Freya mengikuti agak terburu-buru karena langkah Arsen yang panajang. “Mana ada atasan yang bawain barang bawahan?” Freya merebut paper bag dari tangan Arsen.
“Saya bawain tas belanjaan kamu sebagai laki-laki, bukan sebagai atasan.”
Freya tertegun. “Bapak…”
“Oke saya tau.” Arsen mengangkat tangan sambil tertawa, memotong protes Freya. “Saya hanya bercanda. Kenapa sih kamu serius banget? Apa perlu saya kasih minum biar kamu bisa bercanda kayak semalam?” Belum sempat Freya menyemburkan protes, lagi-lagi Arsen tertawa dan bilang itu juga hanya bercanda.
“Kamu ikut makan sama Mr. Hiro, ya?”
“Nggak usah deh, Pak, balik kantor aja naik ojek.”
“Lho ngapain? Ini udah jam makan siang. Sekalian aja makan. Jadi balik kantor bareng saya.”
Freya sedang menimbang-nimbang ketika ada seorang wanita menghampiri mereka.
“Arsen?” panggil Vlora. Setelan berwarna pink terang yang sempat heboh di Korea karena dikenakan salah satu member girl band ternama, terlihat begitu bagus di tubuh tinggi semapainya.
Tanpa disadari, Freya memundurkan langkah, merasa terintimidasi oleh aura kuat Vlora.
“Vlo? Kamu ngapain?”
“Bu…” sapa Freya yang hanya dijawab dengan anggukan kepala.
“Habis ketemu klien, ini mau cari tempat untuk makan siang. Kamu?” pertanyaan balasan yang hanya basa-basi.
“Perjamuan meeting di restoran jepang.”
“Can I join?”
Arsen nampak berpikir, Vlo jago bahasa Jepang, mungkin berguna untuk melobi Mr. Hiro. Tapi Freya…
Dia melirik Freya, pas sekali wanita itu sedang melihatnya.
Meraih dompet, Arsen mengambil dan memberikan salah satu kartu kreditnya kepada Freya. “Cari makan dan bayar pakai ini.” Kali ini dia mencari kunci mobil di kantung jas. “Kalau sudah selesai terlebih dulu, tunggu di mobil saya, nanti saya telpon.” Sengaja Arsen menyerahkan kunci mobil, memastikan Freya menunggunya. Jika tidak, bisa saja Freya kembali ke kantor terlebih dahulu.
Freya menerima kedua benda itu dengan berat hati. “Baik, Pak.”
Vlo menggandeng Arsen, dan mereka beriringan berlalu menuju restoran Jepang di bawah tatapan nanar Freya.
Mereka begitu serasi. Entah benar atau tidak cerita Arsen semalam, yang bilang kalau selama tiga tahun tidak pernah tidur bersama.
Freya menggelangkan kepala. Apa sih yang dia pikirkan? Itu urusan mereka. Sekarang, dia dan Arsen sudah kembali menjadi atasan dan bawahan. Tidak ada yang spesial, karena meski manis, kebersamaan mereka semalam sudah berlalu dan hanya akan menjadi kenangan yang bahkan tidak boleh Freya ingat.
Perasaan tidak enak ketika melihat Arsen berlalu bersama Vlora tidak mungkin cemburu, yang menjadikannya wanita tidak tau diri. Ini hanya karena Freya masih berada di dalam ilusi semalam.
***
Setelah kembali ke kantor dan menyelesaikan sisa hari kerja dengan bersikap biasa, Arsen memaksa Freya agar mau diantarnya pulang dengan alasan baju-baju baru Freya masih ada di mobil Arsen. Mereka diam diseparuh perjalanan, sampai Arsen membuka pembicaraan.
“Kamu mau makan malam dulu sama saya?”
Freya menggelangkan kepala. “Nggak perlu, Pak, adik saya udah nunggu buat makan bareng.”
“Oh, iya. Ngomong-ngomong, adik kamu kuliah di mana?”
“Universitas Nusantara, fakultas kedokteran.” Ada nada bangga dalam suara Freya, memancing senyuman Arsen.
“Masuk UN, kan, sulit. Saingannya banyak jadi nilainya harus benar-benar tinggi. Apa lagi fakultas kedokteran. Hebat adikmu.”
Senyuman Freya tertangkap sudut mata Arsen. Arsen jadi tau kalau orang paling penting di dalam hidup Freya pasti adiknya.
“Dari kecil dia memang pintar, hanya terkadang agak malas. Kalau saya dari kecil tidak terlalu pintar, tapi kata ibu, saya selalu berusaha keras.”
“Saya tau.”
Freya menoleh, menatap Arsen yang sedang memperhatikan jalan. “Tau apa?”
“Kalau kamu tidak terlalu pintar.” Arsen tertawa, dan tanpa sadar Freya memukul lengannya pelan, ikut tertawa.
“Makanya saya sangat bersyukur Pak Hadi mempercayai saya.”
“Karena kamu pekerja keras seperti yang dibilang ibumu. Oh, iya, biaya sekolah kedokteran tidak murah, kan? Kamu yang bayar?”
Freya menganggukan kepala. “Itulah kenapa saya harus bekerja lebih keras. Mungkin saja, Pak Hadi percaya saya untuk gantiin Bapak.”
Arsen sampai harus menoleh ke Freya untuk memastikan apa yang dikatakan wanita itu benar-benar lelucon. Kemudian dia tertawa. Bisa juga Freya berkelekar walau tidak sedang mabuk.
“Kamu bilang gajimu sudah terpotong setengah, bukannya akan sedikit berat, ya?”
“Iya… saya sudah membayar beberapa semester dengan uang semalam. Kedepannya saya harus menabung lagi. Dan adik saya punya usaha online kecil-kecilan. Jadi reseller dari beberapa toko gitu, tapi saya jadi nggak perlu mikirin uang jajan. Bahkan beberapa tugas yang membutuhkan uang bisa dia bayar sendiri. Hebat memang adik saya itu. Saya yakin dia akan sukses.”
Arsen tersenyum. Freya tidak sadar, justru dia lebih hebat. Dia bisa ngelakuin apa saja, mengorbankan apa saja demi adiknya.
“Berhenti di sini saja, Pak. Parkir di depan toko kosong itu.” Freya memberikan arahan. “Rumah saya masuk ke gang, mobil nggak bisa masuk.”
Arsen menepikan mobil sesuai dengan arahan Freya. “Saya boleh bicara sebentar sama kamu?”
Freya tidak langsung menjawab, tapi juga tidak turun dari mobil. Menautkan kedua tangannya di atas pangkuan. Sebenarnya, jika Arsen ingin membahas masalah semalam, Freya enggan, tapi dia juga tidak mungkin menolak.
“Kamu sudah punya pacar, Fre?”
Freya yang tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu, menoleh heran.
“Kenapa? Saya cuma tanya kamu sudah punya pacar belum? Nggak apa-apa, kan?”
Freya masih bingung dengan arah pembicaraan Arsen, tapi kemudian dia menggelangkan kepala. “Kalau untuk berteman saja saya merasa terlalu kompleks, bagaimana saya bisa punya pacar?”
Arsen menganggukan kepala, menyetujui alasan Freya. Lalu dia berpikir sejenak. Nampak sukar sekali apa yang akan ditanyakan selanjutnya sehingga Arsen harus berhati-hati dalam memilih kata-kata, agar Freya tidak tersinggung.
“Perlu kamu ingat saya tidak bermaksud macama-macam. Saya juga tidak mau kamu berpikiran aneh-aneh karena pertanyaan saya ini. Semua ini murni, murni karena saya merasa nyaman sama kamu.” Diam lagi. “Freya…” Arsen nampak ragu. “Maukah kamu menghabiskan satu malam lagi bersama saya?”