Tiga Bulan yang lalu...
“Aku yang dulu bukanlah yang sekarang, dulu ditendang sekarang ku disayang.” Dengan berbekal ukulele di tangan, Adam bersenandung di perempatan jalan, sebuah lagu khas pengamen jalanan milik Tegar, pengamen cilik yang sempat viral dan menjadi artis. Sebuah lagu tentang kesuksesan yang Adam harap dalam hati kecilnya juga akan terjadi padanya kelak. Tepat saat lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah, beberapa kendaraan berhenti dan Adam langsung bergerak, mengetuk dan menghampiri setiap jendela kaca mobil. Berharap ada pengemudi atau penumpang yang berbaik hati membuka jendela dan memberinya sekedar recehan.
“Guys, lihat itu! Itu ada jamet ganteng!”
“Mana? Mana?”
“Itu yang lagi ngamen! Bener kan gue gak bohong? Sumpah! Gantengnya kayak oppa-oppa Korea!”
Empat gadis remaja berseragam putih abu yang berada dalam sebuah mobil sedan tampak cekikikan. Mereka penasaran memperhatikan Adam dari ujung rambut hingga kaki. Memang benar penampilan Adam jauh di atas rata-rata pengamen pada umumnya. Dengan tubuh tegap dan tinggi diatas 185 cm, ditambah lagi dengan wajah rupawan, tak sulit bagi kaum Hawa untuk jatuh hati padanya. Bahkan rambut gondrong berminyak, jeans robek dan pakaian dekilnya tetap tidak bisa menutupi aura ketampanannya.
“Ayo guys! Cepat panggil tuh Abang ke sini biar merapat!” seru salah seorang dari mereka yang berambut ekor kuda tak sabaran.
“BANG! ABANG! Sini dong!”
Mendengar suara orang yang memanggil, Adam tentu saja dengan sigap menghampiri mobil yang ditumpangi para gadis remaja itu.
“Ganti lagu dong, Bang! Jangan yang itu bosen! Nyanyinya lagu yang kekinian!” pinta seorang gadis saat membuka lebar jendela mobilnya.
“Oh, mau lagu apa, dek?” Adam tersenyum ramah. Dia pikir ini adalah kesempatan baik untuk mendapatkan rezeki. Tidak jarang orang me-request lagu padanya. Adam percaya diri dengan suaranya walaupun tidak sebagus penyanyi profesional, setidaknya dia tidak fals.
“Apa aja terserah! Mau Dinamit kek, Butter kek pokoknya lagu BeTeEs yang ngehits sekarang, Bang!” sahut seorang gadis berbuntut kuda.
“Aduh gimana ya, BeTeES itu apaan sih dek?” Adam garuk-garuk kepala. Ketombe di rambutnya berjatuhan ke baju kaos hitamnya. Tangan ketiga gadis yang lain tak lepas dari ponsel dan Adam bisa tebak mereka sedang merekam aksinya. Ini bukan yang pertama kali bagi Adam seseorang merekam aksinya saat mengamen. Satu videonya bahkan sempat viral dengan views hampir satu juta di akun t****k. Tapi, tetap saja Adam merasa tak mendapatkan hasil apa-apa dari keviralannya itu selain mendapat sebutan jamet ganteng.
“Yaah Abang payah! Masa gak tahu BeTeEs? Cari di Google kenapa?” komentar gadis itu sambil memanyunkan bibirnya.
“Maaf, dek. Saya kurang update, maklum HP saya masih Nokia jadul!” sahut Adam sambil menunjukkan ponsel bututnya.
“Yaah, Abang! Kalau gitu gak jadi deh saya kasih duitnya, nih nasi kotak aja ya?” Gadis itu menyerahkan sebuah dus makanan ke tangan Adam.
“Ya gak apa-apa, asal adek-adek ini ikhlas apapun saya terima!” ucap Adam dengan senyum tulus.
Dus makanan dengan logo huruf M dari restoran fastfood terkenal ditangannya saat ini sangat menggugah selera Adam. Adam sudah bisa bayangkan hari ini akan menyantap ayam goreng mahal dan lezat, bukan tempe tahu di warteg lagi. Namun, detik selanjutnya senyuman itu hilang dari wajah tampan Adam saat menyadari apa isi di dalamnya. Bukan ayam goreng utuh yang berada di dalam dus itu melainkan hanya tulang belulang.
“Woi! Dasar cabe-cabean sialan! LU KASIH GUE APAAN?! b*****t!” teriaknya keras penuh emosi dan berlari sekuat tenaga hendak mengejar. Sialnya lampu lalu lintas sudah berubah warna menjadi hijau dan mobil yang ditumpangi para gadis SMA itu sudah melaju cepat meninggalkannya. Adam bisa bayangkan bagaimana mereka tertawa cekikikan di dalam mobil setelah puas mengerjainya.
Beberapa saat kemudian, suara adzan Dzuhur sudah diperdengarkan yang berarti selain waktunya beribadah juga waktunya untuk istirahat makan siang. Adam duduk melepas lelah di sebuah warung makan.
“Manusia zaman sekarang sudah hilang rasa manusiawi dan hati nuraninya! Pura-pura baik ngasih sumbangan terus direkam divideoin, semua itu cuma buat dapet like dan pujian di sosmed! Bukannya kasih nasi kotak isi ayam, ini malah isi sampah, b*****t!”
Adam duduk menaikkan satu kaki di bangku sambil menumpahkan keluh kesahnya. Di tangannya sepiring nasi dan lauk pauk seadanya sudah hampir habis. Dia hendak mengambil lagi satu goreng tempe tapi tatapan judes Mpok Marni pemilik warung makan membuatnya mengurungkan niat. Dia sadar diri utangnya di warteg ini sudah menumpuk.
“Heh, Adam... Adam, hari gini lu masih ngamen?! Mending lu kerja kayak gue, tinggal nongkrong nemenin Tante arisan bisa dapat hujan duit! Lu kan ganteng, body juga oke! Kalau lu mau nih ya! Potong tuh rambut gondrong biar gak kayak *jamet kuproy! Rapih dikit lu pasti laku!” komentar Lucky blak-blakan.
*jamet kuproy : istilah dalam bahasa gaul yang merupakan singkatan dari jajal metal kuli proyek.
“Dih! Ngapain gue nemenin Tante Tante arisan? Nanti gue dijadiin tumbal arisan! Lagian, kenapa juga kalau gue kerja jadi kuli bangunan? Kerjaannya masih halal dibanding kerjaan lu! Dasar Mokondo!”
“Hei, gak usah nge-judge hidup gue! Mau jadi mokondo kek, apa kek yang penting dapet duit! Kalau mindset lu seperti gitu terus, kapan lu mau tajir, hidup miskin terus apa gak bosen, huh?”
“Siapa yang gak bosan hidup miskin? Lu sendiri, gimana? Sampe sekarang lu masih ngontrak di sebelah gue! Selama kita masih sama-sama suka ngutang di warteg, lu jangan asal bacot!” Adam menaikkan intonasinya karena emosi.
“Ya, setidaknya gue udah punya motor Ninja sama Iphone sebelas, lu punya apa? Motor masih Beat bekas jangan sok keras! Ngomong-ngomong Motor lu yang biasa buat ngojek dikemanain?” sindir Lucky.
“Gue gadein buat beli obat Emak,” sahut Adam dengan suara lirih. Hatinya perih mengingat Ibunya saat ini sedang sakit-sakitan. Kata dokter Ibunya menderita penyakit kanker lambung, penyakitnya sudah stadium 3 dan harus segera mendapatkan perawatan intensif. Tidak heran dia menderita penyakit tersebut karena sang Ibu yang bekerja menjadi ART sekaligus buruh cuci harian memiliki kebiasaan sering lupa makan. Awalnya sang Ibu mengira itu hanya sakit maag, namun ternyata kanker.
“Setidaknya gue beli motor bekas dari jerih payah gue, halal. Lah, lu motor hasil ngutang dari *pinjol aja bangga! Setidaknya gue masih punya harga diri seorang lelaki!” lanjut Adam walaupun hatinya merasa miris.
*pinjol = pinjaman online.
“Harga diri? Cih, apaan?! Zaman sekarang itu udah gak zaman yang namanya harga diri! Sekarang zamannya money talk! Duit yang berbicara! Kalau bisa, lu banting harga diri lu yang penting dapet duit!”
“Ngomong apaan sih, lu? Jangan ngawur!”
Di saat mereka tengah asyik mengobrol tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara sayup-sayup orang memanggil.
“LUCKY! LUCKY SAYANG!”
Dari seberang jalan terlihat seorang wanita paruh baya berteriak histeris. Dia yang bertubuh tambun dan berpenampilan mencolok penuh dengan perhiasan berlari tergopoh menghampiri Lucky dan Adam yang kebetulan sedang berada di Warteg.
“Astaga, tuh Nenek ngapain lagi ke sini! Bilang lu gak pernah liat gue!” Lucky yang dipanggil namanya mendadak panik. Dia spontan menaiki motornya dan menjalankan mesinnya untuk kabur.
“Woi? Lucky? Kenapa lu lari? Bukannya Tante Patricia itu Sugar Mommy lu?” tanya Adam keheranan.
“Sstt! Sialan lu! Jangan sebut nama gue!” ujar Lucky sebelum berlalu pergi. Saking terburu-buru dia sampai lupa helmnya masih tertinggal.
“Hah... Hah...” Patricia masih terengah-engah kecapaian saat dirinya sampai di dalam warung makan. Wajahnya mengkilap karena keringat saat dia menatap Adam.
“Eh, kamu ini Adam temannya Lucky kan?”
“I-iya Tante,” angguk Adam.
“Kamu lihat Lucky gak, sayang? Tolongin Tante, please! Dia bawa kabur uang Tante 20 Juta!” Wanita bernama Patricia itu mulai mencurahkan keluh kesahnya.
“Walah, kacau tuh si Lucky, kok bisa sih Tante?” Adam berusaha terdengar simpatik, walaupun sebenarnya dia sudah bisa menebak apa yang terjadi.
“Iya, hiks! Katanya buat investasi, tapi ternyata investasi bodong! Padahal itu uang buat oplas silikon tante yang bocor!”
“Yaah, Tante kenapa juga bisa tertipu rayuan gombalnya si Lucky? Tante kan tahu sendiri dia itu jago ngibul!”
Memang benar, semua orang di RT RW tempat Adam tinggal sudah tahu jika Untung Suherman alias Lucky adalah penipu ulung. Hampir semua tetangga pernah dipinjami uang dengan iming-iming investasi atau asuransi tapi tak pernah ada realisasinya. Hanya Adam saja yang lolos menjadi target penipuan Lucky, tentu saja karena Adam sendiri memang tak pernah kelebihan uang.
“Ya, habisnya mau gimana lagi? Tante sepertinya kena gendam sama dia, Dam! Tante dihipnotis!”
“Wah, bahaya tuh Tante, lapor Polisi aja biar dia kapok dan gak nambah lagi korbannya!” Adam menyarankan, bukannya dia tak setia kawan tapi tingkah polah Lucky memang meresahkan.
“Iya tapi gimana ya? Lapor Polisi tuh ribet, Dam! Harus keluar duit juga buat sewa pengacara, bisa nambah tekor Tante. Hiks, bagaimana ini?” Patricia melanjutkan sesi curhatnya dengan isak tangis. Dia sengaja merapatkan duduknya sambil bersandar dan bergelayut manja ke lengan kekar Adam.
“Heh, dasar Tante girang kegatelan! Pantes aja lu gampang dikibulin si Lucky buaya!” gerutu Adam dalam hatinya sembari kembali menyomot nasi di piringnya.
“Eh, ngomong-ngomong kamu ganteng juga ya, Dam! Apa kamu lagi sibuk sekarang?” tanya Patricia tiba-tiba sembari jemarinya mengelus wajah Adam.
“Eh, nggak sih Tante! Saya kebetulan lagi nganggur!” jawab Adam dengan jujur.
“Kamu mau Tante kasih kerjaan? Kerjaannya ringan kok cuma pijat-pijat doang, tekniknya biar Tante yang ajarin!” bujuk Patricia itu dengan senyuman genit. Dari raut wajahnya yang terlihat m***m itu Adam sudah bisa menebak apa yang wanita ini inginkan.
“Eh, maaf Tante, saya lagi gak enak badan, saya lagi M!” Adam beralasan.
“Loh, kamu ini lelaki tulen kan, Dam? Masa lagi M?”
“M itu maksudnya meriang, mencret, muntaber. Saya ini orangnya penyakitan, jadi baiknya gak usah pekerjakan saya, Tante! Makasih!” jawab Adam asal. Dia segera bangkit dari bangku yang didudukinya, memanggil Mpok Marni untuk membayar makan siangnya dan pamit pergi, meninggalkan Patricia yang masih melongo kebingungan.
***
Bosan? Siapa juga yang betah hidup miskin? Adam menghela nafas panjang dan pikirannya menerawang jauh kembali ke masa kecil. Adam Satria Al-Faridzi, dari umur 9 tahun kelas 4 SD saja ketampanannya sudah terlihat jelas. Hidung mancung, kulit putih bersih, rambut hitam kecoklatan, bulu mata yang lentik dan warna bola mata coklat keemasan. Sekilas saja orang bisa menilai jika dia adalah bocah berdarah blasteran.
“Lihat! Tuh anak cakep amat ya! Dari kecil udah kelihatan bibit unggulnya!”
“Bibit unggul apanya? Dia itu kan anak haram!”
“Hush, jangan keras-keras nanti kedengeran!”
“Kok bisa sih dibilang anak haram?”
“Ya iyalah, wong ndeso kok mukanya londo!”
“Gosipnya Bapake si Adam itu turis Arab yang suka pelesiran di villa Puncak! Tapi ada juga yang bilang Bapake si Adam majikannya Mpok Siti waktu masih jadi TKW! Gak tau tuh yang bener yang mana!”
“Oh ya? Gak nyangka ya Mpok Siti dulunya ternyata wanita nakal.”
“Emm, makanya jangan menilai dari penampilan luar aja! Penampilan luar bisa rapih sopan kayak di bank, eh dalemannya semrawut kayak di pasar ikan! Udah becek bau lagi!”
Begitulah, Adam masih ingat bagaimana Ibu-Ibu tetangga sering menggosipkan Ibunya, Siti Fatimah yang seorang janda. Seperti ular berkepala dua, mereka bermuka manis dan ramah saat di hadapan sang Ibu tapi membicarakan keburukannya di belakang. Adam sendiri memang tak pernah tahu bagaimana sosok Ayahnya. Suatu kali dia pernah bertanya langsung pada sang Ibu tentang Ayahnya, namun jawaban yang dia dapatkan malah ekspresi kesedihan dan isak tangis. Yang Adam tahu tentang Ayahnya hanya sepenggal nama dalam akta kelahirannya yaitu Al-Faridzi, tidak lebih. Melihat kesedihan Ibunya, Adam jadi merasa bersalah karena kelancangannya. Adam kecil tak ingin melihat ibunya menangis dan menderita lagi. Dia bersumpah akan melakukan apapun demi membahagiakan ibunya. Namun, nasib berkata lain, mencari pekerjaan di zaman sekarang terutama di Ibu Kota Jakarta sangatlah sulit. Hingga kini di usianya yang ke 25 tahun, status Adam masih menjadi pengangguran dan membahagiakan sang Ibunda baginya masih menjadi angan.