EMPAT

1407 Words
Freya tertawa kecil. “Gombal!” dia menghabiskan sisa minuman di dalam gelas. “Selain memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang lebih banyak, apa lagi sih masalah orang kaya?” Arsen tertawa. “Memangnya orang kaya bukan manusia? Menurut saya sama aja. Buktinya masalah uang, kita sama-sama pusing, kan, mencari uang?” “Memang. Bedanya jalan saya buntu. Saya putus asa. Saya sudah terjepit dan nggak bisa kemana-mana selain mengambil jalan ini. Kalau Bapak, kan, punya banyak pilihan.” Kali ini, Arsen yang tersenyum penuh ironi. “Siapa yang bilang? Ada kalanya saya juga terpojok dan nggak bisa kemana-mana.” Arsen menuangkan lagi minuman kegelas mereka. Tapi kali ini, dia menuang baileys. “Seperti?” Arsen tidak menjawab, dia hanya menatap Freya dengan pandangan yang Freya tidak bisa mengerti. Freya menekap mulutnya. “Oh, maafkan saya. Saya terlalu banyak bertanya.” “Tidak masalah.” Arsen melepaskan jas. Entah efek minuman atau efek pembicaraan ini membuat Arsen merasa panas. Dia menyampirkan jasnya di sandara sofa, kemudian membuka kancing kedua lengan kemeja yang ia kenakan untuk menariknya sampai ke siku. “Ketika saya menikah,” mulainya, terinterupsi sebentar ketika Arsen meminum minuman miliknya. “Saya nggak punya pilihan lain selain menikah dengan istri saya. Demi memperluas jaringan, meningkatkan nilai perusahaan. Kamu tau, kan, ayah mertua saya pemilik Sayap Group? Perusahaan terbesar ketiga di Indonesia!” bukannya bangga, Arsen malah lebih terdengar tertekan oleh kenyataan tersebut. “Tapi menikah dengan Ibu bukan pilihan yang buruk, kan, Pak? Ibu cantik banget. Anggun. Berkelas. Bedalah memang kalau orang kaya, tuh. Mungkin kalau orang kaya skincare bukan dipakai, tapi dibuat mandi, makanya efek glowingnya dapet gitu!” Freya tertawa dengan leluconnya sendiri, dan tawanya memancing tawa Arsen juga. “Memang istri saya cantik. Banget. Tapi kamu nggak tau dia sedingin apa, kan? Tiga tahun kami menikah, tidak pernah kami tidur bersama.” Freya membulatkan matanya. “Yang benar, Pak? Bapak nggak impoten, kan?” Arsen tertawa lagi. “Kalau lagi mabuk mulut kamu agak kurang ajar, ya, Freya!” Bukannya takut, Freya justru tertawa. “Tapi serius, nggak pernah sekalipun?” Arsen menganggukan kepala. “Dia workaholic parah! Nggak ada yang boleh mengganggu pikiran dia selain pekerjaan. Entah sampai kapan. Aku juga nggak tau pernikahan ini akan bertahan atau tidak. Kalaupun tidak, aku tau perusahaan kita akan kena imbas dari perceraianku. Harga saham akan turun. Investor yang selama ini percaya pada kita karena nama besar Sayap Group mungkin mulai meninggalkan kita.” Arsen menatap nanar pada gelas di tangannya. Freya baru tau ternyata urusan orang kaya lebih pelik. Walau yah, urusan siapapun pasti pelik kalau masalah yang datang melebihi kapasitas yang menerima. Entah karena dorongan alkohol. Entah dorongan rasa terimakasihnya, Freya memajukan dirinya kedepan, kemudian mengecup pipi Arsen. Niatnya hanya menghibur, namun membuat lelaki itu justru melihatnya terkejut. “Sekarang, apa yang akan Bapak lakuin sama saya?” tanya Freya, entah dapet ilham dari mana sehingga pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Arsen merasakan gelitik dipipi yang tadi di cium Freya. ingin rasanya menyeka, namun takut Freya tersinggung. Dia juga tidak bisa menjawab pertanyaan Freya. Sebenarnya Arsen kesini memang hanya ingin membatu Freya. Sayangnya dia datang terlambat sehingga pelelangan hampir selesai. Beruntungnya masih sempat Arsen mendaftar dan memenangkan tawaran. Hanya itu. Dia duduk di sini hanya ingin berbincang dan mengetahui apa masalah Freya, sekertarisnya yang pendiam dan penuh teka-teki. Apa yang akan Bapak lakuin sama saya? Pertanyaan itu terulang dalam benak Arsen, membuat dia menelan ludah. Kenapa pertanyaan itu justru memancing gambaran yang tidak-tidak dalam otaknya? Arsen lelaki normal. Sedikit mabuk. Tiga tahun hidup selibat karena istrinya menolak untuk ditiduri. Hormon-hormon lelakinya mulai mengeliat. Tapi mengingat mereka akan bekerja bersama, setiap hari berjumpa, akan seperti apa kecanggungan mereka nanti? “Kalau kamu mau, kamu bisa pulang. Atau mau saya antar?” “Apa Bapak mau uang yang Bapak keluarin malam ini dimasukin kedalam hutang saya keperusahaan?” Arsen mengerutkan keningnya heran. “Untuk apa? Anggap saja uang itu untuk membayar kamu karena telah mendengarkan curhatan saya. Saya nggak pernah cerita masalah saya kesiapapun. Jadi kalau ada rumor beredar, saya akan cari kamu.” Freya menatap Arsen penuh haru. “Bagaiaman saya berterimakasih sama Bapak?” “Tidak perlu.” Arsen mengibaskan tangan. “Sebenarnya saya ingin meminta kamu bekerja lebih keras, tapi sejauh ini, kamu memang pekerja keras.” Freya tertegun. Di jaman ini, di mana orang-orang lebih mementingkan diri sendiri, masih ada orang baik seperti Pak Hadi dan Pak Arsen. Hati Freya menghangat. “Freya?” panggil Arsen menyadarkan jika Freya terus menatap Arsen dengan pandangan kagumnya. “Ah, iya!” Freya salah tingkah, berdiri untuk berpaitan. Tapi karena sedikit mabuk dan Freya bangun terlalu cepat, tubuhnya justru limbung dan terjatuh kearah Arsen. Untuk waktu yang singkat itu, Arsen bisa menghidu aroma Freya yang begitu manis. Entah itu parfume, atau justru feromone. Karena hanya menghdu wangi itu saja, hormon-hormon lelaki Arsen yang tadi hanya mengeliat sekarang sudah berontak. “Maafkan saya, Pak!” Freya berusaha bangkit, tapi tangan Arsen malah menahan punggungnya. Jadi dia hanya mengangkat wajah, menatap Arsen yang wajahnya berjarak begitu dekat dengan dirinya. Tidak sempat bertanya-tanya, karena Freya tau arti dari tatapan itu. “Maafkan saya, Freya, saya berubah pikiran!” tangan Arsen yang ada di punggung Freya merambat naik, untuk menahan leher Freya agar kepala wanita itu tidak kemana-mana ketika Arsen menyatukan bibir mereka. Freya memasukan syarat tidak ada ciuman bibir dalam pelelangan. Tapi sewaktu Arsen memangut bibirnya lembut, tidak ada keinginan Freya untuk menolak. Perlahan dia justru naik ke pangkuan Arsen, dan mencari posisi paling nyaman. Ciuman mereka terasa manis. Tidak terburu-buru. Mereka menikmati setiap pangutan lembut sehingga mereka bergetar sendiri oleh perasaan intim yang membuat mereka semakin mabuk. Gaun Freya sudah terangkat sampai pangkal paha karena kedua kakinya meregang dan tubuh atletis Arsen berada di antaranya. Beberapa kali mereka melepaskan ciuman untuk saling memandang, sebelum kembali memanut dengan lebih dalam. Kali ini, Arsen melepaskan ciuman mereka cukup lama. Memandang Freya dengan pertanyaan tersirat. Memberikan wanita itu kesempatan terakhir sebelum semuanya benar-benar lepas kendali. Apakah wanita itu benar-benar siap? Dan ketika Freya tersenyum, tanpa menunggu lama Arsen meloloskan gaun dari kepala Freya. membuang gaun itu asal sebelum mengangkat Freya kedalam gendongannya menuju tempat tidur. Arsen mebaringkan wanita itu perlahan. Nampak menawan di atas seprai sutra hitam yang kontras dengan warna putih kulitnya. Arsen membuka sendiri kemeja yang ia kenakan dan membiarkannya meluncur begitu saja kelantai, kemudian terkelungkup di atas tubuh Freya. Arsen tersenyum, mengelus lembut pipi Freya dengan punggung tangannya. “Setelah ini saya nggak akan bisa berhenti.” Freya tidak membalas kata-kata Arsen, dia hanya tersenyum, mengangkat tangan untuk membelai lembut rambut lelaki itu yang selalu ter-styling rapih. Benar memang kata Mbak Mel, alkohol bisa membuatnya relaks, tidak takut, dan dia bisa menikmati situasi meskipun ini yang pertama. Tapi apa benar ini karena alkohol? Atau karena ini adalah Arsen? Sebelum menikah, sebagai pengusaha muda, Arsen sering wara-wiri di infotaiment karena berkencan dengan beberapa artis. Bukan tipe CEO dingin yang sering Freya baca di novel-novel. Arsen tipe lelaki pemain yang ramah. Perhatian. Penebar senyum dan pesona. Biasanya Freya melihat Arsen hanya sebagai atasan. Tapi malam ini, dia melihat Arsen sebagai laki-laki yang memesona. Arsen membuka kaitan bra Freya dengan satu tangan dan menariknya lepas, tapi tidak langsung bermain di sana, dia kembali menurunkan kepala untuk mencium bibir Freya lagi. Karena ini yang pertama untuk Freya, Arsen berusaha membuatnya benar-benar santai dan siap. Mencumbu setiap titik sensitif wanita yang dia tau. Dari telinga, leher, p******a. Bahkan mencumbu perut Freya yang rata. Setiap syaraf di tubuh Freya bergelenyar nikmat. Sampai pada Arsen mencumbu kewanitaan Freya yang sudah berdenyut nyeri, ada dorongan nikmat yang membuatnya seperti ingin… pipis? Tidak mungkin dia ingin pipis, kan? “Lepaskan, Sayang.” Kata Arsen yang sedang berlutut di antara kedua kakinya. Dan Freya meledak dalam kenikmatan yang membuatnya bergetar sampai ketulang. Arsen merangkak lagi ke atas tubuhnya, kemudian Freya merasakan nyeri di pangkal paha ketika Arsen mencoba masuk. Membuat Freya memekik. “Sabar, Sayang… tahan…” Arsen menahan b****g Freya yang mencoba mengelak, sambil terus mencoba masuk dengan hentakan yang sedikit tidak sabar. Maklum, sudah tiga tahun. “Bap…ak!” Freya merasa ada yang mencuri nafasnya ketika Arsen sudah berhasil masuk. Dia memeluk Arsen dengan erat. Dirinya terasa terlalu penuh dan sakit. Air mata tanpa sadar mengalir dari sudut mata. Arsen mengecup keningnya, memberikannya waktu untuk membiasakan diri. Dan ketika Arsen menggerakan tubuhnya, rasa sakit itu perlahan memudar dan berubah menjadi nikmat. Sampai mereka berdua meleguh bersama, meledak seperti kembang api dalam kegelapan yang manis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD