Jika mempunyai akal, Freya tidak akan datang dan membiarkan semuanya berlalu. Apa kata Arsen tadi? Tidak akan melakukan hal yang Freya tidak suka. Tapi masalahnya bukan suka atau tidak, melainkan boleh atau tidak. Arsen atasannya, selain itu dia sudah mempunya istri yang jika dibandingkan dengan Freya, bagaikan langit dan bumi. Freya hanya seperti debu di sepatu Vlora yang mahal.
Meskipun hatinya seribu kali memperingati, Freya punya seribu alasan juga untuk tidak mendengarkan peringatan tersebut. Pada akhirnya Freya tetap berdiri di depan pintu unit apartemen mewah milik Arsen. Masih menimbang-nimbang, haruskah dia masuk? Atau justru berbalik pergi?
Freya menggelangkan kepala. Tidak… dia harus pergi. Apa yang dia harapkan dari hubungan seperti ini? Setumpuk uang di meja setelah menemani lelaki itu tidur? Kemarin dia masih bisa membela dirinya, jika dia menjual diri karena keadaan. Sekarang dia menjual diri untuk apa?
Kaki Freya baru berbalik untuk pergi, ketika pintu terbuka dan Arsen menahan tangannya.
“Sudah sampai sini, mau kemana? Ayo masuk dan bicara sebentar.”
Siapa sebenarnya yang ingin Arsen bohongi? Karena Freya juga tau, tidak mungkin mereka hanya bicara, dan tidak mungkin sebentar. Tapi tetap saja, walau ragu-ragu, kedua kaki Freya melangkah masuk.
Apartement satu setengah lantai itu tertata rapih, mewah. Di lantai bawah terdapat living room, mini kitchen, serta kamar mandi. Sementara setengah lantai di atas benar-benar hanya diisi oleh tempat tidur, yang bisa terlihat dari lantai bawah.
Dua piring steak sudah tersaji di atas meja bundar dekat jendela, dengan dua kursi. Mungkin sengaja lampu di ruangan ini remang, agar cocok dengan lilin yang menyala di tengah-tengah meja. Jadi terlihat romantis. Botol wine yang mahal tertanam di dalam bucket ice, dengan dua gelas berkaki panjang yang menawan.
Arsen membimbing Freya untuk duduk di salah satu kursi, sebelum dia sendiri duduk di kursi satunya.
“Silahkan makan.” Arsen menuangkan wine ke dalam masing-masing gelas. Sepertinya dia ingin membuat Freya mabuk lagi, dan Freya tidak keberatan.
Freya mengambil garpu dan pisau. Memakan steak yang terasa lumer di mulut, sepotong demi sepotong. Enak sekali. Pasti mahal.
“Enak?” tanya Arsen. Freya hanya menjawab dengan anggukan.
Cukup lama mereka hanya diam, menikmati makanan masing-masing sampai Freya membuka pembicaraan.
“Apa yang mau bapak bicarakan sama saya?”
Arsen menggelangkan kepala. “Saya hanya kangen kamu.”
Kangen? Freya menundukan pandangan. Takut apa yang membingungkan hatinya terbaca oleh lelaki itu. Apa perasaan gelisah ketika Arsen ada di Jepang adalah perasaan kangen? Apakah ketika setiap malam menjelang tidur Freya terus terbayang wajah Arsen yang membuat hatinya tidak menentu rasa adalah perasaan kangen?
Arsen menghidu aroma dari dalam gelas, memutar-mutarnya pelan sebelum menyesap isinya. Sementara Freya hanya menenggak begitu saja isi dalam gelasnya hingga tandas. Rasanya… agak aneh. Mungkin karena Freya belum terbiasa.
“Boleh saya tanya kenapa kamu nolak saya malam itu?”
Freya tidak langsung menjawab. Dia menginginkan segelas anggur lagi.
Seperti mengerti, Arsen menuangkan kegelasnya yang kosong dan langsung ditenggaknya habis.
“Pelan-pelan minumnya.”
Tapi Freya tidak mau pelan-pelan. Dia ingin sedikit mabuk agar dia bisa mengutarakan isi hatinya dengan terus terang.
“Saya takut.” Jawab Freya pada akhirnya. Jawaban yang tidak memuaskan sama sekali.
“Takut sama saya?”
“Takut sama diri saya sendiri. Bapak sadar nggak sih pesona Bapak? Tampan, kaya, baik hati, perhatian. Sementara saya hanya wanita pada umumnya yang mempunyai hati lemah. Bapak akan menganggap saya sebagai teman tidur, tapi saya bisa menginginkan bapak sebagai teman hidup. Itu yang saya takutkan.”
Arsen tidak menyangka Freya akan menjawabnya seperti itu, jadi dia tidak tau harus menanggapinya bagaimana. Teman hidup tentu terlalu jauh, tapi Arsen menganggap Freya bukan sekedar teman tidur. Di sisi Freya Arsen merasa… nyaman. Freya seperti merpati kecil yang terluka sayapnya, dan Arsen bersedia untuk merawat serta melindunginya.
“Bapak bisa cari wanita laian, pasti banyak yang mau sama Bapak.”
“Saya nyaman sama kamu.”
“Saya nggak. Bapak buat saya susah konsentrasi saat kerja.”
Mata Arsen berbinar menatap Freya lekat-lekat. “Kenapa? Kamu masih keinget malam itu?”
Freya tertsenyum, “bagaiamana seorang wanita bisa melupakan kali pertamanya?”
Arsen menuangkan wine lagi. “Kamu nggak mungkin bisa, apa lagi itu saya.”
“Itulah kenapa saya harus menjaga diri saya dari Bapak.”
Arsen hampir saja tersedak minumannya. “Kamu bilang gitu seolah saya ini sangat berbahaya.”
“Memang.” Freya mengigit bibir. Di tengah temaram kilauan lilin, Arsen nampak begitu memesona. Hanya menatapnya saja hati Freya berdebar. Satu malam saja mereka lalui bersama, membuat Freya tidak mengerti lagi dengan perasaannya sendiri. Dan tidak bisa lagi melihat Arsen sebagai atasan.
Freya meraih tas, berdiri dengan terburu-buru. “Saya harus pergi!” tanpa menunggu persetujuan Arsen, langkah Freya bejalan cepat. Dia takut terjebak dalam perasaannya sendiri. Freya tau Arsen melakukan ini semua karena ingin merayu, dan Freya tidak yakin bisa menolak lelaki itu kali ini.
Freya membuka pintu, tapi belum juga pintu tersebut terbuka sepenuhnya, tangan Arsen mendorongnya lagi agar menutup, sementara tangan lainnya membalikan tubuh Freya.
Tanpa peringatan, Arsen langsung membingkai wajah Freya dan memangut bibirnya, memberikan ciuman yang sulit untuk ditolak.
Tangan Freya mendorong d**a Arsen, tapi tidak sekuat yang Freya inginkan. Pada akhirnya, Freya menyerah dan justru mengaitkan kedua lengannya dileher lelaki itu.
Nafas Freya terengah. Dia sudah kalah oleh perasaannya sendiri. Bagaimana bisa dia bermain-main dengan Arsen Jarvis dan berharap selamat?
Sudah tengah malam ketika pada akhirnya mereka selesai bercinta. Arsen memeluknya, sementara Freya tidak tau lagi apa yang dia rasakan saat ini. Dikata menyesal, Freya nyatanya suka berada dalam pelukan Arsen setelah percintaan mereka yang luar biasa. Dibilang tidak menyesal, Freya masih mengharapkan waktu berputar kembali, di mana hubungan mereka hanya sekedar atasan dan bawahan.
“Freya…” panggil Arsen lembut. Ada keheningan cukup panjang ketika Freya memutuskan tidak menjawab panggilan tersebut. Tapi Arsen tetap melanjutkan. “Jadilah wanita saya.”