Harusnya Mawar sudah pergi, meski dia belum punya rencana hendak ke mana. Namun, larangan Awan menahannya. Abangnya itu berkata bahwa tidak ada yang lebih mampu melindungi Mawar saat ini selain dirinya. Masalahnya, Mawar tidak buta. Dia tau kehadirannya di rumah itu hanya mendatangkan masalah untuk abang dan kakak iparnya. Mereka jadi saling memasang wajah masam, dan saat malam, Mawar bisa mendengar suara pertengkaran mereka dari dalam kamar.
Kris b******k. Semua ini karena pria itu, yang selalu saja menekan orang lain dengan segala cara kalau keinginannya tidak dituruti. Selalu seperti itu. Mawar ingin sekali menghubungi orang tuanya, tetapi kata Awan, mamanya telah bersekongkol dengan Kris.
Mawar tidak mengerti. Seingatnya sang mama sudah pernah menyuruhnya bercerai, lantas mengapa sekarang malah menjadi pihak yang memberi Kris kesempatan? Memangnya wanita itu tidak tau kalau Kris itu srigala berbulu domba kalau sedang ada maunya? Mawar saja sudah tertipu berkali-kali.
Karena sibuk berpikir, Mawar terjaga sampai pagi. Tidak di ranjang, melainkan di sofa. Merasa tidak nyaman dengan semua yang terjadi dan ingin segera menyambut pagi agar ia bisa mengejar kepastian langkahnya.
“Bang, Mawar ... pergi aja, ya?” bujuknya lagi pada Awan yang sudah duduk di meja makan, hendak sarapan. Matanya melirik sebentar ke arah Friska, merasa sungkan karena wanita itu langsung mematung, mungkin takut terkena amukan Awan.
“Sarapan dulu.” Hanya itu jawaban yang Awan berikan. Raut wajahnya jelas menunjukkan keengganannya menanggapi.
“Tapi, Bang ....”
“Mawar, kalau kamu masih menganggap Abang ini abang kamu, maka dengarkan. Duduk, sarapan, lalu tunggu sebentar. Kita pasti dapat jalan keluar. Kamu pergi, kalau tertangkap, bagaimana? Pria itu gila! Dia bahkan sudah melaporkan pada polisi tentang kepergian kamu, sebagai laporan orang hilang. Belum lagi rumah Mama yang dipasangnya banyak orang untuk mengawasi. Ini nggak main-main. Dia ini–”
“Justru itu, Bang ....” Mawar duduk di sebelah Awan, menatap sang abang dengan pandangan memelas. “Aku nggak mau merepotkan Abang sama Kak Friska. Kalian ada Bayu dan Tania. Kasihan anak-anak, Bang.”
Awan menggelengkan kepalanya. “Kalau dia membuat kekacauan, harusnya dia yang merasa bersalah. Bukan kamu. Bagaimanapun juga, kamu adik Abang. Apa yang dia lakukan sudah keterlaluan. Sudah mencoreng wajah kita sejak dulu, sejak dia menunjukkan tabiatnya yang suka main perempuan. Abang sudah jelas menentang pernikahan kalian sejak awal!”
Mawar hanya bisa menundukkan kepalanya. Memang benar, ia sudah berulang kali diperingatkan. Salahnya yang terlalu bergantung pada Kris dengan segala fasilitasnya, serta semua janji manis pria itu. Merasa salah, ia tak lagi berani membantah. Membenarkan posisi duduknya, mulai mengisi piringnya. Berdoa dalam hati semoga di antara semua tempat di dunia ini, rumah Awan adalah tempat terakhir yang Kris curigai sebagai tempat persembunyiannya.
·
***
Saat Awan bekerja, Mawar hanya bisa duduk dengan perasaan gelisah di ruang tamu. Sesekali matanya terarah ke pintu dan jendela, takut kalau sewaktu-waktu kedatangan tamu yang tidak ia harapkan.
“Kamu ke kamar aja. Kamu tenang aja, di sini aman kok.”
Menoleh, Mawar mendapati sang kakak ipar menatapnya dengan wajah lesu. Ada guratan kesedihan yang begitu kentara. Wanita itu pasti sangat tertekan karena masalah ini. Masalahnya-lebih tepatnya.
“Nggak papa kok, Kak. Aku di sini aja. Di kamar aku malah nggak tenang.”
“Kalau Kris memang sebegitunya ingin kamu kembali, apa tidak terpikir oleh kamu kalau dia ternyata sangat mencintai kamu?”
Mawar terdiam, menatap Friska dengan pandangan bingung lalu mengembuskan napas lelah. “Mana ada orang yang cinta, tapi selingkuh,” jawabnya.
Friska tertawa pelan. “Tidak semua orang punya konsep tentang cinta sedari awal. Ada banyak orang yang tidak sadar, sehingga melakukan berbagai kesalahan, menyakiti seseorang yang sebenarnya ia cintai, dan saat kesadaran itu datang, orang yang ia cintai sudah sangat tersakiti.”
“Kakak membela Kris?” Mawar memicingkan matanya menyelidik.
“Kakak sedang membela diri Kakak sendiri.” Friska kembali menarik napas panjang, lalu berkata, “Sebenarnya, Kakak tidak sebaik apa yang selama ini kalian anggap. Awan selalu melindungi Kakak. Menutupi kesalahan Kakak. Sebenarnya ... Kakak tidak lebih dari wanita yang hanya memanfaatkan Awan untuk ....” Friska tidak melanjutkan kata-katanya, malah menghapus air matanya yang baru menetes.
Mawar terperangah, tentu saja. Kakak iparnya ini ternyata sama saja dengan dirinya, memilih pasangan hidup karena materinya. Tapi ... kalau memang benar Friska seperti itu, kenapa dia tidak mencari yang sekaya Kris?
“Abang kamu baik sekali. Sangat baik. Dan dia memberikan semua yang Kakak butuhkan. Keamanan, kenyamanan, perlindungan, dan ... uang. Dia tau, tapi dia tidak marah. Dan ... memang kami sedikit berbeda pendapat masalah hubungan kamu dan Kris.” Kembali, Friska menghapus air matanya. “Tentu saja dia ingin kamu bahagia ... Dan aku pun sama. Hanya saja, aku berpikir, mungkin dengan picik, memangnya siapa lagi selain Kris yang mampu menjadi semua kamu?”
“Ya udah, Kakak aja sama Kris.”
“Mana mungkin dia mau sama Kakak.”
“Maulah. Kakak kan cantik.”
“Maksud kamu, mau untuk menghabiskan satu malam? Itu tidak ada artinya. Semua wanita mungkin bisa menjadi kekasih satu malam seorang pria, tapi tidak menjadi istri mereka.”
Merasa kesal dengan ucapan Friska yang katanya di pihak Mawar, tetapi seolah sedari tadi memuji Kris, Mawar pun menghentikan bantahannya. Dia menimbang-nimbang untuk berpindah lokasi, ke kamar mungkin, karena enggan mendengarkan ocehan Friska lagi.
“Eum ... aku ke kamar.” Mawar akhirnya beranjak, meninggalkan Friska seorang diri.
####
Wanita itu mengerti dirinya. Kris percaya itu. Mama Mawar tau kalau ia benar-benar telah berubah. Itu yang membuat dia diberi kesempatan untuk merebut hati Mawar dan juga diterima sebagai tamu saat hendak bertanya keberadaan Mawar.
Dan malam ini, dalam kondisi tidak mampu berpikir karena pengaruh alkohol, Kris merasa wanita itu harus melihat ketidak berdayaannya. Dia mendatangi rumah itu lagi, dan berakhir dengan ….