B A B • 7

1397 Words
Persentasi pria berusia 40 tahun bernama David itu ditanggapi dengan kucekan mata oleh Arslan. Ia beberapa kali menguap, dan dengan kentara menunjukkan rasa bosannya atas penyampaian David, meski beberapa kali, Ridwan yang duduk di sampingnya berdeham memperingatkan. “Saya tidak setuju, Pak David.” Seusai David duduk di kursinya memberikan penjelasan, Arslan langsung memberikan tanggapan. “Kita ini berbisnis, bukan bersedekah. Memberikan harga yang terlalu murah untum produk baru kita ini, bisa menurunkan kualitas di mata masyarakat. Kualitas harus sesuai harga. Kualitas produk kita ini minimal dihargai 3 kali lipat dari yang Pak David sarankan.” “Mohon maaf, Pak, menyela.” Ridwan angkat suara, paling menunjukkan dirinya tidak senang dengan suami bosnya itu. “Itu tidak sesuai dengan motto perusahaan yang digagas oleh Bu Alisha sendiri. Pilihan hati yang paling pas.” Ridwan melirik 8 orang yang mengikuti rapat siang ini, dan mereka mengangguk-angguk membenarkan. “Semua produk besutan Bumantara harus pas untuk semua kalangan, dan dengan kualitas yang pas pula. Karena target pasar kita adalah semua kalangan, bukan hanya orang-orang kalangan atas.” “Saya akan diskusi dengan owner perusahaan. Saya akan berusaha mengubah beberapa kebijakan perusahaan yang menurut saya tidak terlalu menunjukkan betapa berkualitasnya produk-produk Bumantara. Kita perlu tampilan baru, yang bisa menjelaskan secara gamblang bahwa produk-produk kita ini setara dengan produk luar. Dengan penambahan harga 2 atau 3 kali lipat dari saran Pak David, kita bisa gunakan untuk memperbanyak promosi di semua platform, dan bisa menyewa artis-artis Internasional yang lebih meyakinkan para konsumen. Seluruh dunia harus tahu produk kita.” “Tapi, Pak. Promosi di beberapa tempat, seperti media televisi, media sosial, itu rasanya sudah cukup, dengan menggunakan jasa artis lokal. Promosi dari masyakarat yang penting, karena mereka memperkenalkan produk secara jujur. Kita bahkan tidak butuh modal tambahan. Cukup menjaga harga agar tetap terjangkau seperti yang biasanya produk Bumantara berikan, lalu masyarakat sendiri yang akan mempromosikannya pada orang lain. Tanpa biasa. Tanpa perlu penambahan biaya promosi,” sanggah Ridwan. “Yang lain bagaimana?” Di samping David, perempuan berambut sebahu mengangkat tangan, kemudian berdiri. “Saya ... setuju dengan Pak Ridwan.” Perempuan itu tampak percaya diri dari tampilannya, tetapi tidak ketika ia berbicara dan mendapatkan tatapan sinis dari Arslan. “Untuk penambahan promosi, apalagi untuk skala besar-besaran, kita bisa mengeluarkan hingga 8% pendapatan, Pak. Ini paling minimum. Promosi melalui bibir masyarakat lebih murah, mudah, dan terjamin. Bumantara sudah berdiri sejak 9 tahun lalu, dan bisa dibilang selalu konsisten mengalami perkembangan. Takutnya, jika ada penaikan harga dari rata-rata bisa menyebabkan konsumen lari ke produk yang lebih murah lainnya. Kita akan kehilangan modal paling utama: kepercayaan masyarakat, Pak. Jadi, saya setuju denga Pak Ridwan. Kita tidak perlu perubahan apa-apa. Cukup pegang motto awal. Terima kasih.” Arslan memainkan pulpen di tangannya dengan ekspresi dingin. Ia menatap satu-persatu peserta rapat sehingga beberapa yang awalnya hendak mengangkat tangan, terpaksa menahan dan menurunkan pandangan. “Okey. Yang setuju dengan pendapat saya angkat tangan,” kata Arslan. Dua perempuan langsung menunjukkan telapak tangan mereka. “Oke, cukup. Yang setuju Pak Ridwan, silakan angkat tangan.” Enam orang tampak ragu dan saling menatap saat mengangkat tangan mereka. Arslan mengangguk sekali. “Catatan materi hari ini bawa ke ruangan saya, Cellyn. Saya akan melaporkan ini pada Bu Alisha. Minggu depan nanti kita akan rapat lagi mengenai hal ini. Teri—” “Pak. Apa itu tidak terlalu membuang-buang waktu? Seharusnya penetapan harga kita lakukan sekarang. Agar tim produksi bisa segera bekerja.” “Pak Ridwan, Anda ini kenapa terlalu bebal dengan keputusan saya? Minggu depan ya minggu depan. Tidak ada protes! Terima kasih.” Arslan berdiri dengan tegas. Mengentak jasnya agar kembali ke posisi semula, lalu pergi dari ruang rapat tersebut diikuti asistennya. Tidak ada yang menyadari, bahwa pria itu terus berdecak kesal karena bawahan istrinya tersebut. *** Prediksi Arslan jika ia pulang ke rumah Alisha sekarang adalah, perempuan itu akan mengeluh mengenai laporan bawahan terpercayanya: Ridwan. Maka, Arslan memutuskan kembali ke rumah mewahnya, dengan Edy yang menjadi satu-satunya pendukung. “Benar, kan. Bumantara bisa berkembang pesat berkali-kali lipat jika mengikuti saran saya. Si tua sialan itu malah menyanggah semua masukan saya.” Arslan menyesap Vodka dari botolnya. Kala cairan bening itu mengaliri tenggorokan, kening Arslan mengerut pelan. “Itulah kenapa, Pak Vian sangat bersemangat menggeser Anda dari perusahaan keluarga.” Edy, masih setia dengan posisi berdiri, memberikan tanggapan. “Keluarga Anda yang lain takut Anda lebih maju daripada mereka. Sekarang, Pak Arslan harus membuktikan pada mereka bahwa Pak Arslan bisa berdiri sendiri tanpa mereka sama sekali. Buat perusahaan Bu Alisha lebih maju lagi.” “Ide bagus.” Arslan menunjuk asistennya, kemudian menyesap minuman keras lagi. “Tapi besok. Pulang ke rumah sekarang,” Arslan mengecek jam tangan, “membosankan.” “Bagaimana kabar pernikahan Anda, Pak?” Edy terlihat sangat penasaran, bahkan ikut bergabung duduk di salah satu sofa panjang. Arslan mengangkat kedua bahunya tidak acuh. “Perempuan itu tahu terlalu banyak tentang saya. Saya seperti diinterogasi terus. Kamu cari segala sesuatu informasi tentang Alisha.” “Baik, Pak.” Edy langsung mengiyakan. “Lalu, bagaimana interaksi Anda dengan istri Anda? Maksud saya, Anda sudah melupakan trauma Anda?” “Tidak. Saya tidak pernah bertemu perempuan itu.” Arslan merilekskan punggungnya dengan bersandar di sofa. Ia menyunggingkan sudut bibir kanannya, mendengkus geli. “Perempuan ajaib itu tidak mau bertemu saya secara langsung. Bahkan mau repot-repot membagi waktu kami keluar kamar.” “Jadi Anda belum—” Dehaman ringan Edy menjadi isyarat sambungan ucapannya. Arslan menegakkan punggung. Menggeleng sekali, menyesap minuman lagi. “Tidak pernah. Kami bahkan tidak pernah bertemu selain di kantor itu, Edy.” “Itu cukup membahayakan posisi Anda, Pak. Dengan status sosial di atas Anda, istri Anda bisa saja terus mengancam dengan membawa-bawa posisi jabatan, dan bisa saja benar-benar menyingkirkan Anda jika dia merasa tidak nyaman dengan interaksi buruk Anda dan bawahan kepercayaannya.” Arslan mendengarkan dengan saksama masukan Edy, dan membenarkan dalam hati. Bahkan tanpa hubungan buruk dengan Ridwan pun, Alisha sangat sering mengancamnya dengan membawa-bawa posisinya sekarang. “Anda butuh anak untuk penguatan posisi, Pak. Setidaknya, istri Anda harus berpikir puluhan kali sebelum meninggalkan Anda. Selama Anda tidak berpisah, Anda bisa melakukan apa saja dalam pernikahan Pak Arslan karena dalam agama, istri wajib mematuhi apa pun perintah suaminya.” Dua anggukan Arslan menjadi penanda bahwa masukan Edy sangat logis. Untuk terakhir kali, ia meminum vodka, lalu meletakkannya di atas meja. “Saya mau tidur,” ucap Arslan. “Bangunkan jam 5 nanti.” “Baik, Pak.” Arslan melepas paksa dasi Van Marvell Slim Tie Maroon dari lehernya. Kemudian membuang secara asal. *** “Apa ini tidak terlalu pagi untuk berangkat, Pak?” tanya Edy ketika ia menyerahkan tas kerja Arslan, dan majikannya itu sibuk menata rambut. “Bagaimana penampilan saya?” tanya Arslan. Edy mengerutkan kening, bingung dengan sikap atasannya yang mendadak terlalu peduli dengan penampilan. “Kamu tau? Perempuan ajaib itu sudah tergila-gila dengan saya sejak pertemuan pertama, makanya itu dia mudah takluk dengan saya. Cukup sedikit sikap manis dan penampilan yang menawan, dia pasti akan melakukan apa yang saya minta,” jelas Arslan penuh percaya diri sembari melirik bayangannya di cermin. Ia baru menoleh ke arah Edy saat menerima tas kerja dari asistennya tersebut. Lalu melirik jam tangan. Setengah jam lagi pukul 7 pagi. Arslan harus sampai rumah sebelum Alisha masuk kamar sehingga ia bisa menebar pesona pada perempuan itu. Seharusnya, saat menyiapkan sarapan, perempuan itu tidak butuh pakaian hitamnya, kan? Arslan menebak demikian. Pemikiran itu mengirimkan rasa penasaran yang cukup tinggi untuk dirinya sendiri. Ia mencoba menebak-nebak bagaimana rupa di balik kain hitam itu. Namun, sulit. Terakhir kali bertemu, hidung perempuan itu cukup mancung lurus, sehingga menghalangi kain untuk mencetak lekukan wajahnya. Pagi ini, ia harus melihat wajah perempuan ajaib itu, dan pamer pesona. Melakukan malam pertama yang tertunda. Membuat anak. Maka, posisi Arslan setidaknya akan lebih kuat dari sekarang ini. Maka, pria itu keluar rumah, menuju Teslanya. Mengendarai menuju rumah Alisha. Sisa 2 menit lagi waktu yang tersisa ketika ia memarkirkan si silver metalik di halaman rumah. Arslan bahkan berlari-lari kecil menuju pintu. Mendorongnya dengan sangat mudah hingga terbuka lebar. Namun, pria itu mundur dua langkah. “Menangis, Bodoh! Minta uang yang banyak sama orang tua kamu!” Sekelebat suara muncul dalam benak Arslan ketika itu. Bersama bunyi tamparan yang bahkan rasa sakitnya bisa diingat baik oleh memori Arslan. “A-Arslan?” Perempuan itu juga menunjukkan kepanikan dalam mata berjenis round shaped miliknya. “AAAAAAA!” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD