TUJUH

1170 Words
Maafkan saya, saya tidak bisa, Pak! Arsen memejamkan mata, berharap bayangan Freya yang langsung turun dari mobil dan pergi begitu saja tidak terus terulang dalam benaknya. Bahkan setelah satu minggu berlalu. Esok paginya setelah hari itu, sengaja Arsen memajukan jadwal ke Jepang untuk urusan bisnis. Bukan karena dia malu. Dia hanya tidak mau membebani Freya. Pasti wanita itu enggan melihatnya. Tapi hari ini, mau tidak mau Arsen masuk kantor lagi. Arsen sedang menyimpulkan dasi, ketika ada yang mengetuk, kemudian pintu walk in kloset-nya bergeser. Cukup terkejut Arsen melihat Vlora berjalan masuk. Selama mereka menikah, ini adalah pertama kalinya wanita itu menjejakan kaki di kamar Arsen. “Ada masalah, Vlo?” tanyanya, berbalik menghadap cermin lagi. “Memangnya aku menemuimu hanya karena ada masalah?” Vlora menghampiri dan membantu Arsen merapihkan dasi. Ini juga untuk pertama kalinya, jadi wajar kalau sekarang alis Arsen berkerut heran. “Aku tidak mau menjawab seperti ini, Vlo, tapi kalau sampai kamu datang kesini, masalah ini pasti bukan hal yang sepele.” Vlo menatap dasi Arsen yang sudah terpasang rapih dengan bangga, kemudian menatap mata Arsen setegas biasa. “Karena ini menyangkut pernikahan kita, bisa dibilang bukan hal yang sepele.” Pernikahan memang bukan hal sepele, tapi Arsen tau Vlo tidak pernah menganggap pernikahan hal begitu serius. Jadi jika Vlo sampai datang kesini untuk membicarakan pernikahan, itu berarti Arsen harus memasang tanda bahaya. “Ada apa dengan pernikahan kita?” “Beberapa waktu lalu kamu membahas masalah pernikahan, kan? Kamu ingin kita mulai menjadi suami istri yang sebenarnya.” “Lalu? Tidak mungkin kamu datang kesini karena rasa tidak enakmu setelah menolakku, kan?” “Memang bukan. Saat itu aku tidak siap, jadi untuk apa aku merasa tidak enak kepadamu? Kita sebagai dua orang dewasa bicara untuk mendapatkan solusi terbaik bagi semua pihak, kan? Dan saat itu, yang terbaik memang kita seperti ini.” Khas Vlo, tidak pernah merasa menyesal karena dia tau apa yang dia inginkan. Perasaan orang lain bukan urusannya, tapi tanggung jawab orang itu sendiri. “Kemudian?” “Sekarang aku sudah siap. Aku mau kita mulai menjadi suami istri yang sewajarnya, dan mulai merencanakan memiliki anak.” Arsen tertegun. Bukan seperti Vlora yang dia kenal. Vlora selalu fokus dengan apa yang dia inginkan. Dan sekarang dia menginginkan perusahaan, jadi tidak mungkin tiba-tiba wanita itu berubah pikiran tentang pernikahan mereka. “Sebenarnya ada apa?” tanya Arsen lebih heran. “Ya nggak ada apa-apa. kamu menginginkan kita mulai menjadi suami dan istri pada umumnya dan memiliki anak, kemudian aku juga mau. Apa masalahnya?” “Tapi kamu bilang kamu sedang fokus pada perusahaan, kan? Aku tau kamu, kamu tidak mungkin berubah secepat ini. Coba jelaskan dengan benar, ada apa sebenarnya?” Untuk pertama kali selama mengenal Vlora, Arsen melihat wanita itu nampak ragu. “Papa bilang akan mempertimbangkan memberikan perusahaan padaku, jika aku bisa punya anak laki-laki.” Arsen terpaku untuk beberapa saat, sebelum menghembuskan tawa mengejek. “Jadi kamu ingin punya anak hanya karena papamu janji untuk mempertimbangkan memberikan perusahaan?” “Konyol, kan?” tanya Vlo nampak tidak bersalah. “Kamu yang konyol, Vlo!” Vlora yang tidak menyangka Arsen akan membentaknya, terkejut. “Kenapa jadi aku yang konyol?” “Kamu ingin punya anak hanya demi mendapatkan perusahaan? Nggak gitu konsepnya kalau ingin membangun keluarga!” “Lho memang kenapa? Kamu ingin punya anak. Papa kita berdua ingin punya cucu juga, kan? Apa salahnya aku merealisasikan? Toh kalian mendapatkan keinginan kalian, seorang anak, dari aku. Kalau aku mendapatkan apa yang aku mau karena anak itu ya sebanding! Aku rasa itu imbalan yang pantas!” Arsen kehilangan kata. Dia hanya melihat Vlora dengan mulut terbuka. Tidak habis pikir dengan pola yang Vlora buat dalam analoginya. “Lebih baik kamu keluar. Kita bicarain ini nanti.” “Kenapa sih, Arsen?” Vlora nampak mulai marah. “Aku rela, lho, merusak tubuhku. Menjadi gendut. Mungkin jerawatan karena hormon. Belum lagi kalau berkendala dan harus melahirkan secara caecar, akan ada bekas luka di perutku. Belum lagi menyusui. Dengan semua kesusahan itu, adil dong kalau aku mendapatkan perusahaan?” “Kamu mau memanfaatkan anak kita yang bahkan belum ada, Vlo! Sadar nggak sih kamu? Seorang anak lahir ke dunia harusnya atas dasar kasih sayang antara ayah dan ibunya! Bukan sebagai bahan penukar!” Vlora nampak tidak percaya dengan apa yang dia dengar, tapi kemudian tertawa penuh ejek. “Kasih sayang? Kamu yang harusnya sadar, mana ada kasih sayang dalam pernikahan kita? Kamu setuju menikah denganku demi meningkatkan kredibilitas perusahaanmu, kan? Kamu juga memanfaatkan aku! Dan sekarang apa yang kamu bicarakan? Kasih sayang? Lucu sekali, Arsen!” Arsen memijat pelipisnya yang pening. Vlora tidak akan pernah mengerti, ketika Arsen bilang ingin mencoba adalah mereka mencoba saling mencintai. Arsen tidak mau rumah tangganya hanya dihitung dari untung dan rugi, meskipun awal pernikahan mereka seperti itu. Dia ingin seperti papa dan mamanya yang walau dulu dijodohkan, tapi kemudian menjalankan kehidupan rumah tangga penuh kasih dan sayang. “Ini sudah siang, Vlo, aku harus pergi!” Arsen melangkah pergi, melewati Vlora yang masih terpaku dalam emosi. *** Freya berdiri dari duduknya, menyambut Arsen lewat sambil mengucapkan selamat pagi. Tapi tidak seperti biasa, lelaki itu hanya menganggukan kepala sambil berlalu cepat. Mungkinkah Arsen marah? Berjalan ke pantry, Freya membuatkan kopi sambil terus berpikir, jika hanya one night stand, Arsen bisa mendapatkan wanita mana saja. Dia tampan, dan paling penting, banyak uang. Banyak sekali wanita-wanita cantik sekarang yang menjajakan diri. Termasuk aku. Menghabiskan satu malam saja bersama Arsen, membuat lelaki itu tidak mau pergi dalam pikiran Freya, sampai saat ini, apa lagi jika dia menyetujui ada malam selanjutnya. Arsen lelaki yang lembut. Perhatian. Bersamanya, Freya merasa begitu special. Tapi kembali lagi, Freya hanyalah wanita yang lelaki itu bayar untuk ditiduri, tidak lebih. Freya mengetuk pintu kantor Arsen seblum masuk. Dia menaruh kopi di atas meja. Map-map yang harus Arsen periksa sudah Freya taruh di mejanya dari kemarin, dan sekarang lelaki itu sedang memeriksa salah satunya. “Nanti siang jadwal penandatanganan kontrak kerja sama dengan Mr. Hiro dari Mitsu Group, dan juga penyerahan cetak biru yang baru, yang sesuai dengan permintaan Mr. Hiro sebelumnya.” “Oke.” Hanya itu saja? Arsen bahkan tidak mengangkat kepala untuk menatapnya. “Ada yang bapak butuhkan lagi?” “Tidak ada, kamu bisa keluar.” Freya berbalik dengan langkah yang pelan. Sempat menoleh ke Arsen lagi sebelum membuka pintu. Dan posisi lelaki itu tetap sama, tidak sekalipun mengangkat pandangan dari map yang sedang dia periksa. Mereka benar-benar sudah kembali menjadi atasan dan bawahan. Itu, kan, yang Freya mau. Jadi kenapa sekarang hatinya terasa gamang? Sisa hari itu terlewati masih dengan Arsen yang dingin. Freya sudah hampir terbiasa. Dia sudah hampir menerima segalanya dan berusaha menyimpan kenangan malam itu jauh di dasar hatinya. Namun ketika Freya bersiap-siap pulang, Arsen memberikan kartu akses sebuah apartement. “Saya tunggu kamu di sana. Tenang, saya hanya ingin bicara. Tidak akan melakukan hal yang tidak kamu suka. Jangan merasa terbebani. Tapi datang atau tidak, saya akan tetap tunggu kamu.” Arsen langsung berlalu pergi, meninggalkan Freya dalam kebingungan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD