Luka yang Belum Terlihat

1352 Words
Mobil melaju kencang di tengah malam Milan yang mencekam. Suara tembakan masih menggema di belakang mereka, meski samar mulai meredup. Aleyna memegang bahu Lorenzo yang berdarah. Tangannya bergetar, tapi ia menekan luka itu dengan sekuat tenaga. “Kita harus ke rumah sakit!” teriaknya. “Tidak!” Lorenzo menggeleng keras. “Kalau aku masuk rumah sakit, mereka bisa temukan aku. Aku... aku harus sembunyi. Bawa aku ke jalan Via Brera... ada tempat aman di sana.” Aleyna menatapnya dengan panik. Ia tak pernah menyangka akan terlibat sejauh ini. Tapi kini, ia tak bisa berhenti. Mobil berhenti mendadak di sebuah gang gelap di dekat kawasan tua. Aleyna membantu Lorenzo keluar dari mobil, melewati lorong sempit menuju pintu kecil yang nyaris tersembunyi di balik tumpukan tong sampah. Ia mengetuk tiga kali. Seorang wanita tua membukakan pintu. Tanpa bicara, dia langsung membimbing Lorenzo masuk. Aleyna berdiri di ambang pintu, bingung. “Masuklah. Kau sudah terlalu jauh untuk mundur,” kata wanita itu dengan mata tajam. Aleyna menurut. Begitu pintu tertutup, kehangatan tempat itu sedikit meredakan detak jantungnya yang kacau. Lorenzo ditidurkan di sofa tua, dan wanita itu segera mulai mengobati lukanya. Aleyna berdiri di sudut ruangan, pikirannya kalut. “Lorenzo,” bisiknya. “Kau belum selesai bicara. Rahasia apa yang disembunyikan Rafael?” Lorenzo menoleh lemah. “Rafael... bukan hanya pemimpin mafia. Dia... penjaga arsip hitam.” “Arsip hitam?” “Bukti. Semua kejahatan besar dalam jaringan mafia Eropa ada dalam arsip itu. Nama, lokasi, transaksi. Termasuk… siapa yang membunuh ayahnya sendiri demi merebut kekuasaan.” Aleyna ternganga. “Kau bilang... Rafael membunuh ayahnya?” Lorenzo mengangguk pelan. “Itu... yang dia sembunyikan. Semua orang percaya ayah Rafael tewas dibunuh oleh kelompok rival. Tapi sebenarnya... Rafael merancang segalanya. Demi kekuasaan, demi kendali atas semua keluarga mafia.” Aleyna merasa jantungnya diremas. Napasnya sesak. Suara Rafael di kepalanya berputar: “Aku tak akan biarkan kau terluka.” Namun kini, semuanya terasa... retak. Tiba-tiba, suara pintu dibuka keras membuat semua orang terlonjak. Rafael berdiri di sana. Wajahnya dingin. Tatapannya menusuk lurus ke arah Aleyna. “Aku sudah cukup diam,” ucapnya, suara rendah tapi menggetarkan. Aleyna mundur satu langkah. “Rafael… kau ikuti aku?” Rafael mendekat. “Kau pikir aku akan biarkan kau masuk ke sarang ular sendirian?” Ia menatap Lorenzo. “Dan kau... masih berani mengendus-endus urusanku?” “Aku hanya bicara kebenaran,” jawab Lorenzo lemah. Rafael mendekat, menodongkan pistol. Aleyna berdiri di depan Lorenzo, menghalangi. “Jangan!” teriaknya. “Kalau kau tembak dia… maka semuanya akan berakhir, Rafael!” Rafael diam. Senjatanya tak bergeming. “Tanya dirimu sendiri… siapa aku di matamu? Wanita yang kau lindungi, atau hanya alat untuk membungkam rahasia?” suara Aleyna mulai gemetar. Suasana menjadi sunyi. Terlalu sunyi. Lalu Rafael menurunkan pistolnya perlahan. “Kau pikir aku tidak tahu siapa yang kirim pesan itu padamu?” katanya pelan. “Aku biarkan kau pergi. Karena aku ingin lihat, apa kau percaya padaku... atau pada mereka.” Aleyna menatapnya, matanya berair. “Dan sekarang kau tahu jawabannya?” Rafael menghela napas, mendekat, lalu menyentuh wajah Aleyna dengan lembut. “Sekarang aku tahu... aku terlalu mencintaimu sampai tak bisa menahanmu dalam sangkar. Tapi jika kau ingin pergi... aku akan membiarkanmu pergi.” Aleyna menatap matanya lama. Dan di detik itu, ia tahu... Cinta ini bukan lagi sekadar perasaan. Tapi pertaruhan. Antara hati... dan kebenaran yang tak bisa dihindari. --- Aleyna mematung di tempat. Kata-kata Rafael mengguncang jiwanya, membuat napasnya tercekat. Ia ingin percaya... tapi rasa sakit di dadanya berkata lain. “Kau bilang akan membiarkanku pergi?” tanyanya pelan. Rafael mengangguk pelan. “Jika itu yang kau butuhkan untuk merasa aman.” Aleyna menelan ludah, menatap matanya dalam-dalam. “Tapi... bisakah aku benar-benar merasa aman, Rafael? Bahkan jika aku lari sejauh apa pun, bayang-bayangmu akan tetap mengikuti.” Lorenzo merintih pelan, mencoba bangkit, tapi Aleyna membantunya kembali bersandar. Wanita tua yang merawatnya memandangi Rafael dengan dingin. “Kau membuat semua orang sekarat dengan ambisimu, Rafael. Tapi satu hal yang tak bisa kau kendalikan adalah hati,” katanya dingin. Rafael menatap wanita itu tajam. “Aku tidak pernah ingin Aleyna