24

1006 Words
“Mawar? Sayang?” Mendengar panggilan yang dulu tidak pernah diucapkan, dan sekarang justru terdengar menjijikkan, Mawar membuka mata dan menegakkan tubuhnya. Tenaganya yang tadi hampir habis, kembali terisi. Rasa marah membuat Mawar mengabaikan rasa lelah di kaki, lemas di badan, dan denyutan di kepala. Dua pria b******k berkumpul. Hebat sekali. Yang satu, b******n pendatang baru, dan yang satu lagi, penjahat lama. “Mawar?! Kris, jangan berani-beraninya kamu membawa adikku!” Mendengar ucapan Awan itu, Mawar menoleh dengan pandangan sinis, lalu air matanya kembali menetes saat melihat wanita lain Awan masih ada di sana, tepat di belakang pria itu. Rasanya sakit sekali dikhianati suami, tapi lebih sakit lagi dikhianati keluarga sendiri. Orang yang Mawar kenal sejak Mawar masih bayi. Lelaki yang Mawar jadikan panutan. Bahkan, kalau bisa dibilang, semuanya Mawar lakukan demi keluarga. Beranggapan kalau mereka begitu mulia, hingga menjadi mainan Kris pun setimpal rasanya. Mawar mulai tidak paham dengan arti sebenarnya sebuah pernikahan. “Dia istriku!” jawab Kris dingin. Tangannya masih menggenggam tangan Mawar erat. “Calon mantan!” Merasa marah pada Awan, saat pria itu mendekat, Mawar malah beringsut ke belakang tubuh Kris seakan meminta perlindungan, meski yang sebenarnya terjadi adalah dia hanya sedang berusaha menunjukkan penolakannya pada Awan. “Mawar, kita pulang. Abang bisa jelasin ke kamu di rumah.” “Dia sama gue.” Kris bersuara, seakan tidak terbantahkan. “Mawar, ingat alasan kamu pergi. Jangan karena masalah kecil kamu malah kembali sama dia!” “Dia pulang sama gue!” Kali ini, suara Kris meninggi. Semua terjadi begitu cepat. Mawar yang tadinya berdiri di belakang tubuh Kris, kaget saat Kris melangkah maju dan keributan pun terjadi. Terlalu kaget untuk menerka siapa yang memulai, hingga kedua pria itu saling menyerang, dan berakhir dengan Awan yang terkapar tak lagi mampu melawan. “Kris, udah!” teriaknya histeris. Berusaha menghentikan pria itu dengan menarik lengannya. “Jangan pukulin Bang Awan, Kris!!!” “Sudah ... sudah ... dia sudah babak belur ....” Wanita yang bersama Awan tadi, sudah duduk si sebelah Awan, menangis, mencondongkan tubuh seakan ingin melindungi pria itu. “Bilang sama pacar lo itu, jangan sok ikut campur sama rumah tangga gue kalau ngurus rumah tangganya sendiri dia nggak becus!” Kris meludah ke samping, lalu membalikkan tubuh. Masih tidak bisa berpikir jernih, Mawar diam saja saat tubuhnya ditarik dan dituntun masuk ke dalam mobil. Saat mobil mulai melaju, Mawar menundukkan pandangannya. Jemarinya bertaut, bergerak gelisah sesuai dengan suasana hati Mawar. Harta Kris, meski dibagi-bagi dengan para wanitanya, masih akan tersisa. Masih cukup bagi Mawar seandainya ia memilih bertahan. Tetapi Awan, jika dia tergila-gila dengan wanita tadi, lalu melibatkan uang dalam hubungan mereka, apa yang akan tersisa untuk Friska dan anak-anaknya? Air mata Mawar kembali menetes. Merasa apa pun alasannya, Awan harusnya tidak melakukan itu. Berkhianat, bukankah memang membutuhkan alasan? Lalu, saat alasan itu tidak ada, maka seseorang yang berkhianat akan mencarinya, membuat-buat alasan dengan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dipermasalahkan sebelum orang ketiga itu ada. “Udah. Jangan dipikirin.” Kris mengacak rambut Mawar, menarik kepala Mawar, tetapi wanita itu segera menepisnya. “Nggak usah sok akrab, kamu!” ucapnya ketus. Kris tertawa pelan. “Kangen kamu, Sayang.” Kembali, pria itu menarik kepala Mawar, dan kembali pula ia mendapat tepisan. “Aku bilang nggak usah sok akrab, ya nggak usah! Jangan pikir karena aku kelahi sama Bang Awan aku jadi maafin kamu! Aku masih marah sama kamu! Aku benci! Benci!!!” Napas Mawar menderu setelah memproklamirkan isi hatinya dengan begitu menggebu. Dadanya naik turun dengan cepat. Posisi duduknya kini sudah menyamping kea rah Kris dengan mata memicing, menatap Kris sinis. “Aku cinta kamu.” Dan setelah mendapat jawaban sesantai itu, amarah Mawar pun tak lagi terbendung. Kemarahannya pada Kris dan Awan bersatu, dan ia lampiaskan dengan memukuli Kris membabi buta, sampai pria itu harus menghentikan mobilnya. Tidak menepis atau mengelak, Kris hanya mengangkat tangannya, agar semua pukulan mengenai tangan yang hanya tulang itu, yang setiap memukulnya malah membuat tangan Mawar terasa sakit. “Aku benci kamu, pokoknya!” ucap Mawar yang sudah lelah mengamuk. “Udahan? Nanti boleh kok dilanjut di kamar.” Mendengar kata 'kamar', Mawar merasa terganggu. Seakan itu menyiratkan sesuatu yang intim, dan hatinya langsung bereaksi marah atas denyutan yang terasa ditubuhnya. Entah dia adalah wanita bodoh, atau memang semua wanita selemah ini, nyatanya saat dia tidak lagi mengharapkan apa pun lagi dari pria ini, ada masa-masa di mana denyutan itu masih terasa baik di tubuh ataupun di hatinya. Yang memang langsung ia tepis sebelum orang lain menyadarinya, terutama Kris. “Aku lapar.” Mawar berkata dengan cepat. “Ha?” “Lapar! Aku lapar! Aku mau makan! Antar aku ke tempat makan!” Mawar yang berbicara sambil menatap ke luar jendela dengan dagu terangkat, melipat tangan di d**a, mempertegas sikap marahnya. “Makan apa? Mau makanan Jepang, vegetarian, steak, nasi–” “Nasi!” “Nasi apa? Nasi padang, nasi uduk, atau nasi apa?” Mawar menoleh lalu memasang wajah cemberut. “Kamu sengaja, ya, buat aku emosi? Nanya-nanya terus, kayak anak TK!” “Ya, aku kan nggak tau kamu maunya makan apa. Baru ketemu lagi kayak gini, aku nggak mau buat kamu lari lagi karena nggak suka sama makanannya.” “Mana mungkin begitu! Ngasal, kamu tuh!” “Makan di Sederhana?” “Enggak!” Kembali, Mawar melipat tangan di d**a, menatap ke luar jendela. “Nah, tuh, nggak mau. Jadi ke mana?” “Entah!” “Makan di hotel aja?” Mawar hanya menggelengkan kepala. Mungkin ia gila karena air matanya menetes bertepatan dengan sudut bibirnya yang terangkat ketika mendengar Kris menggeram frustasi. *** Meski memalukan, tapi Mawar memang tidak lagi perlu dipaksa untuk mengikuti Kris ke hotel tempat pria itu menginap. Setelah makan di salah satu restaurant dengan memesan banyak menu dan hanya menyicipi sedikit per menu itu, Mawar akhirnya kenyang dengan jenis kenyang yang tidak memuaskan. Merasa masih kurang, tapi perutnya tidak muat lagi. Bahkan, tadi, dia sempat ingin muntah. Kalau bukan karena gengsi akan ditertawakan Kris, dia akan berlari ke kamar mandi atau memuntahkan isi perutnya saat itu juga. Tapi gengsi memang penyelamat paling tinggi. Berkat gengsi, Mawar berhasil menahan perasaan mualnya. Dengan perut begah, tubuh lemas, dan suasana hati yang masih kacau, dia tidak lagi berniat melawan. Mungkin besok, atau besoknya lagi, atau besok-besoknya lagi. Sekarang Mawar hanya ingin tidur. Begitu masuk ke dalam kamar, pandangan Mawar langsung terfokus pada ranjang besar yang sudah pasti empuk. Dia tau mereka akan tidur seranjang, dan hanya akan buang-buang waktu dengan memaksa pria itu untuk tidur di tempat lain. Akhirnya, Mawar menebalkan muka, melangkah ke ranjang dan segera membaringkan badan. Tentu saja selimut sudah ia tarik, menutup sampai ke bagian d**a. “Nggak mandi dulu?” “Jangan brisik. Aku mau tidur!”   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD