkapku di udara sebelum menurunkanku dengan lembut ke lantai. Aku terkejut melihat betapa cepatnya dia bereaksi, aku hanya bisa menatapnya kagum. Atau mungkin aku saja yang lambat karena efek mabuk. Tangan besar Asher tetap mencengkeram tubuhku dengan erat, pandangannya yang tajam seolah membekukan waktu. Pelukannya erat dan protektif, tubuhnya yang tinggi dan kokoh seakan menyelimuti diriku. Kepalaku hanya setinggi dadanya saat dia sedikit menjauh dan menatapku dari atas. Aku menelan ludah, jantungku berdegup kencang hingga terasa di tenggorokan saat tangannya bergerak perlahan, menyusuri punggungku dengan sentuhan lembut. Tiba-tiba, seseorang berdeham, memecah momen itu. Aku menoleh untuk mencari sumber suara dan mendapati Ethan berdiri di sana, ekspresinya terlihat sangat marah. Kenapa dia marah? "Bisa bicara sebentar? Berdua saja?" tanya Ethan, rahangnya mengeras, tangannya menggenggam erat gelas birnya. "Aku?" tanyaku bingung. Apakah dia ingin bicara empat mata denganku? "Tidak." Asher langsung memotong, menatap Ethan tajam. Tangannya masih melingkar di pinggangku, membuat kepalaku semakin pusing. Kenapa sih mereka berdua seperti mau saling membunuh? "Menurutku ini bukan urusanmu, Asher. Dia sudah dewasa, dia bisa membuat keputusannya sendiri," balas Ethan dingin, matanya semakin menyipit. Tepat saat itu, Kenzie dan Stephanie masuk ke dapur. Mata mereka melebar melihat adegan di depan mereka, membuat Asher buru-buru melepaskan pelukannya. Aku jadi limbung ke depan, dan Kenzie segera menghampiri lalu melingkarkan lengannya di lenganku. "Ada apa di sini?" tanyanya, melirik bergantian antara aku dan kedua pria itu. Aku hanya mengangkat bahu, sama bingungnya seperti mereka. "Ayo, Em. Kita minum satu shot lagi lalu pergi ke lantai dansa," ajak Kenzie dengan senyum lebar, melirik Asher sekilas saat Stephanie mendekati Ethan, mencoba menarik perhatiannya. "Tidak, sudah cukup," tegas Asher, membuat Kenzie mendengus kesal. "Apa sih masalahmu? Kamu lebih menyebalkan dari biasanya," gerutu Kenzie tanpa peduli, seperti biasa dia bicara pada Asher. Tampaknya Asher pun sudah kebal. Dia hanya menatap Kenzie dengan rahang mengeras, sementara Ethan melangkah maju. "Aku akan ikut bersama kalian," ucap Ethan riang, melingkarkan lengannya di bahu Stephanie yang tersenyum senang. "Aku tidak ikut. Bagiku ini sudah cukup. Tapi aku akan dansa setelahnya," kataku, mencoba menghindari konflik dengan Kenzie. Entah kenapa aku merasa tidak mau mengecewakan Asher tiba-tiba. Begitu aku bilang tidak, bahunya terlihat sedikit rileks. Tapi di sisi lain, Ethan justru semakin kesal. Ketiganya menuangkan minuman ke gelas kecil, lalu menegaknya sekaligus. Stephanie tertawa kecil, memegang lengan Ethan sambil mendongak ke arahnya. Asher tiba-tiba mendekat, membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan telingaku. "Kamu harus menjauhi Ethan. Dia hanya ingin menidurimu," bisiknya tajam, napas hangatnya membuatku merinding. Kata-katanya langsung menyentakku. Aku terdiam, menatap Asher dengan terkejut. "Maksudmu... dia... ingin tidur denganku?" tanyaku terbata-bata. Apa benar dia hanya menginginkan itu dariku? Aku melirik ke arah Ethan, melihat matanya dengan cepat menyapu tubuhku sebelum kembali bertemu pandanganku. Dia menyeringai dan menjilat bibirnya. Kenapa aku bisa tidak menyadari tentang hal ini?! "Sulit dipercaya, kan?" tanya Asher dengan nada serius, membuatku kembali menatapnya. Mata peraknya yang berkilau menyala, sementara tangannya terulur, menyentuh punggung bawahku dengan lembut. Aku hanya mengangguk, merasa sulit untuk mempercayainya, terutama dengan Kenzie dan Stephanie di sini. Kenapa Ethan tertarik padaku? Aku menggigit bibirku, menunduk sambil memasukkan tangan ke dalam kantong hoodie Carson yang sedang kupakai. "Apa kamu benar-benar tidak menyadarinya?" suara Asher terdengar rendah, membuatku semakin bingung saat mencoba mencerna ucapannya. Aku tidak pernah mendapat perhatian dari seorang pria sebelumnya. Apalagi perhatian seperti ini. Bagaimana aku bisa tahu? Aku sering melihat hal seperti ini terjadi pada Kenzie, tapi saat itu terjadi padaku, semuanya tidak terasa begitu jelas. Lagipula, aku tidak mau berasumsi bahwa mereka sedang menggoda, ternyata malah sebaliknya. "Kebanyakan pria di sini sudah memperhatikanmu sepanjang malam." Aku hanya memutar mataku mendengar itu. Rasanya terlalu dilebih-lebihkan. Kenapa dia malah mengatakan itu padaku? Tiba-tiba tangan Asher naik, memegang daguku dengan lembut dan memutar wajahku agar menatapnya. "Kamu tidak percaya?" tanyanya, suaranya semakin serius saat dia mulai mempelajari ekspresiku dengan seksama. Aku mencondongkan tubuh ke depan, tanganku bertumpu pada bahunya, dan aku berjinjit untuk berbicara di telinganya. Musiknya terlalu keras hingga aku hampir tidak bisa mendengar pikiranku sendiri. "Kurasa kamu salah paham. Mereka memperhatikan Kenzie dan Stephanie," jelasku, mencoba meluruskan semua kesalahpahaman ini. Aku kembali mundur, membuat pandangan kami bertemu lagi. Dia hanya menggelengkan kepala, tidak setuju denganku. Sebelum dia sempat berkata lebih jauh, Kenzie langsung menarik tanganku, membawaku ke ruangan lain. "Ayo! Kamu bilang ingin berdansa!" teriaknya mengatasi suara musik, menarikku menuju ruang tamu. "Ngomong-ngomong, ada apa antara kamu dan Asher?" tanyanya, menatapku dengan tatapan menuduh. Aku hanya mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Dia hanya sedang bersikap baik. Kurasa Carson memintanya untuk menjagaku malam ini," aku tertawa, dan aku yakin Asher sedang menatapku tajam dari belakang. Semoga dia tidak mendengarnya... "Iya, masuk akal juga," Kenzie mengangguk, melirik ke belakang sambil tersenyum lebar ke arah Asher, kurasa. "Bagaimana dengan Kreg?" tanyaku dengan suara keras, melihat mata biru cerahnya menyapu ruangan sebelum dia menjawab. "Dia sedang membantu mengisi tong bir di belakang, tapi katanya dia akan menyusulku sebentar lagi. Kami ciuman tadi," tambahnya dengan senyum lebar. "Apa?!" seruku, dan dia mengangguk, mengonfirmasi apa yang baru saja kudengar. Aku tidak bisa menahan rasa senang untuk sahabatku. Dia benar-benar menyukai Kreg, aku tahu itu. Terlihat jelas dari cara matanya berbinar setiap kali dia membicarakannya. "Aku turut senang untukmu, Kenzie," aku tersenyum lebar, dan dia membalasnya. Kenzie menarikku melewati kerumunan orang yang sedang minum dan menari mengikuti musik. Rasanya seperti klub malam di sini, mereka memasang lampu strobo dan DJ sungguhan di atas panggung. Tempat ini luar biasa dan pasti menghabiskan banyak uang, tapi Carson mampu membayarnya. Tiba-tiba, seseorang memegang tanganku yang lain, membuatku terkejut seperti aliran listrik yang menjalar melalui tubuhku. Aku menoleh, melihat Asher menggenggam tanganku. Aku menelan ludah, perutku seperti berputar-putar saat aku mencoba memahami apa yang sedang terjadi. "Ayo dansa di sini. Lepas hoodie besar itu. Tubuhmu terlalu seksi untuk ditutupi," Kenzie berteriak melawan suara musik, menunjuk ke arah hoodie Carson. Aku mengangguk, merasa gerah saat memakainya. Apalagi dengan banyaknya orang-orang yang mengelilingi kami sekarang. Aku akan memakainya lagi nanti. Aku melepasnya, mengikatnya di pinggang saat Kenzie memberikan acungan jempol. Aku melirik, melihat Stephanie sudah menari dengan Ethan, tubuhnya bergesekan dengan Ethan dengan cara yang sangat... jelas. Mataku membelalak sebelum cepat-cepat berpaling. Mungkin Asher salah. Ethan mungkin dari awal tertarik pada Stephanie. Dan tampaknya begitupun sebaliknya. Kenzie tiba-tiba meraih tanganku, tubuhnya mulai bergerak mengikuti irama musik sambil bersandar ke arahku. "Kamu terlihat sangat seksi sekarang. Asher tidak bisa berhenti memandangmu. Kamu harus dansa bersamanya," teriaknya di telingaku. Aku menarik diri, melihat senyumnya yang nakal, dan dia mengangguk mantap. "Ini mungkin kesempatan satu-satunya, Em. Jadi lebih baik kamu memanfaatkannya," dia mengedipkan mata, memutarku sebelum kembali menari. Kenzie tahu bagaimana perasaanku tentang Asher. Setidaknya perasaanku dulu. Jujur saja, aku sudah menyerah pada delusi itu begitu dia memanggilku Emily. Tapi malam ini, semuanya terasa berbeda. Aku tidak tahu apakah ini karena alkohol atau karena Asher benar-benar memperhatikanku, tapi aku merasakannya, dan rasanya sangat intens. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diriku. "Kalau dia mau, aku tidak akan menolak. Aku hanya tidak mau menjadi yang mulai lebih dulu, kamu ngerti, kan?" kataku, tidak ingin mempermalukan diriku sepenuhnya. Dia mengangguk, setuju dengan rencanaku. Tiba-tiba, sebuah lagu dari Calvin Harris mulai diputar, salah satu favoritku. Aku dan Kenzie melompat-lompat dengan penuh semangat. Aku mengangkat tanganku ke udara, membiarkan tubuhku mengikuti irama musik. Aku belum pernah menari seperti ini di depan umum seumur hidupku. Biasanya, hanya aku dan Kenzie di kamarnya saat dia bersiap untuk kencan atau pemotretan. Pinggulku mulai bergoyang mengikuti irama musik, tubuhku bergerak seirama dengan nada-nada yang menggelegar. Aku membiarkan kepalaku jatuh ke belakang, tenggelam dalam alunan musik. Tiba-tiba, aku merasakan dua tangan melingkari pinggangku, membuat mataku membelalak kaget. Saat itu, aku melihat Kenzie tersenyum lebar ke arahku sambil memberikan acungan jempol. Aku langsung tahu siapa yang menyentuhku, hanya dari sentuhan itu. Tapi ekspresi Kenzie semakin menguatkan keyakinanku. Asher. Tangannya melingkari tubuhku, menarikku lebih dekat, sementara pinggulku terus bergerak mengikuti irama. Aku merasakan dia membungkuk, mendekatkan bibirnya ke lekukan leherku. “Kamu tidak tahu betapa cantiknya kamu sekarang,” bisiknya pelan di tenggorokanku, suaranya membuat perutku terasa dipenuhi kupu-kupu yang beterbangan. Tubuhku tanpa sadar menekan lebih erat ke arahnya. Rasanya seperti mimpi—benar-benar seperti mimpi—ketika Asher berdiri di belakangku, memelukku erat ke dadanya. Ruangan terasa berputar, aroma parfumnya yang khas dan segar seperti lautan memenuhi inderaku, sementara tangannya menjelajahi tubuhku perlahan. Aku merasa seperti tenggelam ke dalam dirinya. Tubuhku bergerak mengikuti irama, menggeliat melawan tubuhnya, sampai aku merasakan sesuatu yang keras menekan punggung bawahku. Mataku membelalak kaget. Tangannya semakin erat melingkar di tubuhku, bibirnya menyentuh leherku, mencium kulit sensitifku dengan lembut. Sensasi itu menjalar ke seluruh tubuhku, membuatku menggigit bibir, mencoba mengendalikan perasaan yang mulai tak terkendali. Aku memiringkan kepala ke samping, memberinya akses lebih mudah, sementara dia kembali berbisik di kulitku. “Apa kamu bisa merasakan betapa aku menginginkanmu sekarang?” gumamnya dengan suara berat, menggigit pelan leherku sambil menekan tubuhnya yang keras semakin erat ke arahku. Aku tersentak, terkejut sekaligus terpana. Dia bilang dia menginginkanku. Sebelum aku bisa sepenuhnya memahami apa yang terjadi, Asher menarik tanganku. Alkohol membuatku merasa seperti melayang ketika kami berjalan menembus kerumunan. Asher melirik ke arahku, tatapannya membakar dan menusuk langsung ke dalam diriku. Dia memimpin kami menaiki tangga. Apa ini benar-benar nyata? Apa aku benar-benar akan berduaan dengan Asher Neal? Ini pertama kalinya aku sendirian dengan seorang pria—dan pria itu adalah Asher. Dia, yang bisa membuatku merasa gugup hanya dengan satu tatapan. Kami tiba di depan sebuah pintu kamar. Dengan cepat, Asher membukanya, menarikku masuk, dan mendorongku dengan lembut ke dinding. Ruangan itu gelap, dan satu-satunya hal yang bisa kudengar hanyalah detak jantungku yang berdebar kencang. Aku menunggu beberapa saat, mencoba mencari tahu di mana Asher berada. Tapi tidak ada suara. Apa dia pergi? “Asher?” aku memanggil pelan, suaraku hampir tak terdengar. Aku bertanya-tanya apa yang terjadi, merasa kehilangan sentuhannya di tubuhku. Tiba-tiba, ada ketukan di pintu, membuatku tersentak kaget. Lampu di kamar menyala, memperlihatkan Asher yang berdiri di dekat ranjang. “Ya, kami di sini,” jawabnya dengan suara keras tanpa melihat ke arahku. Pintu terbuka, dan Carson menyembulkan kepalanya, menghela napas lega sebelum masuk bersama Josie. “Apa kamu baik-baik saja, Em?” tanya Carson, nadanya terdengar khawatir. Aku bingung. Kenapa mereka di sini? Aku menyadari Asher sama sekali tidak menatapku. Ekspresinya dingin dan datar, seperti yang selalu kulihat sebelumnya. Aku mengangguk ke arah Carson, rasa malu menyelimutiku karena ketahuan hampir melakukan sesuatu yang mungkin salah. “Maaf kami belum memberi tahu. Aku meminta Asher membantumu menjauh dari Ethan, agar kamu aman,” Carson menjelaskan, mengambil hoodie-nya dari pinggangku dan menyampirkannya kembali ke tubuhku. “Tunggu...” Sial... Aku tidak percaya ini. Jadi, semua ini hanya karena Asher menuruti permintaan Carson? Supaya terlihat dia tertarik padaku? Hatiku terasa hancur. Oh Tuhan, aku benar-benar bodoh. "Jadi, semua itu hanya untuk membuat Ethan menjauh dariku?" suaraku hampir tak terdengar. Alkohol membuat semuanya terasa semakin membingungkan. Aku bahkan tidak bisa melihat ke arah Asher. Rasa malu membuatku ingin menghilang. "Ya, maaf. Ethan tipe pria yang sulit menerima penolakan. Kami hanya ingin dia paham," kata Carson, melangkah mundur dan mengambil sebotol air dari Josie, lalu menyerahkannya kepadaku. "Minumlah ini," perintahnya sambil memberikan air itu. "Lalu bagaimana dengan Stephanie?" tanyaku, masih bingung. Bukankah Ethan sekarang sudah beralih ke dia? "Dia bisa menjaga dirinya sendiri," jawab Carson santai sebelum melingkarkan lengannya di pinggang Josie. Saat itulah aku sadar. Orang-orang ini, mereka melihatku seperti anak kecil. Gadis naif yang bahkan tidak bisa membela dirinya sendiri dan butuh pengawasan. Aku terhuyung maju, meletakkan botol air di meja, lalu berjalan menuju pintu. "Hei, mau ke mana kamu, Em?" Carson buru-buru mengejarku, meraih lenganku. "Aku rasa aku akan pulang saja," jawabku, mencoba menarik lenganku. "Tidak mungkin," Carson tertawa, menarikku kembali. Aku bisa merasakan tatapan Asher, tapi aku tidak sanggup menatapnya balik. Aku terlalu malu. Masuk ke kamar ini dengan dia dan benar-benar berpikir dia menginginkanku. Aku rasa aku tidak akan sanggup melihat Asher lagi. "Kamu bisa tidur di sini. Aku akan mengatakan pada Kenzie kalau kamu sakit dan langsung tidur," Carson hampir seperti memberi perintah. Aku menyerah. Aku hanya ingin mereka semua pergi, supaya aku bisa menangis, karena aku tahu air mataku akan segera jatuh. "Baiklah," jawabku lemah, berjalan ke ranjang dan memanjat ke atasnya tanpa berkata sepatah kata lagi. "Em, apa kamu marah?" tanya Carson cemas, berdiri di samping ranjang. "Tidak," jawabku tajam, berharap lantai di bawahku terbuka dan menelanku bulat-bulat. Tapi rasa bersalah datang dengan cepat. Ini ulang tahun Carson, dan sejauh ini aku hanya menjadi beban baginya. "Maaf. Aku hanya tidak enak badan. Aku janji hanya akan tidur. Jangan khawatirkan aku, ya?" Aku berkata sambil menatap dinding, melihat Carson mengangguk dari sudut mataku. "Oke, kalau butuh sesuatu, kirimi aku pesan, oke?" katanya, dan aku menoleh sedikit, memberi senyum singkat. "Pergilah nikmati pestamu. Tidak perlu khawatir tentang aku. Aku akan baik-baik saja," kataku, mencoba meyakinkannya dengan sisa tenaga yang kumiliki. Carson mengangguk, mengucapkan selamat tinggal, lalu mematikan lampu sebelum keluar. Aku melihat sosok tinggi Asher masih berdiri di dekat pintu, tidak mengatakan sepatah kata pun. Pemandangan itu membuat hatiku terasa perih. Dia berjalan keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lalu menutup pintu dan menguncinya dengan pelan. Tepat pada waktunya. Begitu keheningan memenuhi ruangan, aku tidak bisa lagi menahan air mata yang jatuh dari mataku. Isakanku terdengar lirih, tubuhku bergetar karena rasa sepi yang begitu mendalam. Bayangan bahwa aku benar-benar berpikir akan punya kesempatan dengan Asher... Ada apa denganku? Aku benar-benar tidak menyadari situasi sebenarnya. Aku merasa sangat bodoh. Saat itu juga, aku memutuskan akan tidur beberapa jam dan segera pergi dari sini begitu aku bangun. Tiba-tiba ponselku bergetar. Penglihatanku yang buram dan tangan yang gemetar membuatku sulit membuka pesan itu. Ronan74: "Apa kamu baik-baik saja?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD