Dibalik Tatapan Itu, Ada Luka

1366 Words
Hening. Itulah yang pertama kali menyelimuti suasana begitu Aleyna melangkah masuk ke ruang kerja Rafael. Tatapannya tajam, penuh kekecewaan, sedangkan Rafael berdiri membelakangi jendela besar, dengan siluet tubuhnya yang kokoh disinari remang cahaya senja. “Aku ingin penjelasan,” ucap Aleyna tegas, memecah keheningan. Rafael tak langsung menjawab. Bahunya menegang, rahangnya mengeras. Beberapa detik kemudian, ia berbalik perlahan. Tatapan matanya dalam, seperti menyembunyikan badai yang tak pernah reda. “Apa yang kamu dengar?” tanyanya datar. Aleyna maju beberapa langkah. “Cukup untuk tahu bahwa aku hanya pion dalam permainan ini. Tentang perjanjian antara ayahku danmu. Tentang… pernikahan ini yang bukan karena cinta.” Rafael menatapnya lekat-lekat. “Kamu pikir aku menganggapmu pion, Aleyna?” “Aku tak berpikir. Aku tahu.” Suaranya bergetar, tapi sorot matanya tetap teguh. Sesaat, Rafael hanya terdiam. Lalu, ia berjalan mendekat, langkahnya mantap tapi hati-hati. “Kau tak tahu semuanya,” gumamnya. “Lalu katakan. Katakan semuanya!” suara Aleyna meninggi. Matanya mulai basah, tapi ia menolak membiarkan air mata jatuh. Rafael menghela napas panjang. “Ayahmu terlilit hutang pada kartel yang bahkan lebih kejam dari apa pun yang bisa kamu bayangkan. Ia datang padaku… memohon perlindungan untuk keluarganya. Aku—aku tidak pernah berniat mencampurkanmu dalam ini. Tapi kemudian, ketika aku tahu kamu adalah putrinya… aku berubah pikiran.” Aleyna menatapnya penuh luka. “Berubah pikiran untuk menyelamatkanku? Atau memanfaatkanku?” “Awalnya, mungkin keduanya,” Rafael mengaku jujur. “Tapi sekarang… semuanya sudah berubah.” “Terlambat, Rafael.” Air mata Aleyna akhirnya jatuh. “Aku tak tahu harus percaya siapa lagi.” Rafael mendekat dan menggenggam kedua tangannya. “Percayalah padaku. Aku memang monster, tapi tidak padamu. Kamu satu-satunya yang membuatku ingin jadi manusia.” Aleyna ingin melepaskan diri, tapi genggaman Rafael terlalu hangat… terlalu tulus. Ia benci kenyataan bahwa hatinya masih berdebar saat lelaki itu menyentuhnya. Tiba-tiba, pintu ruang kerja itu terbuka dengan kasar. Matteo—tangan kanan Rafael—masuk dengan wajah panik. “Bos! Kita diserang. Markas cadangan kita di sisi timur meledak. Ada pengkhianat di antara kita!” Rafael langsung melepaskan Aleyna dan berubah menjadi sosok pemimpin mafia yang dingin dan kejam. “Siapkan pasukan. Jangan tinggalkan satu jejak pun,” perintahnya. Sebelum keluar, Rafael menatap Aleyna sekali lagi. “Kamu tetap di sini. Ini terlalu berbahaya.” Tapi Aleyna menggenggam lengannya. “Kalau kamu pikir aku akan diam saja… kamu salah besar.” Rafael tak sempat membalas. Dunia mereka kembali ditelan perang, dan cinta yang rumit itu harus bertahan di antara darah dan api. --- Langit malam telah menggulung matahari tanpa ampun. Lampu-lampu di villa Rafael berubah menjadi merah darurat. Suara dering ponsel, langkah kaki pasukan, dan komunikasi radio bersahutan menciptakan suasana siap siaga. Rafael menyambar pistolnya dari laci rahasia di meja. “Matteo, jaga perimeter. Pastikan Aleyna tetap aman,” ujarnya sambil mengenakan mantel hitam panjang. “Tunggu!” Aleyna menahan lengannya. “Aku ikut. Aku bisa jaga diriku sendiri.” Matteo melirik Rafael, meminta keputusan. Wajah Rafael mengeras. “Ini bukan tentang kepercayaan, Aleyna. Ini tentang nyawamu.” Aleyna melangkah maju, menantang tatapannya. “Kalau kamu tidak akan jujur sepenuhnya, maka aku akan cari jawabannya sendiri. Aku sudah lelah jadi penonton dalam hidupku sendiri.” Rafael memandangi perempuan itu… perempuan yang seharusnya menjadi pion, tapi kini berubah menjadi ancaman bagi semua rencananya—karena hatinya mulai terlalu dalam untuk bisa mundur. “Baik,” katanya pelan. “Tapi kamu tetap di sisi Matteo. Satu langkah saja kamu terluka, aku akan membunuh siapa pun yang membuatmu menangis.” --- Mereka sampai di markas cadangan yang tinggal puing-puing terbakar. Bau mesiu, daging gosong, dan suara ratapan terdengar dari sisa-sisa pertarungan. Para pria Rafael sibuk memadamkan api, mengevakuasi yang selamat, dan mencari tanda-tanda pengkhianatan. “Siapa yang kamu curigai?” tanya Aleyna, berdiri di antara puing dengan napas memburu. Matteo mengangguk ke Rafael. “Kemungkinan besar... salah satu dari orang dalam. Dan aku punya nama.” “Siapa?” Rafael menatap tajam. “Carlos,” jawab Matteo. “Dia menghilang sejak satu jam sebelum ledakan. Dan catatan komunikasi menunjukkan dia mengirim sinyal ke wilayah yang dikuasai keluarga Soriano.” Mata Rafael menyala merah. “Keluarga Soriano…” gumamnya geram. “Mereka mulai menyentuh milikku.” Aleyna memperhatikan perubahan ekspresi Rafael. Ada sesuatu dalam nama "Soriano" yang menyimpan luka lama. Luka yang belum sembuh. Luka yang mungkin berhubungan dengan alasan kenapa Rafael bisa sekejam ini. “Mereka… siapa keluarga Soriano sebenarnya?” tanya Aleyna pelan. Rafael menoleh padanya, tajam dan penuh keraguan. Tapi akhirnya ia menjawab, “Mereka adalah masa laluku. Dan mungkin… masa depan kematianku.” Sebelum Aleyna bisa bertanya lebih jauh, terdengar suara tembakan dari arah selatan. Rafael langsung menarik Aleyna ke pelukannya, melindunginya dari serpihan kaca yang pecah saat peluru menembus jendela bangunan tua di sebelah. “Bawa dia keluar!” teriak Rafael pada Matteo. Namun Aleyna menolak dipisahkan. “Aku nggak akan pergi!” suaranya melengking, tangannya mencengkeram lengan Rafael. “Jangan suruh aku lari saat kamu memilih tinggal dan terluka!” Rafael membeku. Tak ada yang pernah berkata seperti itu padanya. Tak ada yang pernah memilih bertahan di tengah neraka hanya untuk bersamanya. Tatapannya melembut, lalu ia menyentuh wajah Aleyna. “Kalau kita tidak selamat malam ini… setidaknya kamu tahu satu hal.” “Apa?” “Aku mencintaimu. Dan bukan karena perjanjian, bukan karena kekuasaan—tapi karena kamu membuatku ingin hidup.” Dentuman granat membelah malam. Dan di antara runtuhan itu, cinta dan kekuasaan saling bertarung untuk menang. --- Suara granat yang meledak mengguncang tanah di bawah kaki mereka. Asap hitam membumbung tinggi, menggulung malam dengan ancaman kematian yang nyata. Matteo bergerak cepat, menarik Aleyna dan Rafael ke belakang dinding batu yang kokoh. “Ini jebakan!” teriak Matteo. “Mereka sengaja membuat kita datang ke sini!” Rafael mendengus marah. “Sial. Soriano memang licik.” Suara tembakan semakin dekat. Pasukan musuh menyergap dari sisi kanan dan kiri, lengkap dengan perlengkapan tempur. Mereka bukan sekadar gangster biasa. Mereka terlatih, seperti pasukan bayaran elit. “Aleyna, tetap di belakangku!” Rafael mengangkat senjatanya dan mulai membalas tembakan, gerakannya cepat dan terlatih. Ia bergerak seperti bayangan, mematikan dalam setiap langkahnya. Aleyna ingin membantu, tapi Matteo menahannya. “Percayakan ini pada kami. Kalau kamu terluka, Rafael bisa gila.” Sementara itu, Rafael terus melindungi mereka, satu per satu menjatuhkan musuh. Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Salah satu anak buah Rafael jatuh tak jauh dari Aleyna, darahnya mengalir deras. “Rafael!” teriak Aleyna, panik. “Kita harus keluar sekarang!” Rafael menoleh, peluh membasahi dahinya, darah musuh menodai bajunya. “Aku tahu jalan rahasia. Ikuti aku!” Mereka bertiga menyelinap ke lorong sempit di sisi belakang reruntuhan markas. Di balik dinding tua yang hampir roboh, Rafael membuka pintu besi tersembunyi yang mengarah ke terowongan bawah tanah. “Soriano pasti tidak tahu tempat ini,” katanya sambil menarik Aleyna masuk lebih dulu. Di dalam terowongan gelap, hanya cahaya kecil dari senter genggam yang menerangi jalan. Langkah mereka tergesa, tapi hati Aleyna tetap tak tenang. “Rafael…” bisiknya, “Tadi kamu bilang kamu mencintaiku. Itu bohong atau…?” Rafael berhenti. Ia menoleh pelan, menatapnya dengan mata yang tak lagi keras seperti biasa. “Tidak ada yang lebih benar dari itu,” ucapnya pelan. “Aku mencintaimu, Aleyna. Dan cinta ini... akan menjadi kelemahanku, tapi juga kekuatanku.” Aleyna menatapnya lama. Meski dunia mereka gelap dan dipenuhi bahaya, hatinya terasa hangat untuk pertama kalinya. Tapi kebersamaan itu tak bertahan lama. Dari arah terowongan, suara sepatu berat menggema. Mereka belum aman. “Kita harus terus jalan,” kata Rafael tajam. “Tapi dengar ini, Aleyna. Apa pun yang terjadi nanti—kalau aku harus mati untuk melindungimu, aku akan lakukan itu tanpa ragu.” Aleyna menggenggam tangan Rafael erat, matanya penuh ketakutan dan keberanian. “Aku nggak mau kamu mati. Aku cuma mau kamu hidup… bersamaku.” Rafael tersenyum tipis. Senyum yang menyakitkan. Karena di dunia mereka, cinta adalah perang. Dan kebahagiaan adalah kemewahan yang jarang bertahan lama. Langkah mereka terus berlari dalam kegelapan, dikejar bayangan masa lalu dan musuh yang belum menyerah. Tapi satu hal pasti: Mereka kini bukan lagi hanya dua orang asing yang dipaksa bersatu oleh nasib. Mereka adalah dua jiwa yang memilih bertahan, bahkan saat dunia berusaha memisahkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD