Arsen terbangun seorang diri. Hanya gelas sisa semalam yang menandakan kehadiran Freya, karena bahkan handuk pun masih terlipat rapih. Dia pasti pergi dengan terburu-buru. Mandi pun tidak. Entah dengan perasaan apa.
Menyesalkah?
Menghela nafas, Arsen menatap tempat tidur. Sprei memang berwarna hitam, jadi tidak nampak bercak kesucian Freya yang Arsen telah nodai. Tapi ada handuk basah kecil yang Arsen gunakan untuk membasuh kewanitaan Freya setelah mereka selesai bercinta. Dan di sana, nampak jelas bercak darah.
Sebelum menikah, Arsen banyak mengencani wanita, jadi ini bukan yang pertama untuknya. Walau sempat hibernasi selama tiga tahun karena Arsen ingin menjaga nama baik keluarga mertuanya. Yang seperti Vlo bilang, agak konservatif. Jadi entah karena sudah tiga tahun, atau karena Freya perawan pertama yang dia gauli, Arsen merasa semalam cukup berkesan. Yang justru membuatnya agak bingung, bagaiaman bisa bersikap biasa saja nanti?
Dia beranjak mandi. Di mobil ada satu setel jas yang akan dia kenakan untuk ke kantor hari ini, jadi tidak perlu pulang. Toh, Vlo tidak pernah peduli dia pulang atau tidak. Atau bahkan Vlo malah tidak sadar kalau suaminya tidak pulang semalaman. Mereka berdua hanya orang asing yang harus tinggal satu atap.
Harusnya hari ini Freya masih cuti, namun ketika Arsen datang, wanita itu sudah ada di meja kerjanya.
“Selamat pagi, Pak!” sapanya seraya berdiri.
Rambutnya sudah dikuncir kuda seperti biasa. Kaca mata yang Arsen mulai yakini hanya sebagai pajangan, sudah membingkai di wajahnya. Pakaiannya biasa sekali. Hanya kemeja putih panjang dan rok span selutut berwarna hitam, membuatnya seperti SPG, atau anak magang. Yang berbeda, hari ini Freya tidak berani menatap Arsen tepat di mata. Pandangannya sedikit menunduk, entah sedang melihat apa.
Bapak… erangan Freya ketika Arsen berhasil membuatnya sampai puncak terngiang di telinga. Dan itu cukup membuat Arsen membeku karena terkejut.
Gila!
“Selamat pagi.” Balasnya buru-buru pergi.
Freya masuk kedalam ruangan tidak lama setelah Arsen duduk. Menyuguhkan secangkir kopi dan di tangan lainnya terselip map-map yang harus dia periksa. Seperti biasa. Tapi hari ini Arsen tidak bisa berhenti menatap Freya.
“Ada beberapa file yang perlu Bapak tanda tangani. Dan jangan lupa selama makan siang nanti ada perjamuan meeting dengan Mr. Hiro dari Mitsu Group untuk membiacarakan proyek pembangunan lapangan golf Sawangan Lama menjadi perumahan.”
Arsen tidak menjawab, hanya terus menatap Freya, membuat wanita itu semakin tidak berani melihat Arsen dan salah tingkah.
“Bapak membutuhkan hal yang lain?”
Bayangan Freya mengelinjang di bawah kendalinya terbersit di benak Arsen. Benar-benar membuatnya gila! Arsen mengambil satu file ditumpukan paling atas, mencoba mengalihkan perhatiannya.
“Jam berapa kamu meninggalkan kamar pagi tadi?” pertanyaan yang tidak langsung mendapatkan jawaban, Arsen jadi mengangkat pandangan lagi. Freya sudah memeluk lengannya, seolah sedang membangun bentengnya sendiri.
Freya memberanikan diri, untuk pertama kalinya melihat langsung ke mata Arsen. “Maaf, Pak,” mulainya dengan suara yang sangat pelan. “Maslah selamam sepertinya tidak perlu kita bahas lagi. Kita berdua harus melupakannya agar kita bisa terus bekerja bersama. Karena jujur saja, berdiri di depan Bapak saat ini saja saya malu. Tapi hidup saya harus terus berjalan, kan? Saya masih membutuhkan pekerjaan ini. Jadi ya… saya mohon bantuan Bapak.”
Arsen tertegun untuk beberapa saat. Jadi Freya ingin melupakan kejadian semalam. Tapi Arsen penasaran, apakah potongan-potongan memori tadi malam tidak menghantui Freya seperti yang sedang arsen alami? Namun tidak mungkin Arsen menanyakan langsung.
“Baiklah, maafkan saya.” Arsen kembali memeriksa file yang tadi sudah dia buka. “Oh iya, perjamuan meetingnya di restoran jepang yang ada di pusat perbelanjaan, kan?”
“Benar, Pak.”
“Kalau begitu nanti jam sepuluh temani saya kesana, ya. Saya butuh bantuan kamu.”
“Jika saya boleh tau untuk apa, Pak? Kalau masalah restoran saya sudah reservasi di ruangan VIP.”
“Nanti juga kamu tau. Jam sepuluh, ya. Kamu boleh keluar.”
Walau terlihat masih penuh tanya, Freya mengundurkan diri, keluar dari ruangan Arsen.
***
Harusnya memang hari ini Freya tidak usah masuk kerja. Awalnya Freya menyangka bisa menghadapi Arsen dengan cara profesional. Freya menyangka bisa menyimpan semua urusan semalam di dalam kotak dan bertingkah seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi bagaimana mungkin jika bayangan semalam terus terpatri dalam benak, dan masih menimbulkan desiran hangat di bawah perut?
Freya mengikuti langkah Arsen, masuk ke dalam sebuah toko di pusat perbelanjaan. Freya pikir, Arsen ingin membali baju dan membutuhkan Freya sebagai bahan pertimbangannya untuk memilih. Tapi ternyata lelaki itu justru menuju bagian pakaian wanita.
Arsen mengambil beberapa pakaian kerja yang menurutnya bagus. Ada yang setelan, beberapa potong atasan dan celana, yang semuanya diberikan pada Freya, membuat Freya bahakan kesulitan memegang semuanya secara bersamaan.
“Kamu coba satu-satu, ya.”
“Maksud Bapak?”
“Ya kamu cobain baju ini, saya mau beli buat kamu.”
“Untuk apa, Pak?” Freya masih bingung.
“Ya, untuk kamu pakai kalau lagi ngantor.”
“Saya ngerti, Bapak beliin saya pasti untuk saya pakai, tapi kenapa? Kenapa tiba-tiba Bapak mau beliin saya baju? Apa karena semalam?”
“Freya, kamu yang bilang jangan membahas masalah semalam dan kita sepakat untuk melupakan. Saya ingin aja beliin kamu baju. Nggak boleh? Anggap aja ini bentuk apresiasi saya pada bahawan yang loyal.”
Freya ingin protes, tapi Arsen keburu memanggil pramuniaga untuk membantunya kekamar pas.
Satu-persatu, Arsen menilai pakaian mana yang cocok untuk Freya. dan cukup puas karena sebagian besar pilihannya tepat. Freya cantik, dan Arsen cukup terkejut baru menyadarinya semalam. Mungkin karena selama ini Arsen hanya menganggap Freya sekedar sekertarisnya, jadi Arsen tidak peduli pakaian apa yang wanita itu kenakan selama bersih, rapih, dan sopan.
Lalu memang sekarang kamu menganggapnya apa? Pertanyaan batin yang tidak mampu Arsen jawab dan pilih untuk mengabaikannya.
“Yang ini kamu langsung pakai aja.” Perintah Arsen yang tidak dibantah, walau dari rautnya, Freya terlihat sungkan. “Yang ini nggak jadi, ya, Mbak, yang lain diambil semua termasuk yang dipakai.” Ujar Aren kepada pramuniaga.
“Baik Bapak, saya bantu melepaskan tagnya sebentar.” Pramuniaga mecopot tag baju dan rok yang Freya kenakan untuk dibawa kemesin kasir bersamaan dengan baju yang jadi dibeli.
“Kenapa kamu kok keliatan nggak nyaman gitu?” tanya Arsen setelah pramuniaga pergi meninggalkan mereka.
“Saya nggak enak, Pak. Bapak beliin baju banyak banget. Mana harganya mahal.”
“Nggak apa-apalah sekali-sekali.” Arsen tersenyum, mendekati Freya untuk menarik lepas ikatan rambutnya. “Kamu lebih cantik kalau rambutnya digerai. Dan ini bukan kaca mata minus, kan?”
Freya menggelangkan kepala, berusaha merapikan rambutnya yang sudah terurai.
“Terus kenapa kamu pakai?”
“Awalnya saya pakai biar nggak kelilipan waktu naik ojek berangkat dan pulang kantor, eh jadi kebiasaan.”
“Emangnya nggak pakai helm?”
“Pakai, cuma kalau kacanya ditutup agak engap.”
“Kalau saya boleh kasih saran, kamu lebih cantik nggak pakai kaca mata.” Arsen beranjak ke kasir dan Freya membututi.
Freya tidak menangapi tentang saran yang Arsen berikan. Kepalanya keburu pening melihat totalan yang harus Arsen bayar untuk enam setel pakaian. Hampir lima belas juta! Harusnya dia senang, tapi kenapa justru merasa terbebani?
Freya ingin mengambil paper bag yang diserahkan kasir, tapi Arsen meraihnya terlebih dahulu.
“Biar saya yang bawakan.” Katanya sembari berjalan keluar toko.