terlibat sejauh ini.” “Tapi dia sudah terlibat,” jawab Aleyna lirih. “Dan sekarang aku tidak tahu siapa musuh, siapa kawan. Aku bahkan... ragu pada diriku sendiri.” Rafael berjalan perlahan mendekatinya, lalu menaruh tangannya di bahu Aleyna. “Lihat aku, Aleyna.” Ia menatapnya. Mata itu... penuh luka. Bukan hanya karena dendam masa lalu, tapi juga karena takut kehilangan. “Aku memang menyembunyikan banyak hal. Tapi aku tidak pernah memalsukan perasaanku padamu. Cinta ini... satu-satunya hal yang membuatku merasa hidup sebagai manusia.” Aleyna menggeleng pelan. “Tapi manusia macam apa yang membunuh ayahnya sendiri demi kekuasaan?” Tubuh Rafael menegang. Ia memejamkan mata, rahangnya mengeras. “Aku tidak membunuhnya,” ucapnya akhirnya, penuh tekanan. “Tapi aku memang membiarkannya mati.” Aleyna menutup mulutnya, kaget. Rafael melanjutkan. “Ayahku... adalah monster. Dia memperjualbelikan orang, mengkhianati semua yang pernah setia padanya. Aku tahu dia akan mati di tangan musuhnya... dan aku... aku tidak menghalanginya.” Aleyna terdiam, hatinya berkecamuk. “Aku tidak bangga, Aleyna. Tapi aku tidak menyesal. Karena jika aku tidak melakukannya, mungkin aku sekarang sudah mati. Dan tidak akan pernah bertemu denganmu.” Rafael menyentuh pipinya lembut. “Kau adalah satu-satunya cahaya dalam hidupku yang gelap ini.” Aleyna menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Di satu sisi, hatinya masih ingin percaya. Di sisi lain... luka terlalu dalam untuk sembuh begitu saja. Lorenzo bersuara pelan, “Kalau kau tetap memilih Rafael, maka siapkan dirimu. Dunia yang akan kau hadapi bukan hanya gelap... tapi penuh darah.” Aleyna berdiri tegak, pandangannya mantap. “Aku tidak takut pada kegelapan,” katanya. “Aku hanya takut kehilangan diriku sendiri di dalamnya.” Ia menoleh pada Rafael. “Kalau aku tetap bersamamu, aku ingin tahu segalanya. Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi kebohongan. Aku tidak ingin menjadi pion.” Rafael mengangguk. “Mulai sekarang, kau adalah ratuku. Dan kita akan hadapi semuanya bersama.” Malam itu, keputusan telah dibuat. Tapi di kejauhan... sepasang mata mengintai dari balik bayangan. Seseorang yang tidak senang dengan keputusan Aleyna. Seseorang yang siap menghancurkan Rafael... dengan cara paling menyakitkan. --- Langit malam menggantung kelam saat Rafael dan Aleyna akhirnya keluar dari tempat persembunyian Lorenzo. Angin dingin menampar wajah mereka, seakan mengingatkan bahwa dunia luar lebih kejam daripada ruang sempit yang mereka tinggalkan. Di dalam mobil, keheningan membungkus mereka. Rafael menggenggam kemudi erat, sementara Aleyna duduk di sampingnya, diam dengan tatapan kosong. “Apa kau menyesal?” Rafael bertanya tanpa menoleh. Aleyna tidak langsung menjawab. “Aku menyesal… karena membiarkan diriku jatuh terlalu dalam, sebelum tahu pasti di mana aku berdiri.” “Lalu sekarang?” Aleyna menoleh padanya. “Sekarang aku ingin berdiri di sampingmu… tapi dengan mata terbuka, Rafael. Aku tak mau jadi boneka dalam cerita siapa pun.” Rafael mengangguk pelan, tersenyum samar. “Kau lebih kuat dari yang kubayangkan.” Tiba-tiba ponsel Rafael bergetar. Ia melihat layarnya dan wajahnya langsung berubah serius. Ia menjawab cepat. “Ya?” Suaranya dalam dan penuh ketegangan saat ia mendengar kabar dari seberang. “…Apa? Kapan?” Aleyna menoleh dengan cemas. Rafael menutup telepon dan menginjak pedal gas lebih dalam. “Apa yang terjadi?” tanya Aleyna khawatir. “Gudang penyimpanan senjata kita di Napoli... meledak.” “Apa?!” Aleyna terkesiap. “Dan itu bukan kecelakaan,” ucap Rafael dingin. “Ini peringatan. Seseorang sedang bermain di balik bayang-bayang... dan mereka ingin kita tahu kalau permainan ini belum selesai.” Aleyna menggigit bibirnya. “Apa ini karena aku ikut campur?” Rafael menggeleng. “Bukan. Ini dimulai jauh sebelum kau datang. Tapi kau akan jadi alasan mereka untuk menyerang lebih kejam.” Mobil membelok tajam menuju villa. Rafael menatap lurus ke depan. Di wajahnya, tergambar dua hal: amarah... dan ketakutan. Bukan ketakutan akan musuh. Tapi takut kehilangan Aleyna—satu-satunya kelemahannya. Di balik layar, kamera tersembunyi merekam percakapan mereka. Dan di tempat lain, jauh dari sana, seorang pria bertudung gelap menatap layar dengan senyum sinis. “Waktunya menghancurkan De Luca… melalui hatinya,” gumamnya. Dan malam pun menutup tirainya… dengan ancaman baru yang lebih nyata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD