*4. Malam Pertama Bersandiwara.

2001 Words
Part 4. Malam pertama bersandiwara. === Mobil Fortuner warna silver metalic melaju dengan kecepatan sedang. Musik pop mengalun pelan mengiringi kepulangan Calista dari rumah sakit. Bu Sofi duduk di sebelah si pengemudi. Calista dan Yoga duduk di kursi belakang. Calista terus menggandeng tangan sang suami. Jemari mereka saling bertautan dan ia pun bersandar dengan nyaman. Berkali-kali ia menegakkan kepala untuk menatap, mengamati wajah sang suami. Abisatya William, pria berusia 28 tahun yang menikahinya delapan bulan lalu, tampak sangat tampan di mata Calista. Saat kau mencintai seorang pria, maka pria itu akan menjadi yang tersegala-galanya. Tertampan, terhebat, dan paling berarti. “Mas.” Calista berbisik mesra di telinga sang suami, seraya menghirup aroma tubuh pria yang selama ini dirindukannya. Merasa sangat lega karena semua mimpi buruk. Akhirnya terjawab, jika mimpi hanyalah bunga tidur, tidak menjadi nyata. Selama ini Calista selalu saja bermimpi buruk tentang suaminya. Kepulangan Satya menghapus semua pikiran buruk mengenai mimpi-mimpi yang selalu datang setiap malam dalam tidurnya. “Iya!” jawab Yoga. Membalas tatapan Calista. “Mas Satyaku!” panggilnya lagi dengan ceria. Yoga. Mulai detik ini sampai tiga bulan ke depan Yoga akan berpura-pura menjadi Satya. Mulai detik ini pula jika seseorang memanggilnya Satya, maka dia akan menyahut dan mengklaim bahwa nama itu adalah dirinya, termasuk ketika orang-orang menganggapnya Satya suami dari Calista. Pria itu berusaha tersenyum dan membalas pandangan mata Calista terlihat jelas Calista memang sangat merindukan suaminya. Ini sangat aneh. Yoga merasa sangat canggung ketika harus berperan menjadi Satya yang telah memiliki istri. Namun, ia berusaha agar sandiwaranya tak terlihat.Yoga bahkan mengikuti gaya Satria yang tidak suka banyak bicara. Itu pun yang ia lakukan saat ini, karena dia tidak tahu harus bicara apa. Mobil berhenti di garasi kediaman rumah Calista dan Satya. Rumah berlantai dua, dengan desain Klasik itu dibangun Satya sebelum mereka menikah. Letaknya tidak jauh dari tempat tinggal orang tua Calista yang hanya berjarak lima menit dengan berjalan kaki. “Caca dan Nak Satya, hari ini Mama pulang ke rumah ya, kalian pasti juga butuh waktu berduakan?” ujar Bu Sofi menoleh ke kursi belakang. Melempar senyum pada menantu laki-lakinya itu. “Iya Ma,” jawab Yoga. Calista menganggukkan kepala tanda setuju jika malam ini ibunya tidur di rumah. Lagi pula, ada dua orang pelayan yang bisa membantunya menyiapkan makan malam dan membersihkan rumah. Satya, turun dari mobil. Dengan pengertian ia menuntun sang istri agar turun dari mobil lantas mereka berdua masuk ke dalam mobil, sementara bu Sofi diantar si pengemudi pulang ke rumahnya. “Mas Satya mau makan apa?” tanya Calista seraya berjalan masuk memasuki rumah. Terus saja bersandar di lengan sang suami. “Apa saja, bagaimana keadaanmu selama ini, Ca?” tanya sang suami. “Seperti yang Mas ketahui, aku selalu merindukanmu. Terima kasih, Mas sudah pulang, karena bukan aku saja yang merindukan Mas tapi bayi dalam kandunganku ini juga merindukan Mas Satya,” ucap Calista manja. “Iya,” jawab pria itu. Mulai detik ini juga Yoga harus terbiasa ketika Calista bergelayut manja di lengannya, tanpa melepas barang sedetik pun. “Kita makan sekarang ya Mas!” ajak Calista. Menuntun sang suami menuju ruang makan. “Ya,” jawab Satya. Ya, itu adalah jawaban yang aman karena dia belum bisa menyesuaikan diri dengan sikap dan sifat Calista. Satya duduk di kursi utama dan Calista duduk di sebelahnya. Tidak ada hidangan yang menarik meja makan hanya ada sayur khusus ibu hamil, beberapa potongan buah, dan juga ayam goreng yang baru saja dimasak mendadak. “Suapin aku dong,” pinta Calista Manja dia menyodorkan satu piring potongan buah dan berharap Satya menyuapinya. Ia memperlihatkan raut wajah merajuk, bibir manyun, benar-benar ingin selalu di manja oleh sang suami. “Tentu aku akan menyuapimu,” balas Satya. Mengambil alih piring berisi buah, ke dalam kuasanya. Ekspresi Calista sangat bahagia. Semua khayalan dan ngidamnya, akan ia realisasikan karena sang suami sudah berada di rumah. Tidak hanya mendengar cerita keromantisan Adis dan suaminya, yang setiap hari selalu berjumpa. “Aku mau makan di kamar saja ya, terus mas suapin aku mau enggak?” pinta Calista manja, menampakkan wajah imutnya. “Baiklah ayo kita ke kamar!” jawab Satya. Nada suaranya terdengar ramah dan hangat. Pria itu melangkah ke kamar terdekat dengan ruang makan, yang merupakan kamar tamu. “Loh Mas Satya, lupa? Kamar kita kan di lantai atas?” protes Calista. Kedua alisnya bertautan, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Ini aneh karena sang suami lupa di mana kamarnya berada, tidak seperti saat bertelefon. Satya sering kali bilang kalau rindu dengan kamarnya, tapi yang terjadi sekarang berkebalikan. Sang suami lupa letak kamar tidur yang amat dirindukannya. Yoga, yang berpura-pura menjadi Satya terkesiap, lantas menoleh ke arah sumber suara. “Siapa bilang Mas lupa, Mas hanya ingin kita tidur di lantai bawah saja. Usia kandungan kamu sudah hampir tujuh bulan! Tidak bagus juga kan naik turun tangga,” dalih pria itu. Menelan ludah berharap Calista percaya dengan apa yang dia ucapkan. Ini benar-benar mengerikan! Sekali berbohong, itu artinya ada kebohongan-kebohongan lain yang mengikutinya. “Oh iya. Baiklah Mas mulai besok kita akan pindahan kamar biar Mbak Ami dan Mbok Iyem yang membantuku menata kamar,” jawab Calista cepat. “Tapi Malam ini kita tidur di kamar atas saja ya Mas, aku tidak mau di kamar yang belum dibersihkan!” ucap wanita hamil itu. “Iya Ca,” jawab Satya melempar senyum. Menyadari satu hal bahwa dia tidak berbakat bersandiwara. Mengantisipasi kesalahan demi kesalahan yang mungkin akan membuat Calista curiga. Yoga yang berpura-pura menjadi Satya, membiarkan Calista untuk berjalan lebih dahulu. Ia takut masuk kamar lagi, jika kesalahan terjadi berturut-turut kemungkinan Calista akan mencurigainya. Mereka berdua berjalan menaiki tangga, dengan perlahan. Yoga di belakang Calista seraya menjaga wanita itu agar tetap berhati-hati saat menaiki tangga, kemudian Ia terus mengikuti Calista yang masuk ke dalam sebuah kamar. Tangan Calista mendorong handle pintu hingga terbuka. Yoga memasuki kamar, menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Terdapat satu ranjang King size yang merupakan tempat tidur Calista dan Satya, satu set lemari, satu sofa bed yang menghadap ke arah televisi. Yang paling mendominasi ruangan itu adalah foto besar yang berada di dinding sisi tempat tidur. Foto sepasang pengantin pemilik kamar. Terlihat Calista dan Satya tersenyum bahagia di hari pernikahannya. Degh! Sejenak d**a Yoga terasa sesak, ia masih belum percaya jika Satya sudah tiada. Lantas, apa yang akan terjadi pada Calista, jika mengetahui bahwa suaminya telah tiada. Yoga menunduk sejenak menahan air mata yang sudah merebak. Ini berat! “Sini Mas!” pinta Calista dengan suara nyaring menepuk bagian sisi tempat tidurnya. Meminta agar pria itu, duduk di sampingnya. Yoga tak bisa menolak. Ia naik ke tempat tidur dan merangkak mendekat, lalu duduk disamping Calista. “Aaa ....” Calista membuka mulut, mengisyaratkan untuk disuapi. Yoga terus menyuapi satu demi satu potongan buah dengan sabar. Berusaha tetap tersenyum dan berperan sebagai suami yang baik. Namun, setiap kali Calista mencoba ingin dekat dan melakukan kontak fisik. Yoga menghindar hatinya menolak. Bersandiwara menjadi Satya tidak sesederhana yang mama dan papa pikirkan. Tidak semudah itu Ferguso! Berpura-pura menjadi Satya artinya berpura-pura menjadi suami Calista, memperlakukannya sebagai istri. Yang pasti suami istri yang sudah 7 bulan tidak bertemu. Tidak mungkin akan diam saja tanpa melakukan kontak fisik, karena Calista tentu sangat merindukan Abisatya. Terbukti baru duduk sekitar tiga puluh menit saja, Calista sudah mencium pipi Yoga sebanyak hampir 10 kali. Bisa di tebak apa yang akan terjadi nanti malam? Yoga, mencoba membuang pikiran kotornya jauh-jauh. Tiap kali Calista ingin mencium bibirnya. Yoga selalu menunduk atau mengalihkan dengan mengulurkan tangannya untuk menyuapi buah. “Ini dimakan!” pinta Yoga memberikan sepotong apel. Menghentikan Calista yang berusaha mencium bibirnya. Mulut Calista terbuka, menerima suapan dari sang suami, tanpa rasa curiga sama sekali. “Sudah Mas, aku sudah kenyang!” ucap Calista setelah menelan suapan terakhir dari suaminya. Selanjutnya, turun dari ranjang melangkah menuju ke set lemari. Membukannya dengan antusias, lalu memilih dua gaun malam yang sangat berkesan baginya. “Coba lihat Mas!” pinta Clara dengan dua tangan yang terangkat, memegang dua helai gaun malam. Kedua manik mata Yoga, melihat dua gaun seksi itu tanpa berkedip. Tidak bisa membayangkan melihat Calista memakai baju yang kurang bahan, sangat terbuka, dan membuatnya bergejolak. “Mas ingin aku memakai baju warna merah ini, masih ingatkah saat kita bulan madu ke Bali, aku memakai ini atau ... Mas mau aku memakai yang ini,” tawar Clara mengangkat tangan kanannya menunjukkan sebuah gaun malam berwarna peach berbentuk pegnoir dari bahan menerawang, yang menjuntai ke bawah. “Yang itu saja!” tunjuk Yoga. Yang berada di tangan kanan dengan warna hitam terlihat lebih tertutup daripada yang berada di tangan kiri. Berwarna merah dan mini malis, jika dipakai Calista dengan perut yang sudah membesar mungkin tidak akan cukup. “Baik, aku pakai yang ini!” Suara Calista terdengar nyaring, menggambarkan suasana hatinya yang teramat bahagia. Kedua mata Yoga terbelalak. Dia menolak otaknya berfantasi melihat Calista memakai gaun malam itu. “Baiklah, aku akan mandi sebentar Mas!” goda Calista di sertai senyum penuh kode-kode. Bibir Yoga terkatup rapat. Menganggukkan kepala seraya menahan nafas. Aku tidak bisa Ma! Aku menyerah! Apa ini Ma! Batin yoga ingin sekali melambaikan tangan ke kamera. Tidak sanggup lagi, melanjutkan sandiwara ini. Calista bergerak menuju kamar mandi. Tidak lupa menutup pintu. Yoga membuang nafas lega. Akhirnya ia memilik kesempatan untuk menelefon Mamanya. Tangan Yoga terulur, meraih ponsel Clarisa di atas nakas. Lantas ia menghubungi nomor sang mama. Beberapa kali Yoga menelefon, baru di panggilan ke empat mamanya menerima panggilan telefon darinya. Panggilan terhubung. “Halo!” sapa Bu Marisa dari seberang telefon. “Halo Ma, mama dari mana saja?” tanya Yoga seraya mendekatkan telefon pintar di indra pendengarnya. “Maaf, mama baru selesai makan! Ada apa?” tanya Bu Marisa datar. Seolah melupakan dirinya begitu saja. Melupakan salah satu anak kembarnya yang belum menikah, bersandiwara menggantikan kembarannya. “Ini gawat Ma!” keluh Yoga. Mengucapkan dengan lirih, tapi penuh penekanan. “Gawat bagaimana?” tanya sang mama keheranan. “Aku mau pulang sekarang Ma!” ungkap Yoga. Tidak tahu harus berbuat apa. Calista itu cantik! Calista itu mulus! Calista itu seksi! Calista itu pernah bertakhta lama di dalam hatinya. Namun, tidak seperti ini. Yoga masih punya hati untuk menjaga Kakak iparnya. “Jangan Yoga! Mama mohon!” pinta wanita itu dengan memelas. “Tapi Ma!” Yoga berpikir bagaimana menyampaikan mengenai hal sensitif itu terhadap sang mama. Kebingungan melanda pikirannya. “Tapi Apa?” Suara di seberang telefon terdengar hangat, sabar menunggu Yoga bercerita. Hening. “Bagaimana kalau kakak ipar mengajakku berhubungan suami istri Ma! Ini Gawat! Aku tidak mau Ma, bagaimana ini!” keluhnya sembari melihat ke arah jam dinding, hampir seperempat jam Calista berada di kamar mandi. “Kamu tolak saja bilang capek!” jawab Bu Marisa menyepelekan. Padahal menurut Yoga, ini adalah masalah yang teramat berat. “Bagaimana dengan besok Ma!” tanya Yoga lagi. Namun, tak ada jawaban karena sang mama sudah mengakhiri panggilan telefon. “Sial!” umpatnya. Krieet. Pintu kamar mandi terbuka. Clara keluar dari sana dengan memakai gaun malamnya. Bau parfum menguar meski ia masih berdiri di ambang pintu. Yoga segera mengembalikan ponsel ke atas nakas. Lantas ia bergerak cepat memilih berbaring dan pura-pura tidur. Sebelum Calista tiba, ia segera memejamkan mata dan bersembunyi di balik selimut. Ini benar-benar tidak lucu berpura-pura menjadi Satya yang sudah memiliki istri itu, bukan ide bagus! Benar-benar bukan ide bagus! Langkah kaki Calista terdengar jelas di Indra pendengar Yoga. Ketika wanita itu berhenti di sudut ranjang, melepas alas kakinya. Kemudian, naik ke atas ranjang lalu mengikutinya. Masuk ke dalam selimut. Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali tetap menjaga nafasnya teratur dan memejamkan mata harus tetap pura-pura tidur. “Mas Satyaku, aku merindukanmu!” lirih Calista di telinga sang suami. Satu tangannya melingkar di pinggang. Aku mohon, aku menghilang saja dari sini atau tolong waktu lebih dipercepat lagi agar pagi segera tiba aku benar-benar tidak tahan dengan suasana seperti ini. Yoga menahan diri. Berpura-pura tidur! Sedangkan Calista, tengah menyiapkan berbagai jurus untuk menggoda sang suami. Ia mengingat sepuluh tips, yang harus dilakukan istri ketika suami pulang, setelah berbulan-bulan terpisah. To be Continue.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD