Kianara
Rasanya, aku tidak bosan-bosan menatap bagaimana diriku dengan gaun ini. Tak mau memuji diri sendiri dengan kata cantik, aku hanya menganggap itu tidak terlalu buruk, ternyata siapa saja bisa menjadi lebih baik dan lebih enak dipandang, asalkan ada uangnya. Aku tersenyum geli.
Kia, semangat kerja. Cari uang yang banyak. Dengan gaun mahal kayak gini, kamu bisa menjadi cantik. Karena cantik itu butuh modal, kan? Jangan berharap ada yang menjadikanmu Ratu, kamu harus berdiri di atas kakimu sendiri, bahagiakan dirimu sendiri. Aku memberi semangat untuk diriku sendiri.
"Gimana, Kia?" Tante Diana menggedor pintu ruang ganti, saat aku sudah lebih dari sepuluh menit berada di dalam sana. Aku bukan hanya sekadar mencoba gaun ini, tapi juga berhalu tentang kehidupan indah jika memiliki uang yang banyak.
"Iya Tante, udah kok,"sahutku. Aku keluar setelah melepas gaun itu dan mengenakan pakaianku kembali.
"Kamu suka yang ini? Pas di badanmu kan?" Tanya Tante sekali lagi.
Aku mengangguk cepat, sambil tersenyum. "Suka Tante, pas banget malah."
"Oke, saya pilih yang ini dan ini." Tampak Tante Diana menyerahkan dua buah gaun itu pda pegwai butik, untuk dikemas. Dan aku yakin satu lagi adalah gaun yang dia pilih untuk dirinya sendiri.
"Sebenarnya, akan ada acara apa Tante?" Sekali lagi aku bertanya. Aku yakin, akan ada acara yang kami hadiri. Karena tidak mungkin Tante Diana membelikan gaun mahal untukku secara cuma-cuma.
"Kamu akan tau besok," sahutnya lagi tanpa penjelasan. Setiap jawaban yang dia berikan, selalu menggantung tanpa ada titik yang jelas, hingga akhirnya aku hanya bisa menerka-nerka.
"Apa itu hari spesial Tante?" Tanyaku lagi dengan polosnya.
"Bisa dibilang begitu. Tapi lebih tepatnya hari spesial kamu," ucapnya lagi.
"Apa? Aku?" Aku menunjuk pada diriku sendiri, sambil melangkah mengikuti langkahnya menuju kasir untuk membayar.
"Iya. Jangan banyak tanya. Kamu akan tau besok-"
"Tante, jangan bikin aku penasaran, please…" lirihku, sambil menarik lengannya tanpa sadar, saking penasarannya
Dia menoleh ke arahku, dengan tatapan tajam, seakan mendelik. "Aku lagi pusing. Jangan banyak tanya." Omelnya padaku.
Sejak detik itu, aku tak lagi banyak bertanya dan hanya diam. Jangan sampai Tante Diana menarik kembali gaun pemberiannya karena marah padaku. Tidak, aku sangat menyukai gaun itu.
Tiba di rumah, aku menyimpan gaun itu di dalam lemari. Dia tersangkut indah di sana dan menjadi gaun paling cantik yang pernah aku miliki. Aku tidak bisa bersantai-santai, aku langsung mengganti pakaian kerjaku dengan pakaian rumah, dan bergegeas menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Ciye, yang mau nikah." Aku yang tengah memilih sayuran di dalam kulkas, dikagetkan dengan suara Dilla, aku menoleh sekilas. Apa maksud dari ucapannya, atau mungkin dia sedang berbicara di telepon dengan salah satu temannya yang resek itu? Tapi ternyata tidak.
"Maksud kamu?" Hingga mengundang tanya dariku.
"Nggak usah kura-kura dalam perahu, alias pura-pura enggak tau deh. Lo sebenarnya udah tau, kan Mbak? Kalau lo itu mau dijodohin sama cowok ganteng, kaya raya, keren, emang rejeki lo bagus sih-"
"Sebentar Dilla, kamu ngomong apa? Jangan ngaco! Aku nggak tau apa-apa soal itu. Siapa yang mau dijodohkan?!" Tanyaku menggeram kesal dengan nada yang seolah ingin memulai keributan dengan Dilla. Sebentar, apa ini ada kaitannya dengan gaun yang dibelikan untukku, dan kata-kata Tante Diana tentang hari spesial kamu.
"KAMU!" Sahut Tante Diana tiba-tiba, dengan ketus dan lantang.
Aku tersenyum miring, lalu meletakkan beberapa tangkai sayuran sawi yang sedang kupegang. Rasanya tubuhku mendadak lemas, hanya untuk memegang sawi saja tidak ada tenaga. Katakanlah aku berlebihan, tapi memang begitulah adanya. "Tante, jangan bercanda…" lirihku. Tiba-tiba aku tak ada semangat untuk memasak.
"Nggak ada yang bercanda, apa yang Dilla katakan, memang benar." Tegasnya, lalu mengambil segelas air meneguknya dengan santai.
"Tante memang pernah bicara soal ini sebelumnya. Tapi, aku pikir Tante cuma bercanda dan menakutiku karena mungkin saking kesalnya denganku. Tapi aku nggak bisa terima kalau itu beneran, Tante." Aku juga berucap tegas, dengan nada mengiba. Siapa yang mau dijodohkan dengan orang yang nggak kita tahu sebelumnya, dan memangnya ini jaman kapan? Masih ada acara dijodohkan segala.
"Jangan membantah kamu ya! Yang aku lakuin itu, adalah yang terbaik untuk kamu. Kamu itu nggak bisa tanpa bantuanku, Kia. Cari pekerjaan contohnya. Kalau aku nggak turun tangan, mau sampai kapan sih kamu nganggur? Gitu juga soal jodoh, apapun yang udah aku rencanakan untuk kamu itu adalah yang terbaik, titik." Suara nyalang dari Tante Diana benar-benar meggetarkan jiwaku.
"Tapi aku bisa, cari jodoh sendiri, Tante-"
"Halah, pacar aja nggak punya. Yang ada nanti malah jadi perawan tua!" Sentaknya.
"Astaghfirullah…" aku beristighfar, sebenarnya juga sedang menahan emosi.
"Besok malam, jam tujuh. Agenda makan malam kita dengan calon suami kamu-"
"Tante, aku nggak-"
"Dengar baik-baik, Kianara Aurora yang keras kepala. Aku cuma menjalankan amanah mamamu. Beliau pernah bilang kalau akan menjodohkan kamu dengan anak sahabatnya. Almarhumah selalu ingin yang terbaik untuk anaknya. Jadi, sebenarnya ini bukan rencanaku, tapi rencana mamamu, mengerti?!"
"Jangan bawa-bawa mama, Tante…" lirihku lagi mengingatkannya, mataku sudah berkaca-kaca. Tapi Tante Diana mengabaikanku, dia malah melangkah pergi.
"Cepat siapkan makan malam, aku udah lapar!" Titahnya sebelum melanjutkan langkah.
Tak ada yang bisa aku lakukan selain pasrah. Tapi sepertinya aku tidak punya pilihan. Aku hanya menyemangati diriku sendiri menghadapi ini, dengan mengingat kata-kata Dilla yaitu, tampan, keren dan kaya raya. Setidaknya aku bukan dijodohkan dengan pria tua atau duda tua.
Satria
"Mana fotonya, Ma?" Aku bertanya tentang wanita yang akan mama jodohkan untukku. Sebenarnya aku sedang mencoba menghibur diriku sendiri. Jika wanita itu sangat cantik, maka setidaknya aku beruntung. Tapi tetap saja, secantik apapun dia, tidak mungkin bisa merebut hati dan perhatianku yang hanya tertuju pada Luna seorang.
"Duh, mama nggak punya fotonya, Nak. Dia punya sosmed, tapi sama sekali nggak pernah posting fotonya. Pokoknya, dia cantik, baik, pintar masak, rajin salat, serba tertutup. Dia adalah gambaran calon istri yang bisa membawa kamu pada perubahan yang lebih baik, sayang. Insya Allah rumah tangga kalian akan sakinah mawaddah warrahmah." Mama begitu bersemangat menjelaskan tentang bagaimana wanita itu. Tapi tetap saja tidak membuat aku tergugah untuk menerima perjodohan ini dengan lapang d**a. Mama mengusap pipiku, tersenyum lebar setelah memberi penjelasan itu padaku.
Aku mengernyitkan dahi. "Serba tertutup, maksud mama, bercadar?!"
Mama terkekeh. "Bukan, nggak bercadar, cuma berhijab. Cantik natural, tanpa make up. Mama yakin, kamu pasti langsung jatuh cinta waktu ketemu dia besok-"
"Nggak segampang itu Ma. Jatuh cinta itu butuh proses, yang panjang. Karena aku nggak akan sekadar mencintai fisik, tapi juga sifatnya." Tegasku, tak setuju dengan pendapat mama. Apalagi, wanita berhijab bukanlah tipe wanita idamanku sama sekali. Tidak ada di dalam kamus hidupku soal menikahi wanita berhijab. Apa kata teman-temanku nanti, saat ternyata tipe wanita yang aku nikahi jauh berbeda dengan kriteria yang aku miliki.
"Kamu pasti akan mencintainya luar dalam, asalkan kamu mau menerimanya sebagai istri, jalani kehidupan rumah tangga yang sebenarnya. Kalian bisa saling mengenal secara halal." Timpal mama lagi.
Sebanyak apapun mama memberi wejangan, dadaku tetap saja terasa sesak mengingat harus menikahi wanita lain selain Luna. "Mama, sebenarnya aku udah punya seseorang yang ingin-"
"Satria, cukup. Kamu turuti aja kemauan mama. Setidaknya mama bisa pergi dengan tenang setelah melihat kamu menikah dengan orang yang tepat menurut mama. Yang kamu inginkan belum tentu yang terbaik buat kamu." Suara mama terdengar bergetar saat mengatakan itu. Matanya juga berkaca-kaca, hingga aku tak tega.
"Ma… iya cukup, mama bakalan sehat terus dan selalu ada buat aku. Mama nggak akan kemana-mana. Aku akan menikah dengan orang pilihan mama, oke? Besok malam, kan?" Sebisa mungkin, aku melebarkan senyumku. Senyum penuh kepalsuan yang sebenarnya tidak pernah ikhlas menerima perjodohan ini.
"Janji, kamu akan nepatin besok malam? Jangan buat Mama kecewa…" lirih mama.
"Iya, Ma." Awal yang menyedihkan, tapi dengan ini, aku selalu berharap semoga mama memiliki umur yang panjang dan kembali sehat.