SEPULUH

919 Words
Saya tunggu kamu di apart ya, Freya. Pesan Arsen sudah setengah jam dia pandangi. Akhirnya setelah berhari-hari berjalan biasa-biasa saja. Setelah berhari-hari mereka berdua hanya bertingkah seperti atasan dan bawahan pada umumnya. Meskipun sulit bagi Freya menahan buncahan rasa di d**a setiap kali berhadapan dengan Arsen. Freya tau, semenjak pertama mereka menghabiskan malam bersama dan Arsen bersikap begitu lembut, Freya akan terperangkap oleh perasaannya sendiri. Secepat dan semudah itu. Kakak nggak jual diri, kan? Pertanyaan Nia mendengung di telinga Freya, membuat wanita itu menjatuhkan handphone ke atas meja untuk mengusap wajahnya sendiri. Dia tidak mau membuat adiknya kecewa, tapi siapa yang mau dia bohongi? Bagaimanapun, jika tau, Nia pasti lebih dari kecewa. Dengan resah Freya mengambil lagi handphone untuk di lemparkan ke dalam tas dan dia beranjak pergi dari kantor. Freya bertekad untuk pulang. Dia bertekad tidak lagi menemui Arsen. Tapi kemudian Freya menemukan dirinya sudah berada dalam pelukan lelaki itu. Freya baru saja membuka pintu ketika Arsen langsung menciumnya tanpa ampun. Tidak memberikan Freya kesempatan untuk berpikir. Meski dengan berpikirpun Freya yakin endingnya akan tetap sama. Dengan terburu-buru Arsen melepas kemeja Freya dan membuangnya asal. Membuka Bra yang dia kenakan sebelum membawanya dalam gendongan menuju tempat tidur. “Saya kangen sama kamu…” bisik Arsen dan Freya tidak menjawab. Dia juga merindukan Arsen tentu saja, tapi semua ini masih dalam kebimbangannya sendiri. Arsen menunduk untuk mencium teruk leher Freya. Menghidu dalam aroma manisnya yang sejauh ini sudah membuatnya tergila-gila. Aroma yang seolah bercokol di dalam ingatan dan membuat Arsen menginginkan Freya lagi dan lagi. Dia bergerak lebih kebawah, menuju salah satu p******a Freya dengan ujung coklat muda yang sudah menggembang penuh damba. Menghisapnya pelan berulang kali, bergantian dengan lidahnya yang menari-nari, membuat si empunya aorela mendesah. Tangan Freya meremas rambut Arsen. Terkadang menarik lelaki itu agar lebih dalam mencumbu dadanya. Arsen membuka kancing kemejanya sendiri, menarik lepas dan membiarkan kemeja itu teronggok di lantai. Mengangkat rok yang Freya kenakan, dan jemarinya menyusup, mencari k******s Freya yang sudah membesar dan basah. Freya mendesah lagi, lebih keras pertanda rasa nikmatnya lebih dahsyat. Masih mencumbu dadanya, dengan jemari yang terus menggesek k******s, Freya merasa dunia di kepalanya berputar. Tubuhnya menantikan kegelapan yang manis itu meledak menjadi kembang api. Satu jemari Arsen mencoba memasuki tubuhnya dengan gerakan pelan, dan Freya tidak bisa menahan lagi rasa nikmat yang membuatnya gila. “Bap…ak…” leguhan panjang keluar dari mulutnya, bersamaan dengan tubuhnya yang menggelinjang nikmat. Arsen meraik celana dalam Freya, dan dengan terburu-buru melepaskan celana serta celana dalamnya sendiri. Memosisikan tubuhnya di antara kaki Freya. Sementara Freya masih berada di awang-awang karena pelepasannya tadi, Arsen menuntun dirinya memasuki tubuh Freya. Perlahan membelah celah sempit yang justru menghiap dirinya dengan hangat. Nikmat. Freya memeluknya, mendesah seiring dengan gerakan Arsen yang memompa, keluar dan masuk. Arsen menahan b****g Freya seiring gerakannya yang semakin cepat. Milik Freya terasa semakin hangat dan berdenyut. Bibir wanita itu juga terus mamanggil dirinya, menandakan sebentar lagi dia mencapai puncak untuk yang kedua kali. “Bersama, sa… yang…” bisik Arsen. Dihentakannya yang terakhir, mereka meleguh bersama. Arsen membeku, merasakan tubuh mereka berdenyut bersama dengan nafas yang sama-sama memburu. Setelah dirasanya sudah cukup, Arsen mengecup kening Freya sebelum berguling kesamping, berbaring di sisi wanita itu. Lama mereka saling membisu, dengan tubuh yang saling memeluk. Hanya jemari Arsen yang terus mengelitik halus di pundak Freya yang menadakan lelaki itu masih sadar, belum masuk kedalam lelap. “Kenapa harus saya?” tanya Freya setelah lama berpikir. “Bapak bisa dapetin wanita manapun yang Bapak mau.” “Saya tidak mau siapa-siapa selain kamu, Freya.” “Ya, kenapa harus saya?” Arsen tidak langsung menjawab. Nampaknya dia tengah berpikir keras mencari jawaban. “Saya juga tidak mengerti. Saya nyaman sama kamu. Saya memang nggak bisa janjiin apa-apa. saya nggak bisa janji selalu ada untuk kamu. Saya nggak bisa janji hubungan ini akan seperti hubungan antara wanita dan lelaki pada umumnya. Yang saya tau, saya ingin bersama kamu, dan sebisa mungkin saya akan buat kamu senang.” Senang? Bukan bahagia? “Sampai kapan? Sampai Bapak bosan?” “Sampai kamu muak sama saya.” Tapi bagaimana kalau semakin lama bukannya muak, tapi Freya malah semakin terobsesi? Semakin ingin memiliki? Karena kata orang, jangan coba-coba bermain api. “Belum lama ini Nania, adik saya, bertanya dari mana saya mendapatkan uang untuk melunasi hutang dan membayar uang kuliahnya. Apa saya jual diri? Itu seperti sebuah tamparan untuk saya. Meskipun saya bisa menjawabnya dengan berdalih, tapi seperti Nania tau semua dosa-dosa saya. dan saya merasa malu.” “Saya nggak menganggap kamu jual diri. Sebenarnya, pada malam itu, saya memang datang hanya untuk membantu kamu. Apa yang terjadi setelahnya, bukan karena saya telah membeli kamu, tapi karena saya memang tertarik sama kamu.” “Apaun dalihnya, kita berdua tau saya memang menjual diri. Jika malam itu Bapak tidak datang, saya sudah berakhir di tempat tidur bersama orang lain.” Arsen menghela nafas. “Bagaimana saya bisa meyakinkan kamu, kalau saya benar-benar menginginkan kamu?” Freya melepaskan pelukan, mendudukan dirinya dan sedikit berputar agar berhadapan langsung dengan Arsen. Sekarang bahkan Freya tidak malu-malu lagi menampakan dirinya yang telanjang. Perhatian Arsen teralihkan pada d**a Freya yang menurutnya sempurna. Kencang. Tidak terlalu besar. Begitu pas di tangan Arsen. Hasratnya meninggi lagi. “Sesulit saya meyakinkan diri saya sendiri, untuk menjauh dari Bapak.” Arsen mengalihkan lagi perhatiannya, dari d**a ke mata Freya. Dia masih belum mengerti kalimat Freya karena pikirannya sedang tidak fokus tadi. “Menurut Bapak,” lanjut Freya. “mana yang lebih buruk, mejual diri, atau menjadi simpanan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD