Selesai mengusir Awan pulang, Kris segera masuk ke dalam rumah. Ia ingin segera bertemu wanitanya yang sedang betah memasang wajah masam. Suasana rumah begitu hening, seperti biasa sebenarnya, tetapi hari ini rasanya itu membuat suasana hati Kris tambah memburuk. Berandai-andai kalau saat ia membuka pintu, Mawar akan menyambutnya dengan wajah ceria, menghampiri, mengadahkan wajah untuk menerima kecupan, lalu mereka berpelukan.
Kris pun tersenyum, merasa geli dengan bayang-bayang di kepalanya yang bukan dirinya sekali. Sesuatu yang semanis itu bukanlah dirinya. Dia terbiasa melakukan sesuatu yang lebih panas. Dalam hati dia mengejek diri sendiri, bahwa mungkin usialah yang mempengaruhi pola pikirnya.
Langkahnya yang sudah hampir sampai di dapur terhenti saat mendengar suara Mawar.
“Mama jempur Mawar, Ma. Mawar nggak mau di sini lagi. Mawar mau pulang.”
Emosi Kris langsung memuncak. Dia sedang gelisah karena semua menjadi berantakan, dan mendengar ucapan Mawar yang seperti itu, membuatnya ingin meledak karena frustasi.
Segera, Kris berjalan cepat, dan merebut ponsel yang menempel di telinga Mawar, melemparnya kuat ke sembarang arah. Mawar membalik tubuhnya, menatap dengan pandangan kaget. Mulutnya membuka, tetapi tak satu pun kata pun terucap.
“Ngapain kamu, ha?!” tanya Kris marah. Tangannya berkacak di pinggang, alisnya terangkat, matanya membelalak.
“Itu ... i-itu ... itu hp Mbok Ijah, loh, yang kamu lempar! Astaga ... rusak hp-nya!” teriak Mawar marah. Matanya memerah, yang Kris terka perpaduan antara rasa takut, marah, dan sedih. Mawar adalah jenis wanita yang paling benci kekerasan dan perkelahian.
“Oh, hp Mbok Ijah? Ha?” Kris mengedarkan pandangannya mencari sosok asisten rumah tangga yang tadinya adalah kepercayaannya. “Ijah, susun pakaian kamu! Pergi kamu dari rumah ini. Kamu dipecat!”
“Kris kamu ....”
“Maaf, Pak .... Maaf .... Jangan pecat saya ....” Mbok Ijah segera berlari, berlutut memohon di depan Kris. Wanita tua itu menangis, mengiba rasa kasihan agar tidak diberhentikan. “Saya tadi terpaksa. Bu Mawar baru mau makan kalau dipinjamkan hp. Tadi saya lihat Bu Mawar sudah hampir pingsan.”
“Kris, kamu nggak boleh pecat Mbok Ijah karena bantu aku!” Mawar berteriak lantang sambil menunjuk-nunjuk.
“Kenapa nggak boleh? Dia udah nggak menjalankan perintah aku!” Kris membalas dengan sama lantangnya. Mengabaikan tangisan Mbok Ijah, ia berjalan dengan langkah cepat menuju kamar tidur wanita tua itu.
“Bapaakkk, jangan pecat sayaaa!!!” teriak Mbok Ijah, masih sambil menangis.
“Kris! Kamu ....” Mawar berteriak, tetapi Kris mengabaikannya.
Kris tidak pernah memasuki kamar para asisten rumah tangganya. Biasanya dia hanya tinggal berteriak atau menelepon jika ingin sesuatu. Dan itu membuatnya bingung saat memasuki kamar, harus menerka lemari mana yang isinya adalah barang-barang Mbok Ijah.
“Kamu nggak boleh pecat Mbok Ijah!” teriak Mawar sambil menarik tangan Kris yang baru akan membuka lemari.
“Kamu nggak usah ikut campur!”
“Nggak ikut campur gimana? Kamu pecat dia karena aku! Kamu boleh pecat Mbok Ijah, tapi kamu harus biarin aku pergi. Aku bakalan bawa Mbok Ijah sama aku!” Lagi, Mawar berusaha menghalangi Kris mengambil pakaian di lemari.
Kris menangkap tangan Mawar, menyudutkan wanita itu ke dinding lemari, memerangkap tubuh Mawar dengan tangan di sisi kiri dan kanan. “Aku nggak suka yang kamu lakuin tadi, Mawar!” geramnya. Matanya menatap tajam, tidak berusaha menyembunyikan kemarahan.
“Aku juga nggak suka apa yang kamu lakuin, dan kamu nggak pernah mau dengar! Kenapa aku harus dengar kamu?”
“MAWAR!!!”
Kris memejamkan mata, menarik napas panjang saat melihat wajah Mawar yang memucat karena bentakannya. Menggelengkan kepala, berusaha menyadarkan diri sendiri bahwa saat ini ia tidak akan mampu beradu mulut dengan istrinya yang pembangkang. Kris melepaskan cekalan tangannya, menggeser tubuh Mawar dari lemari. Kembali pada tujuannya, mengemas kilat pakaian Mbok Ijah ke dalam tas bepergian entah milik siapa.
“Bapak .... Saya mohon jangan pecat saya, Pak .... Anak saya banyak. Masih sekolah. Suami saya sudah tidak ada, Pak ....” Mbok Ijah kembali bersuara.
“Saya nggak peduli.” Kris mengancing tas, melemparkannya tepat di hadapan ijah. “Pergi kamu sekarang!”
“Kamu ....” Mawar memukuli tubuh Kris, tapi diabaikan.
Mbok Ijah berteriak histeris, sedangkan asisten rumah tangga yang lain hanya menonton. Kris tidak peduli bahkan jika Mbok Ijah adalah kepala keluarga bagi seribu anak pun. Dia tidak peduli siapa pun, jika orang itu berusaha memberi akses Mawar untuk pergi darinya.
“Aku ikut Mbok Ijah keluar dari sini!” ucap Mawar, lalu melangkah mendekati Mbok Ijah.
Dengan sigap Kris langsung menangkap tangan Mawar. Memegang semakin kuat ketika Mawar meronta, berusaha melepaskan cengkraman.
“Arkh, sial!” Kris menggeram sakit, dan menghempaskan tangan, spontan melepaskan cengkraman, saat Mawar menggigit tangannya dengan amat sangat kuat.
“Ayo, Mbok, kita pergi!” seru Mawar.
Wanita tua itu menggeleng, menatap takut pada Kris, tapi Mawar sudah menggenggam tas tadi dan menarik Mbok Ijah cepat.
“Mawar!” teriak Kris.
“Bodo amat!” balas Mawar.
Kris menggelengkan kepalanya melihat perlawanan wanita itu, segera menyusul. Begitu berhasil mengejar, Kris langsung menarik tas dari tangan Mawar, melemparnya cukup jauh. “Jangan macam-macam kamu!”
“Aku nggak macam-macam! Kamu nggak boleh semena-mena sama orang, ya! Kamu itu nggak punya hati main pecat-pecat dia! Kamu nggak tau apa, dia sayang banget ke kamu yang b******k ini? Ha?! Dia bahkan tadi minta ke aku supaya maafin kamu! Harusnya kamu bersyukur, dia sayang sama kamu! Nggak kayak keluarga kamu yang–”
Ucapan Mawar terhenti karena bibirnya dibungkam oleh bibir Kris. Dorongan tangannya di d**a Kris, dilawan dengan pelukan di pinggang wanita itu. Saat Mawar menggerakkan kepala, Kris membuka mulut, mengulum bibirnya.
Semakin Mawar meronta, semakin Kris mengerahkan tenaga untuk melemahkan perlawanan wanitanya itu.
“Aduh!” Kembali Kris diserang, kali ini dengan injakan kaki. “Kamu main curang!” tuduh Kris.
“Bodo!” balas Mawar dengan napas tersengal.
Melihat bibir Mawar yang membengkak, memerah, dan basah karena dirinya, Kris langsung terpesona, atau lebih tepatnya b*******h. Mata Mawar membesar, lalu pandangan wanita itu turun ke bawah, ke arah selangkangannya, yang membuat Kris tau kalau gairahnya terpancar jelas di wajahnya. Bukannya malu, Kris malah melangkah maju dengan senyum penuh makna. Tau bahwa istrinya yang mungkin baru makan sekali dalam seharian ini tidak akan pernah mampu mengalahkan tenaganya.
Bercinta di depan para asisten rumah tangga sepertinya layak untuk dicoba. Kris tidak keberatan. Agar Mawar tau, bahwa kini emosi dan gairah Kris sudah tidak lagi memiliki kendali sejak wanita itu sibuk berkata cerai dan pulang.
“Ja ... jangan maju kamu! Jangan ....” Meski mencoba mengancam, wajah Mawar malah menunjukkan ketakutan. Kris merasa sedikit bangga karena meski telah membencinya, Mawar masih merasa takut padanya.
“Kris, jangan maju!” teriak Mawar yang kini telah memegang pisau, yang diambilnya dari laci dapur.
“Kamu mau bunuh aku? Aku rela mati, loh, demi kamu,” bisik Kris, kali ini lebih memelankan langkahnya. Bukan karena takut, tetapi ingin memberikan tekanan lebih pada istrinya. Agar Mawar tidak lagi berani padanya-sedikit pun.
“Jangan maju! Jangan pikir aku nggak berani, ya!” teriak Mawar lagi, mengacung-acungkan pisau dengan tangan gemetar.
“Ayo, Sayang. Tusuk aja aku. Biar kita sama-sama menjadi pendosa.”
“Le ... lebih baik jadi pendosa, daripada jadi istri kamu ....” Kali ini suara Mawar sudah memelan.
Kris sudah tau, bahkan dia amat sangat tau, bahwa Mawar tidak akan pernah melukai satu makhluk pun di muka bumi ini. Entah bagaimana, meski tidak memperhatikan, tetapi dia sudah hapal banyak hal tentang Mawar. Bahkan berbagai ekspresi Mawar terekam jelas di kepalanya.
Merasa percaya diri tidak akan terluka sedikit pun, dan bahkan rela terluka jika itu bisa menghentikan langkah Mawar yang ingin pergi darinya, Kris tetap melangkah maju. Dengan gerakan cepat, dia kemudian menangkap tangan Mawar yang memegang pisau. Kembali menunjukkan kekuasaannya dengan memerangkap tubuh Mawar dengan tubuhnya. Kedua tangan Mawar sudah ia cengkram. Kris pun memajukan tubuhnya, membuat tubuh bagian atas Mawar mundur ke belakang-menjauh.
Kris merasa berterima kasih pada meja dapur yang posisinya hanya setengah badan, sehingga meski tubuh atas Mawar berjarak dengan tubuhnya, tubuh bawah mereka menempel lekat.
“Kita udah mulai sering main kasar, ya. Kalau kamu mau coba yang di depan orang begini, aku nggak masalah,” ucap Kris, sengaja menggoda istri cantiknya.
“Enggak! Siapa juga yang mau ....” Pandangan Mawar berputar, melirik asisten rumah tangga mereka. “Kamu jangan sinting! Di sini banyak orang!” geramnya dengan rahang terkatup.
“Kamu yang mulai, Sayang.”
Dan saat Mawar hendak membantah, Kris langsung kembali memagut bibir ranum Mawar dengan rakus. Melibatkan lidah juga tekanan pinggang untuk mendapatkan kenikmatan. Konsentrasinya untuk b******u terganggu dengan gerakan tangan Mawar yang ingin melepaskan diri, tapi ia berusaha fokus.
“Arrrkkkhhh! Sial!” teriaknya. Kali ini, ia tidak berkutik lagi. Sakitnya bukan main saat pisau menggaris di tangan kanannya, menyayat, membuatnya terluka.
Kris meringis kesakitan, memejamkan mata sebentar saat melihat darah mengalir dari tangannya. Saat membuka mata, ia langsung disambut dengan wajah kaget Mawar. Pisau sudah terjatuh ke lantai, dan mata wanita itu menatap kea rah tangan Kris.
“Aku ... aku nggak .... Aku nggak sengaja. Sumpah ... aku ....” Mawar menutup mulut dengan kedua tangannya, memandang Kris dengan raut takut.
“Do ... dokter. Tolong panggil dokter!!!” teriaknya pada para asisten rumah tangga.
“Jangan ada yang telepon!” Kris langsung melayangkan larangan.
“Loh, kok?”
“Kamu memang mau ini, kan? Nggak masalah. Biar aja.”
“Tapi tangan kamu luka! Di dekat nadi! Atau jangan-jangan nadi kamu ikut terpotong! Kalau kamu mati, gimana?! Ha?!”
“Bukannya kamu senang, ha? Kamu jadi janda?”
“Bukannya itu ....” Tubuh Mawar sudah meluruh ke lantai. Ia menangis. “Nanti aku dipenjara. Dibilang pembunuh. Padahal kan aku nggak sengaja.”