Jadilah wanita saya.
Freya membasuh muka dengan air sedingin es, berharap kalimat itu berhenti terngiang di telinga.
Ketika mengantarnya pulang tadi, Arsen memang tidak menuntut jawaban. Lelaki itu seolah tau Freya membutuhkan waktu dan ruangnya sendiri untuk berpikir. Sebenarnya, Freya tau apa yang hatinya inginkan. Tapi otak yang belum sepenuhnya lumpuh terus memberikan peringatan.
Membuka pintu kamar mandi, Freya terkejut melihat adiknya sudah berdiri di depan menunggunya.
“Nia!” pekiknya seraya memegang d**a yang masih berdebar. “Kaget! Kakak pikir hantu!”
Nania yang ceria biasanya akan bercanda dengan bilang mana ada hantu yang secantik dirinya, tapi kali ini tidak. Nia menatap Freya dengan wajah mendung.
“Dari mana kakak dapat uang untuk bayar hutang bapak?” tanya tanpa basa-basi.
Freya merasa tatapan Nia menuduhnya. Merasa Nia tau apa yang telah dia lakukan untuk mendapatkan uang tersebut. Dia berjalan memalui Nia menuju dapur. Menuang segelas air untuk ternggorokannya yang tiba-tiba saja terasa kering.
“Kakak juga bayar uang semester Nia, kan? Dari mana uangnya, Kak?!” cecar Nia terus membuntuti Freya sampai kamar.
“Kenapa tiba-tiba kamu mau tau?” Freya membuka lemari, mengambil satu setel baju tidur. Dia terus berpura-pura sibuk agar tidak berhadapan langsung dengan Nia. Tapi perkataan Nia selanjutnya, memaksa Freya menatap adiknya itu tidak percaya.
“Bang Elang bilang Kakak jual diri!”
“Elang?” ujar Freya terkejut. Bukan karena Elang ini seolah tau apa yang telah Freya perbuat. “Di mana kamu ketemu sama dia?!”
Elang adalah boss rentenir yang suka dan mau ngajak Nia nikah. Freya pikir mereka nggak akan ketemu lagi setelah hutangnya lunas. Freya juga sudah memberi peringatan pada lelaki itu.
“Nia!” Freya mencengkram lengan atas Nania, tidak sabar karena Nia tidak juga menjawab pertanyaannya. “Kakak tanya di mana kamu ketemu sama dia? Kalian nggak pacaran, kan?”
“Apa sih, Kak!” Nia memberontak lepas. “Kita nggak sengaja ketemu di halte waktu Nia lagi nunggu busway! Lagian kenapa sih, terlepas dari kerjaannya, Bang Elang itu baik!”
“Terus kenapa kalau baik? Kamu suka sama dia? Mau nikah sama dia?!”
“Apaan sih! Yang Nia lagi tanya dari mana Kakak dapet uang sebanyak itu? Kakak bener-bener jual diri?!”
“Nia!” tanpa sadar Freya membentak adiknya. Freya frustasi. Bukan hanya karena pertanyaan Nia, tapi juga masalah si Elang ini. Dia nggak mau Nania sampai berhubungan sama lelaki macam itu.
Sementara Nania terkejut. Kakaknya jarang sekali meninggikan suara. Jika Nia nakal atau melakukan kesalahan sekalipun Freya hanya menasihatinya dengan lembut. Dan kini, hanya karena masalah yang agaknya sepele, Freya sampai membentak Nia.
Nia berbalik dan pergi kekamarnya sendiri, meninggalkan Freya yang kemudian menyesal.
Freya menghela nafas. Tangannya memijat pelipis pelan. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Nia sehingga mengalihkan pembicaraan, kemudian dia sendiri yang marah, melampiaskan rasa frustasinya pada adiknya yang tidak bersalah.
Freya mengganti baju, menenangkan dirinya dulu sebelum menghampiri Nia di kamarnya. Nia sedang berbaring membelakangi pintu. Freya duduk di sisi tenpat tidur seraya membelai kepala Nia.
“Maafin Kakak.” Katanya pada Nia yang Freya tau hanya pura-pura tertidur. “Uang itu Kakak dapet dari bos Kakak. Kakak ceritain masalah kita, dan dengan baik hati beliau mau bantu.” Tidak sepenuhnya berbohong. Nania tidak perlu tau, kan, apa yang Freya harus lepaskan untuk membayar bantuan tersebut.
Nania berbalik, menatap Freya dengan seksama. “Beneran, Kak?”
Freya hanya menjawabnya dengan anggukan.
Nia menaruh kepalanya di pangkuan Freya, seraya memeluk pinggang kakaknya itu. “Nia tukut, Kak. Nia takut apa yang dibilang Bang Elang itu benar. Nia nggak mau Kakak berkorban untuk Nia sampai segitunya. Udah cukup selama ini Nia jadi beban Kakak.”
“Nia… kakak, kan, sudah bilang, justru Nia itu penyemangat Kakak. Kakak ingin banget liat Nia sukses, nikah sama lelaki baik-baik. Kakak nggak mau Nia deket-deket sama si Elang itu. Duitnya banyak karena meras orang-orang putus asa kayak kita. Teman-temannya aja preman semua. Kakak nggak mau Nia terjebak sama dia.”
Nia hanya menganggukan kepala. dalam hatinya ada perasaan bersalah. Tapi ada sesuatu yang Nia tidak bisa ceritakan sama kakak. Sesuatu mengenai hati.
***
Arsen tidak percaya melihat Vlora di atas tempat tidurnya. Mengenakan gaun tidur sutra tipis berwarna merah yang begitu kontras dengan kulit putih mulusnya. Dia duduk di pinggir tempat tidur dengan kaku melipat.
“Kok baru pulang?” tanyanya, berdiri menghapiri Arsen.
“Abis minum sama temen. Ngapain kamu di sini?”
“Istri ada di dalam kamar suami, menurutmu ngapain?” Vlora menyandarkan tangannya di bahu Arsen, tapi Arsen menghindarinya.
“Jangan bilang ini karena masalah anak yang kamu mau itu!” Arsen menjauh, tapi Vlora tidak menyerah begitu saja.
Dia bertolak pinggang, membusungkan dadanya yang tercetak jelas tanpa bra. “Kamu nggak tergoda?”
“Vlo… please…”
“Arsen…” Vlora menghampiri Arsen yang sudah membalikan tubuhnya, hendak pergi ke kamar mandi. “Ini masa suburku. Kita hanya perlu melakukannya sekali ini saja, and we’ll see, apakah akan jadi atau tidak.”
“Vlo, aku nggak mau!”
“Kenapa?” Vlora meraih tangan Arsen untuk diletakan dipinggangnya, sementara Vlo merapatkan tubuh mereka. “Kita akan menjadi suami istri seperti yang kamu mau. Aku bisa pindah ke kamar ini, atau kamu yang mau pindah ke kamarku?”
“Stop it!” arsen menjauh, kehilangan sabar. “Kamu kemana saat aku menginginkan hal seperti itu? Kamu bilang kamu nggak ada waktu karena sibuk dengan kerjaan, kan! Sekarang kamu bersikap kayak gini! Itu juga bukan karena kamu benar-benar ingin berumah tangga! Kamu hanya menginginkan seorang anak agar mendapatkan perusahaan! Sekrang mungkin saatnya kamu sadar, nggak semua yang kamu inginkan bisa kamu dapatkan!”
Vlora terdiam penuh kejut. Baru kali ini ada orang yang berani mengatakan hal tersebut kepadanya. Semua orang tau, apa yang Vloara adijaya inginkan pasti dia dapatkan. Dengan cara apapun. Jadi jika Arsen pikir kata-katanya bisa membuat Vlora menyerah, lelaki itu salah.
“Dengar Arsenio Jarvis! Apa yang aku inginkan, selalu aku dapatkan. Selalu. Jadi, kita lihat saja.” Vlora melangkah keluar dari kamar Arsen. Meninggalkan Arsen dengan emosinya yang masih tinggi.