Tak Ada Habisnya

1392 Words

Tumpukan piring menggunung yang tidak dicuci sejak kemarin pagi, akhirnya berkurang satu persatu. Sudah hampir setengah jam aku berdiri di sini, memakai apron dengan tanganku yang basah karena air dan sabun. Mencuci piring, membersihkan rumah, bahkan memasak, sudah makanan sehari-hariku selama tinggal bersama Tante Diana. Aku sadar diri, setidaknya sudah diberi tempat tinggal, makan dan pendidikan gratis, aku harus mengabdi padanya. Ya, dengan cara seperti ini.

Jam lima pagi atau bahkan jam empat pagi, aku harus bangun, untuk mencuci pakaian, mencuci piring juga menyiapkan sarapan. Tak ada bedanya dengan seorang pembantu, bedanya statusku adalah keponakannya. Tante Diana adalah adik kandung mamaku, dia seorang janda pekerja keras, memiliki satu anak yang lumayan menyebalkan. Dilla sudah beranjak SMA, tapi sama sekali tidak bisa meringankan pekerjaan rumah. Oh tentu saja dia tidak mau membantuku, karena merasa anak pemilik rumah.

“Gimana? udah coba lamar kerja belum?” ini adalah pertanyaan Tante Diana yang entah ke berapa kali sejak aku lulus kuliah satu bulan lalu. Dia selalu menanyakan hal yang sama, sampai aku muak menjawabnya. Namun, aku tak mungkin mengabaikan pertanyaannya itu.

“Udah Tante, udah aku udah coba lamar ke beberapa perusahaan, tapi ya… belum ada panggilan,” jawabku sambil menyusun gelas di rak. Sementara dia? terlihat sedang menikmati sarapan sehat yang aku siapkan.

“Makanya, bikin CV yang menarik. Dan untuk awal-awal kayak gini, kamu jangan milih-milih tempat. Lempar lamaran ke mana aja!” titahnya.

Aku diam, menjawab pun rasanya percuma. Tetap saja jawabanku salah, tak pernah benar menurutnya.

“Di kantor Tante, nggak ada lowongan?” tanyaku akhirnya, ya… siapa tahu dia bisa membantuku. Dia adalah seorang manajer marketing di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang air mineral. Perusahaan itu termasuk perusahaan air mineral terbaik di negeri ini.

“Ada, ada. Tapi Office Boy atau Office girl, mau?” tanya nya menantang.

Aku lulusan Sarjana Ekonomi Manajemen, apa pantas bekerja sebagai OG? aku berdecak. “Jangan OG dong Tante, masa kerjaanku di rumah dan kantor nggak ada bedanya,” sahutku kesal.

“Nah itu makanya aku bilang, kamu milih-milih. Apa salahnya jadi OG? kamu malu?”

Aku membuka apron, setelah mencuci tanganku dengan bersih. Tugasku di dapur harusnya hampir selesai. “Nggak malu Tante, tapi sayang aja gitu ijazahnya,” jawabku.

“Halah, bilang aja gengsi! padahal OG di kantorku gajinya lumayan loh.”

“Oh ya?” entah kenapa aku tergiur saat disebut gaji. Dan sedikitpun aku tidak merasa gengsi seperti yang dikatakan Tante Diana. Aku yang belum memiliki penghasilan ini, sepertinya mengidamkan hal itu. Selama ini, untuk membeli pakaian atau keperluan pribadiku yang lain, aku harus pintar-pintar mengatur uang jajan yang diberikan Tante Diana.

“Ya, sekitar empt jutaan,” jawab Tante Diana.

Lumayan, pikirku. Kenapa tidak aku coba saja? untuk sementara sembari menunggu lamaranku di perusahaan lain diterima.

“Mau enggak?” tanya Tante Diana. “Jangan banyak mikir. Kamu udah tamat kuliah, masih mau jadi beban di rumah ini?” tanyanya tegas.

Kata-kata itu cukup menusuk di hatiku. “Iya aku mau Tante.” Bismillah… kucoba saja. Tak masalah hanya office girl, yang penting halal. Bisa beli baju baru, kerudung baru, dan apapun itu.

“Ya udah, nanti aku ngomong ke bagian HRD. Kalau lowongan OG selalu ada, karena banyak OB dan OG keluar masuk, nggak tau kenapa. Besok kamu siap-siap aja dipanggil!” Tante Diana terlihat serius dan dia sepertinya akan bergegas pergi bekerja. Itu artinya, aku bisa bebas sebentar di rumah tanpa dia dan Dilla.

“Iya Tante, makasih-“

“Cuma bilang makasih terus kamu ini, ucapan makasihmu nggak bisa bikin aku tambah kaya!” cetusnya dengan judes.

Ya Allah… sabar, sabar. Aku diam, menunduk. Sadar diri.

Setelah kepergiannya, aku mengambil piring di atas meja bekas sarapan Tante Diana. Mencucinya setelah dapur beres dan rapi, aku pergi ke halaman untuk menyapu. Kupikir, tugasku telah selesai, ternyata setelah melihat ke halaman rumah, dedaunan berserakan di sana mungkin karena semalam hujan dan berangin.

Aku heran melihat Tante Diana yang ternyata pergi masuk ke dalam mobil sendirian. Ke mana Dilla?

“Mbak!”

Baru saja aku memikirkannya, suaranya sudah terdengar nyaring memanggilku. “Ya?” aku yang sedang memegang sapu langsung menoleh.

“Nanti buatkan makanan ya, camilan atau apa gitu, teman-temanku mau datang,” ucapnya santai. Seperti biasa saat dia memberikan perintah kepadaku.

hancur sudah rencanaku untuk bisa sedikit bersantai hari ini. “Kamu nggak sekolah?!” tanyaku dengan nada yang sedikit ketus.

“Nggak, kan aku udah selesai ujian akhir, tinggal nunggu pengumuman kelulusan!” sahutnya enteng. “Pokoknya masakin yang enak-enak, temanku ada enam orang!” titahnya lagi.

Aku mendesah frsutasi, melempar tatapan yang sedikit kesal padanya. “Baru hari pertama libur, kok udah ngumpul segala?”

Benarkan pertanyaanku, biasanya berkumpul dengan teman-teman itu kalau sudah libur lama atau mulai merindukan suasana sekolah saja. Tapi ini?

“Loh kenapa Mbak Kia protes? emangnya ini rumah Mbak? mama aja nggak masalah!” ucapnya nyolot, lalu Dilla tampak melangkah dan hendak pergi.

Dilla sungguh berlagak seperti anak majikan dan aku layaknya seorang pembantu yang juga sepupunya. Apa pantas dia berlaku seperti itu padaku? sedangkan usia kami kini terpaut empat tahun.

Sudahlah mengalah saja, sabar… selama masih tinggal di sini memang nggak akan ada habisnya pekerjaanku di rumah. Aku harus bersabar sampai aku mendapat pekerjaan yang baik, gajinya banyak. Aku akan pindah dari sini. Tapi sepertinya Tante Diana tidak akan mudah melepaskanku begitu saja. Karena utang budi sesungguhnya lebih susah dilunasi daripada utang uang.

“Iya, mau dibikinin apa?” akhirnya aku menyetujui permintaannya. Sungguh aku berharap hari ini adalah hari terakhirku menganggur.

Dilla berbalik dengan seringainya yang menandakan bahwa dia menang karena aku menuruti permintaannya. “Kentang goreng, mi goreng, sama pizza yang biasa Mbak bikin itu!” titahnya dengan suara lantang, tanpa menunggu persetujuanku, dia langsung masuk ke dalam kamarnya.

Ergh! kurang ajar! aku menggeram kesal, bukan hanya satu menu yang diinginkannya tapi ada beberapa. Padahal setelah ini aku berniat membereskan kamarku, lalu mandi dan bersantai. Namun, niat itu aku urungkan dan mau tidak mau kembali ke dapur menyiapkan apa yang diinginkan Dilla.

Satu jam kemudian saat aku masih berkutat di dapur, terdengar suara riuh anak-anak remaja wanita yang sedang mengobrol dengan cukup heboh. Pembahasan mereka cukup menggelikan, membahas cowok. Aku yakin teman-teman Dilla yang merepotkan itu sudah tiba.

Kentang goreng dan mi goreng sudah tersaji di atas meja makan, hanya tinggal satu menu lagi yang belum selesai, yaitu pizza. Aku tengah menambahkan toping di atasnya.

Dilla muncul bersama satu temannya yang sudah cukup ku hapal wajahnya karena terlalu sering ke rumah ini.

“Makanya kita milih ngumpulnya di rumah kamu, karena di rumahmu pasti banyak makanan,” ucap anak itu sambil menatap ke atas meja makan. Mendengar ucapannya, aku memutar bola mataku, jengah mendengarnya.

“Udah selesai kan Mbak?” tanya Dilla memastikan.

“pizzanya belum,” sahutku cuek tanpa menoleh ke mereka sedikitpun. Aku menyeka keringat di keningku dengan tisu. Entah berapa banyak kalori yang aku habiskan selama di dapur, tapi tak juga membuat tubuhku lebih langsing.

“Ya udah, sambil nunggu pizza, tolong sajikan ini dulu bawa ke ruang tengah, jangan lupa piringnya-“

“Kenapa nggak kamu aja yang bawa sendiri?!” tanyaku geram, tak tahan lagi, akhirnya aku menatap ke arahnya dengan tatapan ingin menerkam.

“Mbak kalau nolong kenapa setengah-setengah?!” protesnya. “Tinggal dibawa aja kok repot-“

“Heh, kalau memang kamu bilang tinggal bawa aja kok repot, kenapa ngga kamu aja yang bawa?” tanpa sadar, saking kesalnya, aku meninggikan suaraku seperti ingin memulai pertengkaran dengannya.

“Gila ya ni orang,”desahnya kesal. Dilla maju beberapa langkah mendekatiku, lalu menarik tanganku secara paksa untuk mendekat ke arah meja makan, memaksaku untuk menyajikan itu. “Udah numpang jangan nggak tau diri dong!” teriaknya.

karena suara lantang kami yang bersahut-sahutan, memicu kedatangan teman-teman Dilla yang lain. Bahkan aku melihat salah satu dari mereka ada yang memegang ponsel mengarahkan kamera. Terserah lah, terserah mereka saja. “Aku nggak mau!” sentakku menghempaskan tangannya. “Tugasku hanya memasak, bukan menyajikan dan aku bukan pembantu di rumah ini!” aku berteriak lagi.

Ku matikan oven, lalu kulepas apron yang masih melekat ditubuhku sejak pagi itu. Ya, aku memang bukan pembantu. Aku berjalan menuju ruang tengah, menerobos kerumunan lima orang remaja SMA yang sedang menatap tak suka kepadaku. Dilla dan teman-temannya sama saja. Bahkan aku mendengar bisik-bisik dari mereka, mengataiku tidak tahu diri. Sungguh sakit hati ini. Tapi aku tak punya pilihan.

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd