Terbangun dengan kepala yang berdenyut kuat, membuat Mawar meringis. Ini pengaruh dari banyaknya menangis dan kurangnya tidur. Maunya Mawar, dia tidak tidur sama sekali. Ingin tetap terjaga, sampai akhirnya berhasil pergi. Nyatanya, saat Kris pergi meninggalkan kamar yang tentu saja disertai ultimaltum bahwa Mawar tidak boleh pergi ke luar rumah, dengan bodohnya Mawar masih hanya menangis, lalu berakhir dengan ketiduran.
Melirik jam dinding, Mawar meringis lagi, kali ini karena menyadari banyak waktu yang telah berlalu secara cuma-cuma. Ia bertanya dalam hati, kenapa keluarganya tidak kunjung datang? Apakah Kris melakukan sesuatu yang buruk pada mereka, atau mereka memang sedang menjalankan suatu rencana?
Mengingat kejadian tadi malam, Mawar merasa sedih. Kris berkata bahwa harusnya Mawar sadar, Kris bukan satu-satunya penjahat dalam hubungan mereka. Mawar sendiri pun sama, menjadi tokoh antagonis dengan menjadikan hubungan mereka sebagai sarana untuk memperkaya keluarganya sendiri. Begitu pula keluarga Mawar yang Kris tuding telah menutup mata bahwa sebenarnya selama ini Mawar menjadi tumbal demi mereka.
Yang dikatakan Kris itu salah. Keluarga Mawar tidak begitu. Pria itu memang tidak pernah mau repot-repot mengikuti pertemuan keluarga, itu kenapa dia bisa berpikir sepicik itu. Lagi pula, Kris tidak akan mengerti apa pun yang berkaitan dengan makna keluarga karena keluarganya berantakan, dan keluarga kecil yang ia bina, juga sama berantakannya.
Perut Mawar terasa perih. Makanan yang terletak di atas meja begitu menggoda, tapi ia tidak akan menyentuhnya. Ia sudah bersumpah dalam hati. Kata Kris dia memanfaatkan uang pria itu, maka Mawar akan membuktikan bahwa dia tidak akan memakai dan memakan apa pun lagi dari Kris. Sudah cukup pria itu merendahkannya.
Turun dari ranjang, pandangan Mawar terasa memudar. Tubuhnya limbung. Dia memejamkan mata saat rasa mual mendera, yang sialnya terasa semakin kuat karena suhu dingin yang begitu terasa di kulit telanjangnya.
Ya, Kris berhasil melakukannya lagi. Mawar membenci fakta itu, bahwa dia terlalu lemah untuk melawan Kris yang tenaganya seperti pekerja buruh kasar. Sedikit menyesal saat belum menikah dulu, dia tidak mempelajari ilmu bela diri atau olahraga penguat tenaga.
Pintu terbuka. Spontan Mawar menutup d**a dan bagian di bawah perut dengan tangannya. Ijah, si asisten rumah tangga yang paling senior masuk dengan membawa nampan. Makanan lagi. Mawar mengerang kesal melihat sup panas yang begitu menggoda. Bahkan aromanya berhasil membuat perut Mawar berbunyi.
“Ibu mau makan dulu atau mandi?” tanya Ijah sopan.
Mawar menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, tidak peduli Ijah melihat atau tidak, yang jelas dia tidak sedang ingin menjaga sikap pada siapa pun. Bila perlu, semua orang di rumah ini, semua anggota keluarga Kris, juga termasuk kolega-kolega pria itu, serentak membenci Mawar hingga akhirnya Kris mau melepasnya.
“Ibu harus makan. Kalau Ibu sakit, gimana Ibu bisa melawan Bapak.”
Mendengar itu, Mawar langsung menoleh, berkata dengan sinis. “Kamu itu pasti sekongkol sama Kris! Manas-manasin saya supaya saya mau makan! Nggak mau! Biar aja saya sakit, biar dosa Kris berlipat ganda sama saya! Kamu makan aja itu supnya, saya nggak mau!”
“Tapi Bu ....”
“Saya nggak mau, Mbok Ijah! Biar aja saya mati, biar Kris dimasukin penjara karena udah bunuh saya!”
“Tapi bukan dia yang bunuh. Kalau Ibu sakit, meninggal karena sakit, itu namanya bukan pembunuhan.”
“Kan benar, kamu bela dia! Aduh....” Mawar memegang perutnya. Tubuhnya sudah melengkung, berusaha mengurangi rasa perih yang semakin terasa.
“Ib–”
Mawar tidak mendengarkan lagi. Dia meluruhkan tubuhnya ke lantai, duduk meringkuk dengan mata terpejam. Menarik napas pelan-pelan, berusaha mendoktrin diri sendiri bahwa sakit itu tidak seberapa dan akan segera hilang.
“Bu, apa tidak sebaiknya Ibu makan saja? Sedikit? Cuma buat ganjal perut supaya asam lambungnya nggak naik?”
“Saya mau pulang, Mbok. Saya cuma mau pulang. Keluarga saya ada datang nggak?” Mawar berkata tanpa menoleh. Hening, tidak ada jawaban. Mawar pun mendongakkan wajah, menatap wanita tua yang sekarang sudah mengambilkan handuk dan menyampirkan ke tubuhnya.
“Mbok, ada keluarga saya yang datang, nggak? Kris ngusir mereka, ya?”
Wanita tua itu menghentikan langkahnya, lalu menghapus air mata yang menetes. Awalnya Mawar merasa Mbok Ijah simpati padanya, tetapi tidak karena wanita itu malah berkata, “Saya sudah mengenal Pak Kris sejak dia kecil. Anaknya memang banyak minta, tapi nggak pernah benar-benar mau sesuatu. Bisa dibilang selama ini keluarganya membesarkan dia dengan cara yang .... Kris hanya meniru apa yang diajarkan orang sekitarnya. Banyak yang membenci, menjaga jarak, menganggak dia menyebalkan, tapi saya tidak. Saya kenal Kris dari dulu. Saya yang menyuapi dia saat dia sakit. Saya yang membereskan mainannya waktu dia mengamuk dan memberantaki semuanya.”
Mbok Ijah menghapus air matanya lagi. “Apa ... apa boleh saya minta Bu Mawar ... untuk tidak meninggalkan Pak Kris? Sudah lama sekali rasanya Pak Kris tidak setertekan ini. Dia ... dia bisa hancur, Bu.”
“Kok ....” Mawar mengerutkan keningnya, “kok malah aku yang disalahin, sih? Mbok ....” Mawar meringis lagi karena kali ini selain perut yang perih, kepalanya pun kembali berdenyut. “Udahlah, Mbok pergi aja sana! Mbok kan Kris yang gaji, makanya gitu. Coba Mbok kemarin-kemarin kerjanya sama saya, pasti belain saya!”
“Ta–”
“Pergi, Mbok! Pergiii!!!”
Mbok Ijah tampak kaget dan ketakutan, segera berjalan cepat menuju pintu. Setelah kembali hanya sendirian di kamar, Mawar menangis lagi. Dia merasa benci dijadikan alasan untuk keterpurukan seseorang. Seolah dia adalah seorang wanita yang jahat.
***
“Ini ....” Kris menarik napas, mengurut pelipisnya. Semua terasa menyebalkan, sekarang. Membuatnya naik pitam.
“Maaf, Pak. Saya memang lalai. Biasanya laporannya diminta awal bulan, jadi saya ....”
“Jadi begini kerja kamu? Ha?! Ini apa? Ini SAMPAH!!!” Kris melemparkan berkas-berkas yang tadi bertumpuk tepat di hadapannya. “Kerja kamu nol! Nol besar! Saya rasa kamu tidak pantas duduk di jabatan kamu sekarang! Panggil Heru!”
“Ja-jangan, Pak!” teriak Gladys, manajer pemasaran yang bertubuh sintal, berpakaian ketat, berparas cantik, berpenampilan menggoda. Dia adalah salah satu wanita yang pernah terlibat dengan Kris, meski hanya satu malam.
“Kalau laporan kamu begini, catatan yang ada di kamu ini, apa yang kamu berikan ke Heru, ha?! Badan kamu? Perusahaan saya bukan rumah bordil! Panggil Heru!” teriak Kris lagi pada Gladys.
Wanita itu menangis terisak-isak, berdiri dan segera menghampiri Kris, duduk bersimpuh di sisi samping Kris yang duduk di kursi kebesarannya. Kris menoleh secara refleks dan langsung membuang pandangan saat mendapati pemandangan d**a wanita itu yang terekspos dengan jelas.
“Saya mohon, Pak. Saya ... saya memang agak lalai beberapa bulan ini karena saya kurang enak badan. Tapi saya janji, semua laporan itu akan selesai sebelum waktunya. Masih ada empat hari–”
“Empat hari dari mana?! Itu kan jadwal Heru memberikan laporan ke saya! Kapan dia memeriksanya kalau kamu memberikan laporan ke dia tepat di waktu itu? Ha?!”
Kris berdiri, menekan tombol interkomnya, lalu memerintahkan sekretarisnya untuk mengusir Gladys dari ruangannya, sedang dia sendiri langsung keluar dari ruangan. Kepalanya mau pecah, tapi tidak tidak bisa pulang. Menghadapi perlawanan Mawar hanya membuat kepalanya bertambah sakit.
Hal tersulit dalam hidup Kris, sampai saat ini, hanyalah membuat Mawar menjadi Mawarnya dulu. Sampai ia berusia tiga puluh tahun, baru ia sadari kalau pelukan Mawar sangat berharga, karena saat ini dia merindukan pelukan itu, yang sialnya mungkin tidak akan pernah dia dapatkan dalam waktu dekat. Memaksa Mawar bercinta adalah hal yang mudah. Tenaga wanita itu tidak seberapa. Dia meronta, itu malah menambah gairah Kris. Membuat tenaganya bertambah berkali-kali lipat untuk segera membuktikan bahwa ia amat sangat mampu menaklukkan tubuh di bawahnya. Tetapi untuk memeluk, sangat sulit. Setelah melakukan itu, Mawar akan segera mendorong tubuhnya, kembali memiringkan tubuh, membelakangi. Saat Kris melingkarkan tangannnya memeluk, Mawar akan segera berteriak, memaki, menangis.
“Mau ke mana?” tanya Niame, adik bungsu Kris.
“Bukan urusan lu!” jawab Kris, masih melanjutkan langkah menuju ke parkiran mobilnya.
“Woi, Kris, gua ke sini buat jumpain lu! Kok lu malah pergi, sih?!”
Kris memutar tubuhnya malas, memasang wajah muak pada Niame. “Ngapain? Uang? Jawabannya tetap sama. Silakan minta sama Mami. Kalau lu nggak terima, minta sama Papi.”
“Lu kok banci gini, sih?! Cuma karna Mawar lu nahan-nahan uang belanja gua? Yang ada masalah kan Mami sama Mawar, kenapa gua yang kena? Lu juga aneh, lebih istimewain bini lu dibanding gua! Sadar, dong! Cewek itu kalau makin diturutin makin banyak mau! Tau lu begini, ngelunjak dia!”
Senyuma sinis terbit di wajah Kris. “Lu tau Papi?” tanyanya. “Uang Papi habis main perempuan, kan? Lu marahin sana, kalau lu bisa! Kalau gua mau habisin uang gua buat perempuan juga, kenapa lu ikut campur? Makanya lu cari pasangan yang bisa ngasih lu uang belanja. Jangan kayak Tatri, cari suami yang bisa jadi parasite doang!”
Kris membuka pintu mobilnya, sengaja menekan klackson kuat dan lama agar Niame beranjak dari depan mobilnya.
Biasanya Kris memang tidak pelit pada keluarganya. Bagaimanapun, kekayaannya juga berasal dari warisan yang diberikan sebelum waktunya. Tabiat ayahnya yang suka main perempuan, lebih suka bersenang-senang daripada bekerja, membuat lelaki tua itu segera melimpahkan semua pada Kris. Tentu saja, masih ada saham-saham yang beratas-namakan dirinya. Uang itulah yang pria tua itu gunakan untuk bersenang-senang.
Berputar-putar tidak tentu arah, Kris akhirnya memarkirkan mobil di apartemennya. Tempat ia dan Mawar dulu sering memadu gairah. Menghabiskan waktu bermasal-masalan, melamun, mengenang masa itu.
***
Setelah menjelang sore, Kris segera melaju menuju rumah. Kepalanya sedikit pusing. Entah karena beban pikiran, atau karena berkaleng-kaleng bir yang ia habiskan. Tadi ia sempat memeriksa ponsel, lupa kalau Mawar tidak diberi akses alat komunikasi, berharap wanita itu bertanya kenapa ia belum pulang atau mungkin ia sedang ada di mana. Sepenuhnya keinginan bodoh, karena pertanyaan itu tidak akan ada di jam yang biasanya Kris memang tidak ada di rumah.
Mawar sangat menyukai pizza rasa keju dengan pinggiran sosis. Kris sudah membelikannya, berharap semoga Mawar mau memakannya karena tadi kata Mbok Ijah, Mawar hanya makan sedikit sekali. Mawar itu kurus, tidak makan hanya akan membuat tubuhnya tinggal tulang belulang.
“Arrkhhh, sial!” geram Kris saat melihat mobil HRV merah milik Awan, abang Mawar, terparkir tepat di depan pagarnya. Ia keluar dari mobil dan segera menghampiri sang abang ipar.
“Kenapa lagi?” tanya Kris dengan nada tidak ramah.
“Aku mau jemput Mawar.”
“Lu sinting, ya?! Enggak! Ingat perjanjiannya, Mama-Papa sepakat ngasih gua waktu sebulan untuk memperbaiki semua! Sebelum waktu itu, lu nggak bisa ganggu rumah tangga kami!”
Awan tersenyum tipis. “Aku rasa itu nggak sejalan sama perbuatan kamu yang menarik saham secara mendadak. Lagi pula, baguslah saham itu kamu tarik. Sebenarnya sudah sejak lama keluarga kami malas berurusan sama kamu.”
“Saham apaan? Gu ... eum aku nggak ada narik saham.”
“Nggak usah berkilah! Sekarang cepat aja, bawa Mawar ke sini! Ponselnya nggak aktif, telepon rumah nggak bisa dihubungi, satpam nggak mau bukain pagar, ada apa? Ha? Jangan-jangan Mawar udah sekarat di dalam!”
“Bang, nggak mungkinlah aku biarin Mawar sekarat. Aku cinta dia.”
“Cih, jijik aku dipanggil abang sama kamu! Dan cinta ... jangan pikir aku sama butanya sama Mama, yang bisa aja kamu bego-begoin sama kata cinta! Bawa Mawar ke sini!”
“Bang ....”
Awan tampak emosi. Dengan gerakan kasar, ia membuka pintu mobilnya dan keluar. Melihat itu, Kris segera menelepon mama Mawar, satu-satunya keluarga Mawar yang masih berpihak padanya setelah ia mengemis kesempatan terakhir. Mungkin, hanya wanita itu yang bisa melihat ketulusannya yang hendak berubah.
“Halo, Ma, ini ada ...Awan.” Kris tersenyum penuh kemenangan, apalagi wajah Awan langsung berubahmasam, dan tangannya mengepal geram. Kris sudah tau, Awan tidak akan melawanibunya. Sesuatu yang sudah seperti kebiasaan di keluarga Mawar, yang samasekali tidak berlaku di keluarga Kris.