Part 6. Tukang Suruh!
===
Calista memanyunkan bibir ke depan. Sejak keluar dari ruang periksa dr. Adam hingga sampai di area parkir. Rasanya tidak ikhlas mendengar apa yang baru saja disampaikan sang dokter. Mengganggu hati, sekaligus isi kepalanya.
dr. Adam merupakan salah satu kenalan Yoga. Sebelum ia tiba ke tempat praktik, pria itu menceritakan hal yang menimpa dirinya. Tentang sandiwara, kematian kembarannya. Juga tentang, kehamilan Calista yang sempat mengalami gangguan.
“Istriku sayang,” panggil Yoga. Mereka berdua tengah duduk di dalam mobil. Yoga duduk di belakang kemudi, dan Calista berada di sebelahnya.
Calista enggan merespon. Memilih bungkam.
“Jangan merajuk, kamu masih ingat kan apa yang dikatakan dr. Adam, meskipun kita tidak bisa melakukan hubungan suami istri, tapi banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menikmati waktu bersama, kita bisa jalan bareng, makan bareng, nonton film bareng, dan aku juga akan menemanimu melakukan apapun,” bujuk Yoga.
“Siapa yang merajuk, aku tidak merajuk!” sahut Calista ketus.
Yoga memutar kunci mobil. Menyalakannya, lalu mengemudikan keluar dari area parkir. Mobil mulai berjalan membelah jalanan kota.
“Kita langsung pulang?” tawar Yoga.
Calista mengangguk tanpa berkata-kata, hingga tiba di rumah. Wanita yang tengah hamil itu, tetap mengunci mulutnya.
Mobil berhenti di garasi. Calista, turun terlebih dahulu dan segera masuk ke dalam rumah. Menemui Bu Marisa. Sementara Yoga, menggunakan kesempatan untuk membuka ponselnya yang ia sembunyikan di dalam tas.
Benar saja sudah banyak pesan dari Devina.
**Kamu bilang akan membalas pesanku setiap waktu?
**Aku penting enggak?
**Ini maksudnya apa, buka pesan doang tanpa balasan?
**Mas Yoga!
**Mas Yoga, kamu punya cewek lain ya!
**Aku akan menyusulmu!
Yoga mendecit, tuduhan Devina sangat tepat. Apa yang dilakukannya saat ini memang mengesampingkan Devina dan pameran.
Ingin sekali Yoga menelefon dan menjelaskan, tetapi ia mengurungkan niat karena tidak ingin Calista memergoki dan mencurigainya.
==❤==
Di ruang makan, Calista tengah menemani Bu Marisa yang sedang melihat kembali album foto pernikahan Satya dan Calista.
Bu Marisa, membuka satu persatu. Lembar demi lembar dengan perasaan teramat sedih. Satya sudah tiada. Putra kesayangannya sudah meninggalkan dunia untuk selamanya.
Di sisinya, Calista menyunggingkan senyum. Fikus melihat ekspresi bahagia di wajah sang suami, hampir di setiap foto selalu tersenyum manis.
Calista segera menoleh, ia mendengar isakan Bu Marisa. Hanya sekali, tetapi ia yakin kalau ibu mertuanya itu menahan tangis.
“Mama menangis tanya?” Calista keheranan. Berusaha mengamati wajah sang mama.
“Tidak, Mama tidak menangis!” jawab Bu Marisa seraya membuang pandangannya ke arah lain. Tidak ingin Calista melihatnya tengah meneteskan air mata.
“Emmm...,” gumam wanita itu menahan diri untuk tidak bertanya lagi. “Oh iya Ma kapan Yoga akan pulang, biasanya dia akan segera pulang ketika mengetahui Satya di rumah?” tanya Calista mencoba mengalihkan pembicaraan, seharusnya ia pura-pura tidak tahu saja ketika mama mertuanya menangis. Kini ia jadi tak enak hati.
“Mama juga belum tahu, soalnya Yoga sekarang sedang sibuk dengan pameran di galerinya,” sahut Bu Marissa berusaha fokus menjawab pertanyaan dari Calista. Menyisihkan sejenak duka yang ada di hatinya. Meyakinkan diri, jika kebohongannya ini lebih baik, daripada ia jujur dan mengatakan semuanya pada Calista.
“Iya aku paham,” sahutnya.
Hening.
Baik Calista maupun Bu Marisa sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Ma,” panggil Calista. Mulai tidak nyaman saling diam dengan ibu mertuanya.
“Iya, ada apa Ca!” sahut wanita paruh baya itu. Berusaha, agar suaranya tidak bergetar.
“Satya kan sudah menikah, kapan Yoga berencana mau melamar pacarnya si Devina itu?” selidik Calista, pasalnya ia juga mengenal Devina yang merupakan adik kelasnya hanya saja hubungan mereka sebatas saling mengenal tidak lebih.
“Soal hal itu Mama juga belum tahu Ca, semua Mama serahkan pada Yoga, begitu pun seperti saat Mama menyerahkan semuanya pada saat Satya, ketika dia ingin menikahimu,” jawab Bu Marisa lemah lembut. “Bagaimana tadi periksa kehamilannya?” Bu Marisa bertanya balik. Tidak terlalu nyaman membahas tentang Yoga dan Satya.
“Ya gitu Ma, aku dan Mas Satya tidak boleh berhubungan suami istri dulu, juga aku harus banyak istirahat agar tidak kelelahan dan bayi ini bisa selamat!” jelas Calista mengusap perutnya beberapa kali.
“Kalau begitu kalian nanti tidur di kamar bawah saja, tidak perlu tidur di kamar atas ya!” suruh Bu Marisa. Anak dalam perut Calista harus berhasil dilahirkan.
“Iya Ma, ada kamar mandi dalamnya kan?” tanya Calista memastikan, karena setiap malam ia harus terjaga untuk sekedar buang air kecil.
“Ada sayang,” jawab Bu Marisa iya tetap melemparkan senyum meski dipaksakan.
Wanita paruh baya itu masih belum percaya. Jika saat ini, Satya telah tiada rasanya masih seperti mimpi. Merasa bahwa Satya sedang bekerja dan suatu hari akan pulang entah itu kapan.
“Baik Ma, aku akan mandi sekarang. Sebentar ya aku akan memanggil Mas Satria, aku butuh bantuan untuk melepaskan bajuku ini,” pamit Calista.
“Biar Mama yang bantu?” tawar Bu Marisa.
“Tidak Ma, Mas Satya saja!” tolaknya, lalu pergi ke teras untuk mencari suaminya.
Calista mengajak pria itu masuk ke dalam kamar. Yoga yang merasa bahwa Calista, sudah tidak marah lagi hanya mengikuti nya saja ketika wanita itu menuntunya masuk ke salah satu ruangan di lantai dasar.
Di dalam kamar.
“Mas kata mama kita tidur di kamar ini saja!” tutur Calista. Kembali menutup pintu.
“Iya tidak apa-apa aku bisa tidur di mana pun!” jawab Yoga.
“Sama aku juga bisa tidur dimanapun asal ada Mas Satya!” sahutnya menggoda.
“Kamu bisa, aja istriku sayang!” balas Yoga.
Pandangan keduanya saling bertemu. Calista merasakan ada yang berbeda, pria di hadapannya terlihat malu-malu tidak terlihat seperti Satya yang dulu, yang sudah kenyang dengan gombalannya.
“Oh ya Mas, aku kan mau mandi tolong lepasin bajuku ya!” pinta Calista.
“Iya sini aku lepasin!” balas Yoga cepat.
“Ayo kita ke kamar mandi saja!” ajaknya. Calista menaruh tas dan ponsel. Kemudian menuntun sang suami untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Kini mereka berdua telah berada di dalam kamar mandi. Terdapat sebuah bathub, dengan air hangat dan air dingin otomatis. Toilet, wastafel dan cermin yang berada di sebelahnya dan dibatasi kaca transparan .
“Tolong turunkan resleting bagian belakang!” titah Calista. Sementara kedua tangannya mengikat rambutnya tinggi-tinggi memperlihatkan leher putihnya yang jenjang.
Yoga yang berdiri di belakang Calista, lantas menurunkan resleting bagian belakang gaunnya. Kali ini ia masih bisa untuk fokus karena Calista berdiri membelakanginya.
“Tunggu Mas!” pinta Calista,
“Ada apa?” sahut Yoga berbalik.
“Mas Satya mau ke mana?” selidik Calista.
Suaminya itu kini benar-benar sangat aneh dulu jika Calista memberi isyarat untuk melepaskan pakaiannya, maka Satya tetap akan berada di dalam kamar mandi untuk mandi bersama atau hanya sekedar menyabuni punggungnya. Tapi kali ini tidak, bahkan pria itu segera pergi sebelum membantunya menanggalkan bajunya.
“Ada apa lagi?” tanya Yoga yang memang harus segera pergi. Dia tidak ingin melihat tubuh Calista tanpa sehelai benang pun.
“Tolong turunkan bajuku!” pintanya. “Lihatlah aku benar-benar sudah tidak bisa menunduk, perutku semakin besar saja Mas!” jelas Calista dengan manja.
Yoga, Kembali ke tempat semula berdiri dibelakang Calista. Dengan kedua tangan ia melepaskan baju berwarna hitam yang dikenakan Calista. Kini ia benar-benar melihat apa yang seharusnya tidak dilihatnya.
Calista berbalik agar memudahkan sang suami meninggalkan bajunya dan apa apa yang dihindari oleh Yoga tak terelakan lagi. Kini mereka berhadapan dan Calista hanya memakai underwear.
Kulit mulutnya terekspos, bahkan di bagian bagian lain juga terpapar. Kalau diperhatikan secara detail, pasti akan membuat celana terasa sempit. Yoga menelan ludah.
Dan ujian bukan hanya sampai di situ. Calista melepaskan bagian bawah, sementara Yoga membantunya melepas bagian atas.
Selanjutnya, cobaan belum berhenti karena Yoga masih membantu Calista menyabuni punggungnya baru setelah itu, Calista yang saat ini tidak memakai sehelai benang pun. Mengambil sabun yang ada di tangan sang suami.
“Mas Yoga boleh keluar sekarang, jangan lupa ya ambilkan aku handuk, dan taruh di sana. Aku lupa membawa handuk!” ucapnya nya dengan lembut
Yoga yang menahan nafas hanya mengangguk saja lantas keluar dari kamar mandi.
Kini Yoga sudah berada di luar kamar. Ia mengusap kedua tangannya yang basah pada salah satu handuk, lantas duduk di tepi ranjang. Ia melempar handuk itu ke sudut ruangan. Merasa kesal!
“Dasar bawel!” umpatnya Entahlah ia merasa tidak terima dan kesal karena sama sekali belum pernah melakukan hal itu membantu seorang wanita mandi. Atau sebenarnya dia terganggun karena jiwa kelakiannya tergugah! Uji nyali bukan untuk dirinya yang saat ini pria normal, dan wanita itu bukankah miliknya.
Kemudian Yoga keluar kamar, untuk mengambil air minum dan menyembunyikan ponselnya. Dia tidak ingin menambah masalah dengan menciptakan keributan karena Calista mendapatinya memiliki ponsel dan berbalas pesan dengan wanita lain.
Saat di dapur, Yoga melihat ke taman belakang di mana mamanya sedang duduk sendirian. Ia ingin marah, karena sang mamalah yang membuatnya di posisi seperti ini.
Namun, ia memgurungkan niatnya, tidak akan menambah kesedihan wanita yang sangat mulia baginya itu, karena kehilangan Satya.
Mengingat Calista yang masih di kamar Mandi Yoga kembali ke dalam kamar. Ia yakin, Calista masih ingin menyuruhnya melakukan banyak hal. Sangat manja, karena mungkin sudah lama tidak berjumpa dengan suaminya.
Sampai du depan pintu, tangan Yoga terulur mendorong Handle pintu hingga terbuka.
Yoga terkejut, mendapati Calista yang hanya memakai handuk tengah duduk di tepi ranjang da tersenyum ke arahnya.
“Mas!” panggilnya lirih. Handuk yang ia kenakan bisa saja terbuka karena ia bersandar ke belakang dengan kedua tangan sebagai tumpuan.
“Iya!” jawab Yoga. Mengatur dirinya agar fokus dan tidak tergoda dengan pemandangan di depan sana.
“Tolong ambilkan baju tidurku Mas, ada di dalam tas yang aku bawa di kamarmu!” pinta Calista.
“Lalu apa lagi?” Yoga terlihat kesal karena Calista tmmidak berhenti menyuruhnya. Atau jangan-jangan dulu Satya juga seperti itu?
“Sudah Mas itu saja!” jawab Calista.
Untuk kesekian kalinya Yoga menuruti perintah dan permintaan Calista. Ia menaiki tangga lantai dua, masuk ke dalam kamar Satya lantas mengambil baju tidur milik Calista.
Kemudian ia kembali lagi turun ke bawah dan membawa baju tidur pada sang pemilik.
“Ini!” Yoga memberikan baju tidur berwarna dongker itu pada Calista.
“Mas boleh minta tolong lagi nggak?” pinta Calista menggigit Bibir bawahnya. Entahlah hari ini, ia terlampau sangat malas mungkin itu bawaan bayi.
“Aku tahu kamu minta aku untuk membantumu memakai baju kan?” tebak Yoga seraya menghampiri Calista. Ia memaksa melebarkan kedua sudut bubirnya memberikan senyuman.
“Hehehe iya,” jawab Calista tanpa merasa bersalah.
“Baik aku akan membantumu!” sahut Yoga sembari tersenyum. Kali ini Yoga akan melakukan pekerjaan itu dengan menutup mata.
To be Continue.
Pergi ke korea, beli ramen.
Ada yang baca enggak ada yang komen.