Sahira memejamkan mata menahan rasa sakit yang dirasakan di pergelangan tangannya, setitik demi titik darah keluar dari sayatan yang dilakukannya tadi. Bulir air mata kembali turun. Bayangan orang tuanya berkelebat di dalam kepalanya. Dia menangis sejadinya, menumpahkan rasa sakit akibat tekanan yang menghimpit hati dan juga tubuhnya. Sahira melepaskan pisau yang telah ternoda oleh darahnya ke lantai. Prang. Suara pisau jatuh terdengar, diikuti tubuhnya yang ambruk begitu saja ke lantai yang dingin. Dia menjerit menyalahkan takdir hidupnya. Bohong, bohong kalau hatinya ikhlas menerima takdir ini. Buktinya sekarang dia kembali menyalahkan jalan hidupnya yang berliku dan berbatu tajam. Ya Tuhan, kenapa engkau tidak adil kepadaku, Tuhan. Aku gak sanggup kalau harus menjalani hidup s

