Freya baru dua tahun jadi sekertaris Arsen. Hebatanya, tamatannya hanya SMK. Dan papa mempercayakan dia yang awalnya hanya karyawan magang, setelah sekertaris lamanya berhenti, karena tau Freya pekerja keras dan bisa dipercaya. Ada satu kejadian yang buat papa sangat menyukai Freya. Dan Arsen sih oke-oek saja, siapapun yang dipilih papa, selama kerjanya memang benar. Jadi Arsen agak tidak percaya kalau Freya bisa melakukan hal yang seperti semalam.
Memangnya berapa uang yang dia butuhkan? Arsen bisa membantunya dan yakin papa juga akan setuju. Dari tatapan matanya sebelum pergi semalam, Arsen tau Freya putus asa. Dan urusan ini pasti sangat mendesak sampai Freya nekat menjual diri.
Lama Arsen berpikir. Hingga pada akhirnya dia menelpon HRD untuk meminta alamat Freya. Dan setelah Arsen datangi selesai meeting, Freya sudah tidak tinggal di situ lagi.
Arsen semakin penasaran, kehidupan seperti apa yang Freya jalani. Teman yang Arsen pikir dekat dengan dia seperti Mbak Nana pun, ternyata tidak tau apa-apa tentang wanita itu.
***
Freya menyodorkan segelas s**u di hadapan Nania yang masih mengerjakan tugas kuliah, padahal dari semalam adiknya itu begadang.
“Belom selesai tugasnya?”
“Sedikit lagi. Untung kelas siang. Kakak nggak kerja?” Nania meraih gelas yang disodorkan Freya kemudian meneguknya hingga tandas.
Freya tertawa kecil. “Pelan-pelan, Nia.” Dia menepuk pelan pundak Nania. “Kakak cuti dua hari. Tapi nanti malam mungkin Kakak nginep di rumah temen lagi. Nia nggak apa-apa, kan sendirian lagi?”
Nania menaruh gelas kosong di samping lapotop pemberian Freya sebagai hadiahnya di terima di Fakultas Kedokteran, kemudian memutar posisi duduknya agar berhadapan dengan Freya yang sedang berdiri. “Kakak belum dapet pinjeman uangnya, ya? Gimana, Kak? Tinggal beberapa hari lagi waktunya.” Ujar Nania cemas “Kata Nia juga Nia berenti kuliah aja, dan bantu Kakak cari uang. Nia bisa kuliah di tempat lain, yang ada kelas karyawannya. Lagi pula kuliah kedokteran pasti mahal, Kak, kedepannya, kalau hutang bapak belum kita lunasi pasti berat buat Kakak.”
Freya tersenyum, mengelus lembut kepala adiknya. “Kamu nggak usah khawatir. Nanti malam kakak pasti dapet uangnya. Tugas kamu cuma kuliah yang bener. Biar jadi dokter kayak yang almarhumah ibu pengen. Biar nggak dapet suami kayak almarhum bapak. Kamu satu-satunya harapan kakak. Dan kakak akan ngelakuin apa aja buat kamu. Lagi pula kakak terbantu sekali dengan usaha online kamu. Kakak jadi nggak mikirin uang jajan, kan?”
Nia memeluk pinggang Freya. “Maafin Nia ya, Kak… Nia belum bisa berbuat banyak selain cari uang jajan sendiri. Nia masih banyak nyusahin kakak.”
“Justru Nia semangat hidup kakak. Kakak pengen banget liat Nia jadi dokter, terus nikah sama cowok baik-baik dan hidup bahagia.”
“Tapi sebelum Nia nikah, Kakak duluanlah nikah.”
Freya tersenyum miris. Mungkin setelah nanti malam Freya tidak akan pernah menikah. Dia takut. Karena katanya, jodoh adalah cerminan diri. Dan dia sudah tidak layak.
***
Freya mengigil. Kepalanya agak pusing, berdiri di depan banyaknya mata yang menilainya seperti sebuah barang. Jika boleh, dia ingin menjerit, menangis. Tapi bisikan Mbak Mel memaskanya tersenyum. Jadi dia hanya menarik sudut-sudut bibir tanpa berniat tersenyum sama sekali.
Harganya sedang ditawar, tapi harga dirinya malah semakin terasa hilang.
“Tenang… tenang. Ini masih segelan, ya. Aku punya surat pernyataan dari rumah sakit.” Mbak Mel memamerkan surat keterangan bahwa Freya masih perawan yang Freya bawa sebagai syarat untuk pelelangan di sini. “Syaratnya, tidak boleh kasar. Tidak boleh main belakang. Tidak boleh minta oral. Dan tidak boleh cium bibir. Agak banyak yah, maklum baru.” Mbak Mel melirik Freya. “Kita mulai haraga 40!” lanjut Mbak Mel membuka lelang.
Batin Freya mulai berperang. Dia berharap tidak ada yang menawar, namun di sisi lain dia berharap mendapatkan nilai lebih tinggi. Bukan apa-apa, 40 juta sangat kurang dari uang yang harus dia bayarkan pada renternir.
“Empat puluh lima!” teriak lelaki mengangkat papan nomer 22.
“Empat puluh lima! Ada yang berani lebih?”
“Lima puluh!”
“Lima puluh! Ada lagi?”
Suara mereka semakin samar dan berdengung di telinga Freya. Dia mengelus lengan atasnya, berharap bisa menghilangkan rasa dingin yang terus menusuk sampai ketulang. Jika bisa, ingin rasanya Freya tidak sadarkan diri. Namun pada akhirnya, dia harus menguatkan lagi dirinya sendiri.
Bagaimanapun, dia butuh uang itu!
Tenang Freya! Ujarnya dalam hati. Setelah malam ini semua kesengsaraan akan berakhir. Bertahanlah! Hanya malam ini.
“UWOW!” teriakan Mbak Mel menyadarkan Freya dari lamunan. “Seratus delapan puluh juta! Ada lagi yang mau naik?”
“Dua ratus!” seorang lelaki tinggi besar dengan tampang yang sangar mengangkat papan nomer 46.
Freya menelan ludah. Apa dia harus menghabiskan malam ini dengan lelaki itu? Matanya mulai memanas. Bagaimanapun, seperti yang dikatakan Mbak Mel, buat diri serileks mungkin dengan minuman nanti. Tapi jangan sampai tidak sadar, karena akan kehilangan kendali diri. Takutnya, saat tidak sadar itu pelanggannya justru berbuat hal yang tidak-tidak.
“Tidak ada lagi yang berani lebih dari dua ratus juta?” tanya Mbak Mel sudah kesekian kali. “Oke! Dua ratus juta pertama! Dua ratus juta kedua! Dua ratus juta ketiga! Jika tidak ada, maka lelang ini dimenangkan oleh…”
“TIGA RATUS JUTA!” teriak seseorang, mengangkat papan dengan nomer 69.
Tidak mengerti kenapa, Freya merasakan dunia berjalan lambat ketika matanya bertemu dengan mata Arsenio yang bersorot hangat. Entahlah, kenapa dia merasa lebih lega.