Part 5. Merindukan Suamiku.
===
Jika membicarakan tentang cinta. Yoga pernah sangat mencintai Calista.
Jika bertanya sejak kapan. Itu sejak lama. Sejak mereka bersama sewaktu kecil. Bisa di bilang Calista adalah cinta pertama bagi Satya dan Yoga.
Jika bertanya siapa yang lebih mencintai Calista? Dulu Yoga dan Satya sama-sama memiliki rasa cinta yang sama besar.
Berangkat sekolah bersama. Bermain bersama, menjaga Calista dan juga menghabiskan waktu bersama, hingga ketiganya tumbuh dewasa bersama.
Sejak kecil Yoga dan Satya menyukai gadis yang sama. Mengagumi gadis yang sama. Jatuh cinta pada gadis yang sama. Mungkin karena mereka kembar dan memiliki selera yang sama atau, karena hanya Calista lah satu-satunya teman cewek yang dekat dengan mereka.
Anehnya cara mereka mengungkapkan rasa cinta itu berbeda. Tidak sama, dan bertolak belakang.
Jika Yoga sering menjahili dan membuat Calista menangis, maka Satya adalah sosok yang akan selalu dipihak Calista. Membujuknya ketika merajuk. Mengusap air matanya ketika menangis, akibat kejahilan Yoga.
Apa yang terjadi hari ini sangat berbalik. Kini Satya yang akan selalu membuat Calista tersenyum, yang akan selalu menciptakan kebahagiaan untuk Calista, yang akan selalu menemani Calista. Sudah tiada, meninggal dunia untuk selama-lamanya.
Malam ini waktu berjalan sangat lambat. Puluhan kali Yoga menatap ke arah jam dinding, tetapi jam berjalan sangat lamban.
Yoga, tidur dengan posisi miring. Membelakangi Calista, dia memejamkan mata erat. Terpejam rapat-rapat. Tidak mau melihat ke arah Calista. Jangan sampai!!
Sosok wanita yang berada di sampingnya menggoda iman. Jangan sampai ada hal-hal yang di luar nalar terjadi. Bagaimanapun, meski Yoga pernah memiliki rasa untuknya, Calista adalah suami Satya.
Calista yang saat ini berbalut gaun malam, menerawang pasti akan membuat jiwa lelakinya bergejolak. Ia pria normal! Dan Calista, dia pernah menjadi gadis yang sangat dicintainya.
Satu sisi dia ingin menyudahi akting pura-pura tidur. Segera menepis tangan Calista yang bergerilya di area pinggang dan perutnya. Namun, satu sisi ia tidak ingin bangun. Jika ia terjaga, Calista pasti ingin mengajaknya berhubungan suami istri, itu tidak mungkin tidak. Yoga hanya bisa pura-pura terlelap dan berharap fajar akan segera menyingsing.
Calista sengaja menghembuskan nafasnya di telinga sang suami. Cara pertama yang ia lakukan untuk untuk membuat pria yang berbaring di sebelahnya terjaga. Ia mengulang hingga tiga kali. Namun, suaminya masih tak bereaksi. Beberapa kali ia memainkan jemari di atas perut sang suami. Satya masih tetap terlelap.
Calista mendengus kesal. Seingatnya, Satya tidak sekebo ini saat tidur. Ia akan bangun, ketika disentuh bagian perutnya. Kali ini tidak!
Yoga menahan geli disekitar daun telinga. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali Calista merangsaang indra pendengarnya.
Calista merebah terlentang. Melihat langit-langit dan dinding kamar. Wanita berpikir sejenak. Ia ingin mencoba memahami sang suami yang mungkin masih lelah karena perjalanan.
Di sisi lain, ia sangat merindukan sentuhan Satya. Tujuh bulan berhubungan jarak jauh itu bukan waktu yang cepat! Sangat lama bagi Calista yang tengah hamil.
“Mas Satya!” panggil Calista. Menyadari bahwa sosok yang tengah tidur di sampingnya belum tertidur.
Yoga tidak menjawab. Berpura-pura tidak mendengar adalah solusi yang terbaik.
“Mas Satya!” Suara Calista satu oktaf lebih keras dari sebelumnya. Tangan kanan menggoyangkan tubuh sang suami.
“Iya,” lirih Yoga.
“Bangun Mas!” pinta Calista.
“Iya,” sahutnya. Yoga membuka mata lebar.
Kemudian, Calista menuntun Satya untuk beranjak dari tidurnya. Mereka berdua kini duduk dan saling berhadapan.
Satu tangan Calista terulur ke depan, meraih wajah sang suami, lalu menahan nya agar tetap berada di posisi lurus dengan wajahnya.
“Mas Satya!” lirih Calista memandangi wajah sang suami dengan saksama. Dari kening, turun ke kedua alis, lurus ke manik matanya, hidung, bibir, dan dagunya.
Ada yang berbeda! Kulit wajahnya sangat cerah dan terawat. Calista ingat betul setiap sang suami pulang dari berlayar, kulitnya akan kecoklatan dan kering.
“Ada apa?” tanya Yoga tak sedikitpun, ia bisa membaca apa yang tersurat di raut wajah Calista. Ada pancaran tak biasa.
“Aku merindukanmu, Mas! Mari kita melakukannya, aku sangat merindukanmu! Rindu belaian tanganmu! Ayo kita lewati malam yang indah dan b*******h ini bersama!” ajak Calista. Jika hanya diam-diam dan memberi kode-kode atau isyarat, itu memang kadang tidak dipahami oleh Satya. Maka dari itu, Calista memilih untuk mengucapkan dengan gamblang apa yang diinginkannya.
“Aku juga sangat merindukanmu,” balas Yoga. Menemukan satu kalimat yang tepat. Ya, dia sudah memiliki alasan yang tepat untuk menolak.
Degh!
Bukannya melihat ekspresi bahagia dan binar dari matanya, Yoga mendapati sorot mata Calista meredup.
**Apa salahku?
“Kenapa Mas Satya tidak memanggilku Sayang lagi? Kenapa dari tadi sore saat pertama kita bertemu aku perhatikan Mas Satya selalu menyebutku dengan Ca? Bukankah di awal pernikahan, Mas sudah berjanji ingin selalu memanggilku dengan panggilan Sayang?” protes Calista. Mencerca sang suami dengan menyebut semua kesalahnnya. Sekali, dua kali, mendengar sang suami memanggilnya sebutan nama itu tak dipermasalahkan. Namun, jika berulang kali Calista merasa geram juga.
“Tidak sayang!” tepis Yoga. Berpikir keras apa yang akan saudara kembarnya lakukan ketika sang istri marah.
“Is—tri—ku— sa—yang!” Calista menekankan ucapannya di setiap suku kata. Membenarkan apa yang diucapkan sang suami.
“Iya istriku sayang. Maaf mungkin aku sedang lelah. Aku masih lelah. Kamu tahu kan dua hari aku berlayar dan melakukan perjalanan untuk pulang,” jelas Yoga dengan suara lembutnya. Meniru suara Satya.
“Itu bukan alasan Mas! Bukankah pekerjaanmu memang berlayar terombang-ambing di lautan! Seharusnya kamu tidak lelah karena kamu melakukannya setiap hari!” tampiknya. Mematahkan alasan dari sang suami.
“Sayang Calistaku, Istriku sayang, dengarkan Mas!” pinta Yoga. Refleks meraih tangan Calista. Menggengam jemarinya kuat. Seperti yang ia lakukan pada Devina.
***Astaga! Devina pasti swsang mencarinya. Ini benar-benar gawat karena ponsel pintarnya tertinggal di rumah kedua orang tuanya.
“Apa?” tanya Calista melemah. Ia menggigit bibir bawahnya menahan air mata. Emosi naik-turun tidak karuan. Seolah dia istri yang egois! Wanita hamil kadang terlalu peka!
“Begini, istriku sayang!” ucap Yoga mengawali penjelasannya. Ia tidak ingin salah sebut lagi. “Kita jangan melakukan hubungan suami istri dulu ya, kamu baru saja sembuh, dan kandunganmu juga lemah, dokter sendiri yang berbicara seperti itu, apa istriku tersayang ini lupa?” imbuhnya dengan sabar dan telaten.
Calista mengangguk pelan tanda setuju.
“Besok kita periksa dulu untuk memastikan. Apakah berhubungan suami istri aman atau tidak di kehamilanmu yang sekarang , kamu maukan?” bujuk Yoga ia berusaha men—setting otaknya untuk memiliki jalan pikiran seperti Satya. Juga berusaha sebisa mungkin untuk berbicara dengan logat saudara kembarnya.
“Iya Mas!” jawab Calista menurut.
“Ayo kita tidur!” ajak Yoga menuntun tangan Calista turun. Sehingga mereka kembali berbaring, bersebelahan.
“Iya!” Calista berhasil menahan air matanya.
Keduanya berbaring menatap langit-langit kamar. Calista, sudah mulai tenang dan berprasangka baik dengan sang suami.
Namun, berbeda dengan Yoga. Meski raga berada di sebelah Calista, pikirannya melayang, ke tempat lain. Mulai mengkhawatirkan Devina. Bagi kekasihnya itu, hampir 24 jam Yoga tidak ada kabar setelah pesan terakhirnya.
Bisa ditebak! Devina pasti akan sangat marah.
“Mas!” bisik Calista. Memecah keheningan.
“Emm ...,” gumam Yoga pelan.
“Pernah aku bermimpi sangat buruk!” ucapnya mengawali cerita.
“Mimpi Apa?” selidik Yoga. Sebagai bentuk perhatian, ia mengubah posisi tidurnya menghadap ke arah Calista.
“Aku bermimpi yang membuatku terus menangis saat aku terjaga!” ujarnya lagi. Hanya memberi Clue. Bukan jawaban.
Yoga diam menunggu.
“Aku bermimpi, aku bertemu Mas Satya. Tapi ..., saat aku memanggil Mas Satya, Mas Satya tidak menjawab, tidak menoleh sama sekali!” ceritanya.
“Cukup, istriku sayang, kamu suka sekali membahas mimpi. Ayo kita tidur!” ajak Yoga.
“Peluk aku Mas,” pinta Calista.
“Emm.”
Yoga hanya menurut ketika jemari Calista, menuntun tangannya melingkar, mendekap erat tubuh wanita itu.
***Maafkan aku Devina! Aku tidak bermaksud memeluk wanita lain.
==❤==
“Kenapa pagi-pagi sekali?” tanya Calista.
“Iya, aku masih kangen sama papa dan mama!” dalih Yoga. Sebenarnya, dia hanya ingin mengambil ponselnya. Devina apa yang akan terjadi pada Devina?
“Emmm ...,” gumam Calista memahami.
Dulu saat mereka masih kecil, rumah orang tua Calista dan si kembar bersebelahan. Barulah ketika , orang tua Calista pindah rumah, karena alasan pekerjaan.
“Bagaimana kalau malam ini Kita menginap di rumah mama kamu mau?” tawar Yoga. Dia butuh berunding dengan mamanya dalam banyak hal.
“Boleh saja,” jawab Calista. “Aku mau ke mana pun asal sama Mas Satya,” imbuhnya.
“Pasti, selama aku bekerja kamu jarang menginap di rumah mama kan?” tebak Yoga. Meski tengah memgkhawatirkan Devina, ia tetap berusaha bersandiwara dengan elegan. Tidak ingin Calista curiga.
“Iya juga sih Mas.” Calista mengangguk mengiyakan.
Yoga kembali fokus menjalankan mobilnya ke sebuah Gang Perumahan. Lantas ia terus berjalan lurus. Menepi dan berhenti di garasi rumahnya.
“Kita sudah sampai!” ujar Yoga. Mematikan mesin mobil. Turun, berjalan keluar, lalu membuka pintu untuk Calista.
Mereka berdua lantas berjalan berdampingan untuk masuk ke dalam rumah.
Pak Seno sudah berangkat kerja, ia memiliki sebuah toko Furnitur tak jauh dari rumah.
Diam rumah ada Bu Marisa dan kedua pelayannya.
“Eh kalian sudah sampai duduk dulu,” pinta Bu Marisa.
“Ya, Ma!” jawab Calista uang segera memilih duduk di ruang tengah, mengambil posisi sennyaman mungkin.
Yoga masih belum bergerak dari tempat berdirinya saat ini. Mengamati wajah sang mama yang tak biasa. Matanya memerah dengan kelopak mata menghitam. Wajahnya pucat, karena kurang tidur.
“Ma!” bisik Yoga.
“Iya,” jawab wanita paruh baya itu lirih.
“Jangan sampai mama sakit!” pinta pria itu. Mama, adalah sosok wanita yang paling dia sayangi dan kagumi. Melihat sang mama sangat memprihatinkan karena kematian Satya. Yoga merasa sangat sedih.
“Kamu, fokus saja dengan Calista, mama sudah kehilangan putra mama. Mama tidak ingin kehilangan cucu Mama, kamu paham kan!” balas Bu Marisa dengan suara lirih.
Yoga mengangguk pelan.
“Kamu tidak ingin mama bertambah sedihkan?” ujar wanita itu lalu melangkah ke arah dapur. Tidak ingin Calista mencurigainya.
Pria itu bergerak mendekati dang istri yang tengah duduk di ruang tengah menyaksikan acara televisi.
“Istriku sayang,” panggil Yoga. Menegaskan pada dirinya, untuk memanggil Calista dengan sebutan itu.
“Iya, Mas!” jawab Calista.
“Aku ke lantai atas dulu ya! Ada beberapa perlengkapan yang harus aku rapikan!” dalihnya.
“Iya Mas!”
Dengan cepat Yoga melangkahkan kaki naik ke atas ke lantai dua. Ke kamar Satya di sanalah ponselnya berada.
Iya membuka pintu, lantas menutupnya kembali. Kemudian, ia segera meraih ponsel yang berada di atas tempat tidur.
Benar sekali sudah banyak pemberitahuan, panggilan masuk. Ada puluhan pesan yang dikirim Devina padanya. Tak menunggu lama ia segera menghubungi pacarnya.
Satu kali panggilan saja, Devina langsung menerima telepon. Sangat cepat karena Devina memang sudah menunggu telepon dari Yoga.
“Mas Yoga, ke mana? Kapan kembali ke galeri? Mas tidak lupakan? Sebentar lagi kita akan pameran?”
“Maaf sekali Devina, Sepertinya aku tidak bisa datang dalam waktu yang cepat. Soalnya mama lagi sakit jadi aku harus nungguin Mama. Kamu tahu sendiri kankan anak mama itu hanya aku dan Satya, jadi saat Satya bekerja, hanya aku yang bisa menjaga mama,” dalih Yoga.
Pria itu merasa sangat pandai berbohong. Tidak dengan Devina maupun, Calista! Hampir setiap menit ia berbohong dan bersandiwara.
“Tapi Mas Yoga! Mas Yoga jahat banget sama aku! Aku sendirian Mas dan tim yang lain. Mereka sudah menunggu kehadiran Mas Yoga, karena masih juga adalah ketuanya!” protes Devina. Dua pukuh empat jam ia kelabakan mencari Yoga, menunggu kabar dan setelah pria itu menelefon, tidak mendapat jawaban yang ia harapkan.
“Begini Devina aku serahkan semuanya sama kamu. Aku percaya pameran tetap akan berhasil, meski aku di sini menjaga Mama, kamu paham kan?” bujuk Yoga.
“Tapi mas!” Gadis itu merasa keberatan.
“Aku mohon Devina kamu harus mengerti aku, kali ini saja ya, Aku mohon!”
“Baik! Aku akan mengerjakannya sampai hari jumat, sebisaku! Tapi Mas Yoga harus standby menerima telefon dan membalas pesan dariku bagaimana? Kalau tidak aku tidak mau!” ancam Devina.
“Iya, aku Janji bakal balas pesan dari kamu!” sahut Yoga merasa lega.
“Satu lagi!” tegasnya.
“Iya, apa istriku sayang!” Yoga keceplosan.
Di seberang telefon, keteledoran Yoga memanggil Devina dengan sebutan “Istriku Sayang” membuat gadis itu melompat kegirangan.
“Hari Sabtu dan Minggu, aku mohon Mas Yoga tetap datang ke sini! Harus hadir di acara pameran. Kalau tidak aku marah!” ancamnya lagi. “Lagi pula apa artinya pemeran ini, bukankah impianmu Mas?” imbuh Devina dengan nada sedih.
“Iya aku pasti datang, aku akan datang! Aku janji sama kamu Devina aku akan datang di hari pameran. Paham!” jawab Yoga meyakinkan.
“Baik Mas, aku tunggu!”
“Iya!”
Panggilan telefon berakhir.
Rasa sesak memenuhi d**a Yoga. Ada getir di ujung tenggoroknya. Berbohong setiap detik, berperan menjadi dua orang yang berbeda ini sangat melelahkan.
Ini baru hari pertama. Masih sekitar 89 hari yang harus ia jalani seperti ini.
To be Continue.