23

1865 Words
“Kamu tidak bisa seperti ini!” bentak Kemmy, masih tidak bisa terima anaknya terpuruk karena seorang wanita, apalagi wanita itu gagal menjadi seorang istri. Kris yang sedari tadi memejamkan mata, melirik dengan pandangan kesal, lalu kembali memejamkan matanya. Meski di kantor, di kepalanya masih hanya diisi tentang berbagai pertanyaan tentang Mawar. Itulah kenapa dia tidak bekerja, melainkan menaikkan kakinya ke meja, mengatur posisi agar nyaman, dan memejamkan matanya untuk mengurangi kantuk tapi tidak sampai tertidur. Dia harus siaga, karena bisa saja sewaktu-waktu ada berita tentang keberadaan Mawar. Harusnya istrinya itu tidak bisa ke mana-mana. Kalau dia ke luar negeri, dia butuh paspor, dan paspornya ada di tangan Kris. Kris tidak habis pikir, kenapa untuk mencari wanita itu saja, anak buahnya tidak mampu. Sangat sulit baginya untuk percaya Mawar bisa hilang ditelan bumi. Wanitanya itu, tidak pandai bersiasat. Kecuali, telah terjadi sesuatu pada dirinya. Mata Kris membuka lebar, lalu segera bangkit dari duduknya. Segera menghampiri mamanya dengan pandangan menuduh. “Mami nggak ngelakuin sesuatu ke Mawar, kan?” tanyanya, merendahkan tubuh hingga posisinya sejajar dengan Kemmy yang duduk di kursi roda. “Gila kamu! Kamu sudah menuduh Mami!” “Aku nggak nuduh. Tapi ... kalau sampai itu benar, Mami pasti akan terima akibatnya. Stella, bawa Mami pulang.” Kris berdiri, kembali melangkah ke kursi kebesarannya. “Kris!” bentak Kemmy. Kris mengangkat tangannya tanpa membalik tubuh, memberi isyarat pada Kemmy untuk diam. “Bawa dia keluar, Stella, atau saya panggilkan petugas keamanan.” “Ba-baik, Pak.” “Keterlaluan kamu! Mami sumpahi kamu tidak akan pernah menemukan wanita itu! Apa hebatnya wanita mandul itu?!” Kris menghentikan langkahnya, membalik tubuhnya. “Stella, pastikan dia tidak pernah memasuki area kantor saya, atau kamu yang akan menerima akibatnya,” ucapnya dingin. “Kris!!!” Kemmy membentak lagi. “Satu ...” Kemmy terlihat begitu marah, tapi tak lagi mampu bersuara. “Dua, Stella.” “Baik, Pak, kami permisi dulu.” Wanita yang selalu menjadi pengantar Kemmy ke mana pun wanita tua itu hendak pergi, membawa Kemmy ke luar ruangan. Kris menghempaskan tubuhnya ke kursi, lalu memijit pelipisnya. Ini tidak akan berhasil. Semua tekanan ini, membuat kepalanya mau pecah. Ponsel Kris berdering. Melihat nama yang terpampang di layar, dia segera mengangkatnya. “Ya?” “Maaf, Pak, kami masih belum menemukan jejak Bu Mawar, tapi ada informasi penting mengenai Pak Awan.” “Apa itu?” “....” *** Sebagai wanita pengangguran dengan isi kantong yang terus menipis, akhirnya Mawar bersedia bergaul dengan orang baru meski masih merasa kurang nyaman. Dia adalah Prama. Pria yang Mawar anggap pria berisi kantong pas pasan ternyata punya jabatan di kantornya, meski tempatnya bekerja tidak terlalu besar. Setidaknya, Prama mampu memberikan pekerjaan pada Mawar, sebagai asisten. Justru karena tempat Prama bekerja tidak terlalu besar, Mawar merasa lega. Merasa Kris tidak akan terpikir untuk mencarinya di tempat itu. “Udah? Yuk!” Prama menghampiri Mawar yang sedang mengobrol dengan pegawai lain. Meski bekerja sebagai asisten, tempat Mawar bekerja tidak satu ruangan dengan Prama. Dia ditempatkan di ruangan bersama, yang isinya bagian pembukuan dan bagian kepala penjualan. Saat Mawar bertanya alasannya, Prama berkata, mereka bertiga memang sama-sama sering berurusan dengan Prama yang seorang kepala cabang. Jadi, disatukan saja. Mawar mengangguk. Mengambil tasnya, dia segera menghampiri Prama yang berdiri di depan pintu. Hari ini dia akan mendampingi Prama ke salah satu supermarket yang pembayarannya macet. Mawar sebenarnya tidak ingin ikut, karena sudah bisa menerka adegan menagih pembayaran pasti melibatkan perdebatan. Tapi tidak mungkin dia menolak, karena ini bagian dari pekerjaan. Dia tidak ingin dipecat saat belum sebulan bekerja. Selain malu, dia juga sudah memasuki tahap butuh uang untuk bertahan hidup. “Nggak kenapa-napa, kan? Udah dibilang juga, santai aja,” ucap Prama, mengejek Mawar yang tanpa dikatakan pun sudah terlihat jelas kecemasannya dari wajah wanita itu yang menegang dan memucat. “Iya, sih, Pak.” ““Jangan panggil 'pak' kalau lagi di luar, panggil Prama aja.” Malas menanggapi, Mawar hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mungkin karena Kris membatasi pergaulannya, akhirnya Mawar terlalu risih dengan sikap akrab lawan jenis. Dulu, setiap pria yang dekat dengan Mawar akan dituduh menaruh hati. Jadi sekarang ini, Mawar merasa kalau Prama menyukainya. “Kita makan siang di mana?” “Ha?” Mawar langsung kaget. Merasa was-was kalau Prama mengajaknya makan, tapi bayar masing-masing. “Iya. Tugas kelar, dan sekarang udah jam makan siang. Kita makan di mana?” Dan senyuman terpaksa langsung tersungging di bibir Mawar. “Aku traktir.” Mendengar itu, senyuman Mawar melebar. “Di mana aja boleh,” jawabnya. Tangan Prama mendarat di kepala Mawar, mengacak rambut wanita itu, lalu ia tertawa pelan. “Yuk,” ucapnya, dengan tangan yang menggenggam tangan Mawar dan menariknya. Tidak di bagian pergelangan, lebih ke atas lagi, tapi tetap saja Mawar merasa aneh. Di dalam mobil, Mawar jadi lebih banyak diam. Pikirannya terus menuduh Prama benar-benar menyukainya dan sedang menggencarkan proses pdkt, dan merasa risih karena itu adalah hal yang tidak pantas. Sejak awal Mawar memperkenalkan diri sebagai seseorang yang telah menikah, dan sampai saat ini masih mengenakan cincin kawinnya sebagai alat proteksi diri dari pria pencari mangsa. Kalau setelah itu PRama masih mendekatinya, itu artinya Prama bukan pria baik-baik. ““Jangan panggil 'pak' kalau lagi di luar, panggil Prama aja.” Malas menanggapi, Mawar hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mungkin karena Kris membatasi pergaulannya, akhirnya Mawar terlalu risih dengan sikap akrab lawan jenis. Dulu, setiap pria yang dekat dengan Mawar akan dituduh menaruh hati. Jadi sekarang ini, Mawar merasa kalau Prama menyukainya. “Kita makan siang di mana?” “Ha?” Mawar langsung kaget. Merasa was-was kalau Prama mengajaknya makan, tapi bayar masing-masing. “Iya. Tugas kelar, dan sekarang udah jam makan siang. Kita makan di mana?” Dan senyuman terpaksa langsung tersungging di bibir Mawar. “Aku traktir.” Mendengar itu, senyuman Mawar melebar. “Di mana aja boleh,” jawabnya. Tangan Prama mendarat di kepala Mawar, mengacak rambut wanita itu, lalu ia tertawa pelan. “Yuk,” ucapnya, dengan tangan yang menggenggam tangan Mawar dan menariknya. Tidak di bagian pergelangan, lebih ke atas lagi, tapi tetap saja Mawar merasa aneh. Di dalam mobil, Mawar jadi lebih banyak diam. Pikirannya terus menuduh Prama benar-benar menyukainya dan sedang menggencarkan proses pdkt, dan merasa risih karena itu adalah hal yang tidak pantas. Sejak awal Mawar memperkenalkan diri sebagai seseorang yang telah menikah, dan sampai saat ini masih mengenakan cincin kawinnya sebagai alat proteksi diri dari pria pencari mangsa. Kalau setelah itu Prama masih mendekatinya, itu artinya Prama bukan pria baik-baik. Sama seperti Kris. Mengingat Kris, suasana hati Mawar langsung memburuk. Harusnya semua baik-baik saja, hingga pernikahan mereka tidak terancam seperti ini. Seandainya keposesifan Kris berbanding lurus dengan kesetiaan pria itu. Bukan sekali, tetapi berkali-kali, dan semakin hari Kris malah semakin bertindak sesuka hatinya. “Udah sampai. Duh, kamu ini, melamun aja.” Kembali, Prama mengacak rambut Mawar. Begitu pria itu selesai, Mawar langsung merapikan rambutnya. Dia tidak suka diperlakukan seperti itu, tetapi tidak berani melarang. Dengan wajah yang tidak mampu dipaksanya berubah menjadi ceria, dia keluar dari mobil dan ikut masuk ke dalam restaurant. “Saya ke toilet dulu ....” Mawar ingin mengucap kata 'Pak', tetapi karena teringat larangan Prama, dia menghentikan ucapannya, dan segera beranjak. Mawar sudah hampir sampai ke toilet, tetapi langkahnyaa segera terhenti saat melihat sosok yang dari punggungnya saja sudah dia ketahui siapa. Itu Awan. Segera, Mawar membalikkan badan, bersembunyi di lorong, berharap Awan segera beranjak. “Kamu lama banget,” ucap Awan yang suaranya masih terdengar agak jauh. “Maaf, Sayang. Habisnya mules.” Mawar mengerutkan kening. Itu bukan suara Friska. Itu suara wanita lain, tetapi ada kata sayang di dalam ucapannya. Jantung Mawar berdegup kencang. Dugaan kalau Awan bermain dengan wanita lain, terasa begitu kuat, membuat hatinya terasa seperti diremas. Sakit sekali, saat tahu pria yang selama ini dia banggakan, sama seperti suami yang dia tinggalkan. Selanjutnya, kata-kata manis yang mereka ucapkan sembari meninggalkan toilet, membuat Mawar merosot sambil menangis. Semua lelaki sama saja. Awan membelanya, bukan karena Awan lebih baik dari Kris, tetapi karena Mawar adalah adik pria itu. Nyatanya sama saja. Awan pun mendua. Ingin melabrak, Mawar tidak mau. Dia tidak ingin dipaksa kembali ke rumah itu. Terbayang wajah kakak ipar yang pasti akan kecewa saat tau suami yang dia banggakan ternyata sama buruknya dengan p****************g di luar sana. Atau, ucapan Friska waktu itu yang seperti memaklumi perbuatan Kris padanya, adalah karena wanita itu sudah tau seperti apa sebenarnya suaminya? Mawar ingin mengadu pada seseorang yang tidak mungkin pada Prama. Dia orang asing. Menghapus air matanya, Mawar segera ke toilet. Tidak lagi untuk buang air kecil, melainkan membasuh wajahnya. Saat melihat pantulan wajahnya di cermin, tangis Mawar kembali lagi. Dia malah melihat bayang-bayang wajah Friska. Wanita itu, kakak iparnya itu, bukan hanya seorang istri, tetapi juga seorang ibu. Dengan status ganda itu, dia telah kehilangan cinta suaminya. Pasti sangat sakit sekali rasanya. Lebih sakit dari yang Mawar rasakan. Merasa tidak sanggup untuk terlihat baik-baik saja, setelah keluar dari toilet, Mawar memilih pulang meski harus berjalan kaki. Dia butuh waktu untuk sendiri, menikmati rasanya kecewa pada orang yang dia taruh kepercayaan begitu besar. Dia selalu membanggakan keluarganya dibanding keluarga Kris. Kalau begini, semua jadi buram, terlihat sama saja. Hatinya semakin sakit saat membayangkan, pemakluman yang mamanya berikan pada Kris adalah bagian dari pengalaman wanita itu yang pernah diperlakukan sama oleh sang suami, papa Mawar. Apa semua pria memang seperti itu? Sangat sulit untuk setia? Mawar terus berjalan, tidak peduli dengan rasa panas dari teriknya sinar matahari membakar kulitnya, dan perlahan berhasil membuatnya sakit kepala. Dia hanya ingin segera sampai ke tempat persembunyiannya, menangis sampai bosan. “Mawar!” Langkah Mawar terhenti saat mendengar suara Awan. Tidak, dia tidak mau bertemu dengan abangnya itu. Tidak sebelum dia tahu seberapa busuknya pria itu, tidak juga sekarang. Akhirnya, Mawar memilih berlari sekuat tenaga. Masuk ke dalam lorong yang belum pernah dia lewati. Berharap Awan tidak akan mampu mengejarnya. “Mawar! Jangan lari! Ini Abang!” teriak Awan. Mawar terus berlari. Merasa marah pada Awan yang tak kenal lelah mengejarnya. Saat dia sembunyi, Awan seperti sudah terkecoh, tidak lagi mengejarnya, tetapi saat Mawar keluar dari persembunyian, tidak berapa lama Awan kembali mendapatinya. Terus berlari, belum makan siang, membuat tenaga Mawar melemah. Dengan napas tersengal, tenggorokan kering, dan tubuh mulai kehabisan tenaga, Mawar masih berusaha untuk terus menghindar dari Awan. “Kenapa kamu lari terus? Kamu takut ketemu sama Kris? Abang akan melindungi kamu. Nggak usah takut, Sayang.” Sekarang, aku bukan Cuma takut sama Kris, tapi juga sama kamu, Bang, batin Mawar. Alih-alih berkata seperti itu, Mawar malah berkata, “Ngapain Abang urusin aku? Urus sana pacar Abang! Jangan sampai istri Abang lari kayak aku, dan Abang menyesal waktu semua udah terlanjur hancur!” Mata Awan membesar lalu wajahnya memucat. Mawar tertawa dalam hati karena itu artinya ucapannya telak. Adegan dia berlari seperti di film India, tidak sia-sia. Pria di depannya memang bersalah. Baik pada istri, pada anak-anaknya, juga pada Mawar yang ternyata selama ini telah tertipu mentah-mentah. “Ini ... kamu nggak ngerti, Sayang. Abang ....” “Jangan, Bang. Abang jangan deketin Mawar. Abang tau Mawar disakitin sama Kris, dan Abang marah banget sama Kris, jadi orang yang mati-matian bela Mawar. Tapi kenapa, Abang malah ngelakuin hal yang sama ke Kak Friska? Atau mungkin Abang sebenarnya sahabatan sama Kris?” “Mawar, Sayang, bukan gitu ....” “Nggak usah panggil-panggil sayang! Abang tadi manggil dia sayang juga! Aku ... mulai sekarang aku nggak mau lagi kenal sama Abang! Abang munafik! b******k! b******n! Mata keranjang! Tukang selingkuh!” “Mas ... ada apa?” Tangis Mawar menderas saat melihat wanita lain tadi sudah berdiri di belakang Awan. Bisa cepat menyusul, sepertinya ponsel Awan terhubung dengan ponsel wanita itu. Romantis sekali, ejek Mawar dalam hati. Mawar menggelengkan kepalanya, menatap Awan dengan pandangan tidak percaya, lalu dia membalikkan tubuh, siap berlari lagi. “Mawar!!!” Meski rasanya tubuhnya sudah tidak lagi mampu diajak berlari, tetapi saat mendengar suara Awan yang begitu menggebu untuk menangkapnya, Mawar memaksa diri berlari. “Awww!!!” teriaknya, saat tidak sengaja menabrak seseorang dan tubuhnya terjatuh. “Mawar!” Saat mendengar teriakan Awan lagi, Mawar segera berusaha bangun. Menerima dengan cepat uluran tangan pria di depannya untuk membantunya berdiri. Namun, saat dia kembali ingin berlari, tangan itu masih menggenggam tangannya. “Loh?” tanya Mawar heran. Segera pandangannya terpusat pada pria itu, dan seketika semua menggelap.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD