Rencana Satria

1270 Words
Satria "Kamu nolak, ya, Nak? Gimana kalau ini permintaan terakhir Mama?" "Iya, Ma. Aku mau kok. Cukup Ma, mama pasti sehat, dan baik-baik aja. Aku sayang mama." Kalimat lemah lembut yang aku ucapkan pada mama melalui telepon saat ini, sungguh berbanding terbalik dengan suasana hatiku. Aku menggemggam stir mobil dengan sekuat tenaga, memukulnya juga berulang kali, seakan menjadi sasaran amarahku saat ini. "Alhamdulillah, kamu memang kebanggaan Mama Papa, Nak." "Oke Ma, sampai ketemu besok malam," ucapku lagi, mengakhiri panggilan setelah mendengarkan kata-kata mama dengan saksama. Besok malam adalah pertemuanku dengan calon istri pilihan mama. Mama sengaja menelponku untuk mengingatkan. "Arrghh, sial!" Kuusap kasar rambut juga wajahku, ternyata mama serius dengan kata-katanya beberapa hari lalu. Mengatakan bahwa akan menjodohkanku dengan seorang wanita pilihannya. dia baik, cantik, pasti bisa jadi istri yang tepat buat kamu. Itulah kalimat mama yang terus terngiang di pikiranku. "Nggak ada yang tepat buatku, selain Luna!" Aku ingin menangis, tapi tak mungkin. Namun, dadaku terasa sesak sekali, menahan amarah dan tak mungkin aku luapkan pada mama. Aku keluar dari mobilku, niatku ingin pulang ke apartemen aku urungkan. Aku ingin kembali bertemu Luna untuk membicarakan tentang perjodohan ini, aku tahu ini akan sangat menyakitkan baginya. Tapi aku tidak bodoh, tidak serta merta menyerahkan kehidupanku yang awalnya baik-baik saja, pada pernikahan paksa yanf direncanakan mama. Kulangkahkan kembali kakiku, menuju gedung kantor. Aku terburu-buru, dan harus menemui Luna sebelum dia pulang ke rumahnya. Tadi, sebelum kami berpisah, dia mengatakan ingin menemui temannya dulu di Divisi Pemasaran. Aku harap, kekasih gelapku itu belum pergi. Bugh. Tubuhku disenggol oleh seseorang, membuat emosiku kembali tersulut. "Maaf," ucap wanita berhijab itu. Kutatap dia sekilas, jika dia bukan seorang wanita aku pasti sudah memakinya habis-habisan. Oh ternyata, dia lagi. Si office girl baru, pembuat onar di ruang meeting. Dia tahu, dia bersalah maka tak berani bertatapan denganku dan malah kabur seenaknya. "Ternyata, selain nggak punya otak, lo juga nggak punya mata, ya?" Tanpa bisa kutahan, akhirnya mulutku memberi makian yang sedikit halus untuknya. Ya, bagiku itu masih halus, daripada aku mengeluarkan kata-kata kasar lainnya. "Heh, saya kan udah minta ma-" dia memutar tubuhnya, kembali menghadapku. Menatapku dengan tatapan menantang, tapi itu hanya berlangsung beberapa detik saja. Mungkin dia sudah sadar, siapa orang yang sedang dihadapinya saat ini. "Maaf," lanjutnya lalu kembali menunduk. "Otak, dan mata lo dipakai baik-baik, kalau masih mau kerja di sini." Tegasku, aku benar-benar kesal. Sedari tadi memang mencari pelampiasan amarahku, dan ternyata berakhir pada gadis sok polos yang berhijab ini. Lantas dia tidak lagi menanggapi kata-kataku, dan berlalu begitu saja. Dia tampak tergesa, dan menuju ke parkiran mobil. Sebentar, dia mengendarai mobil? Nggak, itu nggak mungkin. Mengabaikan tentang si office girl baru, aku kembali fokus pada tujuanku. Khawatir Luna akan pergi meninggalkan kantor. Aku buru-buru mengirimkan chat singkat padanya. Sayang, temui aku lagi di ruangan, sekarang ya. Ada hal penting, dan bisa nggak kamu tunda dulu hang out kamu dengan teman-temanmu? Pesan sudah kukirimkan, aku sudah tiba di ruangan kebesaranku. Duduk di kursi kebanggaanku sambil menatap ke luar. Dari dinding kaca ini, aku bisa merasa terhibur ketika menatap ke luar sana. Suasana langit sore yang cerah. Dalam keresahan, aku juga sedang menanti jawaban dari Luna, berharap dia belum pergi. Memangnya sejak kapan, aku bisa nolak permintaan Mas Satriaku tersayang. Oke, wait a minute. Aku menyungging senyum, Luna selalu bisa mencairkan suasana hatiku. Tingkah manja dan menggemaskannya benar-benar menjadi hiburan batin bagiku. Sepuluh menit menanti, aku mendengar suara pintu ruanganku terbuka. Munculah si cantik kesayanganku, dia melenggang dengan gaya khasnya bak model internasional. "Pintunya sayang," pintaku padanya untuk mengunci pintu. "Wah curiga nih, pakai kunci pintu segala. Pasti ada maunya." Luna mencibir, tapi dia tetap menuruti perintahku. Kembali berjalan ke arahku sambil membuka dua kancing blousenya bagian atas, sebelum duduk di atas pangkuanku. Dasar nakal! "Aku mau bicara serius, sayangku. Tapi tolong banget… jangan salah paham, jangan marah dan dengarkan aku sampai aku selesai," ucapku padanya, sambil mengeratkan kedua tanganku di pinggangnya. "He'um, serius banget. Jadi takut…" lirih Luna, lalu bersandar manja di dadaku. "Dengar aku." Aku meraih dagunya agar menatapku lebih dalam, sama seperti aku menatapnya saat ini. Sepasang netra mata indah milik Luna menatapku dengan lembut, tapi juga tatapannya itu seakan penuh tanya. "Serius, jangan bikin deg-degan, ada apa sih?" Luna duduk lebih tegak, sambil bersandar di pinggiran meja, tapi belum berpindah dari atas pangkuanku. Jika tidak sedang bekerja, kami berdua memang sering seperti ini, bahkan saat sedang mengobrol santai. Tujuannya adalah untuk meningkatkan chemistry dan rasa cinta kami yang selalu saja menggebu-gebu tiap kali berduaan. "Kabar tentang mama yang ingin aku segera menikah, kamu masih ingat soal itu, kan?" Luna mengangguk dan tersenyum sumringah, kurasa dia salah sangka. Dia juga meraba-raba saku jas yang aku kenakan, kiri dan kanan. Berharap menemukan sesuatu di dalam sana. Dia pikir aku akan memberi kejutan untuk melamarnya. "Hmmm…" Luna hanya bergumam saja tidak menjawab apapun. "Jadi gini, itu benar. Mama beneran pingin aku nikah, tapi dia udah punya calonnya sendiri-" "Mas, jangan bercanda!" Dia menghentikan kalimatku, dan langsung tampak tidak bersemangat. "Aku serius," balasku. "Aku belum selesai, Luna. Biarkan aku ngomong sampai selesai dulu," tegasku padanya. Dia terlihat mengangguk pasrah. Tatapan matanya sayu. Aku mengusap lembut pipinya. "Kamu tau, kan seberapa besar aku sama cinta kamu, sayang." "Aku tau, tapi aku ragu kalau buktinya nggak ada," sahut Luna ketus. "Sayang, hubungan kita terlalu rumit untuk dipublikasikan. Terlalu rumit untuk orang-orang mengerti, apalagi keluarga kita. Mereka taunya kita ini cuma sebatas hubungan keluarga dan, profesional bekerja." Tegasku lagi. "Kalau kamu tau hubungan kita rumit, kenapa kamu memulainya, Mas?" Mata Luna mulai berkaca-kaca. "Bahkan kamu aja nggak pernah coba bicara sama mama kamu." "Aku…" entah mengapa tiba-tiba tenggorokanku terasa tercekat dan kesulitan menjawab pertanyaannya. "Coba ngomong sana sama Mama kamu tentang kita, siapa tau beliau berubah pikiran soal menjodobkan kamu dengan perempuan pilihannya," saran Luna. Tanpa dia ketahui, aku sempat berbicara sedikit pada mama, tentang ini. Aku mengatakan bahwa aku sudah memiliki perempuan pilihanku sendiri. Tapi mama tetap kekeuh pada pendiriannya, mengatakan kalau pilihannya adalah yang terbaik di atas segala-galanya. Percaya diri sekali mama mengatakan seperti itu. Apalagi mama selalu menggunakan penyakitnya sebagai senjata ampuh meluluhkanku. Apa yang bisa aku lakukan selain menurut. Belum lagi papa yang ikut-ikutan mengancam tidak akan memberiku jabatan di perusahaan. Semuanya begitu rumit. "Kamu sabar dulu, dengan siapapun aku menikah, aku akan tetap cinta kamu, Luna. Sebisa mungkin, aku mencari kesalahan dan keburukan perempuan itu nantinya, supaya bisa jadi alasan aku pisah sama dia. Tenang, ya sayang. Aku nggak mungkin ninggalin kamu begitu aja." Aku mencoba menenangkan Luna, dengan mengatakan semua rencanaku nanti. Ya, aku memang takkan serius dengan pernikahan ini, sebisa mungkin aku mencari cara agar bisa berpisah kalau perlu dalam waktu dekat. "Aku juga bakalan tetap nemuin kamu. Nggak ada yang berubah dari kita, walau statusku udah berubah. Tolong sabar dan mengerti ya Luna." Ku kecup kening, lalu beralih ke pelipisnya saat dia memejamkan mata. Ciumanku turun ke pipinya dan berakhir pada bibirnya yang selalu terlihat menggoda di mataku. Baru beberapa detik, kecupan berlangsung, Luna mendorong pelan dadaku. "Beneran, janji?" tanya Luna memastikan. "Iya, nggak akan ada yang berubah. Kita tetap bisa bebas bersama, apalagi di kantor begini. Aku bakalan bikin kesepakatan sama perempuan itu supaya nggak saling mencampuri urusan satu sama lain." Aku kembali meyakinkan Luna. "Kalau dia nolak dan nggak mau, gimana? Apalagi dia pilihan mama kamu, udah pastilah nanti dia laporin ke mama." Luna meragu, tapi yang dia katakan benar juga. Pasti perempuan itu nanti akan jadi besar kepala karena menganggap mama begitu menyukainya. "Kita lihat nanti, kamu tenang aja dan serahkan semuanya sama aku, oke sayang?" Luna mengangguk patuh. Inilah yang aku sukai dari dirinya, selalu menurut. Jarang membantah, baik, lembut dan juga hot.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD