Freya berdiri menatap keluar jendela, dari dalam kamar mewah yang ada di rooftop klab. Fasilitas yang disediakan klab kepada pemenang lelang. Banyak pikiran yang tumpang tindih, membuat justru otaknya seperti di ruang hampa yang kosong.
“Mau minum?” tanya Arsen, menaruh kristal es yang cantik ke dalam gelas.
Freya berbalik, dengan langkah pelan menghampiri lelaki itu di sofa. Berusaha keras tidak melirik tempat tidur yang ada di sisi lain. Bagaimanapun, malam ini Arsen adalah pelanggannya. Jadi Freya harus bisa melayani seperti yang diajarkan Mbak Mel. Tapi ketika Freya ingin mengambil botol minuman dari tangan Arsen, lelaki itu justru menjauhkan dari jangkauan.
“Biar saya yang menuangkan untuk Bapak.” Kata Freya menjawab tanda tanya yang tersirat di mata Arsen.
Arsen tersenyum. “Tidak perlu. Kamu duduk aja, kita bicara dengan santai. Kamu mau minum?”
Freya mengambil tempat di sisi Arsen, meskipun dia memastikan dirinya duduk sejauh mungkin dari lelaki itu. “Sebenarnya saya nggak suka minuman beralkohol. Tapi jujur saja, saya lelah merasa tegang. Katanya minuman bisa membuat kita jadi relaks. Jadi ya, kalau Bapak tidak keberatan menuangkan untuk saya juga.”
Arsen terlihat takjub, sebelum tertawa kecil. Menaruh lagi kristal es ke dalam gelas lain dan menuangkan minuman ke dalam dua gelas tersebut. “Baru kali ini saya dengar kamu bicara tentang diri kamu dengan kalimat sepanjang itu.”
“Maksud Bapak?”
“Kalau di kantor, kamu hanya membicarakan urusan kantor. Jika saya bertanya tentang kamu, seperti kamu sudah makan? Apa yang terjadi sama pelipis kamu yang membiru? Kamu baik-baik saja? Kamu hanya menjabnya dengan singkat. Sudah. Terpentok. Baik-baik saja. Paling banyak tiga kata.” Arsen menyerahkan satu gelas kepada Freya, kemudian menyesap minuman dari gelasnya sendiri.
Freya tidak menyukai rasa pahit dari minuman beralkohol, namun ketika meminumnya, tidak bisa berhenti menyesap. “Saya hanya mencoba profesional. Berusaha bekerja sebaik mungkin. Bekerja menjadi sekertaris seorang CEO tidak pernah saya bayangkan. Dan karena Pak Hadi mempercayai saya, sebisa mungkin saya nggak mau beliau kecewa.” Freya menunduk, tersenyum penuh ironi. “Padahal, sekarang saja saya sedang membuat beliau kecewa.”
Arsen menaruh gelas miliknya, kemudian mengisi kembali dengan whiskey. “Saya cari kamu dari pagi. Telpon kamu nggak aktif, rumah kamu juga ternyata sudah pindah. Di kantor, nggak ada satupun yang tau di mana rumah kamu. Tau nggak, kamu buat saya merasa gagal jadi pimpinan.”
Freya menatap lagi mata Arsen. Mata kecoklatan yang selalu bersorot ramah. Hangat. “Maafkan saya jika kelakuan saya ini membuat Bapak merasa gagal. Gagal menilai karyawan pantas atau tidak…”
“Tidak, tidak! Bukan itu maksud saya. Saya merasa gagal karena saya nggak tau, kalau ada karyawan saya yang sedang kesulitan sampai harus menjalani,” kedua tangan Arsen terangkat untuk membuat tanda petik. “pekerjaan seperti ini. Saya cari kamu juga karena ingin mengajak kamu bicara. Ingin membantu. Tapi lagi-lagi saya merasa gagal karena ternyata ada karyawan saya yang kesulitan berbaur. Kenapa kamu sampai nggak punya temen di kantor, Freya? Kamu nggak dikucilkan, bukan?”
Freya menggelangkan kepala, menyodorkan gelasnya untuk di isi lagi oleh Arsen. “Aku merasa terlalu kompleks untuk bisa berteman dengan orang lain.” Freya langsung menenggak minuman sampai habis, meskipun setelahnya dia menyerengit karena rasa pahit yang membakar tenggorokan.
Arsen hanya memperhatikan sekertarisnya itu yang seolah menjelma menjadi orang yang berbeda. “Kompleks? Boleh saya tau apa yang membuat kamu begitu kompleks? Atau, boleh saya tau kenapa kamu sampai mengambil jalan seperti ini?” Arsen menuangkan lagi minuman ke dalam gelas Freya.
Kali ini, Freya hanya memegangi gelasnya sambil berpikir harus memulai dari mana? “Intinya, aku butuh uang yang banyak di waktu yang singkat.”
“Untuk?”
“Membayar hutang.” Arsen tidak bertanya lagi, tapi Freya tau lelaki itu sedang menunggu. Jadi Freya melanjutkan. “Ayah saya hobi berjudi. Beberapa kali kami sebagai keluarga dikejar rentenir karena hutang-hutangnya. Awalnya kami menjual rumah, sampai ibu sakit-sakitan kemudian meninggal. Setelah saya bekerja dan diangkat menjadi karyawan tetap, terpaksa mengambil pinjaman di kantor juga untuk membayar hutangnya.
Seperti yang Bapak tau, ayah saya meninggal karena kecelakaan setahun lalu, dan kami kembali di datangi rentenir. Saat itu cicilan hutang di kantor masih ada dua tahun. Ada tabungan sedikit tapi untuk adik saya mendaftar kuliah. Saya mencoba membayar bunganya saja setiap bulan, itu juga sulit karena gaji saya sudah dipoting kantor. Hingga pada titik saya tidak sanggup lagi dan mengajak adik saya pindah kontrakan untuk kabur dari mereka, tapi selalu ketemu. Beberapa kali bahkan menyambangi ke kantor, walau hanya menunggu saya di depan gedung. Makanya saya takut berteman dengan orang-orang kantor. Takut malah mereka yang kena teror.
Puncaknya bulan lalu, mereka memaksa adik saya ikut karena bos mereka menyukai adik saya dan akan menganggap hutangnya lunas kalau adik saya mau dinikahi.” Freya menggelangkan kepala. “Lebih baik saya mati dari pada menyerahkan adik saya kepada b******n seperti mereka.”
Arsen melihat tangan Freya bergetar ketika membicarakan adiknya, menandakan betapa sayangnya Freya pada adiknya tersebut. “Memangnya berapa hutangnya?”
“Ayah saya meminjam lima puluh juta. Tapi bunganya terus berjalan, sampai sekarang lebih dari seratus juta.”
“Dan sekarang kamu nggak perlu khawatir lagi, kan? Kamu dapet berapa dari hasil lelang?”
“Pihak klab memotong dua puluh lima persen. Sisanya akan diserahkan ke saya.” Freya menatap Arsen lekat-lekat. “Kenapa Bapak mau membayar saya dengan harga setinggi itu?”
Arsen mengangkat bahunya. “Melihat penawar terakhir, saya pikir saya harus nyelametin kamu dari orang itu.”
Freya tersenyum. Senyuman tulus pertama yang Arsen ingat selama mengenal Freya. Dan baru menyadari senyumannya cantik. Arsen juga baru menyadari bahwa Freya memiliki lekukan menawan di pipinya ketika tersenyum. Dan baru menyadari juga jika wanita itu memang cantik. Manis. Apa ini?
“Enak ya jadi orang kaya, tidak perlu memikirkan masalah uang.”
“Siapa yang bilang? Justru lebih pusing memikirkan gimana caranya uang yang banyak itu tidak berkurang, justru harus bertambah.”
Freya menenggak minumannya lagi. “Serakah.”
“Bukan serakah. Saya punya banyak karyawan seperti kamu, yang bergantung pada perusahaan saya. Kalau saya bangkrut, bagaimana nasib kalian?”
Freya tersenyum lagi, nampak sudah sedikit mabuk. “Bapak benar, saya yang bodoh.” Katanya memukul pelan kepalanya sendiri.
Arsen hanya tersenyum menatap mata Freya yang sudah agak sayu, tapi bibir wanita itu terus menyunggingkan senyum.
“Kenapa Bapak ngeliatin saya kayak gitu?”
“Kamu harus lebih banyak senyum. Cantik.” Arsen tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulutnya.