22.

1335 Words
Dia mendatangi rumah itu dan berakhir dengan ... menginap di rumah orang tua Mawar. Kris merasa miris karena saat di mana berusaha mengakrabkan diri pada keluarga istrinya adalah saat di mana kondisi pernikahannya sedang di ujung tanduk. Terbangun dengan kondisi yang sangat tidak menyenangkan-kepala sakit, perut perih, badan panas-Kris hanya bisa menggeram kesal. Harusnya ada Mawar, yang meski belum tentu mau merawat dirinya, setidaknya wanita itu mengeluarkan ocehan penuh kekesalaan yang meski mengganggu pendengaran, sekarang amat sangat ia rindukan. Sial! Entah berapa hari lagi dia harus terus memburu Mawar. Harusnya tidak lama lagi. Ya, harus tidak lebih lama lagi. *** “Lantas mau kamu apa? Aku menyerahkan adikku pada pria b******k itu?” “Enggak! Kan sudah kubilang, aku nggak mau ikut campur lagi! Aku ... aku akan pasrah dengan apa pun yang terjadi. Kalau pria itu memiskinkan kita, aku akan bekerja. Aku akan membantu kamu menafkahi anak-anak kita.” “Jangan berbicara seolah Mawar akan membawa kita pada kesusahan!” “Aku tidak bicara seperti itu!” “Tapi tadi kamu bilang begitu!” “Kamu yang menyimpulkan seperti itu karena kamu sangat menyayangi adikmu itu! Melebihi cintamu padaku! Melebihi rasa sayangmu pada anak-anak kita!” Mawar tertegun mendengar pertengkaran itu. Tadinya dia terbangun di tengah malam, merasa haus dan ingin minum sesuatu yang ber-rasa. Saat kembali dari dapur dengan gelas berisi s**u hangat, dia mendengar keributan dari kamar abangnya. Lagi, dan mungkin akan selalu, pernikahannya berimbas pada kehidupan anggota keluarganya yang lain. Sudah menjadi hal yang wajib bagi Kris untuk mengganggu kehidupan keluarga Mawar jika ia berani pergi dari sisi pria itu. Egois. Benar-benar egosi. 'Mereka tidak akan terlibat, jika mereka tidak membantu aku pergi.' Mawar meyakini hal itu, dan dengan segera ia masuk ke kamarnya. Dia harus pergi, agar abang dan kakak iparnya tidak menjadi tersangka di depan Kris sebagai orang yang menyembunyikan dirinya. Dia harus pergi agar tidak ada satu orang pun dikaitkan dengan proses kaburnya. Dia harus pergi agar Kris tidak menemukannya, karena sebenarnya, rumah Awan sangat mudah untuk dicari. Meski Mawar sedikit heran, kenapa sampai saat ini, Kris tidak mendatangi rumah Awan. 'Atau mungkin dia memang sudah tidak mencariku lagi? Kalau iya, baguslah. Tapi bisa dia malah sedang menyusun rencana agar bisa menangkap aku dengan mudah.' Dengar gerakan cepat, Mawar mengemas barang-barangnya. Saat ter-aman di rumah ini untuk beranjak adalah subuh menjelang pagi. Di jam itu, Friska akan sibuk memasak, Awan akan siap-siap hendak ke kantor, anak-anak akan sibuk untuk siap-siap pergi ke sekolah. Pintu terbuka, mereka tidak akan curiga, menganggap salah satu anggota keluarga mencari angin. Pagar rumah Awan juga mudah dibuka karena tidak dijaga satpam-tidak seperti di rumah Kris-dan kuncinya disimpan di laci ruang tamu. Maka sesuai pemrkiraan, Mawar sudah berhasil ke luar dari rumah abangnya. Proses kaburnya kali ini lebih matang karena ia membawa pakaian-milik Friska-dan uang yang dia dapatkan dari Awan kemarin. Abangnya itu berkata, Mawar memang perlu memegang uang, berjaga-jaga kalau suatu saat nanti situasi jadi mendesak dan mereka terpisah secara tiba-tiba. Tidak ada tujuan, Mawar hanya terus melangkah sambil mengawasi sekitarnya dengan waspada. Jaga-jaga kalau nantinya ada yang berniat menangkapnya. Dan untungnya, sampai ia akhirnya sampai di sebuah hotel bintang tiga, semua aman terkendali. Ternyata, semudah itu. *** “Sial!” maki Kris penuh emosi. Harusnya hari ini Mawar sudah ia temukan, tetapi sialnya, Mawar entah pergi ke mana. Informasi yang didapatkan terlalu lambat, hingga membuat semua sia-sia. “Jadi ... kita sekarang ... mau ke mana, Pak?” tanya supir Kris takut-takut. Kris membuang pandangannya ke luar jendela mobil, menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak. Hidupnya terasa kosong. Dia bahkan belum sadar kalau pengaruh Mawar sudah sekuat ini pada dirinya. Membuatnya terbiasa, hingga tanpa wanita itu, dia kehilangan gairahnya, akan segala hal. Padahal dia sudah bersedia melawan keluarganya. Berkeras bahwa setelah semua yang terjadi, niatannya untuk mengasuh anak Nita dia urungkan. Kehadiran anak di matanya tidak lebih seperti pelengkap, penerus, sesuatu yang harus ada karena semua orang memilikinya, sedang Mawar adalah seseorang yang dia inginkan. Jelas terdapat perbedaan yang begitu besar karena meski butuh penerus, dia lebih butuh wanita yang menjadi temannya dalam segala hal, terutama saat malam hari. Memangnya seorang anak bisa dia ajak melepas penat? Tidak. Yang ada dia harus bertambah jengkel karena sikap rewel anak itu. Dia tidak terbiasa dengan hal-hal yang sentimentil berkaitan dengan hubungan antar anggota keluarga. Dengan adik-adiknya, serta orang tuanya pun, dia tidak pernah dekat. Mawar harus membayar semua ini dengan mahal. Setelah wanita itu kembali ke pelukannya, kembali melunak padanya, dan berhenti meminta perpisahan, Kris akan membuat Mawar membayar semuanya. Entah dengan cara apa, yang pasti wanita itu harus meminta ampun dan tidak akan pernah lagi berpikir untuk pergi. “Eum ... Pak?” “Jalan saja! Cerewet sekali, kamu! Orang sedang sakit kepala, kamu buat tambah sakit kepala!” Kris tidak mempedulikan apa pun lagi. Dia kembali memandang ke samping, ke arah pinggiran jalan yang mereka lalui. Masih sibuk berpikir, mengapa semua jadi seperti ini, dan bagaimana caranya agar Mawar luluh kembali. Ponsel Kris berdering dengan nada yang berbeda, membuatnya langsung mengeluarkan ponsel itu dan mengangkat panggila, sembari berharap ada berita bagus dari sang mama mertua. “Ya, Ma?” tanyanya cepat. “Sudah ketemu?” Pertanyaan itu membuat Kris mencelos. Itu artinya, belum ada berita. Harusnya egonya tidak setinggi gunung, hingga bersedia diajak program bayi tabung. Memiliki anak memang tidak pernah masuk dalam prioritasnya. Tanpa disangka, Nita malah hamil olehnya, dan semua jadi seperti sekarang ini. Dulunya dia pikir tidak akan apa-apa. Hanya perlu menjalani saja, karena Mawar tidak akan pernah pergi meninggalkannya meski dia bermain wanita. Memang itulah yang terjadi belakangan. Tapi ternyata, diam-diam, wanita itu sudah mengatur langkah menjauh. Sialan! *** Berada di pelarian dengan semua serba beli, membuat uang Mawar cepat menipis. Hanya tinggal dua juta sedang gambaran untuk kehidupannya dalam pelarian masih belum jelas. Harusnya ia bekerja, tetapi berkas pentingnya ada di tangan Kris. Hanya ada KTP, dan jelas itu tidak bisa membuatnya mendapat pekerjaan layak. Sepertinya dia harus pindah ke luar kota agar lebih aman dan nyaman untuk memulai hidup baru. Di desa, mungkin. Seandainya dia memegang ponsel, ingin rasanya Mawar mencari tahu informasi mengenai lowongan kerja di luar daerah. “Hei, kamu ... yang waktu itu, 'kan?!” Seruan suara pria yang sepertinya ditujukan untuknya, membuat Mawar menoleh. Keningnya berkerut, kaget karena ternyata pria itu adalah pria tampan m***m yang menawarinya tumpangan kemarin. Mungkin tidak m***m, hanya iseng. Wajahnya terlihat seperti wajah orang baik-baik. Tidak seperti wajah Kris yang ... Mawar menggelengkan kepalanya saat tanpa sadar ia malah membandingkan pria ini dengan si b******k itu. Dari tampilannya pria ini sederhana, baik wajah, kelakuan, maupun isi kantong. Membuang napas lelah, Mawar memberingsutkan tubuhnya. Kris mengajarkannya menjadi wanita mata duitan, dan sangat sulit menghilangkan kebiasaan itu. “Lah, malam melamun! Kenalin, aku Prama. Kamu?” “Kamu kok ada di sini? Ngapain?” Pria yang mengaku bernama Prama itu tertawa pelan. “Ini kan rumah makan. Wajar dong, aku di sini?” Seperti tersadar akan kebodohan pertanyaannya, Mawar langsung tersenyum lebar. Sangat lebar. “Ya udah, silakan makan.” Mawar menggerakkan tangannya, mempersilakan pria itu ke meja lain. “Lah, sedari tadi aku ngomong, kamu ngeh nggak sih, kalau aku ngajak kenalan?” Mawar melongo. Usianya sudah tidak lagi muda, dan dia sudah menikah. Memangnya pria ini tidak bisa menerkanya? Apa karena Mawar pernah berjalan sendirian saat subuh? Melirik jemarinya, Mawar tersenyum dengan cincin yang masih tersemat di sana. Mengakui statusnya bukan berarti bangga, hanya untuk perlindungan diri karena sejujurnya dia tidak nyaman didekati dengan cara ini. Lebih tepatnya, dia masih belum mau terlibat dengan pria lain, dengan jenis hubungan apa pun. “Aku udah nikah.” Mawar melebarkan jemarinya dan memamerkannya pada Prama. “Aku ngajak kamu kenalan, bukan menikah.” Pria itu tergelak lepas, yang membuat kening Mawar berkerut karena merasa tidak ada yang lucu. “Atau kamu itu sejenis perempuan yang dikekang sama tradisi lama? Yang kalau udah nikah nggak boleh kenal siapa-siapa? Aku Cuma ngajak kenalan karena ya ... selain kamu memang cantik dan awalnya berniat pdkt ... aku merasa ada takdir di pertemuan kita yang berulang kali.” “Baru dua kali!” sanggah Mawar cepat. “Terserah, deh. Sekali lagi, aku Prama. Dan kamu ... “ Prima sengaja menggantung ucapannya dan mengarahkan telinganya mendekat ke Mawar, seolah menunggu jawaban. “Mawar. Namaku Mawar.” Akhirnya, meski terpaksa, Mawar berkenalan juga dengan pria itu. Pria yang sepertinya bermuka tembok karena setelah berkenalan, dia malah duduk dan makan di tempat Mawar duduk. Harusnya Mawar beranjak. Ia sudah selesai makan. Tapi karena merasa gengsi, tidak ingin pria ini memiliki alasan mengejeknya yang kedua kali, Mawar akhirnya bertahan di sana, dan mulai nyaman bercakap-cakap dengan pria itu.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD